Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan2
Pagi itu rumah sakit terasa seperti ruang tunggu keputusan. Terlalu putih. Terlalu bersih. Dan sepi.
Winda duduk dengan map cokelat di pangkuan. Dirga berdiri dekat pintu, punggung lurus, mata tak pernah benar-benar melirik ke arahnya.
Perawat memanggil nama mereka bersamaan.
"Dirga Setiawan Winata dan Winda Wuladari. Masuk berdua, ya." panggil seorang perawat dengan nada suara penuh hormat.
Winda segera berdiri. Mereka berjalan sejajar. Bukan berdampingan.
Ia duduk di kursi di samping Dirga dengan Perawat yang duduk di hadapan nya. Perawat Perawat berkas. "Tes pranikah standar. Darah, wawancara singkat, tanda tangan."
"Langsung saja," kata Dirga, tanpa melihat Winda.
"Oke, tunggu sebentar ya, pak,bu" Perawat itu berdiri dan berjalan ke lemari untuk mengambil peralatan medis.
Setelah beberapa saat Perawat kembali membawa nampan kecil. Winda langsung menegang. Saat melihat jarum suntik tergeletak di nampan itu, jarum nya yang sangat panjang dan Winda bisa membayangkan kalau jarum itu di tusukkan ke tangan bisa saja menembus.
Tangannya refleks mencengkeram map di pangkuannya.
"Bu Winda?" panggil perawat lembut.
"Ah i-iya" Winda mengangguk, tapi tubuhnya tidak bergerak.
"Tes darahnya sebentar saja," kata perawat.
Winda mengangguk pelan saat napasnya mulai tidak beraturan.
"Tangannya yang mana?" tanya perawat sambil menyiapkan jarum suntik nya.
Winda mengulurkan tangan kiri, lalu menariknya kembali lalu mengulurkan tangan kanan sebelum menariknya kembali lagi tanpa sadar.
Perawat itu berhenti. "Takut jarum?"
Winda menggelengkan kepala nya cepat. Matanya sudah berkaca. "Ti-tidak"
Dirga melirik sekilas. Hanya sekilas. Tak mengatakan apa apa. Tak ada penguatan. Tak ada dukungan.
Hanya melirik dan itu hanya sekilas.
Perawat menunggu dengan sabar. "Tarik napas pelan-pelan, ya."
Winda mencoba. Gagal. Dadanya naik turun terlalu cepat.
"Tapi-"
Dirga menghela napas pendek. "Pegang meja saja. Jangan lihat."
Nada suaranya tidak keras. Tapi tidak lembut.
Winda menutup mata. Kukunya menekan permukaan meja. Seluruh tubuhnya kaku.
Saat jarum menyentuh kulitnya, Winda tersentak.
"Mgh!" suaranya pecah.
Perawat cepat bekerja. "Sudah, sudah."
Tapi bagi Winda, detik itu terasa terlalu panjang. Nafasnya terhenti, lalu lolos dengan suara kecil yang memalukan.
Selesai.
Winda membuka mata perlahan. Wajahnya pucat. "Sudah?" Tanya nya gugup.
"Sudah selesai," kata perawat itu dan tersenyum.
Winda mengangguk, tapi tidak langsung berdiri.
Dirga berdiri lebih dulu. "Kita lanjut." ucap nya tanpa menoleh ke arah Winda sebelum melangkah pergi keluar ruangan.
Winda ikut berdiri dan segera mengikuti Dirga dari belakang tapi diam. ia tetap menjaga jarak aman agar tak mengganggu Dirga.
Di luar ruangan, lift terbuka. Mereka masuk bersamaan. Pintu perlahan menutup lalu Sunyi.
Winda menarik napas, sebelum memberanikan diri untuk angkat bicara "Maaf," katanya pelan "kalau tadi....aku memakan banyak waktu karena jarum itu..."
Dirga tidak menoleh.
"Itu sudah selesai." katanya singkat.
Winda menunggu, lalu bertanya lirih, "Kamu pasti keberatan, ya?"
Dirga menatap panel lift. Jarinya menekan angka lantai. yaitu lantai 1.
"Ketakutan seperti itu," katanya datar, "tidak relevan dalam urusan serius."
Winda menelan ludah. "Aku berusaha tidak takut—"
"Kamu bukan anak kecil," potongnya. Nada suaranya tenang, nyaris sopan. "Hal sepele tidak seharusnya jadi masalah."
Lift bergerak turun. Angka berganti.
"Ke depan nya" kata Dirga, "hal seperti itu tidak boleh terulang. Ini bukan situasi yang bisa menunggu kamu siap."
Winda mengangguk perlahan. "Iya."
Pintu lift terbuka.
Dirga melangkah keluar tanpa menunggu.
Dan Winda berdiri sesaat di dalam lift sebelum berjalan mengikuti Dirga.
Setelah dari klinik, mereka pergi ke toko gaun pengantin. Winda berjalan masuk ke dalam toko. Toko itu cukup besar, cermin di mana-mana dan banyak gaun pengantin yang indah di pajang dimana mana. Mata Winda berbinar saat melihat pernak pernik berkilauan membuat gaun gaun itu tampak mewah dan bersinar.
Winda mulai melihat lihat beberapa gaun, dan mulai mencobanya.
Winda berdiri mengenakan gaun putih sederhana. Potongannya rapi. Tidak berlebihan. Tidak istimewa.
"Ini bagus," kata penjaga toko cepat. "Aman di kamera."
Dirga mengangguk setuju.
"Menurut kamu?" tanya Winda.
Dirga berdiri, mendekat. Matanya menyapu, berhenti di wajahnya lebih lama dari yang pantas.
"Gaunnya tepat," katanya.
Winda menunggu kelanjutannya.
"Tidak menarik perhatian berlebihan."
Kalimat itu jatuh pelan. Tapi tepat.
"Aku tidak ingin menarik perhatian," jawab Winda pelan hampir terdengar seperti bisikan.
"Bagus," kata Dirga. "Karena di hari itu, yang dilihat orang bukan perasaan. Tapi tampilan."
"Aku tau itu." jawab Winda nadanya sedikit terdengar kesal.
Penjaga toko tersenyum kaku mendengar percakapan mereka berdua.
" Tapi bagaimana kalau model lain?" tanya Winda sembari melihat lihat gaun yang lain
Dirga menggeleng. "Percuma. Masalahnya bukan di model."
Winda membeku.
Ia menarik tangannya menjauh dari salah satu gaun pengantin yang ia pegang tadi.
"Yang ini cukup," lanjut Dirga. "Sederhana. Tidak menuntut ekspektasi."
Saat Winda masuk ruang ganti, tangannya gemetar membuka resleting. Di luar, suara Dirga terdengar jelas.
" Untuk Make-up nya nanti tipis saja," katanya pada penjaga toko. "Jangan berusaha menutup terlalu banyak. Nanti hasilnya malah… kelihatan dipaksakan."
"I-iya, Pak." jawab penjaga toko.
satu kata itu terdengar jelas di telinga Winda.
Dipaksakan.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini