NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. KELUARGA NOVI MENEKAN CERAI

Hari itu paginya sudah terasa sangat panas meskipun matahari baru mulai tinggi. Rian sedang membersihkan pekarangan rumah sambil memikirkan jadwal wawancara kerja yang akan datang ketika melihat mobil motor Kakak Wati berhenti di depan rumah. Kali ini, Bu Minah datang bersama dengan kakak laki-laki Novi, Budi, yang wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ramah.

“Rian, kita perlu bicara serius denganmu,” ujar Bu Minah dengan suara yang tegas dan dingin begitu mereka memasuki rumah. Budi hanya berdiri di belakangnya dengan tatapan mata yang penuh dengan ancaman, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Rian segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak mereka duduk di ruang tamu. Dia bisa merasakan bahwa kedatangan mereka kali ini tidak akan membawa kabar baik. Novi yang sedang merawat Alea di kamar segera keluar ketika mendengar suara ibu dan kakaknya, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kekhawatiran.

“Bu, Kakak Budi, apa yang terjadi?” tanya Novi dengan suara yang sedikit gemetar.

Bu Minah menoleh ke arah putrinya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan. “Kita sudah tahu tentang pertengkaran besar yang terjadi kemarin malam, Novi,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Kita juga sudah tahu tentang segala kesusahan yang kamu alami selama ini karena tidak bisa mendapatkan kehidupan yang layak bersama Rian.”

Rian merasa tubuhnya menjadi kaku mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa ini adalah momen yang dia takuti selama ini. “Bu Minah, saya sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kami,” ujarnya dengan suara yang lembut namun tetap tegas. “Kita memang mengalami kesulitan, tapi saya yakin kita bisa melewatinya bersama-sama.”

“Yang terbaik sudah tidak cukup lagi, Rian!” balik Bu Minah dengan nada yang penuh dengan kecewa. “Kita telah memberimu waktu satu bulan untuk menemukan pekerjaan stabil, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu hanya membuat Novi dan cucu-cucu kita menderita dengan pertengkaran yang tidak perlu dan tuduhan yang menyakitkan hati!”

Budi akhirnya membuka mulut dengan suara yang dalam dan penuh dengan ancaman. “Kamu harus mengerti, Rian,” ujarnya dengan suara yang rendah namun jelas terdengar. “Keluarga kita tidak mau memiliki menantu yang tidak bisa menjaga istri dan anaknya dengan baik. Kamu tidak hanya tidak bisa menghasilkan uang yang cukup, tapi juga membuat Novi merasa tidak bahagia dan tidak aman.”

“Tidak ada yang seperti itu, Kakak Budi!” ujar Novi dengan suara yang semakin tinggi, berusaha membela suaminya. “Rian mencintaiku dan anak-anak dengan sepenuh hati. Kita hanya sedang mengalami masa-masa sulit yang sementara saja.”

“Masa-masa sulit yang sudah berlangsung terlalu lama, Novi!” ujar Bu Minah dengan menangis pelan. “Kamu masih muda dan memiliki masa depan yang cerah. Kamu tidak boleh menghabiskan hidupmu bersama seorang pria yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagimu dan anak-anakmu!”

Bu Minah kemudian melihat langsung ke arah Rian dengan tatapan mata yang penuh dengan tekad. “Kita telah membuat keputusan akhir, Rian,” ujarnya dengan suara yang tegas. “Kamu harus mengajukan permohonan cerai kepada Novi dan menyerahkan hak asuh anak-anak kepada keluarga kita. Dengan begitu, kami bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Novi dan cucu-cucu kita – pendidikan yang layak, rumah yang nyaman, dan masa depan yang cerah.”

Rian merasa seperti ada pukulan yang sangat kuat mengenai hatinya. Kata-kata itu membuatnya merasa sangat tidak berharga sebagai pria, suami, dan ayah. “Saya tidak akan pernah mengajukan cerai kepada Novi dan saya tidak akan pernah menyerahkan anak-anak saya!” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad, berdiri dengan cepat dari kursinya. “Mereka adalah keluarga saya, dan saya akan melakukan segala yang bisa untuk memberikan kehidupan yang layak bagi mereka!”

“Jika kamu tidak mau mengajukan cerai secara sukarela,” ujar Budi dengan suara yang penuh dengan ancaman, berdiri dan menghadapi Rian dengan tubuh yang lebih besar. “Kita akan mengambil langkah hukum untuk memisahkan kamu dari Novi dan anak-anak. Kita memiliki cukup bukti bahwa kamu tidak mampu menjaga keluarga dengan baik dan bahwa anak-anak akan lebih baik tinggal bersama kami.”

Rian merasa darahnya mulai mendidih mendengar ancaman itu. Namun dia tetap mencoba untuk mengendalikan emosinya, tidak ingin membuat situasi menjadi semakin buruk. “Saya tidak akan pernah menyerah pada ancaman seperti itu, Kakak Budi,” ujarnya dengan suara yang tetap tenang namun penuh dengan keyakinan. “Saya akan berjuang untuk keluarga saya dengan sepenuh hati.”

Pada saat itu, Hadian keluar dari kamar dengan wajah yang pucat dan penuh dengan kesedihan. Dia telah mendengar seluruh pembicaraan keluarga ibunya dan suaminya. “Jangan cerai ya Papa, Bu Mama!” teriaknya dengan suara yang bergetar dan penuh dengan tangisan. “Aku tidak mau dipisahkan dari Papa atau Bu Mama! Aku hanya ingin kita semua tetap bersama-sama sebagai keluarga yang utuh!”

Alea juga keluar dari kamar dan berlari ke arah ayahnya dengan menangis, memeluk kakinya dengan erat. “Aku cinta Papa!” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas terdengar. “Aku tidak mau Papa pergi!”

Melihat wajah anak-anaknya yang menangis dan penuh dengan ketakutan akan kehilangan salah satu orang tuanya, semua orang di ruangan itu merasa hati mereka tertekan. Novi menangis deras dan segera membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat. “Aku tidak akan pernah meninggalkan Papa atau kamu berdua!” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad, melihat langsung ke arah ibu dan kakaknya. “Kita adalah keluarga yang utuh, dan kita akan melalui segala kesulitan ini bersama-sama!”

Bu Minah menangis lebih deras melihat ekspresi wajah putrinya yang penuh dengan tekad dan cinta terhadap suaminya serta anak-anak mereka. Dia menyadari bahwa dia telah terlalu memaksakan kehendaknya pada Novi tanpa memikirkan perasaan putrinya dan cucu-cucu yang sangat mencintai Rian sebagai suami dan ayah mereka.

“Kita hanya ingin kebaikan bagimu, Novi,” ujar Bu Minah dengan suara yang sudah mulai lembut. “Kita tidak ingin melihat kamu menderita sepanjang hidupmu.”

“Aku tidak merasa menderita, Bu,” jawab Novi dengan suara yang jelas dan penuh dengan cinta. “Rian adalah suami yang baik dan ayah yang penuh kasih. Kita memang mengalami kesulitan sekarang, tapi saya yakin bahwa suatu hari nanti kita akan hidup lebih baik. Yang penting adalah kita semua tetap bersama-sama.”

Budi juga merasa hati nya tergerak mendengar kata-kata putrinya dan melihat wajah cucu-cucu yang sangat mencintai Rian. Dia mengangguk perlahan dan berkata, “Kita akan memberikan kamu waktu lagi, Rian. Tapi kamu harus menunjukkan bahwa kamu benar-benar bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Novi dan anak-anakmu. Jika dalam waktu dua bulan ke depan kamu masih tidak bisa mendapatkan pekerjaan stabil, kita akan kembali untuk mengambil langkah yang diperlukan.”

Rian merasa sangat bersyukur mendengar kata-kata itu. Dia mengangguk dengan penuh rasa terima kasih dan berjanji, “Saya akan melakukan yang terbaik saya, Kakak Budi, Bu Minah. Saya tidak akan pernah mengecewakan Novi dan anak-anak saya. Saya akan membuktikan bahwa saya bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi mereka.”

Setelah itu, Bu Minah dan Budi pergi dengan hati yang penuh dengan keraguan namun juga harapan bahwa Rian akan bisa memenuhi janjinya. Rian dan Novi membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat, merasa sangat bersyukur bahwa mereka masih bisa tetap bersama-sama sebagai keluarga yang utuh.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!