Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar Jodoh Tak Kan Kemana
Kampus Universitas Baitul Madaniyah
Sehari setelah sampai di Ibu Kota, Zahwa mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan rujukan literatur dan data lapangan yang ia bawa dari Sukamaju. Langkah pertamanya adalah menyerahkan surat rekomendasi dari desa ke ruang Program Studi (Prodi) sebagai syarat sah pengambilan data.
Di ruangan itu, Kepala Prodi sekaligus dosen senior yang dikenal tegas namun elegan, menerima map dari Zahwa. Saat matanya melihat baris tanda tangan di atas stempel resmi Desa Sukamaju, gerakannya terhenti.
"Arka Baskara..." gumam Bu Ningrum dalam hati. Ia mengerutkan kening, merasa nama itu tidak asing. Nama belakang "Baskara" bukanlah nama pasaran di kalangan pejabat dan pengusaha di Ibu Kota.
"Jadi, kamu akan mengambil penelitian di Desa Sukamaju?" tanya Bu Ningrum.
Zahwa mengangguk mantap, " Iya benar Bu"
"Sukamaju ini jauh dari sini Zah.. Bagaimana kamu membagi waktunya nanti?" tanya Bu Ningrum lagi, ia pun harus memastikan kesiapan dan keefisienan mahasiswa bimbingannya dalam mengolah data untuk tugas akhirnya nanti.
"Saya memang asli warga Sukamaju Bu" jawab Zahwa.
"Oh.. Jadi kamu memang asli sana? Saya pikir kamu tinggal di sini, ya pesantren Al Munawar itu rumah kamu"
"Rumah kedua saya Bu.."
"Hmm.." Bu Ningrum manggut-manggut.
"Oke Zah, kamu sudah siap jika besok langsung bimbingan untuk merumuskan skripsi yang akan kamu buat?"
"Siap Bu, InsyaAllah"
"Oke baik, untuk besok sekalian kamu ajukan judulnya ya"
Setelah selesai dengan Bu Ningrum, Zahwa kembali pulang,kali ini ke pesantren Al Munawar, benar pesantren ini adalah rumah kedua nya, karena selama ia kuliah, ia tinggal di pesantren ini, Bu Ningrum pun memang mengetahui jika Zahwa adalah cucu dari Kiai Besar Al Hadid Al Munawar.
Sore harinya, Bu Ningrum memiliki janji temu untuk minum teh di sebuah kafe bersama sahabat lamanya, Ibu Karina. Mereka sudah berteman sejak masa kuliah dan sering bertukar cerita tentang anak-anak mereka.
"Oya Rin, anak kamu itu, Mas Arka, dia ditugaskan ke Desa apa namanya? Sukamaju ya?" buka Bu Ningrum setelah menyesap teh melatinya.
"Iya Ning. Dia ditugaskan menjadi kepala desa kan disana"
"Iya aku pun beberapa kali lihat beritanya, hebat loh dia Rin, bisa merubah Desa yang tadinya kacau, menjadi tertata lagi"
Ibu Karina tersenyum tipis, ada raut bangga sekaligus sedih mengingat konflik Arka dengan suaminya. "Begitulah Arka, Ning. Dia kalau sudah punya prinsip, susah digoyahkan. Kenapa tiba-tiba tanya soal Arka?"
"Tadi ada mahasiswa bimbinganku, anak yang sangat cerdas dan santun, walaupun ia itu dikenal singa podium nya di kampus, selalu lantang jika dalam hal kebenaran, tapi dalam hal lain ia sangat, sangat santun, dia itu menyerahkan surat rekomendasi penelitian. Dia mengambil lokasi di Sukamaju. Aku kaget melihat tanda tangan anakmu di sana. Ternyata anakmu sudah jadi pemimpin yang cukup disegani di sana ya," cerita Bu Ningrum.
Ibu Karina meletakkan cangkirnya, jantungnya berdegup lebih kencang. "Siapa nama mahasiswamu itu, Ning?"
"Namanya Zahwa Qonita. Dia anak seorang Kiai di sana. Dan dia cucu dari mendiang Kiai Al Hadid. Kamu tahu kan, keluarga pemilik jaringan pesantren modern Al Munawar? Ternyata dia bukan mahasiswi sembarangan," jelas Bu Ningrum tanpa tahu bahwa nama itu adalah badai di rumah tangga sahabatnya.
