NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Leonar

Aera menelan ludahnya susah payah saat dirinya benar-benar menginjakkan kaki di halaman rumah megah milik keluarga Leo. Satu jam yang lalu, cowok itu menjemputnya dengan mengendarai Toyota Alphard warna hitam. Tidak hanya itu, Leo juga membawanya sebuah gaun elegan berwarna hitam selutut dengan hiasan mutiara di bagian dada, juga kalung berliontin bunga mawar. Tentu saja ini bukan style-nya, lebih di tambah dengan heels ber-hak tinggi yang membuatnya sangat tidak nyaman. Awalnya, dia ingin menolak. Namun, Leo seolah memiliki sihir yang kuat hingga membuatnya mendadak menurut begitu saja.

"Sorry," celetuk Leo, dan setelah itu, tiba-tiba saja dia meletakan tangannya pada telapak tangan milik Aera. Dua tangan yang sama-sama terasa dingin itu saling menempel.

"Bilang iya setiap aku ngomong di depan keluarga besar. Yang perlu di ingat, kamu itu pacar aku sekaligus asisten pribadi."

"Asisten pribadi?" Gumamnya pelan. Sejak kapan Leo menjadikan dirinya Asisten pribadi bukannya perjanjian nya dulu kalau dirinya ini hanya di jadikan budak pemuas nafsu saja.

Aera mengerutkan dahinya bingung,

Leo yang mendengar gumaman kecil Aera, ia langsung kembali membuka suara. "Ya, mulai sekarang kamu harus jadi asisten pribadi aku. Sekaligus pacar."

PACAR?

"WHAT?!" Teriak Aera, kaget bukan main. Dia tidak salah dengar, kan? Cewek itu lantas menatap Leo dengan kedua mata yang terbelalak. Apakah cowok di hadapannya itu sudah gila? Bagaimana bisa Leo. Bersikap seenaknya dan mengklaim dirinya sebagai pacar dan juga asisten?

Leo menoleh malas ke arah Aera. Rupanya, berpenampilan sempurna seperti sekarang tidak mempan untuk membuat cewek itu terpesona kepadanya. Kemeja putih yang dia padukan dengan setelan Jas Hitam dari desainer ternama, pun dasi kupu-kupu dengan warna yang serupa dengan Jas nya, juga rambut hitam rapi dengan belahan kiri tak cukup membuat Aera langsung setuju dengan perintah nya. Atau setidaknya menampilkan raut wajah yang senang?

"Aku bayar," tawarnya.

Aera ingin marah, tetapi tidak bisa. Ini berhubungan dengan uang. Dia tidak munafik kalau saat ini dia benar-benar membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Namun, meski butuh, bukankah dia harus tetap bersikap mahal?

"Gue bukan cewek bayaran," balas Aera.

"Kamu lupa? Aku sudah berjanji akan memberikan apapun untukmu bahkan untuk bertahan hidup kamu selama masih sekolah aku yang akan tanggung."

"Aku tidak mau merepotkan kamu, batalkan saja perjanjian itu. Aku bisa cari pekerjaan lain untuk bisa bertahan hidup."

"Yakin? Di zaman sekarang, perusahaan mana yang mau menerima karyawan yang masih anak sekolah seperti kamu?" Leo menatap Aera dengan serius.

Aera terdiam. Benar juga apa yang dikatakannya. Lagipula, perusahaan mana yang mau menerima karyawan yang masih berseragam sekolah? Mau bekerja di toko atau tempat makan pun sama saja, mereka pasti menilai dari umur dan pengalaman.

Leo menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri. "Pikiranmu terlalu jauh," ujarnya lembut. "Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, kan? Soal jadi budak pemuas, lupakan saja. Aku tidak seberengsek itu untuk merusak masa depan anak orang."

Aera yang mendengar ucapan dari Leo seketika langsung membulatkan matanya untuk memastikan apa yang yang di ucapkan nya itu tidak bohong. "Serius? Janji? Lo nggak lagi merencanakan sesuatu kan?" Tanyanya.

