Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KONFESI DI MALAM HUJAN
#
Seminggu setelah kejadian di gubuk, Dyon mulai pulih. Tangan kanannya masih diperban—tulangnya retak, nggak bisa gerak banyak. Gigi depan yang patah bikin dia susah ngomong jelas—sedikit pelo. Rusuk masih nyeri kalau napas dalam.
Tapi... dia hidup.
Dan yang paling penting—dia punya Ismi.
Setelah malam itu, setelah konfesi mereka berdua, hubungan mereka berubah. Nggak cuma teman lagi. Lebih dari itu. Meskipun mereka nggak bilang ke siapa-siapa—takut jadi gosip sekolah, takut Edward tau—tapi mereka tau. Saling tau.
Hari ini Sabtu. Nggak ada sekolah. Tapi Ismi ngajak Dyon ke perpustakaan umum—tempat yang gratis, ada AC, ada buku banyak. Mereka sering ke sana sejak seminggu lalu—belajar bareng, ngobrol, ketawa.
Sore itu langit mendung. Awan hitam tebal nutupin matahari. Angin kencang—bikin daun-daun pohon bergerak liar.
"Kayaknya bakal hujan," kata Ismi sambil ngeliatin langit dari jendela perpustakaan.
Dyon duduk di sebelahnya—buku matematika terbuka di depan, tapi dia nggak baca. Cuma ngeliatin Ismi. Profil wajahnya yang lembut, jilbab pink muda yang melayang pelan kena angin dari jendela, mata cokelat yang fokus ngeliatin awan.
Cantik.
Dia cantik banget.
"Dyon?" Ismi nengok—ketangkap basah lagi ngeliatin dia. "Kamu ngeliatin aku terus. Kenapa?"
Muka Dyon langsung merah. "Nggak... nggak kok. Aku cuma... cuma liat awan."
Ismi nyengir. "Awan ada di sebelah sana. Bukan di sini."
Dyon ketawa kecil—malu. "Iya deh, iya. Ketahuan."
Mereka lanjut belajar—atau nyoba belajar. Dyon susah fokus. Pikirannya melayang terus. Ke Ismi. Ke perasaannya. Ke kata-kata yang pengen dia bilang tapi belum sempet.
*Aku mencintaimu.*
Kata itu udah di ujung lidah sejak seminggu lalu. Tapi... takut. Takut Ismi nggak nerima. Takut dia bilang "aku cuma sayang sebagai teman". Takut... semuanya hancur.
Jam lima sore, perpustakaan tutup. Mereka keluar—langit udah makin gelap. Angin makin kencang.
"Wah, beneran bakal hujan nih," kata Dyon sambil ngeliatin langit.
"Kita naik angkot aja yuk. Cepet," Ismi narik tangan Dyon—lari kecil ke halte bus yang nggak jauh dari perpustakaan.
Tapi...
Terlambat.
Hujan turun—tiba-tiba, deras banget. Kayak langit jebol. Air ngeguyur keras, bikin jalanan basah dalam hitungan detik.
"LARI!" Ismi teriak sambil ketawa. Mereka lari—basah kuyup, sepatu nyiprat air, jilbab Ismi basah nempel di kepala.
Sampai di halte—bangunan kecil atap seng, ada bangku kayu panjang. Mereka masuk, napas ngos-ngosan.
"Astaga... hujannya gila banget," kata Ismi sambil ngelap muka yang basah. Senyum lebar—ketawa geli.
Dyon cuma nonton—kagum. Meskipun basah kuyup, meskipun jilbabnya berantakan, Ismi tetep cantik. Malah... makin cantik.
Mereka duduk di bangku—diam-diaman. Ngeliat hujan yang turun lebat di depan halte. Suara gemuruh air yang ngebuat jalanan kayak sungai kecil. Petir menyambar jauh—bunyi gedebum pelan.
Dingin.
Dyon ngerasa dingin—baju basah nempel di kulit. Menggigil dikit.
"Kamu kedinginan?" tanya Ismi.
"Nggak... nggak kok," bohong Dyon.
Ismi senyum. Tanpa ngomong apa-apa, dia geser—lebih deket ke Dyon. Sampe bahu mereka nyentuh. Hangat.
"Sekarang lebih hangat kan?" tanya Ismi pelan.
Dyon ngangguk. Mukanya merah lagi—syukur gelap, jadi nggak keliatan.
Hening. Cuma suara hujan yang keras. Nggak ada orang lain di halte—cuma mereka berdua. Dunia kayak berhenti—cuma ada mereka, hujan, dan detak jantung Dyon yang makin cepat.
"Ismi," panggil Dyon pelan—suaranya gemetar.
"Hmm?"
"Aku... aku mau bilang sesuatu."
Ismi nengok—mata penuh perhatian. "Apa?"
Dyon napas dalam—rusuknya protes dikit, tapi dia paksa. Ini penting. Ini... ini harus dia bilang.
"Aku... aku mencintaimu."
Kata-kata itu keluar—jelas, tegas, meskipun suaranya gemetar.
Ismi terdiam. Matanya melebar.
Dyon lanjut—cepat, takut dia nggak berani kalau berhenti. "Aku... aku tau aku nggak punya apa-apa. Aku... aku cuma anak jalanan. Anak yatim piatu yang tidur di gubuk. Aku nggak bisa kasih kamu rumah mewah, mobil mahal, atau... atau kehidupan yang layak. Aku... aku nggak pantas buat kamu."
Air mata mulai keluar—Dyon nggak bisa nahan. "Tapi... tapi aku mencintaimu, Ismi. Dari... dari pertama kali aku liat kamu senyum. Dari pertama kali kamu nggak natap aku kayak sampah. Aku... aku jatuh cinta. Dan aku... aku nggak bisa bohongin perasaan ini lagi."
Ismi masih diem. Air mata mulai ngalir dari matanya—pelan, turun ke pipi.
"Kalau... kalau kamu nggak mau, aku ngerti," lanjut Dyon—suaranya pecah. "Aku ngerti kalau kamu butuh orang yang lebih baik. Orang yang... yang kaya, yang bisa kasih kamu segalanya. Tapi... tapi aku cuma mau kamu tau. Kalau aku... aku—"
Jari Ismi menutup mulut Dyon.
Lembut. Hangat.
Dyon terdiam. Matanya natap Ismi—bingung.
"Dyon," bisik Ismi sambil nangis. Senyum di tengah air matanya. "Kamu... kamu punya hatimu. Dan itu... itu sudah cukup."
Dyon nggak percaya telinganya. "Ismi..."
"Aku nggak butuh rumah mewah," kata Ismi sambil ngelep air matanya—tapi makin banyak yang keluar. "Aku nggak butuh mobil mahal. Aku... aku cuma butuh kamu. Dyon yang baik. Dyon yang kuat. Dyon yang... yang mencintaiku dengan tulus."
"Berarti... berarti kamu..."
"Iya," Ismi ngangguk—cepat. Senyum lebar. "Aku juga mencintaimu, Dyon. Aku... aku mencintaimu."
Dunia Dyon meledak.
Hatinya meledak.
Semua rasa sakit, semua penderitaan, semua air mata—semuanya hilang dalam sedetik.
Karena Ismi... Ismi mencintainya.
Tanpa mikir—tanpa ragu—Dyon pegang pipi Ismi dengan tangan kirinya yang sehat. Deketin muka—pelan, kasih waktu buat Ismi mundur kalau dia nggak mau.
Tapi Ismi nggak mundur.
Malah... dia yang maju.
Bibir mereka bertemu.
Lembut. Hangat. Manis.
Ciuman pertama.
Hujan makin deras—air ngeguyur atap seng halte, bunyi keras kayak drum. Petir menyambar lagi—cahaya putih sebentar bikin dunia terang, terus gelap lagi.
Tapi Dyon nggak peduli.
Yang dia rasain cuma... Ismi.
Bibir Ismi yang lembut. Tangan Ismi yang pegang kerah bajunya—erat, kayak takut dia hilang. Nafas Ismi yang hangat.
Mereka lepas ciuman—pelan. Dahi nempel satu sama lain. Nafas berat.
"Aku mencintaimu," bisik Dyon.
"Aku juga mencintaimu," balas Ismi—senyum lebar, meskipun air matanya masih ngalir.
Mereka peluk—erat. Dyon peluk Ismi kayak peluk dunia. Ismi peluk Dyon kayak nggak mau lepas.
Hujan terus turun—deras, dingin, basah.
Tapi di dalam pelukan itu...
Hangat.
Hangat banget.
*Cinta pertama datang seperti hujan.*
Dyon senyum—tulus. Pertama kalinya dalam hidup dia, senyum yang beneran bahagia.
*Tiba-tiba, membasahi jiwa, dan tidak bisa ditolak.*
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Tapi hujan nggak selamanya indah. Kadang... hujan datang bersama badai. Dan badai yang akan datang... akan menghancurkan segalanya.*