NovelToon NovelToon
DI SUDUT HATI AMARA

DI SUDUT HATI AMARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Arafa

Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi

Hari ini aku siap untuk pergi kerja seperti biasanya. Aku datang dengan mengendarai motorku. Pelan saja, aku mengendarai motor sambil menikmati udara padi yang masih segar. Karena aku memang suka berangkat sedikit lebih awal agar tak sampai harian ber panas panasan. Tiba tiba dari arah belakang ada mobil yang melakukan kencang. Aku sudah mengendarai pelan dan agak ke tepi, tapi tak di duga mobil itu tetap saja menabrak ku.

" Astaghfirullahaladzim. Auwww".

Aku terkaget seketika motorku langsung oleng dan aku terjatuh. Untungnya tidak terlalu parah. Aku hanya tergores di bagian kaki dan tangan saja. Tapi biar begitu, jantungku masih berdetak cepat karena kaget.

Orang di sekitar langsung mendekat dan membantuku. Ada yang mengangkat kan motor dan ada yang membantuku berdiri. Mereka menutupi si penabrak yang lari begitu saja.

" Kamu tidak apa apa nak? ". Tanya seorang ibu yang menggandeng ku untuk duduk di tepi jalan. " Apanya yang luka? ".Dia begitu mengkhawatirkan aku.

" Saya tidak apa apa kok bu. Lukanya juga cuma goresan aja". Aku mencoba menenangkan diri.

" Tapi wajah kamu pucat sekali".

" Ini mbak, silahkan minum dulu". Seorang lelaki berkemeja kotak menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Sepertinya dia juga akan pergi bekerja.

" Iya. Terimakasih mas". Aku pun meminumnya pelan pelan.

" Mbak ini motornya, sepertinya dia tidak ada masalah. Semua aman". Ucap seorang lelaki lain yang ikut menolongku.

" Iya mas, terimakasih sudah menolong saya". Aku mencoba tersenyum walau rasanya masih campur aduk, kaget dan perih juga heran. Bagaimana bisa aku yang sudah mengendarai motor agak ke tepi masih juga tersenggol.

" Meraka kembali beraktifitas setelah melihat ku baik baik saja. Sisa lah ibu tadi yang masih menemaniku.

" Sebaiknya kamu ke klinik saja dulu nak, obati dulu lukanya agar tidak infeksi".

" Mungkin sebaiknya begitu".Jawabku pasrah.

" Biar ibu bantu ya, di dekat sini ada klinik mari kita ke sana".

" Baik bu. Tapi bagaimana kita perginya? sepertinya saya masih takut mengendarai motor".

" Saya telfon anak saya dulu, Dia tadi mau jemput, tapi sekarang belum sampai sampai". Dia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, Tapi baru saja dia akan menghubungi, sebuah mobil honda jazz berhenti tepat di depan kami. Ibu itu urung untuk menelfon. Dan seorang laki laki muda turu dari mobil mendekat pada kami.

" Mama". Dia memanggil. " kok malah disini? aku tadi nyari didepan toko seperti yang mama bilang lho"

" Iya maaf. Tadi mama lihat dia terserempet mobil, jadi mama tolongin ". Dia menunjuk ke arah ku.

" Benarkah? apa dia baik baik saja? ".

" Dia terluka ringan. Kita bantu bawa dia ke klinik dulu yuk. Yang nabrak tadi langsung kabur soalnya".

Laki laki itu melirik jam nya. Sepertinya dia juga akan pergi bekerja, dan takut akan telat. Ibu itu seperti mengerti yang di pikirkan anaknya.

" Sebentar saja. Kita bisa tinggal kan dia di klinik s e telah dia menghubungi keluarganya. Kasihan kan dia? *.

" Saya tidak apa apa kok bu. Nanti biar saya hubungi seseorang untuk menjemput ku. Kalian pergi saja tidak apa apa. Terima kasih banyak sudah menolong saya". Aku benar benar merasa tidak enak jika mengganggu pekerjaannya.

" Tidak bisa nak, kamu tidak boleh di tinggal sendiri di sini".

" Iya mbak, lebih baik segera kami antar ke klinik sekarang". Lelaki itu akhirnya mengalah.

" Motor saya bagaimana? ".

" Saya punya teman orang bengkel, nanti biar mereka periksa apa ada masalah atau tidak. Kemudian biar di antar ke rumah kamu".

" Saya jadi merepotkan kalian. Terima kasih banyak sekali lagi ".

Mereka hanya membalas dengan senyuman.

Selang beberapa menit, kami sampi si butik tujuan. Kami berjalan memasuki butik. Ibu itu menuntunku yang berjalan agak tertatih. Ternyata ada darah yang menetes dari kakiku.

Setelah seorang perawat membantu ku, meraka pamit untuk pergi.

" Maaf ya nak, kami harus pergi sekarang".

" Tidak mengapa bu, Saya akan menghubungi teman saya untuk menjemput. Sekali lagi terima kasih banyak sudah membantu saya".

" Sama Sama nak".

Kemudian mereka pergi meninggalkan ku yang sedang di obati setelah laki laki itu menanyakan alamat rumah untuk mengirimkan motorku yang di tinggal tadi.

Aku putuskan untuk menghubungi bu Zahira dulu untuk meminta ijin.

" Assalamu'alaikum bu... ".

Ku ucapkan salam setelah panggilan telefon ku terangkat.

