NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Misi Pertama: Menjual koin emas, mencari banyak cuan.

Di kota kabupaten, toko emas.

"Punten, teh! Saya mau bertemu dengan pemilik toko. Mau menjual emas spesial!" sapanya dengan bahasa dan aksen setempat pada penjaga wanita di toko terbesar di ibukota kabupaten.

Seorang pelayan wanita seumuran dengannya menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dari balik meja etalase.

"Cantik kampung!" batin si pelayan tak lepas memandang sosok calon konsumen yang terlihat sederhana.

Rembulan memakai pakaian terusan selutut berwana hijau sage dengan rambut terurai (tanpa aksesoris). Tas ransel kulit, tercangklong di bahunya. Memakai sendal capit berbahan kulit imitasi. Gadis itu datang seorang diri.

"Emas spesial? Memang ada!?" ucapnya menyepelekan.

"Emas mah emas saja atuh. Ditimbang dan sesuai harga pasaran saat ini Rp 1.000.000 s/d 1.200.000 per gram! Yang enggak laku itu, mas Paijo. Tetanggaku yang bujang lapuk!" ucapnya malas dan agak kurang ramah melihat penampilan Rembulan.

Rembulan tidak ada waktu berdebat karena misinya mengumpulkan uang dan kembali ke Jakarta secepatnya. Dia mengeluarkan kantong kulit dari dalam ransel dan mengeluarkan dua koin.

"Ini koin dari zaman prasejarah. Pasti majikanmu tahu dan punya kenalan ahli barang antik!" tambah Rembulan meyakinkan tanpa menjelaskan secara detail kepada pelayan yang terkesan arogan dan bodoh.

Dia mengeluarkan koin dari era yang berbeda. Warna emas agak tua namun kinclong dan terdapat tulisan zaman tersebut. Kegiatannya hanya ditatap acuh penjaga tersebut. Pelayan tersebut memperhatikan dengan seksama namun tak mengerti.

Pekerja toko itu hendak mengambil paksa koin tersebut namun dengan gesit Rembulan meraih keduanya. Si penjaga merasa tersinggung.

"Teteh ini, katanya mau menjual barang. Saya harus memperlihatkan kepada atasan saya di dalam!" ucapnya kesal.

"Saya meminta si bos yang keluar melayani saya bukan kamu, maaf!" ucap Rembulan tegas namun tetap sopan.

Misi bertemu bos pelayan tersebut harus mulus, untuk itu dia harus tarik ulur emosi dengan pelayan tersebut, agar lancar.

"Teteh ini ngeselin sekali. Memangnya situ siapa, pake mau menemui bos saya. Jangan-jangan, mau menipu yah? Pake bilang punya koin dari zaman peradaban kuno. Mana ada yang kayak begituan!"

"Sana pergi, dasar penipu!" jawabnya sewot.

Pink dan Violet yang kasat mata di mata manusia lain, sudah gaduh di sisi Rembulan dan ditenangkan. Tentu saja hanya dia yang bisa melihat keduanya.

Rembulan tetap tenang dan masih tersenyum. Koin tersebut dia sembunyikan di kepalan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit (memakai sarung tangan/glove), agar permukaan koin tidak rusak.

Rembulan bersikukuh ia bukan penipu dan ingin bertemu empat mata dengan bos toko emas. Empat pegawai yang tadi berbincang dengan wanita itu, mengeremuni rekannya yang bersitegang dengannya dan mata para pengunjung mengarah pada dirinya serta pelayan toko yang julid.

Melihat keadaan yang tidak kondusif di ruangan display, bos toko yang baru kembali dari toilet melihat di CCTV. Dia khawatir ada kerusuhan yang akan membahayakan bisnisnya.

"Mirna! Cing, tempo ka hareup, aya ricuh naon, sieun na aya nu onar!? (Coba lihat ke depan ada keributan apa? Takutnya ada perusuh)!" perintahnya dalam bahasa Sunda.

"Sumuhun, Koh. Abdi bade milarian terang (Benar, Koh! Akan saya cari tahu)!" ucap pegawainya.

Mirna pun pergi ke depan dan mencari tahu. Setelah sepuluh menit dia kembali ke tempat bosnya yang sedang menunggu berita darinya.

Dia pun menerangkan duduk perkara. Bos toko pun segera menghampiri keributan dan melerainya serta mengajak Rembulan berbincang (hanya dibatasi etalase).

"Selamat pagi. Saya minta maaf atas ketidak sopanan anak buah saya. Dia begitu karena khawatir ada penipuan, tapi saya akan tindak supaya lebih menghormati tamu. Oh ya, nama saya William Arisandi pemilik toko emas ini. Kalau boleh tahu siapa nama teteh!? Dan boleh saya melihat koin tersebut!?" tanyanya sopan dan santun.

Rembulan pun memperkenalkan diri dan membuka kepalan tangannya. Koin emas yang dimaksud, diletakan di sehelai kain kulit hewan dan diperlihatkan pada pemilik toko emas. Pria berusia 37 tahun itu mengamati dengan seksama gambar koin dengan kaca pembesar dan alat khusus.

Koin yang cukup tebal dan ditimbang ternyata beratnya 10 gram. Ukuran koin empat kali lipat dari ukuran koin seribuan yang berlaku. Di tengah gambar ada gambar prajurit Romawi Kuno, dikelilingi tulisan dan angka yang dia tak mengerti. Gambar tersebut masih cukup jelas diamati. Dia mencolek permukaan emas dan dicampurkan dengan bahan lain guna menentukan kadarnya.

"Emasnya asli dan murni tanpa campuran logam setetes pun! Nilainya entahlah untuk satu koin. Yang membuat mahal adalah gambar di kedua sisinya. Darimana dia mendapatkannya?" batinnya sambil melirik tampilan Rembulan yang berwajah cantik namun terlihat sederhana tak ubahnya seperti gadis desa pada umumnya.

"Teh Rembulan, saya kurang paham tentang koin. Boleh saya foto, saya akan memberikan gambarnya pada teman saya yang mengerti tentang koin kuno. Siapa tahu bisa membantu!"

Yah! William tentu saja harus hati-hati mengenai penipuan emas yang marak terjadi. Emas palsu diklaim asli. Tidak tanggung-tanggung, yang memalsukan adalah lembaga resmi penghasil emas itu sendiri. Dan sekarang, seorang gadis lugu dari dusun, tidak terlihat glamour, memiliki koin langka dan berharga. Dari Romawi, Italia. Mengapa ada di tangan wanita Indonesia, dari dusun yang jauh pula dari peradaban!?

Rembulan pun mengizinkan dan mengangguk tanda setuju. Sudah dia duga, menjual koin emas antik tidak semudah menjual emas pada umumnya seperti perhiasan atau emas batangan.

"Mohon menunggu!" ucap William sambil berlalu ke balik pintu.

Rembulan membungkus koin yang sudah diambil foto dan video lalu duduk di ruang tunggu, sementara itu, William melakukan komunikasi dengan koleganya dari Jakarta. Sementara pria itu menghubungi temannya, dalam otaknya tersusun strategi agar penjualan ini lancar.

Lantas, William memfoto dan mengirimkan pada temannya yang seorang kolektor barang antik bernama Ricky Pranajaya di Jakarta. Temannya pun meneruskan pada koleganya sesama kolektor barang antik kelas dunia bernama Jhon Lee yang tinggal di Singapura yang pengetahuan mengenai barang antik lebih mumpuni.

Jhon Lee di Singapura, sangat terkejut melihat foto koin dari rekannya di Indonesia, yang menurutnya koin itu diduga asli! Dia pun meminta divideokan dari berbagai sudut secara mendetail. Pembuktian asli atau tidaknya, dia harus melihat langsung (berarti harus terbang ke Indonesia) dan meminta bantuan dari lembaga yang ahli di bidangnya serta kompeten.

William memanggil Rembulan dan mengajak ke ruangan belakang toko (ruang kerja) ternyata cukup luas, seperti rumah pada umumnya, ada ruang duduk, dapur dan sebagainya.

"Silahkan duduk, neng geulis (wanita cantik)!" ujarnya sopan.

"Silahkan berbincang dengan rekan saya, Ricky Pranajaya!"

Lantas William memberikan ponsel dan keduanya berbincang.

Ricky Pranajaya yang juga kolektor barang antik dan cukup paham dengan koin kuno, bertanya dari mana gadis belia itu mendapatkan benda tersebut!? Pasti akan terjawab nanti setelah dia memastikan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Rembulan pun menjawab bahwa itu adalah warisan dari sang nenek yang tinggal di Belanda (berdasarkan saran Pink dan Violet).

Kedua orangtuanya bercerai, ibunya penduduk lokal dan ayahnya asli Belanda. Dalam hati gadis itu, semoga pria di Jakarta percaya bualannya. Syukurnya, William mendukung pernyataan si neng geulis sebab perawakannya memang bukan seperti warga lokal kebanyakan. Rambutnya memang hitam legam khas pribumi tapi warna matanya ciri khas peranakan campuran.

Ricky pun percaya pada William dan mengatakan akan datang ke tempatnya. Rembulan menolak. Dirinya yang akan menyambangi Ricky (diantar William) di ibukota (tanpa memberitahu bahwa domisilinya saat ini asli, dari Jakarta). Dalam hati, kalaupun ketahuan, biarlah. Toh, kartu identitasnya, hilang entah kemana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!