Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper
Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Datang ke Thorne Group pertama kali
Alex dan Jody tiba di Thorne Group, tanpa menyia-nyiakan waktu, mereka langsung menuju ruang rapat yang sudah dipenuhi oleh para eksekutif dan manajer yang menunggu.
Rapat baru selesai menjelang tengah hari. Setelah para eksekutif meninggalkan ruangan, Alex melonggarkan dasinya sedikit. Jody mendekat, meneliti jadwal.
“Tuan Muda, rapat berikutnya dengan pihak konstruksi adalah pukul satu. Kita perlu menyiapkan.....” Jody tiba-tiba terdiam, matanya menatap daftar di tabletnya. “Uhm... Maaf tuan muda sepertinya... Berkas anggaran konsolidasi yang Tuan Muda minta untuk ditinjau ulang tertinggal ada di mansion.”
Alex memijat pelipisnya. “Kenapa bisa tertinggal?”
“Saya kira saya sudah memasukkannya ke dalam tas Tuan Muda tadi pagi, tapi sepertinya terlewat. Saya akan segera menghubungi Sam untuk mengirimkannya ke sini sekarang juga. Itu adalah berkas kunci untuk rapat jam satu.”
Alex mengangguk, sedikit kesal. “Ya, lakukan segera.”
Di tempat lain, di kediaman pribadi Alexander, Beatrice baru saja kembali setelah menjenguk Colton dan mengurus pengunduran diri dari pekerjaan paruh waktunya. Black card dari Alex terasa berat di tas tangannya, dia belum menggunakannya dan sedikit canggung memilikinya.
Tujuan Beatrice selanjutnya adalah dapur. Dia berniat memasakkan sup ayam yang hangat dan bergizi untuk Colton dan akan membawanya ke rumah sakit lagi sore nanti.
Setibanya di rumah, saat Beatrice baru saja melangkah masuk, dia melihat Sam keluar dari ruang kerja Alex, terburu-buru dengan raut wajah cemas, menenteng sebendel dokumen tebal. Sam hampir berlari menuju pintu depan.
“Ada apa, Sam? Kau mau pergi ke mana? Kenapa terburu-buru begitu?” tanya Beatrice.
Sam yang melihat keberadaan Beatrice, seketika mendapatkan ide cemerlang. Melihat kecanggungan yang kentara antara Tuan Muda dan Nyonya Muda baru ini—yang entah kenapa menghindar sejak pagi—Sam merasa harus mengambil tindakan untuk membantu mencairkan suasana.
“Uh, ini, Nyonya Muda,” kata Sam, mengatur napas. “Tuan Muda meninggalkan berkas yang akan dia gunakan untuk rapat penting satu jam lagi. Saya harus mengantarkannya ke kantor secepatnya.”
Tiba-tiba, Sam memegang perutnya dan meringis kesakitan, menampilkan ekspresi seolah menahan sakit perut yang hebat. “Aduh!”
Beatrice terkejut. “Sam! Ada apa, Sam?”
“Sepertinya saya salah makan tadi pagi, Nyonya Muda, perut saya sakit sekali. Tapi ini… saya harus segera…” Sam berpura-pura terhuyung.
Tanpa pikir panjang, Beatrice segera merebut dokumen tebal itu dari tangan Sam. “Minumlah obat dan pergilah istirahat. Panggil dokter keluarga kalau perlu. Biar aku yang mengantarkan ini.”
Sam tersenyum lega, sebuah senyum penuh arti yang tersembunyi. “Terima kasih banyak, Nyonya Muda. Anda menyelamatkan saya.” Sam membungkuk dalam-dalam dan segera undur diri, melangkah cepat, menuju kamar mandi untuk menghindari tatapan Beatrice.
Begitu Sam memastikan dirinya aman di dalam kamar mandi, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku dan mengetik pesan singkat dengan cepat. Jarinya bergerak cekatan, seolah takut waktu akan mencuri kesempatan sekecil apa pun.
> Jody, dokumennya akan dibawakan oleh Nyonya Muda. Dia sedang dalam perjalanan ke Thorne Group sekarang.
Di kantor pusat Thorne Group, Jody membaca pesan itu di layar ponselnya. Alisnya terangkat sedikit, lalu ia menoleh ke arah Alex yang tengah bekerja di mejanya. Sementara itu makan siangnya hanya ditinggalkan di meja lain, belum tersentuh.
“Tuan Muda,” panggil Jody "Kata Sam. Berkasnya akan diantarkan, oleh… Nyonya Muda.”
Alex langsung mendonggakkan kepalanya. Untuk sesaat, keterkejutan jelas terpancar di wajahnya. Namun rasa terkejut itu segera tergantikan oleh sesuatu yang lebih hangat, perasaan bahagia yang tak bisa ia sembunyikan.
"Beatrice datang. Jadi dia tidak menghindariku", pikir Alex.
“Suruh Nolan mengemudi dengan hati-hati,” ucap Alex, nada suaranya terdengar lebih hidup dibandingkan sebelumnya. “Dan Jody, kau sambut Beatrice di lobi. Siapkan akses lift eksekutif khusus untuknya. Mulai sekarang, dia bisa datang kapan pun ke Thorne Group tanpa prosedur apa pun.”