"Terserah kamu." Leo membuang pandangannya ke depan lagi. Sejujurnya, dia jarang sekali mau berbicara panjang lebar seperti ini selain dengan anak-anak ALAXTAR. Cewek yang berdiri di sebelahnya benar-benar menyebalkan.

...----------------...

Begitu mereka masuk, semua mata tertuju pada Aera. Oma Rania—Ibu kandung Mbayu, tampak anggun dengan gaun batik berwarna maroon. Senyumnya ramah— tapi sorot matanya tajam, seolah menelanjangi siapa pun yang berdiri di hadapannya.

"Jadi ini calonmu, Leo?" tanya Oma Rania dengan nada halus tapi menekan.

"Iya, Oma. Namanya Aera."

"Cantik. Tapi kelihatannya... belum terbiasa dengan suasana seperti ini."

Aera tersenyum canggung. "Maaf, Oma. Saya memang belum pernah ke rumah sebesar ini."

Keluarga besar Leo tertawa kecil. Tidak semua ramah. Beberapa bahkan saling berbisik. Tapi Leo, untuk pertama kalinya, menggenggam tangan Aera erat di depan semua orang.

"Dia memang bukan dari keluarga kaya, tapi dia tulus. Itu yang penting buat aku," katanya mantap.

Dan entah kenapa, Aera benar-benar merasa genggamannya menenangkan.

"Pacaran berapa lama?" Mbayu membuka suara, kali ini, raut wajahnya lebih tenang dari pada Oma Rania.

"Satu Bulan," balas Leo. Suaranya terdengar tenang, dan jawabannya pun singkat, Aera hendak protes, tetapi Leo sudah terlebih dahulu mengeratkan tangannya sekuat mungkin.

Hampir saja dia keceplosan. Untung saja cowok itu segera menyadarkannya. Namun, sebagai imbalan nya, dia harus merasakan sakit luar biasa pada pergelangan tangannya.

Dasar cowok tidak berperikemanusiaan!!!

"Soal... perkenalan kamu dengan anak rekan bisnis Ayah bagaimana?" Mbayu mengangkat sebelah alisnya.

"Nggak," Leo menggeleng pelan. "Saya nggak akan menerima."

Mbayu dan Rania menghembuskan nafas berat. Mbayu mengambil gelas berisi air putih di sebelah tangannya yang bertumpu pada meja, lalu menenggak nya hingga menyisakan setengah saja. Setelah kembali meletakkan gelasnya, dia beralih menatap Leo dengan lamat. Anak itu tidak berani menatapnya balik dan memilih untuk menunduk. Instingnya mengatakan kalau Leo merasa takut dengan respons yang akan dia berikan setelah ini.

"Ayah kamu bakal kehilangan kesempatan besar untuk bekerjasama dengan perusahaan keluarga pak Galvin. Kamu bisa jamin bakal menggantikan itu dengan yang lebih menjanjikan lagi suatu saat nanti?" Kali ini Rania lah yang membuka suara, tanpa ragu, Leo pun mengangguk.

"Saya janji," ucapnya mantap.

Mbayu terdiam cukup lama. Dia terus memperhatikan Leo dan Aera secara bergantian. Dari sini dia bisa melihat kalau cewek yang berada di sebelah anaknya itu tengah gugup. Terbukti dari buliran keringat di dahi cewek itu, padahal suhu ruangan ini cukup dingin.

"Ayah terima," putus Mbayu, yang membuat Leo mengembuskan nafas lega dan Aera yang langsung mengangkat pandangannya.

Ketika Leo dan Aera kembali berbincang dengan cara berbisik, saat itulah Mbayu mulai mengetikkan pesan di ponselnya untuk ketiga anak buahnya.

“Aera Jelita, nama anak perempuan itu. Awasi mereka.”

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!