Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realitas Pasutri
Pagi itu datang dengan cara yang tidak biasa.
Tafana membuka mata dan butuh beberapa detik untuk mengerti kenapa dadanya terasa hangat, kenapa napasnya tidak sendirian. Lengan Ravindra melingkari pinggangnya, mantap, protektif. Kulit pria itu hangat—telanjang dada—dengan garis bahu dan dada yang tampak terlalu sempurna untuk sekadar kenyataan. Otot dan tulangnya seperti pahatan patung dewa yang seharusnya tinggal di reruntuhan kastil Yunani, bukan di ranjang rumah pernikahan kontrak.
Keadaannya kacau. Tapi ini kekacauan yang manis sekaligus membingungkan.
Ravindra bergerak pelan saat terbangun, tidak langsung bangkit seperti biasanya. Tidak ada suara langkah tergesa, tidak ada rutinitas kaku. Hanya tatapan malas dan senyum kecil yang berbeda.
“Kamu nggak ke kantor hari ini?” tanya Tafana lirih.
“Sepertinya benar yang kamu bilang,” jawab Ravindra, suaranya serak, santai. “Aku terlalu menyia-nyiakan wewenangku.” Ia mencondongkan wajah, menatap Tafana dengan senyum menggoda. “Hari ini aku mau di rumah aja. Sama kamu. Boleh?”
Pipi Tafana memanas. “Bo-boleh. Ini kan rumah kamu.”
Ravindra terkekeh, lalu berdiri. “Ada yang sakit?”
Tafana menggeleng cepat, kebiasaan lama. Menyimpan perih, menyederhanakan rasa. Padahal tubuhnya terasa seperti habis dipeluk badai.
Ravindra tidak berdebat. Ia masuk kamar mandi, suara keran menyala lama.
"Aku sedang mengisi air hangat. Kamu diam di sini, biar aku ambil pakaian gantimu," katanya sebelum menghilang keluar kamar.
Saat kembali, ia membawa daster rumah, dalaman, bahkan juga skincare rutinnya—lengkap dan tepat.
Tafana terkesan.
“Supaya kamu nggak banyak jalan,” katanya singkat.
Wanita itu mengangguk. Ada rasa dihargai yang menenangkan, juga kesan dimanja tanpa perlu diminta.
Saat air hangat memenuhi bathtub, Ravindra membantu istrinya bangkit dan menuntunnya pelan. Tafana bersyukur—sungguh—karena langkahnya memang belum sepenuhnya mudah.
Perih itu nyata. Tapi pagi ini, ia tidak sendirian.
-oOo-
Hari-hari setelah itu bergerak pelan, hangat, seperti halaman-halaman yang tadinya kosong lalu diisi tanpa sadar.
Ravindra berubah—tidak drastis, tapi konsisten. Justru itu yang membuat Tafana merasa aman. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, pria itu akan menunduk dan mengecup keningnya singkat, ringan, seolah mencentang satu tugas kecil yang penting. Pulang kerja pun begitu. Setiap malam, ia juga menyempatkan mengecup kening Tafana sebagai ucapan selamat tidur. Seolah harinya benar-benar dimulai dan berakhir dengan kecupan kecil untuk Tafana.
“Kamu mau titip makanan apa?” kini selalu jadi pertanyaan rutin sebelum Ravindra pulang dari kantor, bukan lagi asumsi sepihak. Kadang Tafana menjawab asal. Kadang ia sengaja bilang, “Terserah,” hanya untuk melihat Ravindra tetap berpikir serius untuk merekomendasikan makanan di kepalanya.
Jika pria itu terlambat pulang, ponsel Tafana bergetar lebih dulu.
"Meeting molor. Jangan ditunggu, makan duluan aja."
Semua teratur, rapi. Seperti jadwal yang ia susun sendiri di kepalanya.
Tatapan Ravindra juga berubah. Lebih lama singgah. Lebih sering tersenyum. Sesekali ia memuji—tidak berlebihan, tidak berbunga-bunga—tapi cukup untuk membuat Tafana berhenti sejenak.
“Kamu kelihatan cantik hari ini.”
Bukan karena acara. Bukan karena riasan.
Dan di situlah Tafana sadar: hubungan ini tidak lagi dimainkan. Tidak ada peran. Tidak ada skrip. Yang tersisa hanya dua orang yang perlahan memilih tinggal.
Untuk pertama kalinya, bulan madu itu tidak terasa seperti sandiwara.
-oOo-
Pintu depan baru saja tertutup ketika Tafana sudah berdiri di hadapannya, refleks yang kini terasa alami. Ravindra menunduk, mengecup keningnya singkat—ritual kecil yang selalu membuat dada Tafana menghangat—lalu menyerahkan kantong makanan.
“Favoritmu,” katanya.
Tafana tersenyum, lengah sesaat saat tangannya sibuk membuka isi. Dan di situlah Ravindra menyelinap dari belakang, memeluk perutnya. Erat. Pasti.
Tafana terkejut, napasnya tercekat. Ia menoleh, dan sebelum sempat bertanya bibir Ravindra sudah memagut bibirnya, mantap, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Tafana kehilangan napas. Detik terasa memanjang.
Ravindra melepasnya, mata berkilat, senyum kecil tampak di sudut bibir. “Cute.”
Tafana mendengus, pipinya panas. “Mau makan dulu atau mandi dulu?”
“Mandi dulu.”
“Okay.” Ia mengangguk.
“Tapi bareng kamu.” Nada Ravindra ringan, tapi tatapannya tidak bercanda.
