NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Orang-Orang yang Tidak Seharusnya Ada

Istana terlihat seperti biasa.

Terlalu biasa.

Song An berdiri di koridor panjang menuju paviliunnya, memperhatikan para pelayan berlalu-lalang dengan langkah cepat dan kepala menunduk. Tidak ada yang tampak mencurigakan. Tidak ada yang tampak salah.

Dan justru itulah masalahnya.

“Semua terlihat rapi,” gumam Selir Zhang di sampingnya.

“Kalau terlalu rapi, berarti ada yang disembunyikan,” jawab Song An tenang.

Selir Li memeluk lengannya sendiri. “Aku masih tidak percaya kita benar-benar akan melakukan ini.”

“Kita tidak melakukan apa-apa,” jawab Song An. “Kita hanya… berjalan-jalan.”

“Berjalan-jalan menyamar sebagai pelayan dapur?” Selir Zhang melirik pakaian abu-abu kusam yang mereka kenakan.

“Ya,” jawab Song An ringan. “Aku pernah jadi karyawan. Ini terasa familiar.”

Selir Zhang hampir tertawa, tapi buru-buru menutup mulutnya.

Penyamaran mereka sederhana.

Terlalu sederhana.

Tidak ada riasan berlebihan, tidak ada usaha menyembunyikan wajah terlalu keras. Song An tahu, orang yang terlalu berusaha menyamar justru akan terlihat.

“Jangan berjalan seperti selir,” katanya pelan saat mereka memasuki area dapur luar.

“Bagaimana caranya?” bisik Selir Li panik.

“Bayangkan kalian sedang kesal karena jam kerja panjang,” jawab Song An.

Selir Li mencoba.

Wajahnya langsung terlihat muram.

“Bagus,” kata Song An. “Terlalu bagus. Santai sedikit.”

Selir Zhang menghela napas. “Aku tidak pernah berpikir akan berterima kasih pada wajah lelah.”

Area dapur adalah tempat terbaik untuk mendengar kabar.

Bukan karena orang-orang di sana sengaja berbicara keras, tapi karena mereka tidak merasa penting. Dan orang yang merasa tidak penting biasanya paling jujur.

Song An mengambil keranjang kecil dan berjalan melewati deretan meja.

“Air hari ini terasa aneh,” kata seorang pelayan dapur.

“Katanya dari jalur barat,” jawab yang lain.

Song An berhenti sesaat, pura-pura merapikan keranjang.

Selir Li meliriknya, jantung berdegup kencang.

“Jalur barat lagi,” bisik Selir Zhang nyaris tak bersuara.

“Catat di kepala,” jawab Song An pelan.

Mereka hampir ketahuan pertama kali saat seorang kepala pelayan mendekat.

“Kalian,” katanya tajam. “Aku tidak mengenali wajah kalian.”

Selir Li membeku.

Selir Zhang refleks menunduk terlalu dalam.

Song An justru mendongak santai. “Kami dari paviliun timur. Dipinjam sementara.”

“Kepala dapur mana?” tanya pria itu curiga.

“Yang baru,” jawab Song An tanpa ragu. “Yang selalu mengeluh soal garam.”

Kepala pelayan itu terdiam.

“…Oh,” katanya akhirnya. “Yang itu.”

Ia pergi tanpa curiga lebih jauh.

Begitu ia menjauh, Selir Zhang hampir jatuh terduduk.

“Aku—aku pikir kita selesai,” bisiknya.

Song An menepuk punggungnya pelan. “Tarik napas. Kita belum selesai.”

“Bagaimana kau bisa setenang itu?” tanya Selir Li gemetar.

Song An menoleh. “Karena panik tidak pernah membantu.”

Mereka bergerak lebih dalam, mendekati gudang penyimpanan.

Di sanalah Song An merasa ada sesuatu yang salah sejak awal.

Penjaga gudang terlalu banyak.

Dan terlalu diam.

“Biasanya gudang ini dijaga satu orang,” bisik Selir Li.

“Sekarang tiga,” jawab Song An. “Dan semuanya melihat ke arah yang sama.”

“Artinya?” tanya Selir Zhang.

“Artinya mereka sedang menunggu,” jawab Song An.

Mereka berbalik sebelum menarik perhatian.

Namun saat itu terdengar suara teriakan memanggil mereka

“Hei.”

Sebuah suara menghentikan langkah mereka.

Song An menutup mata sesaat, lalu berbalik.

Seorang pelayan pria berdiri di belakang mereka. Wajahnya biasa. Terlalu biasa.

“Kalian dari mana?” tanyanya.

Song An menatapnya.

