Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Manis yang Bikin Gagal Fokus
Mery melambaikan tangannya saat turun di depan gang kosannya. "Duan ya Bin! Kabari kalau ada perang dunia di rumah!" candanya yang hanya dibalas Bintang dengan lambaian tangan lesu.
Kini di dalam mobil hanya tersisa Bintang dan Lingga. Keheningan yang canggung mulai menyelimuti, sampai tiba-tiba ponsel Lingga yang diletakkan di dasbor berdering. Nama Bang Andreas muncul di layar.
"Halo, Bang?" sapa Lingga setelah menekan tombol loudspeaker.
"Halo Ling, Abang cuma mau kasih tahu kalau malam ini nggak bisa pulang. Pasien di rumah sakit lagi membeludak, ada beberapa operasi darurat. Tolong jaga rumah ya," suara Andreas terdengar sangat lelah dari seberang sana.
"Oh, oke Bang. Semangat kerjanya," jawab Lingga singkat sebelum mematikan sambungan.
Bintang yang mendengar itu mulai merasa tidak enak perasaan. Baru saja ia ingin bernapas lega karena setidaknya masih ada Gading di rumah, tiba-tiba ponselnya sendiri bergetar hebat di saku. Nama Gading Gudung (nama kontak pemberian Bintang) terpampang jelas di layar.
"Halo, Ding? Kenapa?" tanya Bintang cepat.
Di seberang sana, terdengar suara musik berisik dan tawa anak laki-laki. "Hehe, Mbak! Gue cuma mau bilang, siap-siap ya... Malam ini di rumah lo cuma berduaan sama Bang Lingga—eh, sama Bi Ijah juga sih. Gue lagi nginep di rumah temen, ada tugas kelompok merangkap mabar. Jangan kangen ya, Mbak! Bye!"
Tut... tut... tut...
Bintang melongo menatap layar ponselnya yang sudah gelap. "Hah? Gading! Woi!" teriaknya telat.
Lingga, yang ternyata juga mendengar suara Gading karena kabin mobil yang sunyi, melirik Bintang lewat spion tengah dengan seringai miring yang sangat menyebalkan.
"Kenapa? Takut?" tanya Lingga dingin namun penuh nada ejekan.
"Si-siapa yang takut?! Lagian ada Bi Ijah ini!" sahut Bintang dengan nada suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi kegugupannya.
"Bi Ijah itu jam sembilan malam sudah tidur di paviliun belakang. Jadi secara teknis, di bangunan utama cuma ada gue... dan lo," lanjut Lingga sengaja memperlambat kalimatnya, membuat bulu kuduk Bintang meremang seketika.
Bintang langsung memeluk tasnya erat-erat, menatap ke luar jendela dengan jantung yang mulai berdisko. Malam ini di rumah Atmaja sepertinya akan menjadi malam yang sangat panjang dan penuh tekanan bagi Bintang.
Sesampainya di rumah, Lingga dan Bintang segera membersihkan diri di kamar masing-masing. Tak lama kemudian, Lingga keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sangat cool, mengenakan setelan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat gagah.
Bintang yang melihat Lingga sudah rapi langsung bertanya, "Kak Lingga mau ke mana?"
"Nonton sama Dea. Kenapa? Lo mau ikut?" tantang Lingga, sebenarnya hanya berniat meledek.
Namun, jawaban Bintang di luar dugaan. "Ikut! Tunggu, gue ganti baju dulu!" Bintang langsung melesat ke kamarnya. Tak butuh waktu lama, ia keluar dengan setelan baju kodok (overall) berwarna hitam yang dipadukan dengan kaus putih, membuatnya terlihat imut sekaligus tengil. "Ayo, gue siap!"
Lingga hanya bisa menghela napas pasrah dan melajukan mobilnya menjemput Dea. Begitu sampai di depan rumah Dea, gadis itu keluar dengan penampilan yang sangat kontras: rok mini ketat di atas paha dan cardigan bulu berwarna pink cerah.
Anjir, itu rok apa perban? Pendek banget! batin Bintang sambil geleng-geleng kepala melihat penampilan Dea yang menurutnya terlalu berlebihan untuk sekadar menonton film di malam hari yang cukup dingin ini.
Lingga yang melihat penampilan pacarnya pun tampak sedikit tidak nyaman. "Sayang, kamu nggak punya rok lain? Itu kependekan," tegur Lingga pelan.
"Enggak, Sayang. Rok aku emang pendek-pendek semua, kan biar modis," jawab Dea manja sambil membuka pintu mobil. Namun, senyumnya langsung hilang saat melihat Bintang duduk di kursi belakang.
"Loh! Kok bocah ini ikut sih?! Sayang, kenapa dia dibawa?" protes Dea dengan nada tinggi, menunjuk Bintang yang sedang asyik memainkan ponselnya.
Bintang mendongak, lalu memberikan senyum paling manis namun sangat menyebalkan. "Hai, Kak Dea! Aku diajak Kak Lingga katanya buat nemenin, biar ada yang bawain popcorn kalian nanti. Kan aku asisten yang baik," sahut Bintang tanpa dosa.
Dea mendengus kencang, benar-benar merasa kencannya kali ini akan hancur total karena kehadiran "si kurcaci" yang menurutnya sangat mengganggu itu.
Suasana di dalam bioskop mulai remang saat lampu perlahan meredup. Dea asyik bergelayut di lengan kiri Lingga, sementara Bintang duduk di sisi kanan Lingga sambil memeluk popcorn besar yang baru saja ia beli.
Tiba-tiba, seorang laki-laki tampan yang duduk di sebelah kanan Bintang menoleh dan tersenyum lebar. "Hai, manis..." sapa laki-laki itu dengan suara yang cukup pelan tapi masih bisa terdengar oleh Lingga.
Bintang, dengan sifat ramahnya yang alami (dan sedikit bumbu tengil), menoleh dan menyapa balik. "Hai juga! Btw, nama gue Bintang, bukan Manis," jawab Bintang sambil menyengir.
Laki-laki itu terkekeh pelan. "Habisnya lo manis sih, Bin. Nonton sendiri ya?" tanya si laki-laki mulai melancarkan aksi PDKT.
"Iya nih, cuma jadi obat nyamuk doang di sini," sahut Bintang sambil melirik Lingga dari sudut matanya.
Lingga yang sejak tadi berusaha fokus ke layar depan, mendadak merasa suhu tubuhnya naik. Tangannya yang berada di sandaran kursi mengepal kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ia merasa tidak rela melihat Bintang asyik mengobrol dengan cowok asing di depannya.
Dea yang menyadari perubahan sikap Lingga langsung berbisik, "Sayang, kamu kenapa? Kok tangannya tegang gitu?"
Lingga tidak menjawab Dea. Matanya justru melirik tajam ke arah Bintang dan cowok di sampingnya. "Bisa diem nggak? Filmnya mau mulai, jangan berisik," ketus Lingga dengan suara berat yang menekan.
Bintang menjulurkan lidahnya ke arah Lingga meski keadaan gelap. "Dih, sirik aja lo Kucing Garong! Orang lagi kenalan juga," gumam Bintang pelan, lalu kembali menoleh ke cowok di sampingnya.
Lingga semakin geram. Rasanya ia ingin segera menarik Bintang keluar dari bioskop atau setidaknya menukar posisi duduknya agar cowok asing itu tidak bisa menggoda "asistennya" lagi. Malam nonton film di malam ini sepertinya tidak akan berjalan setenang yang Lingga bayangkan.