Masih dalam tahap revisi!
Alaska Febian seorang pria yang berumur 25tahun diumurnya masih sangat mudah dia telah sukses menjadi Ceo Perusahan Ert..
Awalnya dia tidak pernah tertarik kepada Gadis, namun entah mengapa dia tertarik dengan Gadis yang bernama Flora Aluna Zahira yang biasanya dipanggil Aluna dia berumur 20tahun..
Tanpa basa-basi apapun Alaska mengajaknya menikah, Aluna menerima tawaran itu..
Setelah usia pernikahan mereka 3tahun Alaska awal-awalnya sangat perhatian, penyayang dan selalu ada untuk Aluna..
Namun, akhir-akhir ini sifat Alaska menjadi berubah entah ada apa sebenarnya..
Pada waktu malam tepat dijam 8, Alaska kembali ke Apartemen namun kali ini dia bersama Sienna sahabat Aluna..
Aluna merasa bingung, ada apa sebenarnya dan mengapa Alaska bersama Sienna?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3-SANGAT KECEWA!
Alaska masih bersujud di hadapan Aluna. Tangannya gemetar memegangi tangan Aluna, seolah itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak benar-benar kehilangan segalanya. Ia menahan Aluna agar tetap tinggal, agar tidak benar-benar pergi dari hidupnya.
Namun tatapan Aluna justru semakin kosong.
Bukan marah.
Bukan benci.
Melainkan mati rasa.
Rasa sakit itu sudah terlalu dalam, hingga hatinya perlahan menutup. Ia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada lagi ruang untuk cinta.
“Maafkan aku… aku sangat menyesal, Honey. Tolong jangan pergi meninggalkan aku,” ucap Alaska dengan suara gemetar, ketakutan jelas tergambar di wajahnya.
Namun Aluna tetap tak merespons. Kekecewaannya telah melampaui kata-kata.
Ia benar-benar kecewa kepada Alaska, dan kepada Sienna.
Tiba-tiba.
“M-maafkan aku, Aluna…” ucap Sienna dengan suara kecil penuh ketakutan.
“Aku tidak perlu maafmu!” sahut Aluna cepat, tanpa sedikit pun menatap wajah Sienna.
“A-aku benar-benar—”
“Cukup!” teriak Aluna, membuat Sienna tersentak kaget. “Apa dengan minta maafmu bisa mengembalikan semuanya seperti semula? Tidak, kan!”
Sienna terdiam.
Tak ada satu kata pun yang bisa ia gunakan untuk membela diri. Aluna memegangi kepalanya. Pusing. Dadanya sesak.
Tiga tahun pernikahan apakah ini akhir dari jodohnya bersama Alaska?
“Lepaskan aku.”
Alaska menggeleng kuat.
“Aku bilang lepaskan aku!” teriak Aluna, membuat Alaska tersentak.
Dengan berat hati, Alaska akhirnya melepaskan genggamannya. Aluna langsung berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
Alaska hanya bisa menatap kepergiannya.
Hancur.
Tak berdaya.
Beberapa menit kemudian, Aluna kembali dengan dua tas di tangannya. Melihat itu, Alaska langsung bangkit dan kembali menahan Aluna.
“Honey… tolong jangan tinggalkan aku. Kumohon, Honey, jangan tinggalkan aku…” ucapnya sambil menangis.
Namun Aluna tetap tidak mendengarkan. Ia menangkis tangan Alaska dan melangkah menuju pintu. Alaska mengikutinya dari belakang dengan langkah tergesa.
Saat Aluna hendak membuka pintu.
Ceklek…
Pintu sudah terbuka lebih dulu.
“Loh, sayang, mau ke mana kamu?” tanya seorang wanita dengan suara terkejut.
Yang berdiri di sana adalah Rossa, ibu Alaska.
Setiap minggu Rossa dan suaminya, Aldo, memang sering datang berkunjung. Namun kali ini suasananya terasa sangat berbeda. Dan kehadiran Sienna di dalam apartemen itu membuat Rossa semakin bingung.
“Sienna?” ucap Rossa heran.
Sienna langsung menunduk dan refleks menutupi perutnya yang sudah membuncit terlalu jelas untuk disembunyikan.
Aldo hanya diam, menatap anak dan menantunya dengan wajah tegang.
Tak satu pun berbicara.
“Mengapa kalian hanya diam?” tanya Rossa semakin penasaran.
“Alaska, Aluna… katakan sesuatu.”
Aluna mengangkat wajahnya. Air mata masih mengalir tanpa henti.
“Bu… Alaska selingkuh dengan Sienna. Dan sekarang Sienna mengandung anaknya Alaska.”
Dugggkkk!
Jantung Rossa terasa dihantam keras. Dadanya sesak, tubuhnya melemah.
Ia tak sanggup berkata apa-apa hanya air mata yang jatuh.
Namun demi memastikan kebenarannya, Rossa menatap Alaska.
“Alaska… jawab yang jujur. Apa benar yang dikatakan Aluna itu?” tanyanya dengan suara
bergetar.
“I-iya, Bu… yang dikatakan Aluna benar.”
Tanpa aba-aba, Aldo melangkah mendekat.
Bugkk!
Bugkk!
“Siapa yang mengajarimu selingkuh di belakang istrimu?!” teriak Aldo sambil terus memukul Alaska.
“Maafkan Alaska, Yah…” ucap Alaska pasrah, menerima setiap pukulan.
“Apa permintaan maafmu bisa mengembalikan semuanya seperti semula, hah?!” bentak Aldo semakin marah.
Kemarahan Aldo meluap. Ia tak percaya anak yang ia besarkan tega menyelingkuhi istrinya bahkan dengan sahabat istrinya sendiri.
Rossa langsung memeluk Aluna erat. Tangisnya pecah.
“Mengapa, Alaska… mengapa…” ucap Rossa berulang kali sambil mengusap punggung Aluna.
Aluna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan mertuanya. Ia kehilangan segalanya malam ini.
Sementara Alaska terbaring lemah di lantai, menangis dalam kehancuran. Aldo menatapnya dengan kekecewaan yang dalam.
Di sudut ruangan, Sienna ikut menangis. Ia tak tega melihat Alaska dipukul.
Namun di saat yang sama ia baru menyadari betapa egoisnya dirinya. Ia hanya memikirkan Alaska, tanpa pernah memikirkan perasaan Aluna.
Dan malam itu kekecewaan bukan lagi sekadar luka, melainkan kehancuran yang tak mungkin diperbaiki.