Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG MULAI TERBOCORKAN
Hari setelah ulang tahun Tara, jam 14.30 siang. Arini sedang mempersiapkan perlengkapan untuk konseling keluarga membawa buku catatan kecil, botol air mineral, dan beberapa camilan yang disukai Tara.
Anak itu sedang asik bermain dengan boneka baru yang diberikan oleh teman-temannya saat ulang tahun, tidak menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari penting bagi keluarga mereka.
"Rizky sudah datang belum ya Mama?" tanya Tara tanpa mengangkat mata dari mainannya.
"Belum nak, tapi dia bilang akan datang tepat waktu. Kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan lho, ada Tante yang akan cerita dengan kita."
Sebelum Arini bisa menjelaskan lebih jauh, suara mobil terdengar di halaman depan.
Rizky keluar dengan mengenakan baju rapi tapi santai, membawa tas kecil yang berisi dokumen dan catatan tentang apa yang ingin dia bicarakan di konseling.
"Sudah siap semua?" tanya Rizky sambil mencium dahi Tara dan memberikan senyum pada Arini.
"Siap aja. Mari kita berangkat sebelum macet."
Perjalanan ke klinik Psikologi Harapan memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Tara mulai bertanya banyak hal tentang tempat yang akan mereka kunjungi, dan Arini menjawab dengan bahasa yang mudah dimengerti anak kecil.
"Sekarang kita akan bertemu dengan Tante Sari. Dia suka membantu keluarga-keluarga agar bisa hidup bahagia bersama ya nak."
Setelah sampai di klinik, mereka disambut oleh resepsionis yang ramah dan langsung diantar ke ruangan konseling yang nyaman dan hangat.
Dindingnya dihiasi dengan lukisan anak-anak, ada sofa empuk, dan beberapa mainan edukatif yang ditempatkan di sudut ruangan untuk membuat anak-anak merasa nyaman.
Tak lama kemudian, Dr. Sari masuk – wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan senyum yang hangat dan tatapan yang penuh perhatian.
Dia menyapa masing-masing dengan ramah dan mengajak mereka duduk bersama di sofa besar.
"Senang bertemu dengan kalian semua. Nama saya Sari, bisa panggil saya Tante Sari ya Tara."
Tara mengangguk dengan sedikit malu tapi segera merasa nyaman setelah Dr. Sari memberikan dia boneka beruang kecil sebagai hadiah sambutan.
"Sebelum kita mulai," ujar Dr. Sari dengan nada yang tenang, "saya ingin menjelaskan bahwa semua yang kita bicarakan di ruangan ini adalah rahasia yang akan kita jaga bersama. Tujuan kita adalah untuk membantu keluarga ini menemukan cara agar bisa hidup lebih bahagia dan saling mengerti."
Pertemuan berlangsung selama hampir dua jam. Rizky mulai dengan mengakui semua kesalahannya dengan terbuka, tidak menyembunyikan satu pun detail tentang apa yang terjadi antara dia dan Lina.
Arini kemudian menceritakan bagaimana perasaan sakit hati yang dia rasakan, bagaimana dia harus menyembunyikan semua itu dari Tara, dan bagaimana dia merasa kehilangan kepercayaan pada suaminya.
"Saya tidak tahu bagaimana cara untuk mempercayainya lagi," ujar Arini dengan suara yang bergetar.
"Setiap kali dia pulang larut, saya selalu berpikir bahwa dia sedang bersama orang lain. Saya tidak ingin hidup dengan rasa curiga seperti ini."
Rizky menegaskan bahwa hubungan dia dengan Lina sudah benar-benar berakhir.
"Lina sudah pindah ke kota lain dan mengakhiri semua kontak dengan saya. Saya sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak fokus pada keluarga saya."
Selama percakapan, Tara duduk di pangkuan Arini, kadang bermain dengan boneka beruang kecilnya, kadang memperhatikan pembicaraan orang dewasa di depannya. Sampai akhirnya dia mengangkat tangan dengan ragu.
"Tante Sari, saya punya pertanyaan."
"Tentu saja nak, silakan aja."
"Kenapa Papa dan Mama sering bertengkar ya? Dan kenapa Papa tidak tinggal sama kita lagi? Apakah karena saya tidak baik-baik saja?"
Arini langsung menangis mendengar pertanyaan anaknya. Rizky mengambil tangan Tara dengan lembut.
"Itu bukan kesalahanmu nak, sama sekali tidak. Papa dan Mama hanya punya masalah kecil yang harus kita selesaikan bersama."
Dr. Sari memberikan waktu bagi mereka untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan.
"Ini adalah hal yang umum terjadi pada anak-anak ketika orang tuanya menghadapi masalah. Tara merasa bahwa dia mungkin menjadi penyebabnya, padahal itu tidak benar sama sekali."
Setelah konseling selesai, Dr. Sari memberikan beberapa tugas untuk dilakukan sebelum pertemuan berikutnya.
"Rizky, kamu bisa mulai dengan membuat jadwal waktu yang jelas untuk keluarga – berjanji untuk pulang tepat waktu dan menghabiskan waktu bersama setiap hari. Arini, cobalah untuk tidak langsung berpikir negatif dan beri kesempatan pada Rizky untuk menunjukkan bahwa dia bisa berubah. Dan untuk kita semua, mari kita membuat buku harian keluarga di mana kita bisa menulis hal-hal yang kita syukuri setiap hari."
Saat mereka keluar dari klinik, sudah sore hari. Rizky mengajak mereka makan malam di restoran favorit keluarga - tempat di mana mereka sering bersantap saat merayakan hal-hal baik.
Tara sangat senang dan langsung memesan makanan kesukaannya – ayam goreng tepung dengan kentang goreng.
Selama makan malam, mereka mulai berbicara dengan lebih terbuka. Rizky menceritakan bahwa dia sudah mengajukan permohonan untuk pindah ke departemen yang lebih fleksibel di kantornya, sehingga bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga.
Arini juga mengatakan bahwa bisnis kue "Rasa Arini" sedang berkembang dengan baik dan dia mungkin akan membutuhkan bantuan tambahan dalam beberapa bulan ke depan.
"Saya bisa membantu kamu mengurus administrasi atau mengantar pesanan jika kamu mau," ujar Rizky dengan harapan.
Arini mengangguk perlahan. "Boleh saja. Tapi kita harus membuat perjanjian yang jelas ya, agar tidak ada kesalahpahaman lagi."
Setelah makan malam dan mengantar Arini serta Tara pulang ke rumah ibu Arini, Rizky berhenti sebentar di jalan pulang.
Dia melihat pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal – tapi dia tahu siapa yang mengirimnya. Isinya singkat: "Saya sudah mulai kuliah lagi untuk meningkatkan diri. Semoga keluarga Anda selalu bahagia. Salam dari Lina."
Rizky tidak membalas pesan itu, tapi dia merasa lega mengetahui bahwa Lina juga sedang berusaha untuk membangun hidup baru yang lebih baik.
Dia menghapus nomor tersebut dari daftar kontaknya sebagai bentuk komitmennya pada keluarga.
Di rumah ibu Arini, Arini sedang membacakan buku cerita untuk Tara sebelum tidur. Anak itu sudah mulai mengantuk tapi masih ingin bertanya.
"Mama, kapan Papa bisa tinggal sama kita lagi ya?"
"Kita harus sabar ya nak. Papa sedang berusaha menjadi lebih baik, dan Mama juga sedang berusaha untuk memaafkannya. Semoga tidak lama lagi kita bisa hidup bersama seperti dulu."
Setelah Tara tertidur, Arini melihat foto keluarga yang terpampang di dinding kamar anaknya. Dia mengambil telepon dan mengirim pesan singkat ke Rizky: "Terima kasih untuk malam ini. Tara sangat senang. Besok kamu bisa datang jam 07.00 pagi kalau mau bantu sarapan dan antar Tara ke sekolah."
Rizky melihat pesan itu dengan senyum lebar.