Alex kembali bekerja sambil terenyum tipis. Baru beberapa jam berpisah, namun Alex sudah merindukan Beatrice.
Tak lama kemudian, Beatrice tiba di depan gedung utama Thorne Group.
Bangunan itu menjulang tinggi, megah, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Beatrice tanpa sadar menelan ludah. Ada rasa terintimidasi yang menyelinap masuk, menekan langkahnya. Namun ia menarik napas dalam-dalam dan menguatkan diri.
Bagaimanapun, ia adalah istri Alex sekarang. Cepat atau lambat, ia akan sering datang ke tempat ini. Ia harus terbiasa meski dunia belum tahu hubungannya dengan Alex. Beatrice ingin menutupi hubungannya dengan Alex untuk sementara waktu karena dia akan kembali mengejar impiannya menjadi aktris. Dia tidak mau bergantung pada nama besar Alexander Thorne.
Sam tadi mengirimkan chat bahwa Jody akan menunggunya di lobi. Beatrice menoleh ke sekeliling, mencari sosok yang dimaksud, namun tidak menemukannya.
Ia baru tersadar akan satu hal penting, ia tidak memiliki nomor ponsel Alex. Bahkan nomor Jody pun tidak. Kesadaran itu membuatnya merasa sedikit canggung, seolah jarak di antara mereka masih terbentang, meski status mereka telah berubah.
Beatrice melangkah menuju meja resepsionis.
“Aku datang untuk mengantarkan dokumen untuk Tuan Alex. Bisa tolong dikonfirmasi ke asistennya yang bernama Jody,” ucap Beatrice dengan tenang.
Namun resepsionis itu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergerak dari ujung rambut Beatrice hingga ke ujung sepatunya, menilai, mengukur, dan pada akhirnya meremehkan.
Resepsionis itu tahu betul jika dokumen CEO tertinggal di rumah, yang biasanya datang adalah kepala pelayan, seorang pria paruh baya. Gadis di depannya ini meskipun sangat cantik tapi terlalu muda, terlalu sederhana, dan yang jelas dia bukan kepala pelayan di mansion CEO mereka.
Setelah jeda singkat, resepsionis itu menyunggingkan senyum mengejek.
“Siapa kamu?” katanya sinis. “Kamu bukan kepala pelayan yang biasa datang ke sini. Jangan bilang kamu berniat merayu CEO kami? Kalau itu tujuanmu, seharusnya kamu berdandan sedikit. Kau pikir CEO kami tertarik pada gadis cilik sepertimu? Kelihatannya kamu bahkan belum lulus sekolah. Banyak wanita cantik datang ke sini dengan harapan yang sama.”
Wajah Beatrice langsung menggelap. Rasa jengkel menjalar cepat, namun suaranya tetap terkendali.
“Apa kau sudah selesai bicara?” tanyanya dingin. “Bukankah itu tugasmu untuk memastikan apa benar aku datang untuk mengantarkan dokumen atau bukan? Aku hanya meminta kamu memastikan ke asisten Alex? Kenapa kau tidak menelepon untuk memastikan, malah langsung menuduh?”
Resepsionis lain mendengus. “Masih saja berbohong. Memangnya kamu siapa? Adik CEO? CEO kami tidak punya adik atau sepupu perempuan. Gadis cilik sepertimu bisa-bisanya sudah belajar merayu pria kaya. Cepat pergi, jangan mengganggu kami”
Belum sempat Beatrice menjawab, pintu lift eksekutif tiba-tiba terbuka.
Jody melangkah keluar. Matanya langsung menangkap sosok Beatrice di dekat meja resepsionis. Tanpa ragu, ia berjalan cepat mendekatinya.
Kedua resepsionis itu sontak berubah sikap. “Asisten Jody, ada yang bisa kami bantu?” sapa mereka gugup.
Namun Jody sama sekali tidak menoleh. Pandangannya tertuju penuh pada Beatrice.
“Nyonya...”
“Oh, Jody,” potong Beatrice cepat, tidak mau orang lain tahu kalau dia sudah menikah dengan Alex. “Tolong berikan ini pada Alex. Aku akan langsung pulang.”
“Eh? Anda tidak naik?” Jody tampak terkejut. “Tuan Muda sudah menunggu Anda. Beliau pasti lebih senang jika Anda memberikannya langsung.”
Beatrice ragu sejenak. “Apa aku tidak akan mengganggu pekerjaannya?”
“Tentu saja tidak,” jawab Jody mantap. “Mari, saya antar.”
Beatrice akhirnya mengangguk dan mengikuti Jody menuju lift eksekutif.
Di belakang mereka, dua resepsionis yang tadi bersikap tidak sopan hanya bisa mematung. Wajah mereka pucat, jantung berdegup kencang.
Mereka takut telah berbuat lancang pada orang yang penting bagi Alex. Kemungkinan pemecatan mulai muncul di pikiran mereka.
Jika asisten pribadi CEO sendiri yang mengantar gadis itu, maka jelas Beatrice bukan orang sembarangan.
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