NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 29

Suasana di dalam ruang utama penginapan masih terasa berat setelah pengumuman mendadak dari Raja Yan Liao. Lu Ying, yang biasanya memiliki ketenangan seorang pendekar, kini tampak kehilangan kata-kata. Dadanya naik turun, mencoba mencerna kenyataan bahwa hidupnya mungkin akan berubah total dari seorang cucu pemimpin perguruan menjadi wanita nomor dua di istana kerajaan.

"Yang Mulia," ucap Lu Dong memecah keheningan dengan suara yang bergetar namun tetap penuh wibawa. "Keputusan ini sangatlah besar. Ini bukan sekadar tentang gelar, melainkan tentang masa depan cucu hamba dan hubungan antara Perguruan Bukit Hijau dengan takhta. Hamba memohon izin agar masalah ini dapat kami bahas secara internal di sekte. Lu Ying memerlukan waktu untuk memantapkan hatinya."

Raja Yan Liao mengangguk dengan senyum maklum yang bijaksana. "Tentu, Tetua Lu. Aku tidak ingin memaksakan sebuah ikatan yang lahir dari rasa tertekan. Ambillah waktu yang kalian butuhkan. Kami akan menunggu jawaban kalian hingga besok pagi sebelum rombongan kembali bergerak menuju Kota Chuwei."

----'

Siang harinya, suasana di markas Perguruan Bukit Hijau yang terletak di kaki gunung terasa lebih tenang namun penuh dengan ketegangan yang tersembunyi. Lu Dong duduk di kursi kebesarannya, menatap cucu satu-satunya yang kini berdiri di hadapannya.

"Ying'er," panggil Lu Dong dengan lembut, nada bicaranya tidak lagi sebagai pemimpin perguruan, melainkan sebagai seorang kakek yang peduli. "Raja telah menawarkan jalan yang sangat mulia untukmu. Menjadi Selir Utama bukan hanya berarti kekayaan dan martabat, tetapi itu adalah pengakuan resmi bagi pengorbanan ayahmu. Dengan posisimu di sana, tidak akan ada lagi orang yang berani merendahkan Desa Wushan atau memburu keluarga Lu secara sembunyi-sembunyi."

Lu Ying menunduk, jari-jarinya memainkan ujung pakaian hijaunya. "Kakek, apakah ini benar-benar jalan yang diinginkan Ayah untukku? Aku menghabiskan hidupku dengan pedang, bukan dengan tata krama istana yang rumit. Aku takut aku hanya akan menjadi burung dalam sangkar emas yang tidak tahu cara berkicau."

Lu Dong menghela napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit aula. "Ayahmu berjuang agar kau memiliki masa depan di mana kau tidak perlu lagi bersembunyi. Jika kau bertanya padaku, aku akan menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepadamu. Jika kau menolak, kakek akan tetap melindungimu dengan sisa nyawa kakek. Namun jika kau menerima, kau harus melakukannya dengan kesadaran bahwa kau adalah perisai baru bagi desa ini."

Lu Ying terdiam cukup lama. Ia teringat akan wajah-warga desa yang dingin, luka lama yang belum sembuh, dan bagaimana Dewi Kematian berdiri di depan mereka memberikan harapan. Ia menyadari bahwa kekuasaan politik Raja Yan Liao yang dikombinasikan dengan perlindungan Dewi Kematian adalah satu-satunya cara agar tragedi seperti sepuluh tahun lalu tidak terulang.

"Aku akan menerimanya, Kakek," ucap Lu Ying dengan suara yang kini terdengar mantap. "Bukan karena aku mendambakan kemewahan istana, tetapi karena aku ingin memastikan bahwa darah Ayah tidak tumpah sia-sia. Aku akan menjadi mata dan telinga Perguruan Bukit Hijau di jantung kerajaan."

 

Keesokan paginya, ketika matahari baru saja menyembul dari ufuk timur, cahaya keemasan perlahan menyapu Desa Wushan yang masih diselimuti kabut tipis. Suara roda kereta, ringkikan kuda, dan langkah para pengawal mulai terdengar, menandakan rombongan kerajaan bersiap melanjutkan perjalanan.

Lu Ying melangkah keluar dari penginapan dengan pakaian yang jauh lebih formal dibanding hari sebelumnya. Jubahnya sederhana namun rapi, potongannya praktis untuk bergerak, khas seorang pendekar yang terbiasa hidup di luar tembok istana. Rambutnya disanggul dengan ikatan sederhana, tanpa perhiasan berlebihan, mencerminkan kepribadiannya yang tegas dan tidak suka kemewahan.

Di hadapan Raja Yan Liao yang telah berdiri di samping kudanya, Lu Ying berhenti. Tanpa ragu, ia menekuk lutut dan berlutut dengan gerakan anggun namun mantap, telapak tangannya menyentuh tanah sebagai tanda hormat tertinggi.

“Hamba, Lu Ying,” ucapnya dengan suara jernih namun penuh keteguhan. “Dengan tulus menerima ketetapan Yang Mulia Raja. Hamba bersedia mengabdi sebagai Selir Utama dan menjaga kehormatan Kerajaan Liungyi, serta membawa nama keluarga Lu tanpa mencoreng martabat leluhur.”

Beberapa pengawal kerajaan saling melirik. Tidak ada tangisan, tidak ada keraguan dalam suara wanita itu. Yang ada hanyalah kesiapan.

Senyum kemenangan perlahan menghiasi wajah Yan Liao. Bukan senyum licik, melainkan senyum seorang raja yang merasa satu langkah penting telah diamankan.

“Keputusan yang sangat tepat,” kata Yan Liao dengan nada puas. “Selir Lu, kehadiranmu akan memperkuat takhta ini. Mulai hari ini, engkau bukan hanya membawa nama keluarga Lu, tetapi juga menjadi bagian dari fondasi Kerajaan Liungyi.”

Lu Ying menundukkan kepala. “Hamba mengerti.”

Tidak ada waktu untuk upacara lebih lanjut. Perjalanan menuju Kota Chuwei sudah tertunda cukup lama dan tidak mungkin ditunda kembali. Dengan cepat, Lu Ying mengambil satu peti kecil berisi barang-barang pribadinya dan pedang peninggalan ayahnya. Pedang itu terbungkus kain gelap, seolah menjadi pengingat bahwa darah pendekar masih mengalir kuat di tubuhnya, meskipun ia akan melangkah ke dunia istana.

Karena statusnya yang baru dan belum diumumkan secara resmi di istana, serta demi alasan keamanan, Lu Ying tidak ditempatkan di kereta utama. Ia justru ditempatkan di kereta keempat, kereta yang sama dengan Cao Yi dan tiga pendekar ahli wanita lainnya.

Begitu memasuki kereta, Lu Ying langsung merasakan suasana yang berbeda.

Cao Yi duduk tenang di satu sisi, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap. Wajahnya tampak biasa, nyaris tak mencolok, sama sekali tidak mencerminkan sosok Dewi Kematian yang disembah banyak orang. Tatapannya mengarah keluar jendela, seolah dunia di dalam kereta tidak cukup menarik perhatiannya.

Di sisi lain duduk Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei. Ketiganya menatap Lu Ying dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kehati-hatian, rasa ingin tahu, dan sedikit kewaspadaan.

“Selamat atas posisimu, Selir Lu,” ujar Meng Xin akhirnya, suaranya tenang namun hangat, memecah keheningan yang menggantung. “Mulai sekarang, kami bertiga akan bertanggung jawab atas keselamatanmu selama perjalanan ini, sama seperti kami menjaga Nona Cao Yi.”

Lu Ying sedikit membungkuk sebagai balasan hormat. “Terima kasih, para pendekar senior. Mohon bimbingannya. Aku masih sangat buta terhadap aturan dan intrik istana.”

Tang Ruo tersenyum tipis. “Kau akan belajar dengan cepat. Istana tidak memberi banyak pilihan selain beradaptasi.”

Pandangan Lu Ying kemudian beralih ke arah Cao Yi. Ia tahu persis siapa gadis di hadapannya. Sosok yang kemarin berdiri sebagai Dewi Kematian, penegak keadilan dari balik bayangan. Namun di dalam kereta ini, di hadapan rombongan kerajaan, ia harus bersikap seolah-olah Cao Yi hanyalah wanita biasa.

“Nona Cao,” sapa Lu Ying dengan nada hormat yang disamarkan. “Terima kasih atas kata-katamu kemarin. Tanpamu, mungkin aku masih terjebak dalam dendam yang keliru.”

Cao Yi menoleh perlahan. Mata hitamnya yang jernih menatap Lu Ying tanpa emosi yang jelas. Tatapan itu tenang, namun terasa tajam, seolah bisa menembus lapisan terdalam hati seseorang.

“Jangan berterima kasih padaku,” ucap Cao Yi datar. “Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Tidak semua orang berani menerima tanggung jawab yang akan mengikat hidupnya seumur hidup.”

Ia kembali menatap keluar jendela. “Di istana nanti, pedangmu mungkin jarang terhunus. Tapi lidah dan pikiranmu harus lebih tajam dari baja mana pun. Di sana, musuh tidak selalu membawa senjata. Banyak yang tersenyum sambil menyiapkan belati.”

Ucapan itu membuat suasana di dalam kereta kembali hening. Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei saling pandang singkat. Mereka semua memahami makna di balik kata-kata Cao Yi.

Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju Kota Chuwei. Ini adalah langkah memasuki pusaran politik, tempat kekuasaan, ambisi, dan pengkhianatan berkelindan seperti sarang serigala.

Roda kereta mulai bergerak, meninggalkan Desa Wushan yang perlahan menjauh di balik kabut pagi.

1
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!