NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan

Terjebak Pernikahan

Status: tamat
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:330.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Momoy Dandelion

Ralina Elizabeth duduk tertegun di atas ranjang mengenakan gaun pengantinnya. Ia masih tidak percaya statusnya kini telah menjadi istri Tristan Alfred, lelaki yang seharunya menjadi kakak iparnya.

Semua gara-gara Karina, sang kakak yang kabur di hari pernikahan. Ralina terpaksa menggantikan posisi kakaknya.

"Kenapa kamu menghindar?"

Tristan mengulaskan senyuman seringai melihat Ralina yang beringsut mundur menjauhinya. Wanita muda yang seharusnya menjadi adik iparnya itu justru membuatnya bersemangat untuk menggoda. Ia merangkak maju mendekat sementara Ralina terus berusaha mundur.

"Berhenti, Kak! Aku takut ...."

Ralina merasa terpojok. Ia memasang wajah memelas agar lelaki di hadapannya berhenti mendekat.

Senyuman Tristan tampak semakin lebar. "Takut? Kenapa Takut? Aku kan sekarang suamimu," ucapnya lembut.

Ralina menggeleng. "Kak Tristan seharusnya menjadi suami Kak Karina, bukan aku!"

"Tapi mau bagaimana ... Kamu yang sudah aku nikahi, bukan kakakmu," kilah Tristan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Mungkinkah Kita Bisa Bersama?

Ralina duduk di tepi sungai bersama Ares. Setelah menyuapi dan memberi Iris obat, Ares mengajaknya keluar. Mereka sempat saling diam beberapa saat.

"Aku mau minta maaf untuk kejadian waktu itu di butik," kata Ralina membuka percakapan.

"Meminta maaf? Untuk apa kamu minta maaf?" Ares sedikit tertawa mendengar ucapan Ralina.

"Aku rasa kata-kata kakakku padamu sudah berlebihan. Aku jadi tidak enak hati padamu."

Ares mengulaskan senyum. Ia mengusap kepala Ralina seraya merangkul pinggangnya agar lebih mendekat ke arahnya.

"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan memikirkannya lagi."

"Bahkan aku berterima kasih berkat tips dari calon kakak iparmu itu aku bisa membayar biaya perawatan Iris."

"Lagi pula ... Semua yang kakakmu katakan itu fakta."

Meski Ares bilang tidak apa-apa, Ralina tahu bagaimana menyakitkannya perkataan Karina. Tanpa ada orang yang merendahkannya, Ares juga pasti sudah merasa rendah diri dengan kondisinya.

Ralina menyandarkan kepalanya di bahu Ares. Matanya memandangi kesibukan orang-orang yang berlalu lalang di jalan seberang sungai.

"Dua adikmu yang lain kemana?"

"Ben dan Ernest membantu ayah jadi kuli bangunan."

"Hah? Mereka kan masih kecil?" Ralina terkejut mendengarnya.

Ares terkekeh. "Kecil?"

"Ben sekarang sudah 17 tahun dan Ernest 14 tahun. Mereka sudah SMA dan SMP."

Ralina masih tidak percaya adik-adik Ares sudah besar. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

"Soal perkataan adikmu ... Aku juga mau minta maaf."

Ares mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu suka sekali meminta maaf. Memangnya kamu salah apa?"

Ralina menoleh dan menatap mata Ares dalam-dalam. "Maaf karena selama ini sudah membuatmu kesulitan."

Ares tertawa. "Kamu meminta maaf karena selalu ranking satu saat SMA? Kamu meminta maaf karena merasa sudah membuatku menderita?"

"Ya ... Aku bisa pintar juga karena belajar darimu. Meskipun kita bersaing, kamu tidak pernah menolak mengajari apa yang tidak aku tahu."

Ralina merasa sedih mengingat hal yang telah berlalu. Ia mati-matian belajar berusaha menjadi yang terbaik agar bisa membanggakan keluarga. Juga dengan uang beasiswa ia tak perlu merepotkan orang tuanya.

Ternyata Ares juga mengalami hal yang sama. Bahkan seharusnya ia lebih membutuhkan dibanding dirinya.

Ares menghela napas panjang. Ia sangat benci untuk menceritakan kesulitannya. Bagi dirinya, hidup bukan untuk dikeluhkan, tapi dijalani dan diusahakan semaksimal mungkin agar tidak ada penyesalan.

"Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan. Justru aku merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk dekat dengan gadis tercantik di sekolah."

Ralina menitihkan air mata. Ia senang mendengar jawaban Ares. Di sisi lain, ia juga sedih membayangkan betapa beratnya kehidupan seorang Ares.

"Setiap orang tua mungkin punya harapan yang berbeda-beda terhadap anaknya."

"Keluargaku memang sangat kekurangan. Untuk makan saja sulit, apalagi untuk memikirkan pendidikan."

"Karena itu kami juga dipaksa untuk berprestasi agar bisa mendapatkan beasiswa penuh. Selain itu, kami juga sudah terlatih untuk bekerja sejak dini demi uang jajan."

"Dari kami berempat, adik bungsuku, Iris, dia yang paling lemah akademiknya. Sejak kelas satu sampai kelas tiga sekolah dasar, dia tidak pernah masuk peringkat tiga besar. Yah, tapi masih bisa ikut sepuluh besar."

"Aku yang membayari penuh sekolahnya karena Iris tidak bisa mendapatkan beasiswa."

"Ibu memang sering marah-marah padanya, memaksa agar Iris lebih giat belajar. Tapi yang ada, Iris jadi sakit-sakitan."

"Aku sudah berulang kali mengatakan pada ibuku agar tidak mencemaskan biaya sekolah Iris. Aku yang akan bertanggung jawab."

"Tapi ... Ya, ibuku memang sedikit keras kepala. Tidak bisa dinasihati dengan baik."

"Banyak sekali rasanya masalah di keluargaku."

Ares mengambil sebuah batu kecil di sampingnya lalu melemparkannya ke arah sungai hingga membentuk pusaran kecil di air.

"Terkadang aku juga merasa hubungan kita hanya seperti mimpi."

"Orang miskin sepertiku tidak layak denganmu."

"Aku juga terkadang berpikir ... Suatu saat nanti, apa mungkin kita benar-benar bisa bersama?" Ares mengarahkan tatapan kosong ke depan.

"Berhenti mengatakan hal seperti itu!" kata Ralina dengan nada sedikit membentak.

Air matanya semakin deras keluar hingga sapu tangannya hampir basah kuyup. Ia sedih mendengarkan cerita Ares, namun ia juga kesal dengan keraguan pemuda itu.

"Selama ini aku kagum padamu karena rasa percaya dirimu. Aku tidak pernah melihat latar belakang keluargamu dalam hubungan kita."

"Aku percaya, suatu saat kamu akan sukses. Jadi, jangan merendahkan dirimu lagi. Aku tidak suka!"

Ralina menangis semakin tersedu-sedu. Ares memeluk dan mengusap punggungnya agar lebih tenang.

Tak bisa dipungkiri jika selama ini ia merasa tidak pantas untuk menyentuh makhluk seindah Ralina. Takut kemiskinannya akan mengotori citra baik dan anggun gadis itu.

Ia sangat ingin membahagiakannya. Namun, saat ini ia bahkan kesulitan untuk membahagiakan diri dan keluarganya sendiri. Bagaimana bisa ia akan membahagiakan Ralina?

"Ralina ... Aku mencintaimu," ucapnya.

Ralina membalas pelukan Ares. "Aku juga mencintaimu."

"Hari sudah sore, sebaiknya kamu pulang."

Ares mengusap wajah Ralina yang masih tampak sendu. Ralina mengangguk.

Keduanya lantas meninggalkan tempat itu. Mereka bergandengan tangan selayaknya muda mudi yang sedang kasmaran. Ares mengantar Ralina sampai tepi jalan dimana Ralina memarkirkan mobilnya.

"Kamu mau kembali ke asrama kapan?" tanya Ralina yang sudah masuk mobil dan memasang sabuk pengamannya.

"Besok pagi."

"Kenapa tidak sekarang saja? Bersamaku."

Ares tersenyum. "Ada urusan yang harus diselesaikan di sini."

"Oh, ya sudah. Aku pulang dulu," pamit Ralina.

"Hati-hati."

Ralina menaikkan kembali kaca jendela mobilnya. Ia perlahan mulai melajukan mobilnya. Tatapan matanya masih fokus ke arah spion memandangi Ares hingga ia tak dapat melihatnya lagi.

Sementara itu, di tempat lain ada yang tidak fokus bekerja setelah menerima kiriman foto dari Hamin. Tristan merasa sesak melihat foto Ralina berpelukan dengan Ares. Ia sampai melonggarkan dasinya.

"Ada apa dengan diriku? Mereka hanya anak-anak yang baru selesai remaja, kan?" gerutunya.

"Kelihatanya kamu sedang kesal."

Teguran Regis mengagetkan Tristan. Sekertaris pribadinya itu membawa setumpuk berkas ke ruang kerja Tristan. Tampak Tristan menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Rasanya pekerjaannya tidak pernah ada habisnya.

Regis adalah orang yang paling bisa Tristan andalkan. Mereka sudah saling kenal sejak kuliah sampai bersama-sama membesarkan perusahaan. Jika tidak ada orang lain, mereka memang biasa berbicara dengan santai layaknya teman.