Tafana belum sempat mencerna maksudnya ketika lengannya sudah berada di sekitar leher Ravindra, tubuhnya terangkat dengan mudah. Gendongan itu terasa aman, terlalu nyaman untuk ditolak. Mereka bergerak menuju kamar, tawa Tafana kecil, gugup, bercampur senang.
Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyusul. Dan malam itu, rumah kembali menemukan ritmenya—lebih dekat, lebih hangat, tanpa perlu kata-kata.
-oOo-
Mereka duduk berhadapan, rambut keduanya masih setengah lembap, pakaian bersih, aroma sabun samar menyelinap di antara uap makanan hangat. Ravindra menyuap dengan tenang. Tafana mengaduk nasi seperti sedang merancang teori konspirasi.
“Kesimpulan hari ini,” kata Tafana, “makanan ini lebih jujur daripada rapatmu.”
“Rapatku jujur,” bantah Ravindra. “Cuma terlalu banyak orang yang berpura-pura.”
“Persis. Itu definisi tidak jujur.” Tafana menyeringai.
Ravindra terkekeh. Mereka tertawa kecil, ringan—tawa yang tak perlu penjelasan.
Tafana mendadak berhenti mengunyah.
Empat bulan menikah dan aku belum pernah ke kantornya, pikirnya.
“Eh,” katanya. “Aku belum pernah ke kantor kamu.”
Ravindra menoleh, tertarik. “Besok mau ikut.”
“Boleh?”
“Kenapa tidak?” senyumnya tulus. “Aku malah senang.”
Ada hangat kecil mengembang di dada Tafana. Lucu. Aku penasaran pada hidupnya, dan dia mengundangku masuk, pikirnya.
-oOo-
Pagi itu Tafana siap dengan dress halterneck, rambut disanggul rapi, riasan pas—profesional tanpa berlebihan. Ravindra menatapnya sekilas lebih lama.
“Cantik,” katanya. “Kamu benar-benar mau memberi statement ya, ibu bos?”
Tafana mengangguk mantap. “Menangkal potensi perempuan gatel.”
Ravindra tertawa, lalu menggenggam tangannya. Ravindra membukakan pintu mobil untuk wanitanya, baru ia masuk. Selanjutnya mereka melaju membelah jalanan pagi ke satu tujuan jelas.
Gedung Arvana menjulang, berkesan modern, dingin, berkelas. Tafana sempat gugup saat hendak memasukinya.
Sebuah tangan menangkap tangannya, menggenggamnya hangat. Genggaman itu menguat, Ravindra sedang meyakinkannya. Oke, batinnya. Aku aman.
Di dalam, salam hormat mengalir. Ravindra memperkenalkannya—ke resepsionis, ke asisten—“Istri saya.” Kata itu jatuh tenang, tanpa jeda.
Setelah naik lift ke lantai 25, mereka mencapai bagian Divisi mainan anak.
Ruang kerja Ravindra sebagai pemimpin luas, modern, nyaman kalau tak bisa dibilang mewah.
Rak kaca berisi mainan tersusun rapi.
Tafana mendekat. “Kamu benar-benar suka mainan?”
“Siapa yang nggak?” Ravindra sudah duduk di bangku kerjanya, tenggelam dalam dokumen.
“Kamu suka anak kecil?” perempuan itu penasaran.
“Suka." jawab Ravindra sambil mengerjakan pekerjaannya.
“Mau?” Tafana tiba-tiba duduk di pangkuannya, tersenyum tengil.
“Apa—” Ravindra terdiam, menatap matanya. Mencari makna ucapannya.
"Mau punya anak?" tanya wanita itu, lebih jelas kali ini. Wajah mereka dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter.
Ravindra tidak tahan lagi, bibir mereka bertemu, saling mencari. Keduanya memejamkan mata. Dunia seakan terhenti.
Saat mereka saling melepaskan, Ravindra menatap wajah Tafana takjub. Wanita ini benar-benar bisa membuatnya kehilangan kendali yang biasa ia banggakan.
Ia kemudian tersenyum tengil, lalu menggelitiknya agar Tafana berdiri dan menjauh. "Tapi bukan di sini juga. Aku harus kerja, Sayang."
Tafana tertawa-tawa, begitupun Ravindra. "Oke oke, kerjakan pekerjaanmu."
"Tapi godaanmu terlalu berat. Aku jadi nggak bisa fokus." Ravindra merajuk lucu.
"Jadi maunya apa?" Tafana mengamatinya.
"Kamu keliling kantorku dulu deh, lihat-lihat suasananya. Supaya aku bisa fokus bekerja di sini. Setelahnya kamu bisa ke sini lagi."
"Ide yang bagus." Kebetulan Tafana memang penasaran dengan setiap sudut kantor.
Jurnal Harian Ravindra Arvana
"Aku mendapati diriku menjadikan Tafana tempat menyimpan cerita. Anehnya, aku yang biasanya hemat kata, bisa sangat cerewet di hadapannya. Aku tidak merasa dihakimi. Ia mendengar—benar-benar mendengar—dengan mata yang hidup dan reaksi yang tulus.
Ia tidak memotong. Ia tidak mengoreksi. Ia bertanya di waktu yang tepat. Itu kualitas langka.
Kenyamanan tumbuh tanpa pengumuman. Lalu kepercayaan. Aku mulai menceritakan hal-hal yang biasanya kusimpan rapi. Dan ia menampungnya dengan tenang, seolah itu aman.
Hari ini di kantor, aku kehilangan kendali yang biasa kubanggakan. Bukan karena lemah—melainkan karena aku tidak ingin kuat sendirian.
Kesimpulan sementara (sementara, tapi jujur):
Hatiku sudah ditawan. Dan anehnya, aku tidak ingin melarikan diri."
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