Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Ladang Yang Subur
Malam saat Alina sedang menikmati gorengan yang masih hangat sebagai teman minum teh, ia tiba-tiba menerima pesan dari Dunia Sylva-3.
[Pesan Dunia Sylva-03]
“Kami mendeteksi jika benih alami yang kamu jual memiliki kemiripan identik dengan benih alami yang dulu pernah kami miliki.
Penjaga benih dunia kami telah memastikan kemiripannya dengan memeriksa catatan lama.
Kami berharap kamu adalah sosok penerusnya, seseorang di masa lalu yang juga berasal dari Dunia Biru, dan dia adalah sosok yang menjual banyak benih alami pada kami bertahun-tahun lalu.
Jika benar kamu penerusnya, kamu berhak menyandang nama Pelindung Dunia kami.”
Alina membaca pesan itu perlahan, dan di akhir ia tersenyum karena yakin jika apa yang sebelumnya ia yakini adalah sebuah kebenaran.
Setelahnya ia membalas pesan~
[Balasan]
[Anggap saja aku memang penerusnya.]
Baru juga selesai membalas, Alina kembali mendengar suara Sistem.
[Ding!]
[Informasi yang tidak sengaja terungkap.]
[Sistem garis keturunan: Pemilik adalah garis keturunan murni dari Pemilii Sistem yang sebelumnya.]
Sama sekali tidak terkejut. Alina sudah menebaknya sejak awal, dan karena urusan dengan Sistem telah selesai, ia menutup layar hologram Sistem.
***
Suasana pagi di Desa Lembah Aruna berjalan seperti biasa.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, ayam berkokok bersahutan, dan suara langkah warga yang mulai beraktivitas terdengar samar.
Namun di tempat lain, jauh dari desa kecil itu, suasana yang sangat berbeda sedang terjadi di kediaman keluarga Kalingga.
Rumah besar berarsitektur modern itu berdiri megah di pinggiran ibukota, berhiaskan pagar tinggi dan halaman luas yang selalu tampak terawat.
Dari luar, keluarga Kalingga adalah simbol keberhasilan, kekayaan, kejayaan, juga besar yang disegani.
Namun pagi ini, ruang makan utama terasa dingin.
“Pendapatan investasi kita kembali turun,” ujar seorang pria paruh baya dengan suara datar.
Ia adalah Hendrawan Kalingga, kepala keluarga sekaligus tokoh sentral dalam bisnis yang dijalankan keluarga Kalingga.
Ia meletakkan tablet di atas meja, menampilkan grafik pasar saham yang menurun perlahan, tapi gerakannya sangat konsisten.
Istrinya, Martha Kalingga, meneguk kopi tanpa ekspresi. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya menunjukkan kegelisahan yang tidak ia ucapkan.
“Bukankah kita sudah mengalihkan sebagian besar dana ke sektor properti?” tanyanya pelan.
“Sudah,” jawab Hendrawan. “Tapi pertumbuhan di sektor properti tidak secepat dulu. Pasar mengalami berubahan signifikan.”
Di ujung meja, seorang wanita muda duduk dengan postur anggun. Elena Kalingga, nama baru yang diberikan pada putri kandung keluarga itu, dimana ia saat ini sedang mengaduk sarapannya perlahan.
“Ayah,” panggilnya, “kalau boleh jujur, sejak beberapa waktu terakhir, sepertinya keberuntungan keluarga kita sedang kurang baik.”
Hendrawan menatap putrinya, tapi ia tidak marah mendengar semua itu.
“Keberuntungan bukan sesuatu bisa kita jadikan patokan pada apa yang sedang kita alami, Elena. Itu hanya istilah untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan,” ucap Hendrawan, tapi dalam hati, ia tahu akhir-akhir ini ada yang terasa berbeda.
Sejak Alina, anak yang mereka besarkan terusir pergi dari rumah, banyak usaha keluarga mulai runtuh tanpa sebab yang jelas.
Bukan kehancuran besar yang secara menyeluruh, hanya kegagalan kecil yang terus menumpuk, tapi lama kelamaan membuat segalanya semakin buruk.
Kerja sama yang tiba-tiba batal di menit terakhir.
Proyek yang seharusnya lancar namun tersendat. Kesalahan administratif yang sepele tapi berdampak panjang.
Keadaan yang awalnya dianggap remeh menjadi semakin buruk, membuat mereka satu keluarga khawatir kondisi ini bisa lebih buruk lagi.
Sementara itu, di Desa Lembah Aruna, Alina tidak tahu dan tidak memikirkan apa pun yang berkaitan dengan keluarga Kalingga.
Pagi ini, ia bangun lebih awal dari biasanya.
Ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap bayangan dirinya sendiri.
Kulitnya sedikit lebih cerah dibandingkan beberapa bulan lalu, rambutnya terikat rapi, dan matanya tampak lebih jernih.
Bukan karena kosmetik mahal, melainkan karena hidup yang lebih teratur.
“Aku tidak bisa hanya terus-terusan mengandalkan sistem,” gumamnya.
Kembali membuka layar hologram Sistem, Alina sudah memiliki rencana baru untuk hari ini.
