🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 | Gerhana di Hari Penobatan
...----------------{🔖}----------------...
Langit di atas Pulau Naga siang ini seharusnya menjadi saksi bisu penobatan seorang raja tanpa mahkota. Matahari tepat berada di puncak nya, menyiram meja marmer putih kami dengan cahaya yang menyilaukan. Aku berdiri di tepi tebing, merasakan hembusan angin laut yang membawa aroma garam dan kemenangan. Di bawah sana, armada kapal pesiar dan jet pribadi para pemimpin dunia berbaris seperti pelayan yang menunggu instruksi.
"Inilah puncak nya," gumam ku, merasakan denyut di kedua mata yang beresonansi dengan detak jantung bumi. "Aku telah menjinakkan badai ekonomi, meruntuhkan tirani lama, dan menyatukan dunia di bawah satu visi. Takdir bukan lagi teka-teki bagi ku; ia adalah pelayan yang patuh. Namun, mengapa ada getaran dingin di pangkal tulang belakang ku? Mengapa benang-benang kausalitas di mata ku mendadak bergejolak seperti kabel yang terbakar?"
Aku menoleh ke arah Meiling dan Lin Xia yang berdiri beberapa meter di belakang ku. Meiling mengenakan gaun merah sutra yang berkilau, sementara Xia memegang tablet dengan wajah yang mulai tenang setelah badai pengkhianatan di Shanghai.
"Satya, kau melamun?" Meiling melangkah mendekat, jemari nya yang hangat menyentuh lengan ku. "Dunia sedang menunggu mu bicara. Pidato ini akan disiarkan ke setiap sudut planet."
"Ada yang salah, Meiling," bisik ku. Suara ku terdengar berat, terdistorsi oleh energi yang mulai meluap dari pupil ku. "Udara ini... rasa nya terlalu padat. Seperti ada sesuatu yang mencoba merobek realitas dari arah yang tidak bisa ku lihat."
Tiba-tiba, cahaya matahari yang terik memudar. Bukan karena awan, tapi karena sesuatu yang lebih mengerikan. Sebuah bayangan hitam bundar mulai memakan piringan matahari dengan kecepatan yang tidak wajar. Gerhana Matahari Total. Namun, ini tidak ada dalam kalender astronomi mana pun yang ku pantau.
"Tuan Satya! Sensor anomali di Imperial Network meledak!" teriak Lin Xia, mata nya terbelalak menatap layar tablet nya yang kini mengeluarkan percikan api. "Ada lonjakan energi gravitasi sebesar 900 terajoules tepat di atas koordinat kita!"
BZZZZT!
Suara itu seperti ribuan lebah yang terjebak di dalam tengkorak ku. Di tengah kegelapan gerhana, sebuah titik hitam kecil muncul di udara, tepat sepuluh meter di depan ku. Titik itu berputar, menghisap debu, udara, dan cahaya di sekitar nya. Dalam hitungan detik, ia membesar menjadi lubang hitam mikro sebuah Anomali Ruang-Waktu.
"SEMUA TIARAP!" teriak Detektif Chen, menarik senjata nya meski ia tahu peluru tidak akan berguna melawan lubang cacing.
Dari dalam lubang hitam itu, muncul suara yang sangat ku kenal. Suara The Archon yang serak, namun kali ini terdengar seperti ribuan suara yang tumpang tindih dari berbagai dimensi.
"Kau pikir kau bisa memiliki dunia ini, Satya?" suara itu bergema, menggetarkan molekul udara. "Jika kami tidak bisa memiliki nya, maka kami akan menghapus mu dari garis waktu ini. Selamat tinggal, Sang Naga. Nikmati sejarah yang akan melupakan nama mu."
Aku melihat sebuah benda meluncur keluar dari anomali itu. Sebuah artefak berbentuk silinder perak yang berukir simbol-simbol kuno yang berdenyut ungu gelap. Chronos Key. Artefak itu tidak menyerang ku secara fisik; ia meledak menjadi gelombang kejut frontal yang memutarbalikkan logika gravitasi.
"TIDAK AKAN KU BIARKAN!" teriak ku.
Aku mengaktifkan kekuatan cenayang pada kapasitas 150%. Seluruh tubuh ku terbakar oleh cahaya emas. Garis-garis tato di leher ku berpendar begitu terang hingga menembus kulit. Aku mengangkat kedua tangan ku, mencoba menahan robekan ruang-waktu itu dengan kehendak murni.
"Tahan... tahan!" gumam ku, gigi ku bergemeletuk menahan beban yang terasa seperti memikul seluruh gunung. "Aku bisa melihat benang waktu nya. Jika aku bisa menjahit nya kembali, aku bisa menutup lubang ini!"
"Satya! Jangan! Tubuh mu tidak akan kuat!" Meiling mencoba berlari ke arah ku, namun gravitasi yang kacau membuat nya terlempar ke belakang.
"Xia! Meiling! Pergi dari sini!" perintah ku, suara ku pecah. "Chen, bawa mereka ke bunker bawah tanah! SEKARANG!"
Cahaya emas dari mata ku beradu dengan kegelapan ungu dari Chronos Key. Udara di sekitar ku mulai pecah menjadi fragmen-fragmen visual. Aku melihat kilasan masa depan yang hancur, lalu masa lalu yang asing. Aku melihat diriku sendiri sebagai bayi, lalu sebagai orang tua, semuanya terjadi dalam satu detik yang abadi.
DUUUM!
Artefak itu meledak. The Sovereign telah memicu muatan penghancur di dalam kunci tersebut. Bukan ledakan api, tapi ledakan realitas.
Dunia ku jungkir balik. Aku merasakan tubuh ku ditarik, dipelintir, dan diregangkan melampaui batas fisika. Rasa sakit nya melampaui apa pun yang pernah kurasakan. Seolah-olah setiap atom di tubuh ku sedang dicabut satu per satu dan disusun kembali di tempat yang salah.
"MEILING! XIA!"
Itu adalah teriakan terakhir ku sebelum kegelapan total menelan kesadaran ku. Suara tangisan mereka memudar, digantikan oleh sunyi yang mematikan.
Era Kekaisaran Hao – Tahun Tak Terdeteksi
Bau pertama yang ku hirup bukan lagi aroma garam laut, melainkan bau karat darah, daging terbakar, dan tanah basah. Aku mencoba membuka mata ku, namun kelopak mata ku terasa seberat timbal. Seluruh tubuh ku terasa remuk, seolah-olah aku baru saja jatuh dari ketinggian ribuan kaki.
"Uhuk... uhuk..." aku terbatuk, memuntahkan cairan kental berwarna kehitaman.
Saat penglihatan ku mulai fokus, aku tidak melihat meja marmer atau tebing Pulau Naga. Aku melihat hamparan padang rumput yang luas yang dipenuhi oleh ribuan mayat manusia. Mereka tidak mengenakan jas atau seragam taktis modern. Mereka mengenakan zirah lempengan perunggu, kulit binatang, dan memegang tombak kayu dengan ujung batu yang diasah.
"Di mana... di mana aku?" gumam ku, mencoba untuk duduk. Rasa sakit yang tajam menusuk tulang rusuk ku. "Imperial Eyes... aktifkan."
Tidak ada yang terjadi. Pupil ku tidak bersinar. Pola emas yang biasa nya muncul secara instan kini terasa redup, seperti bara api yang hampir padam tertiup badai. Aku mencoba melihat kausalitas di sekitarku, namun yang ku lihat hanyalah kabur. Kekuatan cenayang ku hampir habis, terkuras habis untuk menahan ledakan Chronos Key tadi.
Aku melihat ke bawah. Pakaian ku setelan jas mahal dari penjahit terbaik London hanya tersisa cabikan kain yang menghitam. Garis-garis emas di kulit ku memar dan membiru. Aku lemah. Untuk pertama kali nya dalam bertahun-tahun, aku merasa menjadi manusia biasa yang fana.
"Cari yang masih hidup! Jangan biarkan satu pun pemberontak lolos!" sebuah teriakan dalam dialek kuno yang hanya sedikit aku pahami bergema dari balik bukit mayat.
Aku menoleh dan melihat sepasukan penunggang kuda mendekat. Mereka membawa panji-panji berwarna hitam dengan simbol naga merah yang primitif. Kekaisaran Hao. Senjata mereka bersimbah darah, dan wajah mereka penuh dengan kebuasan perang kuno yang tidak mengenal belas kasihan.
"Sial," batin ku. "Aku terlempar ke zaman di mana hukum rimba adalah satu-satu nya konstitusi. Tanpa kekuatan ku, aku hanyalah mangsa bagi mereka."
Seorang prajurit dengan zirah lebih tebal turun dari kuda nya. Ia mendekati ku, mengarahkan ujung tombak perunggu nya tepat ke tenggorokan ku. Mata nya yang haus darah menatap tanda memar di leher ku sisa dari tato emas yang kini terlihat seperti tanda budak atau tanda terkutuk.
"Lihat ini," kata prajurit itu kepada rekan nya sambil tertawa kasar. "Pakaian nya aneh, kulit nya halus seperti bangsawan, tapi dia punya tanda setan di leher nya. Dia pasti salah satu dukun dari suku pegunungan."
"Haruskah kita bunuh sekarang, Kapten?" tanya prajurit satu nya.
"Jangan. Penampilan pria ini unik. Kaisar sedang mencari budak baru untuk membangun kuil agung. Ikat dia. Jika dia mati di jalan, itu urusan dewa."
Aku mencoba melawan, mencoba memanggil setetes saja energi dari kekuatan cenayang untuk menghancurkan pikiran mereka. Namun, hanya rasa pusing luar biasa yang menyerang ku. Aku jatuh pingsan saat tangan-tangan kasar mereka menyeret tubuh ku di atas tumpukan mayat.
