NovelToon NovelToon
Wajah Lain Di Balik Topeng

Wajah Lain Di Balik Topeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Putri asli/palsu / Fantasi Wanita
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

  Apa yang di katakan benar, keluarga Draco datang untuk menjenguk Aurora yang masih istirahat di ruang perawatan.

  Ruang perawatan dimana Aurora berada ramai orang, mereka semua datang menjenguk gadis cantik bermata Dark hazel itu.

  "Apa masih ada yang sakit, sayang?" Elva memulai pembicaraan, dia tahu gadis bernama Aurora ini adalah sosok pendiam.

  "Sudah jauh lebih baik, tante," jawab Aurora, walaupun tak suka pada Arion. Namun, ibu dari pria playboy seperti Arion itu adalah wanita yang baik dan elegant.

  "Syukurlah, tante sangat terkejut karena Araina bilang kamu masuk rumah sakit. Padahal malam itu kita mengobrol ringan," kata Elva.

  "Tidak apa, Tante, namanya juga musibah tidak akan ada yang tahu," jelasnya.

  "Kamu terlalu baik sayang, jelas ini adalah kesalahan dari Anjani!" ungkap Elva, dia kecewa dengan apa yang ia dengar. Sejak awal ia memang tak suka Anjani.

  "Tante, jangan menyalahkan Anjani, dia sebenarnya baik hanya saja mungkin takut aku merebut kasih sayang. Seharusnya sejak awal aku tak boleh masuk dan kembali ke keluarga Harvey," Aurora memelas, dia mengatakan itu dengan suara serak. Namun, dalam hati dia bersorak sebab awal dari kehancuran Anjani di mulai.

  "Kau ini terlalu baik, jika di sakiti lagi kamu harus melawan, ya!" minta Elva.

  Aurora hanya tersenyum, dia menunduk kembali dan tersenyum diam-diam di balik topeng polos yang ia perlihatkan di permukaan.

  Usapan lembut di dapat, oleh gadis cantik bermata bulat itu, dia mendongak dan menemukan Arion berdiri di samping ranjang dengan senyum tipis.

  "Cepat sembuh ya," kata Arion.

  Sedangkan Aurora, dia hanya mengangguk kecil, Orang-orang mungkin menganggap Aurora menggemaskan dengan wajah seperti malu-malu.

  Namun, jelas saja itu sebenarnya wajah kesal dan seperti enggan menerima kehadiran Arion sang Playboy gadungan.

  'Jika bukan karena banyak orang aku tak mau tersenyum padanya!' batin Aurora dengan menggerutu di dalam hati.

  Sore ini Aurora kembali ke rumah, dia sudah sehat dan lagi ia malas harus lama-lama di rumah sakit sebab cukup sehari saja ia butuh istirahat.

  "Seharusnya lebih lama tinggalnya, Nak!" ucap Adeline.

  "Ma, aku tidak suka rumah sakit dan lagi pula aku sudah pulih."

  Adeline dan Baskara tak bisa menolak, keduanya akhirnya setuju untuk membiarkan Aurora kembali ke rumah walaupun perasaan khawatir itu masih terus merayapi perasaan mereka.

  "Ma,Pa" panggil Aurora, dia menatap kedua orang tuanya.

  "Ada apa, Nak? Kau mau sesuatu?" tanya Adeline, dia begitu perhatian dan sangat lembut.

  "Bisakah aku minta sesuatu, Mi?"

  "Apa? Katakan saja! Kau tak perlu sungkan," kata Adeline.

 "Tolong jangan lakukan apapun pada Anjani ya, aku tahu dia tak sengaja!" Aurora meminta dengan sungguh-sungguh.

  "Nak, biarkan itu menjadi urusan Papa dan Kak Kaynen, kamu cukup istirahat dan jangan pikirkan apapun!" Adeline menjelaskan apa yang seharusnya Aurora pahami.

  "Tapi Ma ... "

  "Sudah, ayo kita pulang!" Adeline membantu Aurora turun dari ranjang, dan gadis itu hanya setuju tanpa berani protes lagi.

  Tapi, jelas di dalam hati ia menunggu momen gadis yang dulu di sayang oleh keluarga Harvey kini akan menjadi pelampiasan amarah karena berani mengusik dirinya.

  'Kali ini tangan ku tak akan kotor!' batin Aurora dengan senyum menang.

...****************...

  Di dalam kamar sunyi kediaman keluarga Harvey, Anjani terduduk meringkuk di atas kasur, tubuhnya gemetar hebat, seolah setiap hela napasnya membawa bayangan gelap yang semakin menekan.

  "Apa yang harus kulakukan? Hari ini mereka akan pulang... dan aku tahu, kak Kaynen tak akan melepaskanku begitu saja," bisiknya dengan suara bergetar, ketakutan mencekam membelit hatinya. 

  Bayangan kekejaman Kaynen membakar pikirannya, apalagi setelah dia menyiksa Aurora hingga pingsan dan sekarang semua itu telah ketahuan.

 "Dimana kak Aruna? Kenapa dia tak muncul membantuku? Sial!" amarah dan rasa putus asa meluap dari dadanya, matanya menyala penuh kebencian. 

  Kakaknya itu entah menghilang entah mengabaikannya, meninggalkannya berhadapan dengan badai tanpa pelindung.

  "Semua ini... gara-gara Aurora. Sejak dia kembali, hidupku menjadi berantakan," gumamnya dalam hati. 

  menebarkan tuduhan ke sosok yang tak berdosa, berharap menemukan alasan di tengah kekacauan yang mencekam.

  Sore itu, ketakutan dan amarah saling bertarung dalam jiwa Anjani, menjebaknya dalam pusaran gelap yang semakin menyesakkan.

  Di lantai bawah, hiruk-pikuk para pelayan terasa seperti detak jantung rumah itu sendiri. Ada yang tekun menyiram tanaman, menuntaskan tugas dengan cermat di bawah senja yang mulai merayap. 

  Di dapur, aroma harum masakan membumbung tinggi, menandakan persiapan terakhir menjelang kedatangan tuan rumah. 

  Di meja makan, hidangan lezat sudah tersaji, menggoda lidah dengan janji kenikmatan, sementara pencuci mulut masih disiapkan, menambah sentuhan manis yang menggantung, menanti saatnya mengisi ruang dan waktu. 

  Suasana sibuk itu menegaskan betapa setiap detil diperhatikan, seakan rumah ini bernapas dalam irama kesempurnaan yang sebentar lagi akan penuh dengan kehadiran yang dinanti-nanti.

...****************...

  Di sebuah desa yang sunyi dan tenang, sebuah rumah cukup besar berdiri sederhana di tengah halaman yang dipenuhi beraneka ragam bunga berwarna-warni dalam pot-pot tertata rapi. 

  Harumnya bunga dan segarnya udara desa menyelimuti suasana, membawa ketenangan yang membuat banyak orang tua ingin menghabiskan sisa hidup mereka di sini, jauh dari hiruk-pikuk kota.

  Namun di balik kedamaian itu, ruang tamu rumah itu dirundung kesedihan yang pekat. Sepasang suami istri duduk berseberangan, wajah mereka tertutup oleh kepedihan yang dalam. 

  Sekar Aulia, sang ibu, suaranya bergetar saat mengungkapkan kerinduannya, "Pak, ibu sangat merindukan Aurora. Bagaimana kabarnya sekarang?" 

  Bagas Saputra memandang istrinya dengan mata penuh belas kasih, hatinya ikut remuk. "Aurora... aku yakin dia sudah menemukan kebahagiaannya bersama orang tua kandungnya. Di sini, dia hanya mengalami penderitaan, hidup serba kekurangan... aku tak ingin lagi, dia merasakan derita itu."

  Keheningan mengisi ruangan seolah menelan semua harap dan luka. Rindu yang membakar, penyesalan yang menggigit semua bercampur menjadi satu, menciptakan kegamangan yang begitu tajam di hati mereka.

  Sekar terdiam sejenak, kata-kata suaminya terngiang di benaknya, menusuk jauh ke dalam hati. Memang benar, Aurora pasti menjalani hidup yang nyaman dan penuh kemewahan di sana, kontras tajam dengan kehidupan berat mereka di desa.

  Bagas menatap istrinya dengan tatapan penuh kebingungan dan harap, "Buk, kenapa Anjani, putri kandung kita, sampai sekarang belum juga kembali?" Suaranya bergetar, menyiratkan keresahan yang tak terucap.

  Sekar menunduk, matanya mulai basah oleh tumpukan duka yang tak bisa lagi ia sembunyikan. "Dia... dia mungkin tak akan kembali, Pak. Sejak kecil dia disana sudah dimanja, semua keinginannya selalu dipenuhi. Sedangkan kita, hidup dalam derita dan kekurangan seperti ini." Suaranya bergetar, seperti patahan hati yang sedang hancur berkeping-keping.

  Diam itu berat, menggantung di antara mereka seperti awan gelap yang tak kunjung pergi, membungkam harapan yang mulai memudar.

  Sekar dan Bagas tahu, jarak itu bukan hanya soal ruang, tapi juga jurang kehidupan yang semakin melebar, menelan segala ikatan yang dulu pernah ada.

1
MataPanda?_
terus kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan😄
Senjaku02: Aamiin. terimakasih ☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus semangat kak up banyak"😄
Senjaku02: siap🫡
total 1 replies
Nadira ST
🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪💪
Nadira ST
kereeennnn🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕☕
Allea
kirain mo bilang besok kamu akan dikembalikan ke keluarga kandungmu ternyata bukan
Allea
maaf thor drak hazel apa dark hazel
Senjaku02: dark hazel. maaf kalau typo😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!