Ibu Karina terhenyak. Dunianya seolah berputar. Zahwa? Apakah ini gadis yang diceritakan Arka? Kalau memang benar, ternyata Zahwa adalah mahasiswi di kampus tempat sahabatnya memimpin prodi. Ibu Karina selama ini hanya tahu Zahwa dari cerita Arka, saat ia meminta ijin untuk melamar Zahwa, ini membuat Bu Karina semakin penasaran kepada Zahwa.
"Ning..." suara Ibu Karina sedikit bergetar.
"Boleh aku minta tolong? Aku... sangat penasaran dengan anak ini. Bisakah kamu mengatur waktu agar aku bisa bertemu dengannya? Tapi tolong, jangan katakan kalau aku ibunya Arka."
Bu Ningrum mengernyitkan dahi, bingung dengan permintaan sahabatnya. "Lho, kenapa? Kamu ada urusan apa dengan Zahwa? Apa ini ada hubungannya dengan Arka?"
Ibu Karina menarik napas panjang. Ia belum siap menceritakan konflik suaminya, Pak Baskara, yang menolak Zahwa.
"Hanya ada urusan pribadi, Ning. Aku ingin melihat sosok mahasiswi berprestasi itu, siapa tahu dia bisa membantu proyek sosialku.. Tolong ya, buatkan pertemuan singkat, mungkin saat dia bimbingan?"
Bu Ningrum, yang tidak menaruh curiga dan menganggap ini hanyalah ketertarikan Ibu Karina pada sosok mahasiswi berprestasi, akhirnya mengangguk.
"Kebetulan besok pagi Zahwa ada jadwal bimbingan pertama denganku.. Datanglah ke kantorku sekitar jam sepuluh, aku tunggu di ruanganku ya .."
***
Keesokan harinya, Zahwa datang ke kampus dengan pakaian yang rapi dan sopan. Kerudung tersampir anggun, wajahnya tampak segar meski ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur. Ia mengetuk pintu ruangan Bu Ningrum dengan perlahan.
"Assalamualaikum, Bu Ningrum," sapa Zahwa lembut.
"Waalaikumsalam, Zahwa. Silakan masuk, duduk dulu," sambut Bu Ningrum ramah.
Di sudut ruangan, di sofa tamu yang agak tertutup rak buku, Ibu Karina sudah duduk menanti. Ia memegang sebuah majalah, namun matanya terus mencuri pandang ke arah pintu. Saat sosok Zahwa masuk, Ibu Karina terpaku.
"Masya Allah..." batin Ibu Karina.
Zahwa terlihat sangat cantik, teduh, berwibawa dimata Bu Karina. Cara bicaranya saat menjelaskan poin-poin skripsinya kepada Bu Ningrum terdengar sangat cerdas, tenang, dan tertata. Ibu Karina bisa melihat mengapa Arka yang begitu dingin dan perfeksionis bisa jatuh hati sedalam itu pada gadis ini.
Zahwa memiliki aura kepemimpinan sekaligus kelembutan. Setelah bimbingan selesai, Bu Ningrum memanggil Zahwa.
"Zahwa, tunggu sebentar. Kenalkan, ini sahabat Ibu, Ibu Karina. Beliau sedang ada proyek sosial dan tertarik mendengar sedikit tentang desamu di Sukamaju."
Zahwa tersenyum manis dan menyalami Ibu Karina dengan sangat hormat, mencium punggung tangan wanita itu sebagaimana adab kepada orang yang lebih tua.
"Perkenalkan saya Zahwa, Bu," ujar Zahwa lembut.
Ibu Karina merasakan sentuhan tangan Zahwa yang halus namun mantap. Ia menatap mata Zahwa yang jernih, dan saat itu juga, Ibu Karina tahu, bahwa anaknya tidak salah pilih, jika benar Zahwa ini yang diinginkan oleh putra semata wayangnya. Gadis ini bukan sekedar pelarian, dia adalah permata yang sebenarnya.
Namun, di dalam hati Zahwa, ia merasa ada sesuatu yang familiar dari wajah wanita di depannya ini. Garis wajahnya, sorot matanya... sangat mirip dengan seseorang yang sangat ia rindukan di Sukamaju.
...🌻🌻🌻...
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
lanjut kak thor🙏
smoga restu pak baskara segera turun