" Waalaikumsalam. Kenapa Ra? kok belum sampai? biasanya kamu datang awal". jawaban

dari seberang sana membuatku teringat dengan kejadian yang baru ku alami.

" Iya bu maaf, tadi saya mengalami sedikit kecelakaan di perjalanan menuju butik. Jadi sekarang saya masih ada di klinik".

" Apa? kamu ketabrak atau gimana? Kamu nggak gimana sekarang? ".

" Iya, saya tadi terserempet dikit. Tapi hanya luka ringan kok, tergores saja. Tidak perlu khawatir ".

" Kamu dimana sekarang biar saya jemput? ".

Panggilan berakhir setelah aku menyebutkan alamat klinik yang sedang ku datangi. Biar lah bu u Zahira yang menjemput, dari pada harus mengabari ayan atau ibu, pasti mereka akan sangat khawatir.

" Sudah selesai mbak. Untungnya hanya luka ringan. Tapi biarpun begitu akan sedikit kesusahan saat berjalan. Jadi pelan pelan dulu jalannya biar cepat sembuh. Kalau perlu jangan di buat kerja yang terlalu banyak gerak.Saya kasih resep nya nanti bisa d tebus di apotek". Senyum manis tergambar saat dokter itu menjelaskan keadaanku.

" Iya dok. Terima kasih banyak "..

Aku pergi ke luar klinik setelah semua selesai. Sambil duduk di kursi depan klinik, aku menunggu bu Zahira yang katanya mau datang.

Tak perlu waktu lama. Dia akhirnya datang. Dia turun dari mobil bersama anaknya, Zuan. Meraka mendatangimu yang telah terduduk sendiri.

" Ya ampun Ra, gimana keadaan kamu? ". bu Zahira terlihat begitu cemas".

" Saya baik baik saja kok bu, cuma lecet dikit".

Dia memperhatikan ku dari atas sampai bawah.

" Beneran nggak papa? ".

Aku hanya mengangguk.

" Syukurlah kalo gitu. Ya udah biar kami anyar kamu pulang sekarang ya? ".

" Kayaknya saya pengen ke butik aja deh bu. Soalnya kerjaannya lagi banyak".

" Tapi kamu harus istirahat".

" Nggak apa apa. Saya bisa kok".

Aku berdiri dan berjalan menuju ke mobil bu Zahira. Sementara dia memperhatikan ku dari belakang.

" Kamu jalannya aja susah gitu kok mau maksa kerja. Nggak bisa. Kamu biar kami antar pulang saja".

" Tapi gaun si wanita pembuat onar itu harus segera di garap bu".

" Gampang itu, yang penting kamu istirahat dulu biar cepet sembuh. Lagian itu muka masih sedikit pucat".

Aku pun mengalah. Aku biarkan mereka membawaku pulang ke rah. Terbayang bagaimana ekspresi ibu saat melihat ku yang berjalan dengan kaki pincang. Padahal baru beberapa saat lalu aku berangkat masih sehat Wal afiat.

" Kok bisa tertabrak si Ra? ". Bu Zahira bertanya saat kami di dalam mobil.

" Tadi ada mobil dari arah belakang yang ngebut bu, jadi nyenggol motor ku deh. Padahal aku sudah di tepi jalannya, tapi tetep aja kena".

" Terus dia bawa kamu ke klinik? ".

" Tidak bu.. saya tadi di bantu sama orang yang ada di jalan. Mendekati yang bawa saya ke klinik. Kalau yang nabrak udah langsung kabur aja".

" Keterlaluan emang".

" Kira kira ku tahu nggak itu mobil siapa?". Zuan yang biasanya banyak diam, kali ini ikut bertanya.

" Saya tidak tahu mas".

"Kirain kamu tahu. Mungkin aja emang sengaja nabrak kan? ".

" Kok kamu bilang gitu Zuan? Amara mana punya musuh".

" Orang baik memang nggak punya musuh ma, tapi bisa membuat orang lain iri".

Deg..

Mungkin Zuan benar, tapi tidak mungkin.

Aku masih berusaha positif thinking. Pasti tidak ada unsur kesengajaan. Lagian apa yang membuat iri? Aku kan hanya seperti ini.

" Bisa jadi itu Ra. Kalau di pikir pikir, kamu sudah menepi tapi tetep kena. Bisa aja memang kamu udah di targetkan".

" Tidak mungkin bu. Ini pasti hanya kecelakaan ".

" Memang bener. kamu terlalu baik".

" Bukan begitu bu, tapi menuduh tanpa ada bukti kan jadi fitnah. Lagi pula, kalau di bilang ini unsur kesengajaan yang ada nanti saya terus mikirin siapa si pelaku saja. Jadi tidak tenang hidupku. Kan mending positif thinking aja biar nggak jadi beban pikiran".

" Bener sih.. tapi kalau memang di sengaja kan bisa jadi ada lain kalinya Ra".

" Betul. Itu yang perlu di waspadai".

" Kalau itu, saya serahkan saja sama Allah. Dia yang akan menjaga dan melindungi saya dari segala kejahatan dan keburukan".

Mereka hanya diam dan tak menanggapi. Sebenarnya aku juga kepikiran omongan mereka, tapi aku tidak mau jika semua itu menjadi pengaruh buruk untuk ku.

1
Jun
ceritanya bagus, tapi tanda bacanya di revisi lagi kak masih berantakan. semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!