NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manda Mah Lewat

"Kita ke rumah sakit dulu buat periksa!" Salma Tanudjaja bersikeras, baru tersadar dari lamunannya.

"Gue beneran nggak apa-apa, percaya deh," Aksa Abhimana menarik pelan tangan Salma, menghentikan langkah gadis itu.

"Ayo masuk sekolah aja."

Halte bus hanya berjarak beberapa puluh meter dari gerbang Citra Bangsa Global High School. Murid-murid mulai berdatangan.

Pemandangan mereka berdua yang sedang tarik-menarik tangan di pinggir jalan tentu saja terlihat sangat ambigu, dan romantis.

"Kalau lo nggak keberatan, gue mau gandeng tangan lo terus sampai masuk sekolah. Biar satu sekolah ngira lo pacar gue. Pas banget, kan?" goda Aksa, kumat lagi hobi mengusilinya.

Wajah Salma langsung memerah padam. Ia segera menepis tangan Aksa dan memelototinya galak.

"Nggak usah ngadi-ngadi! Dikasih hati minta jantung!"

Tanpa menunggu jawaban, Salma melangkah lebar menuju gerbang sekolah.

Ia terlihat marah, padahal hanya berusaha menutupi detak jantungnya yang menggila.

Salma merasa pertahanannya terhadap Aksa makin lama makin runtuh. Setiap kalimat cowok itu selalu berhasil mengacaukan ritme jantungnya.

Pikirannya melayang pada sosok Aksa di masa depan, penguasa bisnis yang dingin dan berwibawa.

Meski Aksa yang sekarang masih terlihat seperti siswa 'transparan', aura dominan itu mulai terlihat.

Sampai di kelas, Salma mengeluarkan buku pelajaran. Namun, otaknya menolak fokus.

Kalimat gombal Aksa terus terngiang.

"Argh, sialan!" Salma menyerah dan menelungkupkan wajah ke meja.

Naya Wardhana, teman sebangkunya yang jenius tapi julid, menepuk pundaknya.

"Kenapa lo? Begadang chattingan sama 'seseorang' sampai kurang tidur?"

Salma mendongak tajam. "Naya, lo itu aslinya kepo banget ya!"

Naya menyeringai jahil. "Habisnya selera lo unik. Gimana rasanya jatuh cinta, hmm?"

Mata Naya melirik Aksa yang baru masuk.

Aksa, kalau gue udah bantuin sejauh ini tapi lo masih gagal dapetin Salma, mending lo terjun jurang aja, batin Naya mengejek.

Aksa membalas tatapan Naya dengan sorot mata memperingatkan: Jangan macem-macem atau lo nyesel.

Dih, main ancam, balas Naya lewat tatapan matanya.

Salma merasakan atmosfer aneh di antara mereka. Mereka berdua nggak akur?

Tapi sedetik kemudian, pandangan Aksa beralih padanya.

Cowok itu menyeringai lebar, nyaris terlihat bodoh.

Salma memutar bola matanya. Kenapa senyumnya konyol banget sih?

Naya mendekatkan wajah ke Salma. "Kenapa gue mencium bau-bau bucin di sini ya?"

Wajah Salma memerah lagi. "Ngaco! Siapa yang pacaran?"

"Halah, pura-pura. Kalau sampai lo sama Aksa nggak ada apa-apa, gue bakal live streaming makan buku paket Fisika!"

Naya tahu betul tabiat Aksa. Cowok itu licik dan penuh strategi; Salma jatuh hati cuma masalah waktu.

"Makan tuh buku sekarang," tantang Salma, mencoba terlihat tenang.

"Sayangku, lo boleh kelihatan tenang, tapi badai di hati lo nggak bisa disembunyikan. Ngaku aja, Aksa emang beda dari cowok pasaran di sini," kekeh Naya.

Tepat saat itu, Manda Tanudjaja masuk dengan langkah pelan. Matanya merah dan bengkak, kepalanya tertunduk lesu.

"Manda, kamu kenapa?" Para siswi penjilat langsung mengerubungi sang 'dewi' sekolah.

Manda menggeleng lemah. "Aku nggak apa-apa."

Matanya melirik sekilas ke arah Salma, seolah ada ribuan kata yang tertahan.

Akting sempurna.

Jessi, pengikut setia Manda, langsung menangkap sinyal itu.

"Manda, pasti adik angkat kamu bikin ulah lagi ya? Iuh, menjijikkan banget. Udah ngerebut kasih sayang orang tua orang lain, masih aja belagu."

Salma menatap Manda dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Manda merinding melihat tatapan itu. Ia buru-buru memasang wajah serius.

"Beneran, ini nggak ada hubungannya sama Salma. Gara-gara kalian sering nyalahin Salma, Papa sama Mama tahu kalau Salma merasa di-bully."

"Mereka marah banget sama aku. Tolong jangan ngomong sembarangan lagi."

Salma tersenyum miring. Hebat juga mainnya si Manda.

Kata-katanya terdengar membela, padahal menyiratkan kalau Salma adalah tukang ngadu.

Benar saja, tatapan seisi kelas pada Salma kini penuh kebencian.

"Heh... nggak nyangka zaman sekarang masih ada manusia licik yang bisanya cuma ngadu ke orang tua."

"Salma, lo beneran nggak punya malu ya."

"Cuma orang buta yang mau sama lo!"

Caci maki mulai terdengar.

"Gue suka sama Salma. Dan gue nggak buta."

Di tengah riuh itu, Aksa berdiri. Suaranya jernih, membelah keributan.

Kelas X-7 mendadak sunyi senyap. Jarum jatuh pun mungkin akan terdengar.

Semua mata tertuju pada Aksa dengan tatapan tak percaya. Tangan Salma membeku.

"Gue suka Salma. Suka banget. Jadi, jangan pakai kata 'kalian' atau 'nggak ada yang suka' buat mewakili semua orang," lanjut Aksa, menekankan setiap kata.

Di balik kacamatanya, matanya berkilat dingin.

Aksa melempar kode mata ke Naya. Naya pun ikut berdiri sambil tersenyum sinis.

"Gue juga suka sama Salma. Tolong jangan samain selera berkelas gue sama selera rendah kalian."

"Kalau mata kalian katarak, nggak usah ngatain orang lain buta."

Salma blank. Pembelaan Naya membuatnya terharu, tapi pengakuan Aksa... itu membuat bunga-bunga bermekaran di hatinya.

Manda kaget sekaligus senang. Konyol karena Salma disukai cowok cupu, tapi ini bahan bully yang sempurna.

Ia memasang wajah marah. "Aksa! Kamu sadar nggak ngomong apa? Kamu punya niat jahat apa sama Salma?"

Aksa menatap Manda tenang. "Setidaknya gue tulus, bukan pura-pura baik."

"Aksa, lo nggak punya hak bicara di sini!"

"Manda Tanudjaja, bukannya OSIS kemarin janji mau minta maaf secara terbuka sama Salma? Kok sampai sekarang nggak ada kabar?" Aksa menyerang titik lemah Manda.

"Apa mentang-mentang Salma adik lo, lo pikir lo bisa nyakitin dia terus pura-pura lupa?"

Manda terdiam, skakmat.

"Aksa, ini urusan OSIS. Jangan ngalihin isu buat nutupin niat buruk lo! Selama ada gue, lo nggak bakal bisa manfaatin Salma!" elak Manda.

Naya tertawa keras. "OSIS itu melayani siswa, bukan ngerasa lebih tinggi! Manda, lo kira kita buta soal kejadian kemarin?"

"Naya, aku ngalah sama Salma karena dia adikku, tapi kalau sama kamu, aku nggak akan tinggal diam."

"Cih... gue benci white lotus bukan karena aktingnya, tapi karena hatinya busuk tapi maksa kelihatan suci. Manda, kenapa lo diem aja waktu Salma dihina?"

"Apa lo cemburu karena ada yang suka sama Salma?" Mulut Naya memang setajam silet.

"Naya, udah... Aku yakin Kak Manda cuma lagi bingung. Dia kan sayang banget sama aku," Salma akhirnya buka suara dengan nada super memelas.

Manda rasanya mau muntah darah. Akting "teraniaya-nya" kini diambil alih Salma!

"Karena kalian yakin banget gue tukang ngadu, rasanya berdosa kalau gue nggak beneran ngadu ke Papa nanti.

Gue ini pendendam lho," Salma mengubah ekspresinya menjadi dingin dan menantang.

Mereka bertiga, Aksa, Naya, Salma, bekerja sama dengan sangat rapi memojokkan Manda.

"Kalau gue sampai bikin kalian dikeluarkan, nggak ada yang bisa nolong kalian. Kecuali kalian bisa minta tolong Keluarga Abhimana."

"Dan soal Kak Manda... kalian pikir dia bakal bantuin 'orang luar' kayak kalian? Naif banget. Mending minta maaf sekarang."

Anak-anak kelas X-7 panik. Ucapan Salma masuk akal.

"Salma, gue minta maaf soal omongan gue tadi. Sorry banget."

Begitu satu orang mulai, yang lain mengikuti seperti domino. Dalam dua menit, mereka yang tadi mencaci maki Salma kini antre minta maaf.

Setiap kata "maaf" terasa seperti tamparan keras di wajah Manda.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Salma, mereka udah minta maaf. Kamu jangan terlalu dimasukin hati ya?" Manda memaksakan senyum kaku.

Salma menatap Manda tajam. "Aku nggak pernah masukin hati kok. Yang bilang ke Papa kalau aku di-bully kan Kakak."

"Aku nggak pernah bawa masalah sekolah ke rumah."

"Kak, lain kali hati-hati kalau ngomong ya, bikin orang salah paham terus itu nggak baik."

Salma melanjutkan omongannya dengan santai, tapi menusuk, "Lagian, Papa hari ini sebenernya mau datang ke sekolah buat bikin perhitungan. Aku yang nahan Papa."

"Aku tahu tadi pagi Papa marahin Kakak karena emosi, Kakak jangan sedih ya."

Mendengar itu, teman-teman sekelas mulai kesal pada Manda. Ternyata Manda yang memicu masalah sampai posisi mereka terancam!

"Salma, kamu kok memutarbalikkan fakta? Keterlaluan banget!" Manda hampir meledak, kembali memainkan peran martir.

"Kak, kenapa Kakak selalu mojokin aku sampai aku nggak punya pilihan?

Apa aku harus rekam semua omongan kita biar Kakak puas?" Salma pura-pura merajuk.

Manda memasang wajah terluka. "Salma... tega banget kamu... Kakak..."

Air matanya menetes.

"Udahlah, bahas di rumah aja. Aku juga nggak ngomong apa-apa kok Kakak malah nangis?"

"Jangan nangis terus, nanti matanya minus lho."

Manda tersedak ludahnya sendiri. Harusnya Salma ngamuk!

Kenapa dia malah sok bijak?!

Teman-teman sekelas kali ini tidak banyak yang menghibur Manda.

Manda merasa seperti meninju kapas. Capek sendiri.

Manda akhirnya pergi ke ruang OSIS dengan hati membara.

Ia harus cari cara agar orang tua angkatnya mengirim Salma ke luar negeri.

Namun, begitu rapat OSIS dimulai, Farel Barata, Ketua OSIS idola sekolah, langsung menggebrak meja.

"Gue nggak nyangka wibawa gue sebagai Ketua OSIS udah nggak ada harganya."

"Kejadian kemarin lusa kalian anggap angin lalu? Nggak ada yang mau minta maaf?"

Semua anggota OSIS terdiam. Farel yang sedang marah terlihat menakutkan.

"Buat surat permintaan maaf terbuka untuk Salma Tanudjaja. Kalau gue harus ngulang perintah ini tiga kali, siap-siap kalian kena sanksi!"

"Mentang-mentang OSIS jadi sombong? Salma nggak bawa keluarganya turun tangan aja itu udah kasih kalian kesempatan hidup!"

Manda tidak terima. Farel biasanya tak peduli padanya, sekarang malah membela Salma mati-matian.

"Kak Farel, Salma juga salah. Yang lalu biarlah berlalu, nanti aku yang ngomong sama Salma," Manda mencoba menengahi.

"Manda, lo aneh banget. Lo kakaknya, harusnya lo yang paling depan belain dia.

Kenapa lo malah belain orang luar?" potong Farel tajam.

Manda terdiam. "Aku bukan belain siapa-siapa. Cuma ini masalah sepele."

"Jadi kalian lebih milih kena sanksi daripada minta maaf?" Farel mendominasi ruangan.

"Gue minta maaf," akhirnya satu suara mencicit.

Satu per satu anggota OSIS menyerah, kecuali Manda.

"Manda, lo gimana?" Farel menatap datar.

Manda rasanya ingin membanting meja. Kenapa dia harus minta maaf pada anak kampungan itu?

Namun, di bawah tekanan, Manda akhirnya membuka mulut dengan berat hati.

"Aku minta maaf."

"Bagus! Tanda tangan." Farel menyodorkan kertas.

Setelah semua tanda tangan, Farel menyerahkannya ke Divisi Humas.

"Tempel di mading utama. Seminggu penuh. Nggak boleh ada yang nyobek."

"Seminggu? OSIS mau taruh muka di mana?!" protes Jessi.

"Waktu kalian ngehina orang, mikirin muka nggak?" balas Farel dingin.

"Manda, kamu kan Nona Besar Tanudjaja, masa omonganmu nggak mempan sih dibanding Salma?" sindir Jessi, mulai kesal pada Manda.

Manda melirik tajam. "Salma juga kesayangan Keluarga Tanudjaja!"

Setelah rapat bubar, Manda mendatangi kelas Salma. Salma sedang menikmati sarapan, cuek bebek.

"Salma, kami pengurus OSIS sudah sepakat untuk minta maaf. Suratnya sudah ditempel di mading."

"Semoga kamu mau maafin kekhilafan kami," kata Manda, menahan geram karena diabaikan.

Salma menelan suapan terakhirnya, mengelap mulut, lalu berkata santai, "Siapa yang mewajibkan aku harus memaafkan?"

"Aku nggak mau terima permintaan maaf palsu."

"Bilangin sama anak OSIS, nggak usah memaksakan diri kalau nggak ikhlas."

Manda serasa mau meledak. "Kamu sebenernya nyalahin Kakak kan?"

"Kakak kan kakakku, apa pun yang Kakak lakuin, aku nggak bakal marah.

Cuma kadang mulutku emang pedes, jangan dimasukin hati ya," jawab Salma enteng.

Melihat ekspresi wajah Manda yang berubah-ubah seperti lampu disko, Salma merasa hidupnya jadi lebih berwarna.

Drama gratisan memang seru.

Berita OSIS minta maaf pada Salma menyebar secepat kilat. Salma mendadak jadi selebriti sekolah.

Murid pertama yang bikin OSIS tunduk dan menolak permintaan maaf itu dengan angkuh.

Keren banget!

Saat jam istirahat, koridor kelas X-7 penuh sesak oleh siswa yang 'pura-pura lewat'.

Dan begitu mereka melihatnya... para kakak kelas cowok langsung heboh.

Gila! Kenapa ada adik kelas secantik ini kita baru tahu?! Salma Tanudjaja aslinya bening banget!

Manda mah lewat!

Dulu Salma memang tomboy dan menutupi kecantikan alaminya. Tapi setelah terlahir kembali, transformasi Salma luar biasa.

Hanya saja selama ini dia low profile, jadi tak banyak yang sadar.

Sekarang, gara-gara insiden OSIS, kecantikan Salma terekspos.

Manda yang biasanya jadi primadona, kini kebanting habis-habisan.

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!