"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendesah Di Garasi
Meja makan penuh masakan, dengan banyak menu yang sangat menggiurkan. Arimbi dan Ambar tersenyum senang, akhirnya setelah dua hari Dira ngambek masak sekarang sudah mau membuat aneka hidangan untuk sarapan.
"Makanlah yang banyak, karena mungkin ini terakhir kali aku memasak." Ucap Dira mengambil makanan untuk dirinya sendiri mengabaikan piring Agung.
Pada akhirnya Dara memberanikan diri mengisi piring selingkuhannya tanpa sungkan.
"Mas Agung segini cukup? Mau lauk apa?" Tanya Dara lembut.
"Wah... Padahal aku istri Agung, tapi kamu yang menyajikan makanannya. Ya... Gak apa sih, hitung-hitung kamu belajar punya suami. Yang penting jangan suka mencuri suami orang saja." Ucap Dira.
Ambar dan Arimbi saling pandang, tapi saat ini mereka lebih peduli mengisi perut daripada debat. Lagian gak penting juga berdebat dengan selingkuhan Kakaknya yang menurut mereka, apapun itu jauh lebih baik daripada Dira yang tuli.
"Aku... Hanya membantu Mas Agung. Maaf bukan maksudku mau lancang." Ucap Dara dengan suara bergetar.
"Ya sudah gak apa-apa, kita lanjut makan saja dulu. Cuma lain kali, jangan suka lancang dengan milik orang lain. Sekali pun suamiku mau, itu karena tidak ada kucing yang menolak ikan asin apalagi gratisan. Tapi aku percaya dengan Mas Agung, dia tipe suami setia. Benar kan Mas?" Ucap Dira.
Dara mengepalkan tangan di bawah meja, sedangkan Agung tersenyum canggung.
"Tentu, siapa yang akan selingkuh. Berarti aku bodoh mengkhianati kamu, sudah cantik, sexy, pandai, kaya. Apalagi yang ingin aku cari. Tidak ada yang bisa menandingimu." Ucap Agung, tapi ada rasa bersalah saat mengatakan kalimat yang menyakiti hati Ibu dari anaknya.
Agung melirik sendu Dara seolah sedang berbicara dengan bahasa kalbu. "Sabar sayang, hanya sebentar saja. Setelah semua aku miliki, aku akan tendang perempuan tuli ini." Begitulah bahasa kalbu yang hanya terdengar oleh mereka berdua saja.
"Ambar, bagaimana kuliahmu?" Tanya Dira.
"Gak gimana-gimana biasa saja." Jawabnya cuek terkesan tak sopan.
"Hanya sampai semester ini saja, aku membayar uang kuliah kamu. Mulai semester empat, bayarlah sendiri. Kalau perlu kamu bekerja saja, jadi apa saja yang penting tidak membuka selang kangan untuk suami orang." Ucap sarkas Dira.
"Kok begitu? Aku tidak mau!" Ucap Ambar menggebrak meja sampai semua piring bergetar saking kerasnya.
"Terserah saja, mau tidak mau. Tidak ada pengaruhnya untukku, justru kamu yang rugi kalau membantah. Tanyakan saja sama Mas Agung, siapa tahu dia punya uang. Bukankah dia gak pernah mengeluarkan uang? Selama ini kebutuhan rumah termasuk kalian, aku yang bayarin. Sebagai seorang wakil CEO Mas Agung tuh gajinya gede banget..."
"Dan sebagai Istri yang SAH aku belum pernah diberi nafkah. Kalau dihitung 24 bulan berapa? Karena aku gak minta uangnya, lebih baik kalau buat Ambar. Bukan begitu Bu?" Tanya Dira menatap Ibu Mertuanya yang salah tingkah dengan wajah pucat pasi.
"Sudahlah ayo makan, setelah ini aku mau langsung berangkat kerja. Arimbi dan Mas Agung berangkat langsung bareng aku. Mobil di rumah ini ada lima, terlalu pemborosan karena masalah Perusahaan masih belum kalian selesaikan. Jadi selain mobilku, yang lain akan aku jual hari ini." Ucap Dira.
"Terus aku kuliah naik apa?" Ambar menatap sengit Dira, tidak ada sedikit pun rasa takut.
