Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
Fandi dan yang lainnya tidak tahu bahwa Dimas sedang mendapat "pelajaran tambahan" dari dosen hantu. Mereka sekarang berdiri di depan sebuah hutan yang suram dan gelap, pohon-pohonnya menjulang tinggi dengan bayangan pekat yang seolah bergerak sendiri.
Sementara itu, Blue dan Fandi masih bicara dengan Mbah Semi, hantu wanita yang sekilas mirip kuntilanak.
Mbah Semi mengenakan gaun merah panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Rambut putihnya tertata rapi, memberikan kesan anggun. Sayangnya, suara seraknya yang berat, seperti orang kurang minum, langsung merusak kesan itu.
Setelah beberapa saat, Mbah Semi mengangguk dengan enggan, lalu melayang mendekati Fandi.
"Fandi, apa kau membawa benda yang familiar dengan temanmu itu? Atau hal yang ditinggalkan si hantu?" tanyanya dengan suara rendah dan menyeramkan.
"Barang Hantu itu ada, tapi aku akan menggunakan itu untuk berurusan dengannya. Ada Barang temanku, sebentar." Fandi segera menggeledah sakunya. Tangannya meraba-raba hingga akhirnya menemukan headset Dimas. Fandi cukup sering melihat benda ini dipakai dimas meski bukan barang favoritnya. Fandi memberikannya pada Mbah Semi. "Ini Mbah."
Tanpa peringatan, Mbah Semi tiba-tiba memasukkan headset itu ke dalam mulutnya.
Raka, Arief, dan Alya hanya bisa menatap dengan ekspresi campuran antara jijik dan ngeri.
"Ih, Fan. Nenek itu kenapa?" tanya Arief bingung, suaranya sedikit bergetar.
Raka menghela napas panjang. "Kayaknya si Dimas harus beli headset baru, deh," ujarnya dengan nada pasrah, tapi matanya menyiratkan tawa tertahan.
"Ih, Mas Raka. Jangan gitu dong," kata Alya dengan nada konyol, "Kapan lagi Mas Dimas bisa pakai headset rasa liur hantu nenek-nenek?"
Mereka bertiga langsung tertawa, sementara Fandi hanya menggelengkan kepala dengan tingkah mereka. Untung Mbah Semi tidak terlihat marah atau kesal.
"Mbah Semi sedang mencari Dimas dengan menelusuri auranya," jelas Fandi menghentikan gurauan mereka. "Kalau lo belum tahu, setiap makhluk hidup punya yang namanya aura. Entah makhluk yang punya daging atau makhluk astral. Nah, Mbah Semi ini penjaga Hutan Bayangan, dan dia punya kemampuan pelacakan. Tapi, dia cuma bisa melacak sesuatu kalau dia tahu auranya dulu. Aura itu bakal menempel pada benda yang sering bersentuhan sama pemiliknya, makanya gue bawa headset ini."
Arief masih memasang ekspresi ragu. "Tapi… kenapa harus dimakan, sih? Gak bisa ditempel ke dahi gitu?"
"Atau kayak anjing pelacak aja, dideketin ke hidung terus dicium dulu?" tambah Raka sambil terlihat berpikir.
Alya berusaha menahan tawa, tapi gagal. "Bayangin kalau ternyata headset nya dibalikin ke Mas Fandi, bukannya headset itu bakal jadi headset gaib!"
Raka dan Arief langsung terkekeh. "Nah, bener juga. Terus si Dimas pakai headset gaib, tiba-tiba headset-nya ngomong sendiri, 'Bayar Utangmu!'"
Fandi menghela nafas. "Aduh, Lo semua jangan banyak main-main," katanya, tapi sudut bibirnya ikut terangkat, menahan tawa.
Sementara mereka bercanda, Mbah Semi sudah mulai melayang masuk ke dalam hutan, headset masih dalam mulutnya. Suasana kembali mencekam.
