NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Rahasia Kecil Johan

Aroma The Obsidian masih menempel kuat pada gaun merah Jennie, sangat berbanding terbalik dengan aroma apartemen Johan yang berbau kayu cendana.

Kakinya masih terasa gemetar, bukan karena hak sepatu tinggi yang masih dia gunakan. Melainkan karena sentuhan Johan di klub tadi yang masih membekas di kulit pahanya.

"Mau minum teh atau air mineral?" tanya sang pemilik apartemen sembari melepaskan jam tangan mewahnya dan meletakkan di atas meja.

"Air mineral saja, kepalaku masih berputar," jawab Jennie pelan, meskipun yang dia minum adalah koktail yang kadar alkoholnya rendah, tetap saja dia tidak terbiasa meminumnya.

Dia melangkah menuju sofa, namun langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di ruang tamu.

Ada noda minuman yang cukup lebar di bagian perut gaun satinnya, akibat senggolan seseorang saat mereka akan keluar klub tadi.

Johan menyadari arah pandangan Jennie dan mendekat, menatap noda itu lalu menatap wajah Jennie yang tampak pucat.

"Ganti pakaianmu sebelum masuk angin," ucapnya.

Jennie mengangguk cepat, "Kalau begitu aku akan pulang," jawabnya cepat, masih ada rasa canggung saat berdekatan dengan Johan.

"Tidak perlu, pakai saja kemejaku," balas Johan dan langsung menuju kamarnya untuk mengambil kemeja tanpa menunggu persetujuan Jennie.

Tak butuh waktu lama hingga Johan kembali dengan kemeja berwarna hitam, "Ganti di kamar mandi," perintahnya.

Jennie menerima kemeja itu dengan ragu dan masuk ke kamar mandi untuk segera berganti karena dia sudah merasa lengket dan tidak nyaman.

Saat dia keluar, Johan sedang berdiri di depan rak buku besar dan tampak merapikan sesuatu. Namun matanya menangkap sebuah album kulit tua yang terselip di antara buku-buku teknik arsitektur.

"Oh, sudah selesai?" kata Johan saat melihat Jennie sudah berganti dengan kemeja yang tampak kebesaran di tubuh Jennie.

Jennie mengangguk kecil dan langsung duduk di atas sofa, tapi pandangan matanya tidak terlepas dari album yang menarik perhatiannya itu.

Saat Johan menghilang ke dapur untuk mengambil air, Jennie bangkit dari duduknya dan mendekati rak tersebut.

Rasa penasarannya sebagai seorang penulis yang selalu haus akan latar belakang karakternya mulai memberontak, dan tanpa sadar tangannya menarik album itu. Saat itu juga sebuah foto terjatuh dari selipan halaman, dan langsung dia ambil foto tersebut.

Itu adalah foto Johan, mungkin awal usia dua puluhan. Pria itu tampak lebih muda dan tersenyum lepas, senyum yang belum pernah dia lihat selama mengenal Johan.

Di samping Johan, berdiri seorang wanita cantik dengan gaun pesta yang sangat mewah. Wanita itu juga tersenyum, tetapi garis wajah serta sorot matanya terlihat angkuh, hampir mirip dengan Ajeng.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Suara dingin Johan membuat Jennie tersentak hebat dan hampir menjatuhkan foto di tangannya. Saat dia berbalik dia melihat Johan yang berdiri hanya dua meter darinya, botol air di tangan pria itu bergetar dan sorot matanya menajam.

"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud untuk---," ucap Jennie dengan suara kecil, dia bahkan tidak mampu melanjutkan ucapannya karena tenggorokannya tercekat.

Johan melangkah maju dengan cepat, meletakkan dua botol di tangannya ke atas meja dengan keras. Kemudian dia mengambil foto di tangan Jennie dengan kasar dan menatap Jennie dengan tatapan yang seolah ingin menembus jantungnya.

"Siapa yang mengijinkanmu untuk menggeledah barang-barang pribadiku?" desisnya dengan rahang mengeras.

Jennie menggeleng keras, "Aku tidak menggeledahnya, aku hanya melihatnya----"

"Melihat?" Johan tertawa pendek, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata. "Ada hal-hal yang tidak seharusnya kau jadikan bahan fantasimu, Jen. Privasiku bukan naskahmu."

Jennie membelalak, rasa malu dan sakit hati bercampur menjadi satu. "Bukan begitu, aku hanya ingin tahu lebih dalam siapa dirimu, dan saat aku melihat foto itu aku melihat sesuatu yang berbeda, aku hanya ingin memahaminya!"

"Kau tidak perlu memahamiku!" bantak Johan, suaranya menggelegar di ruang tamu, membuat Jennie mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak rak buku.

"Kau di sini hanya karena kita punya kesepakatan, jangan pernah berpikir kau punya hak untuk menyentuh masa laluku. Masa lalu itu sudah mati, dan aku tidak butuh penulis sepertimu untuk membangkitkannya kembali."

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, Jennie menatap Johan dengan dalam. Untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, dia melihat seorang pria yang sedang berdiri di atas reruntuhan hatinya sendiri.

Amarah pria itu bukan karena Jennie lancang, tapi karena Jennie baru saja membuka luka yang belum kering meski bertahun-tahun telah berlalu.

Johan membuang muka, dan napasnya memburu. Dia memegang foto itu begitu erat hingga kertasnya sedikit melengkung.

"Namanya Clara, dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku benci melihat wanita yang mencoba masuk terlalu dalam ke hidupku."

Hanya itu, tapi Jennie bisa merasakan kesakitan di mata Johan. Tidak perlu penjelasan panjang, karena hubungan mereka masih sebatas tetangga yang kebetulan terikat kesepakatan.

"Aku minta maaf, Mas," ucapnya tulus. Ini memang salahnya yang terlalu kepo dan bersemangat jika menyangkut naskahnya.

Johan tidak menjawab, dia kembali memasukkan foto itu ke dalam album. "Sudah malam, menginap saja di sini," ucap Johan datar, seolah ledakan amarah tadi tidak pernah terjadi.

"Kau bisa tidur di sofa, aku akan mengecek pekerjaanku di dalam," sambungnya dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, meninggalkan Jennie yang masih diselimuti rasa bersalah.

Bersambung

1
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!