"Ada ojek, bus, angkot, tinggal pilih. Jangan manja." Sahut Dira.
"Sudah ayo berangkat." Ucap Dira merapikan pakaiannya dan langsung mengambil tas yang sudah dia siapkan.
"Bu, jangan dulu keluar rumah. Karena untuk sementara juga mobil Ibu aku jual sampai Arimbi mampu membayar semua hutang-hutangnya. Dan Dara jangan lupa cuci piring, nyapu, ngepel." Ucap Dira.
Dira buru-buru mengajak suami dan adik iparnya berangkat ke kantor sebelum obat pencahar yang dia berikan beraksi di rumah. Karena agenda hari ini masih ada rapat untuk bersih-bersih. Semua karyawan yang tidak kompeten akan Dira pangkas, termasuk suami dan adik iparnya tentu saja.
Tapi, Dira ingin membuat drama. Yang pasti setelah ini harga diri Agung dan Arimbi akan terjun bebas nyungsep masuk jurang.
Ambar melongo karena semua kunci mobil dibawa Dira beserta STNKnya.
"Gila, serius dia jual mobilnya? Ih ini gara-gara Kak Arimbi yang gak pecus kerja, korupsi segitu saja sampai ketahuan."
Omel Ambar tapi tetap berangkat kuliah, mungkin naik ojek online.
Sementara itu, Ibu Arumi hanya bisa menghela nafas karena semua piring harus dia yang mencuci.
Apakah di rumah ini tidak ada pembantu? Dulu ada, tapi sudah beberapa minggu pembantunya pulang kampung karena katanya anaknya sakit.
"Dara... Ayo bantu cuci piring."
"Astaga Bu... Aku tuh sedang hamil, gak boleh terlalu capek. Sudah Ibu saja yang cuci, aku mau rebahan sambil nonton TV." Ucap Dara berlagak layaknya Nyonya rumah, padahal hanya GUNDIK.
Ibu Arumi kesal sebenarnya, tapi tak bisa berbuat banyak karena Dara adalah calon menantu kesayangannya. Dan Ibu dari cucu kandungnya.
Di ruang keluarga, Dara mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya. Lubang sensitifnya berdenyut-denyut gatal, seolah ada hasrat yang hendak disalurkan tapi sekarang rumah sepi. Tanpa sadar tangannya menggaruk sendiri, dengan keringat yang mulai berjatuhan. Dara gelisah, duduknya tidak diam.
"Ahhh..." Desahnya sendiri yang membuat Ibu Arumi mendengar lalu terkejut.
"Kamu ini kenapa? Pagi-pagi sudah gatal, sudah tahu Agung sedang bekerja." Omel Ibu Arumi.
"Gak tahu ini Bu, aku... Ahh..." Dara terlihat semakin menjijikkan.
"Sudahlah... Mandi air dingin sana. Kalau mau susul Agung ke kantor, tapi ada Dira yang akan membunuh kamu di sana. Segitunya kamu yang pingin bercinta."
Ibu Arumi tak habis pikir, dia kira Dara gadis baik-baik tapi bisa terang sang di saat tidak ada orang. Padahal itu karena kerjaan Dira. Tak lama kemudian, Ibu Arumi pun sakit perut dan bolak balik ke kamar mandi dapur.
"Astaga... Kenapa juga tiba-tiba perutku sakit." Ucap Ibu Arumi.
Karena sudah tidak tahan dan otaknya mulai konslet pengaruh obat. Dara yang sudah tidak berfikir jernih langsung keluar rumah, mencari siapa pun yang bisa membantunya.
"Ahh..." Desah Dara di teras.
Sepi, tidak ada seorang pun datang. Hingga akhirnya, Dara melakukan solo di dalam garasi mobil. Tanpa bantuan dari siapa pun.
Benar-benar menjijikkan, wanita berperut buncit itu melepas sendiri pakaiannya. Tanpa dia sadari, jika di garasi full dengan kamera CCTV.
Dara terus gelisah karena masih belum mencapai puncak rasa nikmat. Dira memang tidak memberikan obat dengan dosis tinggi, karena cukup dengan merekam kegiatan di garasi. Akan membuat Dara merasa malu.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