Semua masih terasa tak masuk akal bagi Ningsih. setahunya ia hanya menjadi pengiring pengantin di acara pernikahan Tania, sepupunya. Tapi bagaimana bisa, ia yang sedari tadi hanya dikurung di dalam kamar entah untuk apa, kini mendengar dengan jelas namanya yang disebut dengan lantang pada pengucapan Ijab Qabul?
Mohon komentar yang sopan yah😊
jangan nagih juga, karena walaupun nggak ditagih insyaa Allah aku up nya tiap hari😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Assifaatulqalbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan Belas
Noval beberapa kali mengernyitkan dahinya saat Ningsih menuntun arah ke mana ia harus mengantar gadis pujaannya itu.
"Di sini Kak!" ucap Ningsih saat mereka sampai di depan pagar sebuah rumah minimalis tapi bertingkat. Pemandangan di halaman rumah tersebut terlihat sangat asri. Sekarang Noval tau kenapa jalan ke sini tadi terasa familiar baginya setelah melihat rumah yang dimaksud Ningsih. yah, ia yakin ini rumah yang dibangun untuk Juna beberapa bulan lalu.
"Loh, ini kan rumah Bang Juna. Jadi kamu ternyata mau mampir ke sini?" Ningsih terkejut, "Kamu tahu?" tanyanya. Ia pikir Noval tidak tahu menahu tentang rumah ini, kalau Noval banyak bertanya apa yang nanti ia akan jawab?
"ya jelaslah Dek. Aku yang bantuin Kak Juna memilih desain rumah ini" Jawab Noval. Ningsih tersentak, 'Mati kamu Si!' rutuknya dalam hati.
"oo..o.oh! yyaa..uddah kalau git..gitu, aku..aku masuk dulu!" pamitnya gugup.
"Sama-sama aja, aku juga sekalian mau mampir. Mau minta maaf juga sama Mbak Tania dan Bang Juna karena nggak hadir di pernikahan mereka waktu itu" Noval sudah bermaksud melangkah, namun buru-buru Ningsih menahan pergelangan tangannya.
"Lain kali aja yah Kak?!" ujar Ningsih terdengar sedikit memohon.
"Loh, emang kenapa?" tanya Noval bingung.
"anu...itu...emm kan Kak Juna itu jahil, aku..ngg..nggak mau dia ledekin karena kamu nganterin aku pulang" ujarnya beralasan.
"yah nggak mungkin lah Si, Bang Juna kan sekarang masih di kantor" Ningsih kembali berusaha memutar otaknya untuk mencari alasan. "Ya iyy..ya sih!? tapi kan ada Kak Tania, kamu pikir dia nggak bakalan ngadu?"
Noval diam sebentar, lalu tersenyum lembut pada Ningsih. "Ya nggak apa-apa! malahan bagus kan kalau banyak yang tahu bagaimana hubungan kita?" ujar Noval santai.
"Issshhh, uda deh nggak usah ngaco. hubungan apaan coba? Udah, sekarang Kakak pulang yah? Kalau masih mau maksa masuk, jangan harap besok-besok aku ngomong sama Kakak" Ningsih mendorong tubuh Noval memasuki Mobil pria itu.
"Ancamannya!" cibir Noval, akhirnya ia pasrah saja mengikuti kemauan Ningsih.
Noval sudah menghidupkan mesin mobilnya, namun tiba-tiba dimatikannya kembali. Ia melongokkan kepalanya ke luar jendela sambil menatap Ningsih yang masih setia berdiri di samping mobilnya.
"Terus kamu pulangnya gimana?" tanya Noval.
"Aku nginap" jawab Ningsih. Kakinya tak berhenti menghentak-hentak kecil tanda kalau ia takut ketahuan Juna di antar Noval.
"Ooh, Oke! Kalau gitu aku pamit. bye Sayang!" Wajah Ningsih sontak memerah mendengar panggilan Noval padanya saat berpamitan.
Mobil Noval sudah berlalu, Ningsih membuka pagar rumahnya. gadis itu mematung di depan gerbang saat melihat siapa yang berada tepat di depannya saat ini. Juna. Pria itu ternyata sedang berdiri di balik pagar entah sejak kapan. 'apa dia dengar percakapan aku sama Kak Noval?' Ningsih bertanya-tanya dalam hati.
"Eh, Kak Juna! Udah lama?" tanya Ningsih gugup. Sebenarnya ia bermaksud belum ingin berbicara dengan Juna karena masalah mereka semalam, tapi melihat wajah Juna yang seolah sedang menuduhnya selingkuh membuatnya terpaksa membuka mulut.
Ningsih memelototkan matanya karena Juna berbalik masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaannya. Dan kalau Ningsih tak salah lihat, ada bekas keunguan di pipi suaminya itu. 'dia habis berantem?' batinnya.
Ningsih mengejar Juna yang sudah menaiki anak tangga menuju Kamar mereka yang berada di lantai dua.
"Kak, Kakak marah?" ia memberanikan dirinya bertanya pada Juna saat mereka sudah sampai di dalam kamar. Juna mendudukkan dirinya di sofa, sedangkan Ningsih memilih duduk di pinggir ranjang. Ia terlalu takut untuk sekedar duduk di dekat Juna.
"Sebenarnya aku ingin marah, tapi aku sadar kalau aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu" ucapan Juna membuat Ningsih mematung. apa maksud pria ini coba?
"maksud Kakak?"
'aku terlalu cinta sama kamu, sampai marahpun aku nggak akan sanggup ke kamu' sejujurnya Juna ingin mengatakan hal itu, namun apa daya ia hanya bisa mengucapkannya dengan bebas di dalam hati. Karena jika Ningsih tahu yang sebenarnya, bisa-bisa gadis itu akan benar-benar membencinya. Dan Juna belum siap akan hal itu!
memilih tak menjawab, Juna mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar di saku celananya.
"halo"
"...."
"ok, saya juga akan segera ke sana"
"...."
"nggak jadi. Sekarang juga saya akan ke sana!" setelah menutup sambungan telepon, ia langsung melangkah meninggalkan Ningsih yang menatapnya sendu. Kenapa ia merasa benar-benar sakit saat Juna mengabaikannya?
Namun beberapa detik setelahnya, Juna kembali masuk ke kamar membuat Ningsih menatapnya heran.
"Ada yang kelupaan!" ucapnya tanpa ditanya sambil mendekati Ningsih.
Ningsih semakin menatapnya bingung, namun sedetik kemudian matanya membola sempurna saat merasakan benda kenyal menyentuh keningnya. "Hati-hati di rumah. Kakak balik ke kantor dulu sekarang, pulangnya nggak akan lama, sekitar jam limaan nanti!" ujarnya lalu kembali keluar kamar dengan senyuman kecil karena melihat ekspresi Ningsih.
Ningsih tersadar setelah mendengar deruan mobil yang ke luar dari halaman rumahnya. "Apa itu tadi? Astaga, jantungku Kok loncat-loncat kayak gini? Aduh jantung, Kok kamu labil sih? nggak Kak Juna, nggak Kak Noval, kenapa debarannya sama?"
di rumah merayu dan meyakinkan Sisi dengan berbagai cara tapi diluar seenaknya digelayuti cewek bak lengketnya permen karet 🙄🙄😠😡😡
sabar jak juna