NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 TIDAK MAU

"Tidak mau," gumam Seyna sambil menggeleng keras.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Kael, seolah dunia akan runtuh kalau ia melepaskan pelukan itu. Kael menghela napas panjang bukan marah, hanya menyerah pada keras kepalanya gadis kecil di hadapannya.

"Baik, tidak usah pakai sandal," ucap Kael lembut.

Tanpa banyak bicara lagi, Kael membungkuk sedikit, menyelipkan tangan di bawah lutut Seyna dan mengangkat tubuhnya dengan mudah. Seyna langsung memeluk leher Kael lebih erat, pipinya menempel di dada pria itu. Amar yang melihatnya hanya menekan bibir, berusaha menahan komentar karena tahu sepupunya sudah berada dalam mode protektif penuh.

"Astaga gadis itu berani beraninya mendekati monster hidup itu," gumam Amar.

Kael melangkah masuk ke dalam rumah, sementara Amar mengikuti di belakang tanpa suara, tidak ingin memicu ketakutan Seyna lagi. Begitu pintu terbuka, Reni yang baru keluar dari dapur langsung terhenyak. Matanya membesar saat melihat Seyna yang berada di dekapan Kael.

"Tuan Kael? Kenapa Seyna digendong begitu?Seyna segera turun! Kau malah—"

Sebelum kalimat itu selesai, Seyna menatap Reni datar. Dingin. Ada jarak emosional yang jelas. Tanpa suara, ia semakin mengalungkan kedua tangannya ke leher Kael, seolah memberi sinyal kepada Kael, aku tidak mau turun. Jangan sentuh aku. Kael menatap Reni tajam, tegas, dan jelas bukan nada meminta izin. Lebih seperti peringatan agar Reni tidak ikut campur.

Melihat tatapan Kael yang menyeramkan, Reni langsung menelan salivanya dan menyingkir setengah langkah, membuka jalan.

"Maaf… silakan masuk, Tuan," ucapnya tergesa, nada suaranya berubah patuh.

Kael terus berjalan masuk tanpa menoleh lagi, sementara Reni buru-buru beralih ke Amar yang baru masuk setelah mereka.

"Oh, Nak Amar sudah datang… silakan,"ucap Reni, mencoba tersenyum ramah saat menatap calon menantunya tersebut.

Amar hanya mengangguk kecil. Fokusnya masih pada Seyna yang mengeratkan pelukan seakan Kael satu-satunya tempat aman yang ia punya.

"Kenapa Kael mau disuruh suruh oleh orang lain?" pikir Amar.

"Nak Amar?mau bertemu dengan Alisha?"tanya Reni.

Amar yang sedang kalut dengan pikirannya reflek menoleh saat mendengar ucapan Reni.

"Eh..tante, tadi ngomong apa?"tanya Amar sambil tersenyum kecil.

Reni hanya membalas tersenyum tipis lalu bertanya sekali lagi, " Nak amar ingin bertemu dengan Alisha. Biar tante panggilkan."

"Ah, iya tante," ucap Amar.

Reni hanya mengangguk lalu segera pergi ke arah tangga untuk menemui Alisha.

Sedangkan disisi lain Kael sudah mengantar Seyna ke dalam kamarnya, sesampainya di dalam kamar Kael segera menurunkan Seyna di atas kasur.

Begitu Kael menurunkan Seyna di atas kasur, gadis itu tidak langsung duduk manis. Ia justru menarik kerah kemeja Kael dengan kedua tangannya lalu segera menatap wajah Kael sekilas dan segera menciumnya, Kael yang kaget kedua matanya terbelalak tetapi ia membalas ciuman dari Seyna.

"Seyna," panggil Kael.

Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Seyna sudah menempelkan wajahnya ke dada Kael. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, seperti seseorang yang baru saja lari dari sesuatu yang menakutkan. Tangannya mencengkeram pakaian Kael begitu erat sampai buku jarinya memutih.

"Jangan pergi…" bisik Seyna, suaranya parau dan menahan ketakutan yang merasuki tubuhnya.

Kael menelan salivanya, merasakan betapa kuatnya Seyna berusaha menahan tubuhnya agar tetap di tempat. Ia tidak mendorongnya, tidak menegur Kael tahu kondisi Seyna bukan perilaku manja. Ini ketakutan yang nyata, ia paham bahwa Seyna pasti mengalami traumatis.