"Sebenarnya aku tidak enak membawa pekerjaan ini padamu. Apalagi kelihatannya kamu sedang banyak pikiran."

"Tapi, mau bagaimana lagi? Kalau kamu menikah, akan lebih merepotkan jika tidak dikerjakan sekarang."

Regis dengan santai duduk di hadapan Tristan, memandangi atasannya yang tampak bimbang.

"Kalau begitu, temani aku lembur malam ini!" pinta Tristan.

"Oh, apakah gajiku akan ditambah?" Regis bersemangat membahas gaji.

"Tentu. Kapan aku tidak membayarmu lebih untuk lembur?"

Regis melebarkan senyumnya. "Kalau begitu, ayo kita selesaikan sekarang!" ucapnya bersemangat.

1
WHATEA SALA
Ehhaa.....plong banget,seperti batu besar yang menghimpit hati dan kepala ini terangkat😁😁
WHATEA SALA
Nafsu aja di gedein,klu akal kalah sama nafsu ya kayak tristan ini😩😩😩
WHATEA SALA
Ares terlalu percaya diri,dengan terus mendekati Ralina,biarlah semua ada balasan nya,seperti Tristan..Ares...dan keluarga Ralina
WHATEA SALA
Huuu...bisa nya cuma ngamuk,itu karma mu,iya bener ..sayang istri,cinta istri,semua di berikan untuk istri tapi sayang..gak pernah jaga perasaan istri,gak pernah jaga martabat istri..istri di anggap hewan, di mana tempat istri harus melayani birahi nya.
maaf...klu bisa Ralina jangan sama siapa2,biar dia hidup sendiri bersama anak nya
WHATEA SALA
Sama anak orang peduli banget...gak tau istri nya lagi hamil
WHATEA SALA
Bayi dah lahir cepat tes DNA,semua terlihat dungu..menyebalkan
WHATEA SALA
Syukurin si Tristan...klu cinta jangan kasar dan katakan klu cinta,punya istri kok di anggap kayak hewan,di mana tempat istri selalu melayani bi**** nya
WHATEA SALA
Masak gak ke baca klu Tristsn begitu cinta nya sama Ralina,dari ATM tanpa limit kode brangkas di beri....au ahhh gelap
WHATEA SALA
Ralina coba egois dikit untuk dirimu,jangan terlalu baik untuk orang lain,kesan nya jadi NAIF
WHATEA SALA
Ralina sepertinya tidak mau belajar untuk kebaikan diri sendiri😩😩😩capek..
WHATEA SALA
Huuu....pada keras kepala,terutama si ares,bebal banget jadi orang...dia gak tau aja,setiap kedekatan nya dengan Ralina,akan menjadi siksaan bagi Ralina,cukup pikirin keluarga mu aja ares yang masih butuh batuanmu.heran banget sama ares dan ralin sama2 peraih beasiswa tapi kok..??!! apa karna belum lulus jadi sarjana ya...🤔🤔🤔🤔
WHATEA SALA
Wahh...sang pahlawan gak sadar akan tindakan nya berdampak pada penyiksaan terhadap Ralina,aku kasihan sama Ralin...tapi yaa nama aja cerita😁😁
WHATEA SALA
Ealah...ketemu lagi sama ares,entar sampai rumah di hajar lagi sama Tristan terus masih gak ngerti kenapa Tristan jadi kasar,wahh bisa2 Ralina jadi gila...tolong selametin Ralina thor😩😩
WHATEA SALA
Klu Ares ini seperti toge,di mana2 ada..ada di soto..ada pecel lontong dan sebagainya😁😁
WHATEA SALA
Saat dir sendirii di injak2 hanya diam membisu,tapi begitu ares di injak2 orang,datang bak pahlawan..sekarang trima akibatnya.menjadi pintar untuk orang lain tapi menjadi bodoh untuk diri sendiri,itulah Ralina...keras sama orang yang tulus,trs tulus sama orang jahat.
WHATEA SALA
Dapat beasiswa karna pintar,tapi tidak dengan Ralina maka nya di cabut😁
WHATEA SALA
Oalah....Ralina emang gak pernah belajar dari yang sudah2,enek juga liatnya lama lama,sombong..amat karna banyak uang hasil dari jual diri🤣🤣🤣dasar gak punya malu
WHATEA SALA
Ini pasti kerjaan Tristan😁
WHATEA SALA
Larina kan bukan boneka ya..apa gak bisa bilang "tidak" gitu kok gak ada keinginan untuk diri sendiri,jadi letak dia pintar dan cerdas nya di mana,maaf cuma komen
Nazia wafa abqura
bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!