[Starus Pemilik Sistem]
Status Pemilik: Stabil
Kekuatan Fisik: Rendah–Menengah
Daya Tahan Tubuh: Menengah
Kekuatan Mental: Tinggi
Alina merasa puas pada statusnya, meski ia selalu dibuat bingung dengan status yang terus berubah-ubah.
“Sepertinya Sistem ini hanya menunjukkan apa yang ingin aku lihat,” gumamnya, lalu ia fokus pada kekuatan fisiknya saat ini yang tergolong kurang.
“Kekuatan fisikku masih kurang. Aku harus meningkatkannya!”
Tanpa ragu, ia membuka menu latihan yang entah sejak kapan sudah nangkring di layar. “Benar-benar tau apa yang aku butuhkan.”
[Rekomendasi Sistem – Latihan Dasar]
• Latihan berlari keliling Desa
• Penguatan otot dengan melakukan olahraga angkat beban
• Melakukan Yoga di akhir
Catatan: Tidak bersifat instan. Konsistensi diperlukan untuk mendapatkan hasil memuaskan!
Alina tersenyum tipis.
“Itu semua sangat cocok untuk aku, lakukan.”
Hari-hari berikutnya, rutinitas Alina berubah.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia berlari kecil mengelilingi ladang, kadang berlari di jalanan depan rumahnya.
Awalnya, napasnya cepat terengah, kakinya terasa berat, dan tubuhnya sering pegal-pegal.
Namun ia tidak berhenti ataupun mengeluh.
Setelah olahraga, ia lanjut dengan rutinitas menanam di ladang, menyiram tanaman, yang mana intinya ia terus bergerak.
Siang hari, ia mengangkat karung pupuk dan hasil panen seorang diri.
Bukan untuk pamer kekuatan, melainkan untuk membiasakan tubuhnya dengan beban nyata.
Malam hari, ia melakukan latihan pernapasan sambil duduk bersila, mendengarkan suara alam.
[Ding!]
[Peningkatan Kekuatan Fisik Terdeteksi.]
[Kondisi tubuh meningkat secara bertahap.]
Alina tidak merasa kuat hanya dalam semalam.
Namun ia merasa keadaan tubuhnya jauh lebih baik setelah apa yang dilakukannya selama beberapa hari terakhir.
Lebih sadar akan kekuatan tubuhnya sendiri.
Lalu ia menjadi lebih siap menghadapi hari esok tanpa bergantung sepenuhnya pada sistem.
***
Malam telah turun di Desa Lembah Aruna.
Di balai kecil yang biasanya digunakan untuk rapat warga, beberapa orang tua desa duduk melingkar.
Lampu penerangan menyala redup, memantulkan bayangan wajah-wajah yang telah dimakan usia, namun sorot mata mereka tetap tajam.
“Kalian juga merasakannya, kan?” ujar Pak Wirya, tetua desa yang paling dituakan. Suaranya rendah namun tegas.
“Tanah di ladang belakang rumah kayu itu kembali hidup,” sambung Bu Ratna, wanita paruh baya yang dikenal paling peka terhadap perubahan sekecil apapun di desanya. “Persis seperti dulu.”
Sejenak suasana hening.
Nama yang tak mereka ucapkan itu menggantung di udara.
“Anak itu akhirnya kembali,” ucap Pak Leman pelan. “Putri mereka!”
Pak Wirya mengangguk perlahan. Keriput di wajahnya seolah semakin dalam.
“Orangtuanya menitipkan amanah pada kita bertahun-tahun lalu,” katanya. “Bukan emas, bukan juga uang, tapi sesuatu yang lebih berharga dari semua itu.” Ia menatap ke arah ladang yang tak terlihat dari balai.
“Mereka bilang, jika suatu hari anak mereka kembali ke desa ini dan tanah itu merespons kehadirannya, maka saat itulah rahasia boleh dibuka.”
“Tetapi kalau dia bukan putri mereka dan justru seperti anak perempuan yang sebelumnya kita rawat dengan sia-sia, apa rahasia itu akan tetap kita sampaikan padanya?” tanya seseorang ragu.
“Kalau ia bukan putri kandung mereka, adang itu akan tetap mati, tidak akan bangkit.” jawab Pak Wirya mantap.
Bu Ratna tersenyum tipis. “Aku melihat caranya merawat tanah. Lembut, sangat perhatian pada tanaman, persis seperti ibunya.”
Suasana kembali sunyi.
“Sepertinya dia memang putri kandung yang selama ini kita nanti! Kalau sudah begini, apa kita perlu memberitahunya sekarang?” tanya Pak Leman.
Pak Wirya menggeleng pelan. “Belum. Rahasia itu bukan untuk sembarangan diungkapkan. Jika waktunya tiba, tanah itu sendiri yang akan membimbingnya.”
Mendengar itu semua orang mengangguk kecil
Di luar balai, angin malam berembus lembut, menyentuh ladang yang mulai kembali bernapas.
Dan tanpa Alina sadari, langkahnya selama ini tidak pernah sendirian.
Ada sebuah rahasia lama
yang setia menunggunya pulang.