"Sepertinya Mbah Semi sudah menemukan jejak Dimas. Ayo, kita ikutin Mbah Semi," ujar Fandi akhirnya. Meskipun dia tau headset itu tidak akan pernah dikembalikan.
Mereka bertiga langsung berhenti tertawa dan mengikuti langkah Fandi masuk ke dalam Hutan Bayangan.
Hutan Bayangan adalah jaringan hutan gaib yang tersebar di seluruh Nusantara, menghubungkan kerajaan-kerajaan gaib yang ada di setiap pulau. Hutan ini tidak hanya menjadi penghubung antara kerajaan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana transportasi unik yang memungkinkan perjalanan antar pulau atau kota menjadi jauh lebih cepat.
Di dalam Hutan Bayangan, waktu dan ruang bekerja dengan cara yang berbeda. Seseorang dapat memasuki hutan dari satu titik di pulau tertentu, lalu keluar di titik yang sama sekali berbeda di pulau lain. Namun, perjalanan ini tidak semudah kelihatannya. Hutan Bayangan dipenuhi kabut tebal yang berubah-ubah, suara-suara aneh yang bergema dari bayangan pepohonan, serta makhluk-makhluk gaib yang bersemayam di dalamnya. Beberapa ramah, beberapa tidak.
Tanpa pemandu, seseorang bisa dengan mudah tersesat di dalam hutan ini, berputar-putar tanpa arah hingga akhirnya tersedot ke dalam ruang antara dunia, tempat di mana mereka mungkin tidak akan pernah bisa kembali. Bahkan para penghuni kerajaan gaib sendiri harus berhati-hati ketika menggunakan jalur ini.
Hutan Bayangan juga melambangkan keterhubungan Nusantara dengan alam dan roh leluhur yang menjaga tanah ini. Setiap kerajaan gaib memiliki pintu masuk khusus ke hutan ini, yang dijaga ketat oleh pelindung gaib atau makhluk kuno. Mbah Semi adalah salah satunya. Mereka harus memastikan tidak ada penyusup atau makhluk jahat yang mencoba memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan buruk mereka.
Beberapa cerita menyebutkan bahwa di titik-titik tertentu dalam Hutan Bayangan terdapat gerbang yang hanya terbuka pada waktu-waktu tertentu, seperti saat bulan purnama atau saat perayaan besar di dunia manusia. Gerbang-gerbang ini dipercaya membawa seseorang ke tempat-tempat yang bahkan tidak tercatat dalam peta dunia gaib, mungkin ke kerajaan yang telah lama hilang atau dimensi yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang benar-benar dipilih oleh roh-roh penjaga.
Fandi menjelaskan tentang Hutan Bayangan ketika mereka berjalan mengikuti Mbah Semi yang melayang di depan mereka. Hutan di sekeliling mereka terasa semakin pekat, dan udara di dalamnya lebih dingin dibandingkan di luar. Dia menjelaskan semua itu agar teman-temannya lebih berhati-hati.
Arief tiba-tiba berseru, "Bentar! Bukannya ini kayak gate teleportasi? Artinya, lo bisa ke Bali cuma dalam hitungan menit lewat sini gitu?!" Nada suaranya penuh ketidakpercayaan sekaligus iri.
Alya langsung menyambung, "Buset, kita kalau mau liburan ke sana mesti nabung berbulan-bulan, cari tiket promo, terus perjalanan lama di pesawat atau kapal. Mas Fandi mah tinggal ‘woosh’ dikit, eh udah nyampe pantai!"
Raka menggeleng-geleng sambil tidak percaya. "Ini parah sih. Kita di sini masih mikirin ongkos pulang kampung, dia udah bisa teleport gratis ke mana aja."
Fandi tertawa kecil. "Yaelah, iri amat. Tapi ya, emang enak sih. Mau ke Lombok, tinggal lewat sini. Mau ke Raja Ampat, nggak perlu tiket pesawat. Kalau kalian mau, gue bisa ajak keliling."
Arief langsung bersinar. "Serius?! Wah, kapan nih ke Bali? Gue pengen ke pantai!"
"Tunggu, tunggu. Gue cuma bercanda. Lagian gue udah nggak pernah pakai portal ini," kata Fandi mengangkat tangannya, menahan antusiasme mereka. "Apalagi manusia juga nggak bisa lama-lama di dunia gaib. Hutan Bayangan ini emang cuma keliatan kaya alat transportasi, tapi kalau lo nyasar atau kena efek waktu di sini, bisa bahaya. Belum lagi kalau ketemu penghuni kejam yang suka makan manusia."
Alya mengernyit. "Efek waktu? Maksudnya?"
Fandi menghela napas, kali ini nadanya lebih serius. "Gini, waktu di dunia gaib kadang nggak stabil. Lo bisa merasa kayak cuma beberapa jam di sini, tapi pas keluar, tiba-tiba udah beberapa hari berlalu di dunia manusia. Atau sebaliknya, lo merasa udah lama banget di dalam, padahal di luar baru berjalan beberapa menit."
Raka menelan ludah. "Gila, ini kayak efek masuk dunia lain di film-film."
Fandi mengangguk. "Kurang lebih. Makanya, kalau lo manusia biasa dan nggak punya perlindungan khusus atau pemandu, lama-lama di sini bisa bikin lo kehilangan orientasi waktu. Bahkan kalau sial, lo bisa nyasar ke tempat yang lebih dalam di dunia gaib dan nggak bisa balik."
Arief mundur selangkah. "Oke, kayaknya liburan ke Bali pake cara ini kita pikirin ulang aja, deh."
"Ngeri juga ada yang makan manusia." Kata Alya, tapi kemudian dia nyengir. "Tapi bukannya ada Mas Fandi yang bisa bantu kita lewatin tempat ini."
"Enak aja." Fandi tertawa. "Gue sendiri nggak bisa bantu, Lo nggak liat gue aja masih minta bantuan ke Mbah Semi. Kalau nggak, ya... bisa nyasar. Lagian gue juga nggak bisa sembarangan. Karena... yah, gue agak terkenal di dunia ini, gue jadi susah buat kemana-mana."
"Jadi nggak bisa, ya." Raka menghela napas panjang. "Gue makin sadar kalau dunia gaib tuh keren tapi juga serem. Tapi tetep aja, bayangin nggak harus kena macet kalau mau ke mana-mana…"
Arief menimpali, "Coba kalau Hutan Bayangan ini bisa dipake buat pergi kerja. Bayangin nggak perlu naik bus desek-desekan atau kena macet di jalan!"
Fandi menggeleng sambil tertawa. "Lo pikir ini apa? MRT supernatural?"
Mbah Semi yang sedari tadi diam tiba-tiba berhenti dan menoleh ke mereka. Suaranya serak tapi jelas. "Sudah cukup bercandanya. Aku sudah menemukan jejak anak itu. Kita harus bergerak ke bagian tengah lebih cepat untuk menemukan lokasi pastinya sebelum energinya melemah."
Mereka langsung menegang. Raka, Alya, dan Arief saling pandang sebelum akhirnya mengikuti Fandi yang mulai mempercepat langkahnya.
"Gue masih agak menyayangkan sih kalau bener bener nggak bisa gunain tiket gratis kaya gini. Ada di depan mata tapi tidak bisa digapai," gumam Arief dengan nada kecewa.
Raka menepuk punggungnya. "Santai, nanti kalau semua udah aman, kita culik Fandi buat jadi tukang ojek gaib kita."
Fandi yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang. "Gue nyesel udah cerita ini ke kalian…"
Langkah mereka tidak berhenti, dan tatapan mereka menjadi lebih serius.
jd kisah ttg Asti ini nanti jd yg terakhir ya?
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor