Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Beraroma Cendana
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan berbatu di lereng Menoreh.
Sekar Wening berjalan menyusuri pematang sawah kering, menuju jalan raya utama yang menghubungkan desa dengan kota Yogyakarta.
Langkahnya hati-hati, menjaga keseimbangan keranjang anyaman bambu yang digendongnya dengan selendang batik lusuh.
Di dalam keranjang itu, terdapat harta karunnya.
Sekar tidak membawa beras itu dalam karung plastik murahan. Sebagai seorang ilmuwan yang mengerti psikologi pasar, dia tahu bahwa kemasan adalah separuh dari nilai jual.
Dia membungkus beras "Padi Emas" itu menjadi paket-paket kecil seberat satu kilogram.
Setiap paket dibungkus rapi dengan daun jati muda yang lebar, lalu diikat dengan tali serat pisang yang dikeringkan.
Sederhana, namun estetik.
Terlihat sangat kontras dengan penampilan Sekar sendiri. Gadis itu hanya mengenakan kebaya kutubaru bunga-bunga yang warnanya sudah pudar dan jarik batik yang ujungnya sedikit sobek.
Rambutnya digelung asal-asalan, menampilkan leher jenjangnya yang berkeringat meski udara pagi masih dingin.
Napas Sekar mulai memburu saat dia mencapai pinggir jalan aspal. Jalan raya itu masih sepi. Hanya ada beberapa petani yang lewat membawa cangkul.
Sekar menurunkan keranjangnya di bawah pohon trembesi besar, menunggu truk sayur atau bus mikro yang biasa lewat menuju Pasar Beringharjo.
Dia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.
Analisis Fisik: Stamina tubuh ini masih rendah.
Membutuhkan asupan protein lebih banyak untuk menunjang aktivitas berat.
Saat sedang mengatur napas, Sekar merasakan sebuah tatapan. Bukan tatapan nakal sopir truk atau tatapan sinis tetangga. Ini tatapan yang tajam, fokus, dan... menyelidik.
Insting waspada Sekar langsung aktif. Dia menoleh ke arah kanan. Di seberang jalan, berdiri sebuah mobil jeep hitam yang terlihat gagah dan mahal, terparkir di bahu jalan. Dan di samping mobil itu, berdiri seorang pemuda.
Dia mengenakan kemeja linen putih yang digulung sampai siku dan celana chino berwarna krem. Sangat kasual, namun potongan bajunya jelas bukan barang pasar malam.
Wajahnya tertutup sebagian oleh kamera DSLR dengan lensa telephoto panjang yang sedang diarahkan... tepat ke arah Sekar.
Klik. Klik.
Suara shutter kamera terdengar samar.
Sekar mengerutkan kening. Dia tidak suka dijadikan objek foto tanpa izin. Apalagi dengan penampilannya yang gembel seperti ini.
Dia hendak memalingkan wajah, namun pemuda itu menurunkan kameranya.
Mata mereka bertemu.
Pemuda itu tertegun. Di lensa kameranya tadi, dia berniat memotret humaniora: potret kemiskinan desa di lereng Menoreh. Seorang gadis desa kurus dengan keranjang berat.
Namun saat gadis itu menoleh, pemuda itu melihat sesuatu yang lain.
Sorot mata itu.
Itu bukan sorot mata gadis desa yang malu-malu atau takut. Itu adalah tatapan tajam, cerdas, dan penuh percaya diri yang menantang lensa kameranya.
Pemuda itu, Aryasatya, merasa seolah baru saja memotret seekor macan yang menyamar menjadi kucing kampung.
Arya menurunkan kameranya, menggantungkannya di leher. Langkah kakinya bergerak otomatis menyeberangi jalan aspal, mendekati gadis di bawah pohon trembesi itu.
Sekar mengamati pria yang mendekat itu dengan tatapan klinis.
Subjek: Laki-laki, estimasi usia 22-24 tahun. Postur tegap atletis.
Indikator status sosial: Tinggi. Sepatu kulit, jam tangan analog bermerek, kulit bersih terawat.
Saat pria itu sampai di hadapannya, embusan angin membawa aroma yang membuat Sekar terpaku.
Wangi itu.
Kayu cendana.
Wangi yang hangat, woody, dan klasik. Di kehidupan lamanya sebagai Profesor, Sekar sering menghadiri jamuan kenegaraan.
Dia tahu harga minyak cendana murni. Itu bukan wangi parfum pasaran. Itu wangi kemewahan yang tenang. Wangi bangsawan.
"Nuwun sewu, Mbak," sapa pria itu. Suaranya bariton, empuk, dan sopan. Dia menggunakan Krama Inggil yang sempurna, logatnya khas priyayi Yogyakarta, bukan logat pedesaan.
"Maaf saya lancang mengambil foto tanpa izin," lanjutnya, menunduk sedikit sebagai tanda hormat. "Cahaya pagi ini jatuh sangat indah di keranjang yang Mbak bawa."
Sekar tidak langsung menjawab. Dia masih waspada. "Tidak apa-apa, Mas," jawab Sekar singkat, menggunakan bahasa Indonesia formal. Dia sengaja membangun jarak. "Asal tidak untuk diejek."
Arya tersenyum tipis. Senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih muda dan ramah. "Sama sekali tidak. Justru terlihat sangat... artistik."
Mata Arya kemudian turun ke keranjang anyaman di dekat kaki Sekar. Bungkusan daun jati itu menarik perhatiannya.
Sebagai lulusan Ekonomi Kreatif yang fokus pada pertanian, dia tahu ini bukan bungkusan nasi uduk biasa.
"Boleh saya tahu apa isinya? Bungkusannya sangat rapi," tanya Arya, rasa ingin tahunya terusik.
"Beras," jawab Sekar.
"Beras?" Arya berjongkok tanpa ragu, tidak peduli celana mahalnya terkena debu jalanan. "Boleh saya lihat?"
Sekar ragu sejenak. Namun, naluri bisnisnya berkata lain. Pria ini terlihat punya uang.
Mungkin dia bisa jadi pembeli pertama. "Silakan."
Arya membuka sedikit ikatan tali pisang pada salah satu bungkusan. Dia menyibakkan daun jati itu. Matanya melebar seketika.
Cahaya matahari pagi yang menembus sela-sela daun trembesi jatuh tepat di atas butiran beras itu.
Bulir-bulir beras itu berkilauan seperti kristal kuarsa. Warnanya putih bening dengan inti kemerahan samar.
Dan aromanya...
Meski masih mentah, aroma wangi pandan dan susu menguar lembut, menggelitik hidung Arya.
Arya mengambil sejumput beras itu, merasakannya di ujung jari. Keras, padat, dengan bentuk morfologi bulir yang lonjong sempurna. Tidak ada patahan menir sedikitpun.
Ini beras kualitas super premium.
Arya mendongak, menatap Sekar dengan pandangan tak percaya.
"Ini... ini varietas apa?" tanya Arya, nada suaranya berubah serius. Sisi profesionalnya keluar. "Saya belum pernah melihat fenotipe beras seperti ini di Kulon Progo. Bahkan padi Rojolele atau Mentik Wangi pun tidak sebening ini."
Sekar terkejut.
Pria ini menggunakan istilah fenotipe. Dia bukan turis biasa. Dia orang yang mengerti botani atau pertanian.
Alarm bahaya berbunyi di kepala Sekar. Jika pria ini peneliti pemerintah atau orang dinas pertanian, keberadaan Padi Emas ini bisa memicu investigasi.
Sekar memasang wajah datar, menyembunyikan kecerdasan profesornya di balik topeng gadis desa yang polos. "Saya kurang tahu nama ilmiahnya, Mas," jawab Sekar pelan. "Ini padi warisan Simbah. Tumbuh liar di dekat mata air hutan. Katanya padi kuno."
Arya menyipitkan mata. Dia tidak sepenuhnya percaya.
Padi liar biasanya memiliki bulir yang tidak seragam dan kulit ari yang tebal. Ini terlalu sempurna. Ini hasil rekayasa genetika tanaman tingkat tinggi.
Apakah ada proyek penelitian rahasia pemerintah di desa terpencil ini? Atau gadis ini... hanya beruntung menemukan mutasi alam yang langka?
"Padi kuno..." gumam Arya sambil berdiri. Dia menatap Sekar dengan minat yang baru.
Bukan lagi sebagai objek foto, tapi sebagai teka-teki.
Gadis dengan pakaian gembel, tapi tatapan matanya setajam elang, dan membawa beras yang kualitasnya bisa mengguncang pasar ekspor.
"Mbak mau jual ini ke pasar?" tanya Arya.
"Iya."
"Sayang sekali kalau dijual di pasar tradisional," kata Arya jujur. "Di sana, beras ini cuma akan dihargai sama dengan beras raskin. Orang pasar cari murah, bukan cari kualitas. Barang sebagus ini akan 'mati' di sana."
Sekar tahu itu. Itu adalah dilema yang sedang dia pikirkan sejak tadi.
"Saya butuh uang cepat," jawab Sekar pragmatis. "Pasar adalah satu-satunya tempat yang menyediakan uang tunai hari ini juga."
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara klakson bus mikro yang cempreng. Bus tua berwarna biru telur asin itu melaju tersendat-sendat mendekat ke arah mereka.
Sekar buru-buru merapikan bungkusan berasnya. Dia membungkuk, bersiap mengangkat keranjang anyaman yang berat itu.
"Tunggu," cegah Arya.
Tangan pemuda itu menahan ujung keranjang Sekar.
Sekar mendongak, menatap Arya dengan alis terangkat. "Busnya sudah datang, Mas."
"Jangan naikkan beras ini ke bus," ucap Arya tegas. Dia berdiri tegak, merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan dompet kulit tebal. "Saya beli semuanya."
Sekar tertegun. "Semuanya?"
"Berapa total berat yang Mbak bawa?"
"Lima belas kilo. Lima belas bungkus."
Arya mengangguk. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu berwarna merah. "Kalau di pasar, beras biasa dihargai dua belas ribu per kilo. Saya berani bayar lima puluh ribu per kilo untuk beras ini.
Totalnya tujuh ratus lima puluh ribu. Bagaimana?"
Mata Sekar membelalak sedikit. Lima puluh ribu per kilo? Itu harga beras organik impor di supermarket Jakarta, bukan harga beras curah di desa.
"Mas tidak takut rugi? Mas belum masak berasnya," tantang Sekar.
Arya tersenyum miring. Senyum yang penuh percaya diri.
"Saya lulusan pertanian, Mbak. Saya bisa tahu kualitas hanya dengan menyentuh dan mencium aromanya.
Anggap saja ini investasi awal."
Bus mikro itu berhenti di depan mereka dengan rem berdecit. Kondektur bus melongok keluar. "Ayo, Nduk! Jadi naik tidak?"
"Jadi!" seru Sekar.
Transaksi terjadi dengan kilat.
Arya menyerahkan lembaran uang tunai itu ke tangan Sekar.
Sekar menyerahkan keranjang anyamannya beserta isinya kepada Arya.
"Keranjangnya buat Mas saja sebagai bonus," kata Sekar cepat sambil menyambar uang itu dan memasukkannya ke saku kebaya.
Saat Sekar hendak naik ke tangga bus, Arya memanggilnya lagi.
"Tunggu!"
Arya merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu nama kecil berwarna putih gading dengan cetakan emas timbul.
Dia menyodorkannya pada Sekar.
"Kalau Mbak punya stok lebih banyak... hubungi nomor ini.
Saya punya jaringan restoran di kota yang butuh pasokan rutin."
Sekar menerima kartu itu.
Aryasatya M.W.
Consultant & Agropreneur
Tidak ada gelar 'Raden Mas', tidak ada embel-embel 'Pangeran'. Hanya nama sederhana dan sebuah nomor ponsel. "Terima kasih, Mas Arya," ucap Sekar tulus.
Dia naik ke dalam bus yang penuh sesak. Bus itu melaju pergi, membawa Sekar menuju kota, bukan untuk menjual beras, tapi untuk membelanjakan uang pertamanya demi gizi sang ibu.
Aryasatya berdiri di pinggir jalan, memeluk keranjang anyaman berbau pandan itu.
Dia menatap bus biru yang menghilang di tikungan dengan senyum puas.
Dia melihat telapak tangannya sendiri. Masih ada sisa aroma wangi dari beras tadi, dan... sensasi aneh saat jarinya bersentuhan dengan tangan gadis itu saat serah terima uang.
Tangan gadis itu kasar, penuh kapalan khas pekerja keras, tapi getaran yang dipancarkannya aneh. Kuat. Dominan.
Arya mengambil ponsel dari saku celananya, mendial sebuah nomor. "Halo, Rangga? Batalkan janjiku main golf siang ini," ucap Arya pada sepupunya.
"Aku menemukan 'emas' di Kulon Progo. Bukan tambang, tapi padi. Kau harus lihat sampel yang baru kubeli ini."
Arya tersenyum miring. Dia melihat kembali foto di layar kameranya. Wajah gadis itu tercetak jelas. Cantik, dengan cara yang menyakitkan.
"Sekar..." gumamnya membaca nama yang tertulis samar di pinggir keranjang anyaman itu. "Kita pasti akan bertemu lagi."
Sementara itu, di dalam bus yang berguncang hebat, Sekar duduk terhimpit di antara pedagang sayur. Tangannya meremas tebalnya uang di saku. Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.
Cukup untuk membeli daging ayam, susu, dan pupuk kamuflase. Sekar memutar kartu nama di tangannya.
Agropreneur. Pengusaha pertanian. Sekar tersenyum tipis. Ternyata dewi keberuntungan sedang tersenyum padanya.
Dia tidak perlu bersusah payah mencari pembeli kelas atas. Pembeli itu baru saja datang sendiri, membeli sampelnya, dan membuka jalan lebar untuk panen rayanya besok.
Namun, insting logikanya tetap memberinya peringatan.
Catatan Tambahan: Hati-hati dengan subjek bernama Aryasatya. Terlalu cerdas. Terlalu jeli. Dia bisa menjadi mitra bisnis terbaik, atau ancaman terbesar bagi kerahasiaan Ruang Spasial.
Sekar memasukkan kartu nama itu ke dalam saku kebayanya, tepat di dekat jantungnya yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.