"Aku di sini," jawab Kael pelan, menunduk sedikit, membiarkan tangan besarnya mengusap punggung Seyna dengan lembut dan menenangkan.

"Seyna… aku nggak ke mana-mana."

Namun justru kata-kata itu membuat Seyna semakin menggenggam kemeja Kael, seolah takut jika ia melepaskan, Kael akan menghilang seperti orang lain dalam hidupnya. Kael mengangkat wajah Seyna perlahan.

Tatapan gadis itu kacau antara campuran takut, lelah, dan permohonan yang tidak diucapkan.

Mata itu bergetar seolah ia takut bahwa Kael benar benar meninggalkannya di ruang kosong ini.

Seyna kembali mendekat tetapi kali ini bukan mencium bibirnya, tapi menempelkan bibirnya ke pipi Kael, tepat di bawah garis rahang pria itu.

"Kak Kael, tetap harus sama Seyna," ucapnya pelan

"Seyna…" Kael menarik napas panjang.

Ia mengusap sisi wajah gadis itu, jemarinya menyapu pipi Seyna dengan kelembutan yang tidak pernah ia pakai untuk siapa pun.

"Sini," gumamnya, menarik tubuh Seyna ke dalam pelukan penuh.

Seyna menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada Kael, kedua tangannya memeluk pinggang pria itu kuat-kuat.

"Kak Kael…" suaranya pecah.

"Aku ingin pergi dari rumah ini," Ia berhenti sejenak, menghirup aroma parfum Kael seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tenang.

"Aku takut… aku nggak mau di sini. Tolong… bawa aku. Bawa aku pergi dari sini."

Kael memejamkan mata. Ada sesuatu yang meledak pelan di dada pria itu kemarahan, proteksi, dan rasa yang lebih rumit dari sekadar kasihan. Ia membalas pelukan Seyna sama eratnya.

"Kamu dengar aku," ucap Kael dengan suara dalam yang tegas.

"Aku bakal bawa kamu dari sini. Segera! Aku akan cari cara dan kamu nggak akan sendirian lagi."

Seyna menenggelamkan wajahnya ke leher Kael, napasnya gemetar. Ia seperti manusia yang akhirnya menemukan tempat untuk berhenti lari dan membalas rasa sakitnya. Kael mengusap rambutnya lembut, bahkan sangat lembut.

"Tapi aku takut..disini banyak sekali orang orang jahat mereka—" ucap Seyna.

Sebelum Seyna melanjutkan perkataanya jari telunjuk Kael segera ditaruh tepat di bibir mungil milik Seyna.

"Ssshh… aku di sini," bisiknya.

"Selama aku ada, nggak ada yang boleh menyakitimu lagi."

Tangan Seyna mengepal di belakang punggung Kael.

"Jangan tinggalkan aku…" Kata-kata itu keluar begitu pelan, begitu jujur, sampai Kael merasakan sesuatu menegang di dadanya.

Kael mendorong tubuh Seyna sedikit, agar bisa menatap wajah gadis itu. Ia mengusap pipinya dengan ibu jari.

"Aku nggak akan ke mana pun." Tatapannya dalam, nyaris seperti sebuah janji.

"Kamu dengar aku? Aku nggak akan ninggalin kamu."

Seyna hanya mengangguk dan mengusap pipi Kael.

........

"Amar..." teriak Alisha segera berlari mendekat ke arahnya.

Amar yang melihat Alisha hanya mendengus dan bingung sekali bagaimana dia mencoba agar Alisha mau membatalkan perjodohan ini.

"Kamu kenapa kesini?tumben sekali?"tanya Alisha sambil menggenggam tangan Amar.

Amar mencoba untuk melepaskan genggaman itu lalu mengajak Alisha untuk pergi ke taman, karena Amar ingin mengatakan sesuatu.

"Ya sudah ayo kita ke taman saja," ucap Alisha dan buru buru menarik Amar menuju ke arah taman.

"Sepertinya Amar ingin menyatakan cintanya kepadaku," pikir Alisha sambil tersenyum.

Amar sesekali menoleh ke arah belakang menunggu Kael untuk membantunya mengatakan bahwa ia tidak mau menikahi Alisha.

"Kemana sih monster itu," gumam Amar.

......

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!