NovelToon NovelToon
Dendam Paras Kembar

Dendam Paras Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Balas dendam pengganti / Balas Dendam
Popularitas:43
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PELARIAN SANG IBLIS

BAB 12: PELARIAN SANG IBLIS

Malam di pinggiran kota Shimla terasa jauh lebih gelap dan sunyi dibandingkan pusat kota yang gemerlap. Di Rumah Sakit Jiwa Sanjivani, sebuah bangunan tua berdinding abu-abu yang terisolasi, suara langkah sepatu perawat yang berpatroli menjadi satu-satunya irama yang terdengar. Namun, di dalam sel nomor 404, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.

Tara berdiri di balik pintu besi, matanya merah karena kurang tidur, namun otaknya bekerja dengan kecepatan yang mengerikan. Selama dua minggu, ia berpura-pura menjadi pasien yang patuh. Ia meminum obatnya (yang sebenarnya ia sembunyikan di bawah lidah lalu dibuang ke lubang toilet), ia tidak lagi berteriak, dan ia mulai tersenyum ramah pada setiap staf.

"Kau tampak jauh lebih baik hari ini, Nyonya Tara," ucap seorang perawat muda bernama Mira saat membawakan baki makan malam.

Tara tersenyum manis, senyum yang dulu sering ia gunakan untuk menipu korbannya. "Aku menyadari bahwa Deep benar, Mira. Aku butuh ketenangan ini. Bisakah kau membantuku mengancingkan gaun ini? Tanganku sedikit gemetar."

Saat Mira mendekat dan membelakangi Tara, gerakan itu menjadi kesalahan terakhirnya. Dengan kecepatan predator, Tara melingkarkan kain sprei yang sudah ia pintal menjadi tali kuat ke leher Mira. Ia menariknya dengan tenaga gila yang dipicu oleh obsesi. Suara napas yang tercekik hanya berlangsung beberapa detik sebelum tubuh Mira terkulai lemas di lantai.

"Maafkan aku, Manis. Tapi aku punya pernikahan yang harus kuhadiri," bisik Tara dengan tatapan kosong.

Dengan tangan gemetar namun sigap, Tara menukar pakaiannya dengan seragam perawat Mira. Ia mengambil kartu akses dan kunci yang tergantung di pinggang perawat malang itu. Ia merapikan rambutnya, memakai masker medis, dan menundukkan kepala saat melangkah keluar sel. Ia melewati koridor demi koridor, jantungnya berdegup kencang setiap kali berpapasan dengan penjaga. Namun, nasib buruk nampaknya sedang berpihak pada kejahatan; ia berhasil keluar melalui pintu belakang tanpa kecurigaan sedikit pun.

Begitu menghirup udara bebas, Tara tidak lari ke hutan. Ia menuju jalan raya, menyetop sebuah taksi dengan sisa uang yang ia curi dari dompet Mira.

"Ke mana, Suster?" tanya supir taksi itu.

"Mansion Raisinghania. Sekarang!" desis Tara. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suster yang lembut, melainkan seperti malaikat maut yang sedang menuntut haknya.

Sementara itu, di Mansion Raisinghania, suasana sangat kontras. Persiapan pernikahan sedang berada di puncaknya. Karpet merah dibentangkan di sepanjang tangga besar, dan ribuan lampu kristal dibersihkan hingga berkilau seperti bintang.

Aarohi berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah luar. Ia mengenakan jubah sutra putih, memegang segelas air mineral. Di tangannya yang lain, ia menggenggam sebuah kotak kecil berisi mikrofilm—bukti transaksi ilegal Deep yang baru saja ia temukan di balik brankas tersembunyi.

"Tinggal tiga hari lagi, Abhimanyu," ucap Aarohi ke ponselnya. "Setelah janji suci diucapkan, aku akan mengirimkan data ini ke biro investigasi pusat. Deep akan ditangkap tepat di hari yang ia kira sebagai hari kemenangannya."

"Hati-hati, Aarohi," suara Abhimanyu terdengar cemas di seberang sana. "Aku mendapat kabar dari informanku bahwa ada kekacauan di rumah sakit jiwa malam ini. Seseorang melarikan diri."

Jantung Aarohi seolah berhenti berdetak. "Siapa?"

"Petugas medis sedang memeriksa selnya sekarang. Tapi aku yakin itu dia. Tara tidak akan membiarkanmu mengambil Deep tanpa pertumpahan darah."

Aarohi menutup teleponnya dengan tangan yang kini sedikit gemetar. Ia menatap ke bawah, ke arah halaman mansion yang luas. Tiba-tiba, ia melihat sebuah taksi berhenti jauh di depan gerbang utama. Seorang wanita keluar dari sana, mengenakan seragam putih yang kotor, namun cara berjalannya... Aarohi mengenalinya bahkan dari jarak jauh.

"Dia di sini," gumam Aarohi.

Bukannya merasa takut, sebuah senyum dingin justru muncul di wajah Aarohi. Ia mengambil pistol kecil yang disembunyikan di bawah bantalnya dan memasukkannya ke dalam saku jubah.

"Baguslah kau datang, Tara. Aku tidak ingin menghancurkan Deep sendirian. Aku ingin kau melihat bagaimana pria yang kau cintai akan membuangmu sekali lagi, dan kali ini, dia sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah kembali."

Aarohi segera menghubungi Deep melalui interkom. "Deep, Sayang? Bisakah kau ke kamarku sekarang? Aku merasa ada seseorang yang mengawasi rumah ini. Aku merasa tidak aman."

Deep, yang sedang memeriksa dekorasi di aula bawah, langsung berlari menuju kamar Aarohi. "Ada apa, Anjali? Jangan takut, pengawal ada di mana-mana."

Aarohi memeluk Deep erat saat pria itu masuk, namun matanya tetap tertuju pada pintu kamar yang tidak dikunci sepenuhnya. Ia tahu Tara memiliki kunci cadangan rahasia yang tidak diketahui Deep.

"Aku merasa seperti ada hantu di rumah ini, Deep," bisik Aarohi, suaranya terdengar sangat rapuh.

"Tidak akan ada hantu yang bisa menyentuhmu, Anjali. Aku bersumpah," kata Deep sambil mencium keningnya.

Tiba-tiba, suara tawa pecah dari arah kegelapan lorong di depan kamar mereka. Tawa yang sangat familiar, namun terdengar jauh lebih gila dan penuh amarah.

"Hantu tidak bisa menyentuhnya, Deep... tapi istri sahmu bisa!"

Pintu kamar terbanting terbuka. Tara berdiri di sana, memegang belati perak yang permukaannya masih menyisakan bercak darah kering milik perawat Mira. Wajahnya pucat, matanya liar, dan seragam perawat yang ia kenakan membuat penampilannya tampak seperti karakter dari film horor.

"Tara?!" Deep tertegun, wajahnya memucat. Ia segera pasang badan di depan Aarohi. "Bagaimana kau bisa keluar dari sana?!"

"Cinta, Deep! Cinta yang membuatku melakukan segalanya!" teriak Tara. Ia menunjuk Aarohi dengan belati. "Lihat wanita itu, Deep! Dia bukan Anjali! Dia Aarohi! Dia kembali untuk membunuh kita berdua! Kenapa kau begitu buta?!"

Aarohi mengeratkan pelukannya pada lengan Deep, tubuhnya gemetar (yang tentu saja hanya akting). "Deep, tolong... dia akan membunuhku!"

"Menjauh darinya, Tara! Kau gila!" bentak Deep. Ia mengambil ponselnya untuk memanggil keamanan, namun Tara bergerak lebih cepat. Ia melemparkan sebuah benda ke arah Deep—sebuah foto lama mereka bertiga yang sudah dicoret-coret dengan darah.

"Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang bisa, Deep!" Tara menerjang maju dengan belati di tangannya, sasarannya bukan Deep, melainkan jantung Aarohi.

Dalam hitungan detik, Aarohi harus memutuskan: Haruskah ia membela diri sekarang dan membongkar identitasnya, atau membiarkan Deep bertindak dan menjadikan ini bukti terakhir untuk menyingkirkan Tara selamanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!