Ia tahu wajah itu.

Ia pernah melihatnya… di dekat pejabat arsip.

“Kami baru dipindahkan,” jawab Song An.

Pelayan itu tersenyum tipis. “Aneh. Aku tahu hampir semua wajah di sini.”

Selir Li menegang. Tangannya dingin.

Selir Zhang menelan ludah.

Song An mendekat setengah langkah. “Kalau begitu kau pekerja lama.”

Pelayan itu mengangkat alis. “Dan kau terlalu percaya diri untuk pelayan baru.”

Song An tersenyum. “Karena aku lelah.”

Keheningan sesaat.

Lalu suara langkah kaki mendekat dari ujung koridor.

Pelayan itu menoleh refleks.

Cukup satu detik.

Song An berbisik cepat, “Pergi.”

Mereka berbalik dan berjalan cepat, tapi tidak berlari.

Saat mereka berbelok, Selir Zhang berbisik panik, “Dia tahu.”

“Belum,” jawab Song An. “Tapi dia akan tahu.”

Mereka kembali ke paviliun dengan napas tertahan.

Begitu pintu tertutup, Selir Li terduduk.

“Aku hampir tidak bisa merasakan kakiku,” katanya lirih.

Selir Zhang mengusap wajah. “Aku pikir aku akan pingsan.”

Song An menuangkan air untuk mereka.

“Kalian hebat,” katanya.

“Kami hampir merusak segalanya,” bantah Selir Li.

“Tidak,” jawab Song An. “Kalian bertahan meski takut.”

“Itu berbeda,” kata Selir Zhang.

“Tidak bagiku,” jawab Song An.

Malam itu, Song An menemui Kaisar Shen.

Ia melaporkan semuanya tanpa dramatisasi.

“Jalur barat,” kata Kaisar Shen pelan. “Gudang. Pelayan arsip.”

“Dan penjagaan yang tidak biasa,” tambah Song An. “Mereka menyimpan sesuatu.”

“Apa kau yakin orang yang kau temui itu bagian dari jaringan?” tanya Kaisar Shen.

“Belum,” jawab Song An. “Tapi dia tahu terlalu banyak untuk pelayan biasa.”

Kaisar Shen mengangguk. “Aku akan menyiapkan umpan.”

“Jangan terlalu cepat,” kata Song An. “Mereka sedang mengamati.”

“Kau takut?” tanya Kaisar Shen.

“Tidak,” jawab Song An. “Aku berhitung.”

Di paviliun, Selir Li menatap Song An lama.

“Kau tidak pernah terlihat ragu,” katanya.

Song An tersenyum kecil. “Aku ragu. Aku hanya tidak menunjukkannya.”

“Kenapa?” tanya Selir Zhang.

“Karena kalau aku goyah,” jawab Song An, “kalian akan runtuh.”

Selir Li terdiam.

Selir Zhang menunduk.

“Aku tidak ingin jadi beban,” kata Selir Li akhirnya.

“Kau bukan,” jawab Song An lembut. “Kau alasan aku bertahan.”

Keheningan hangat menyelimuti mereka.

Di sisi lain istana, seorang pria berdiri di depan gudang.

“Selir Song,” gumamnya pelan.

Ia tersenyum tipis.

“Jadi kau mulai bergerak.”

Ia berbalik, menghilang di koridor gelap.

Permainan kini saling menatap.

Dan untuk pertama kalinya

Musuh tahu bahwa mereka sedang diawasi balik.

Bersambung

1
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
Wulan Sari
setelah baca cerita ini tentang Kekaisaran semakin menarik biyasa intrik kekuasaan semoga nanti selir yang mengungkap menjadi permaisuri dan akhir bisa bahagia Dan happy end semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂 trimakasih 🙏
Cindy
lanjut kak
@de_@c!h
kaisar Shen belum punya permaisuri Thor?...
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
miss blue 💙💙💙
selir nya banyak yg mau bebas, kaisar mulai tau, kenapa gak di kumpulin aja, di berikan pikihan yg mau bebas bisa bebas yg bertahan ya silahkan, tp yg pasti song an pasti bakalan di paksa. menetap walau mau bebas 🤣🤣
Eka Haslinda
sepertinya selir bayangan cocok menjadi calon permaisuri masa depan
Cindy
lanjut kak
Ma Em
Song an berhasil membuka topeng Selir Chen pasti kaisar Shen bertambah kagum sama Song an .
Ma Em
Semoga Song an , selir Li dan selir Zhang bisa mengungkap rahasia apa yg akan dilakukan oleh selir Chen dimalam pesta perayaan istana .
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!