Istana Kekaisaran Hao – Ruang Penjara
Aku terbangun dengan tangan dan kaki yang dirantai ke dinding batu yang lembap. Udara di sini pengap, berbau kotoran dan keputusasaan. Di sekeliling ku, ada belasan pria lain yang kondisi nya sama mengenaskannya dengan ku.
"Tenang, Satya. Berpikir," gumam ku, mencoba mengatur napas yang sesak. "The Sovereign berhasil. Mereka membuang ku ke masa lalu untuk menghapuskan masa depan ku. Jika aku mati di sini, Samantha Holdings tidak akan pernah ada. Meiling, Xia, Chen... mereka semua akan menghilang dari sejarah karena aku tidak ada untuk menyelamatkan mereka di gang-gang Shanghai itu."
Aku menutup mata ku, mencoba menyelami alam bawah sadar ku. Jauh di dalam sana, aku masih merasakan sisa-sisa api kekuatan cenayang. Ia belum hilang, ia hanya sedang tidur untuk memulihkan diri dari trauma frontal.
"Kau... pria dengan pakaian aneh," sebuah suara serak datang dari sudut penjara.
Aku menoleh. Seorang pria tua dengan rambut putih panjang dan mata yang hanya sebelah menatap ku dengan intens. Ia mengenakan kalung dari gigi serigala.
"Aku melihat tanda di leher mu saat mereka membawa mu masuk," bisik pria tua itu. "Itu bukan tanda setan. Itu adalah garis darah Mata Langit. Bagaimana mungkin seseorang dari klan yang sudah punah seribu tahun lalu muncul di sini?"
Aku menyipitkan mata. "Mata Langit? Apa itu?"
"Klan para nabi yang membangun dasar kekaisaran ini, sebelum mereka dikhianati dan diburu oleh leluhur Kaisar Hao saat ini," jawab nya. "Jika kau benar-benar memiliki darah itu, maka gerhana tadi adalah tanda kembali nya sang kutukan. Siapa kau sebenarnya?"
"Aku..." aku terdiam sejenak. Aku menatap rantai besi di tangan ku. Aku mungkin tidak memiliki kekayaan miliaran dollar di sini. Aku mungkin tidak memiliki tentara modern. Tapi pengetahuan di kepala ku adalah senjata yang lebih mematikan daripada tombak mana pun di zaman ini.
"Nama ku Satya," kata ku, suara ku mulai kembali tegas meski lirih. "Dan aku bukan dukun pegunungan. Aku adalah orang yang berasal dari zaman yang berbeda dengan kalian."
Tiba-tiba, pintu penjara terbuka lebar. Cahaya obor masuk, menyilaukan mata kami. Sepasukan penjaga masuk, diikuti oleh seorang wanita yang mengenakan jubah sutra putih dengan sulaman emas yang sangat detail. Wajah nya cantik, namun dingin dan penuh otoritas.
"Tunjukkan pada ku pria itu," perintah wanita itu.
Para penjaga menarik ku berdiri hingga aku berlutut di depan nya. Wanita itu memegang dagu ku, memaksa ku menatap mata nya. Saat matanya bertemu dengan mata ku, aku merasakan getaran kecil di pupil ku. Kekuatan cenayang merespons keberadaan nya.
"Tanda ini..." wanita itu berbisik, jari nya menyentuh memar emas di leher ku. "Hanya ada dalam legenda. Ayah ku bilang pria dengan tanda ini akan menjatuhkan matahari ke bumi."
Ia menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa ingin tahu dan ketakutan. "Aku adalah Putri Lian, putri pertama Kekaisaran Hao. Katakan pada ku, orang asing, apakah kau datang untuk menghancurkan kami, atau untuk menjadi budak ku?"
Aku menatap Putri Lian. Di mata nya, aku melihat benang-benang kausalitas yang mulai muncul kembali, meski masih tipis seperti jaring laba-laba. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat para penjaga di sekeliling nya merasa gelisah.
"Putri Lian," kata ku, suara ku bergema di ruang penjara yang sempit itu. "Aku tidak datang untuk menjadi budak. Aku datang untuk memastikan bahwa kekaisaran mu tidak berakhir menjadi catatan kaki yang menyedihkan dalam sejarah yang ku pegang."
Putri Lian terdiam, tangan nya yang memegang dagu ku sedikit gemetar. Di dalam kegelapan penjara itu, aku menyadari satu hal: pertempuran ku melawan The Sovereign belum berakhir. Ia hanya berganti panggung. Dan jika aku harus menaklukkan zaman ini untuk kembali ke masa depan ku, maka aku akan melakukan nya.
"Tunggu aku, Meiling. Tunggu aku, Xia," janji ku dalam hati. "Aku tidak akan mati di peradaban ini. Aku hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk membakar seluruh garis waktu."
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee