S 5
Tak hanya mengalah dan memendam perasaan, dia juga rela bertanggung jawab atas kesalahan fatal yang dilakukan adiknya hanya demi menjaga perasaan wanita yang dia cintai dalam diam.
(Mohon baca setiap kali update! Jangan menumpuk bab, jangan lompat baca apalagi boom like. Retensi bergantung dari konsisten pembaca.🙏🙏🙏)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. ADA APA?
"Udah, cepetan pulang sana. Kasihan istri Kamu pasti sekarang lagi nungguin kamu pulang. Lain kali jangan ngerjain Kinan begitu lagi, wanita hamil itu pikirannya sensitif Azka. Pasti sekarang Kinan merasa cemas nungguin kamu pulang." Secara halus, Kiara mengusir adiknya. Jika tidak begitu Azka masih akan betah mengobrol dengannya, sementara ia masih ada banyak pekerjaan. Belum lagi, pasien yang beberapa jam lalu melahirkan sekarang harus ia kontrol.
Azka terkekeh pelan sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Yah, ia memang sengaja mengerjai Kinan dengan mengatakan akan pulang malam. Ia ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu jika ia tiba-tiba telah ada di depannya nanti.
Sebenarnya Azka meninggalkan kantor pukul empat sore, ia singgah lebih dulu ke minimarket membeli susu ibu hamil untuk Kinan. Tadi malam saat sebelum tidur ia sempat memeriksa susu Kinan dan ia lihat tinggal sedikit. Begitu pun suplemen yang rutin dikonsumsi Kinan, hanya tinggal tersisa beberapa butir saja. Namun, ia lupa mengambil resep di dalam laci sebelum pergi, maka itu ia mendatangi kakaknya ke rumah sakit untuk meminta resep. Bisa saja sebenarnya bertanya lewat telepon, tapi sekalian ia pengen mengobrol sebentar dengan sang kakak yang sudah jarang ketemu semenjak pindah ke apartemen.
"Resep tadi mana ya, Kak?" Saking asyiknya ngobrol, Azka jadi lupa menyimpan di mana tadi secarik kertas tertulis resep suplemen yang diberikan kakaknya.
"Kayaknya tadi kala gak salah kamu masukin ke saku jas deh. Coba periksa," kata Kiara.
Azka pun memeriksa saku jasnya dan ternyata benar ada. Ia mengulum senyum, belum tua-tua banget dan belum punya anak sendiri tapi sudah mulai pelupa.
"Berobat, jangan sampai udah punya Istri malah lupa kalau sudah punya istri." Kiara geleng-geleng kepala menatap adiknya. Azka hanya tersenyum.
"Ya, udah aku pulang ya Kak. Semangat Bu Dokter. Kalau ada waktu main dong ke rumah." Ujar Azka seraya beranjak dari tempat duduknya.
"iya, hati-hati di jalan. Oh ya, tadi Kinan katanya pengen makan sate ya, bilang sama pedagang satenya di bakar sampai benar-benar matang satenya." Pesan Kiara sebelum adiknya pergi.
"Siap, Bu Dokter." Azka membentuk hormat tangannya lalu pamit keluar dari ruangan kakaknya.
Setelah membeli suplemen untuk Kinan, Azka lanjut mencari pedagang sate. Beruntungnya ia menemukan pedagang sate tak jauh dari apotek. Seperti peringatan Kiara, ia meminta izin pada pedagang sate untuk membakar sendiri satenya demi memastikan tingkat kematangan yang sempurna.
********
"Yuk, kita ke ruang tengah." Ajak mama Flora sembari mengangkat piring yang berisi brownies lumer buatannya.
Kinan mengangguk, ia lalu mengikuti langkah mama mertuanya menuju ruang tengah. Di ruangan itu ternyata ada Raka, duduk santai seorang diri sambil bermain ponsel.
"Loh, kamu kok di sini? Tadi katanya mau ambil air minum untuk Alesha." Tanya mama Flora sembari menatap gelas yang tadi dibawa Raka dari dapur dan isinya tinggal setengah.
"Al rupanya lagi tidur Ma, jadi airnya aku bawa lagi buat aku sendiri." Kata Raka.
Mama Flora mengerutkan keningnya, ucapan Raka rasanya tak masuk akal. Masa iya Alesha langsung tertidur secepat itu. Tapi dia tak mau ambil pusing. Di letakkan sepiring brownies buatannya di atas meja.
"Karena kebetulan kamu ada di sini, Mama minta tolong panggilkan Papa di kamar. Bilangin, Brownies lumer nya sudah jadi,"
"Iya, Ma." Raka beranjak seraya meraih gelas airnya. Melangkah sambil bermain ponsel. Alhasil dia menabrak Kinan, air minumnya pun lantas tumpah mengenai baju Kinan.
"Ya ampun Raka, lihat-lihat dong kalau jalan. Kebiasaan jalan sampai main hape. Lihat ini, baju Kinan jadi basah gara-gara kamu." Omel mama Flora.
"Aku gak sengaja." Ucap Raka lalu melenggang pergi begitu saja.
Dalam hati Kinan menggerutu, Raka memang sangat keterlaluan. Apa sesulit itu untuk meminta maaf telah membuat bajunya jadi basah begini. Dia pergi begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Ma, aku ke kamar dulu ya ganti pakaian." Ucap Kinan.
"Iya, jangan lama-lama ya. Mama tungguin di sini. Kita makan Brownies nya bareng-bareng sama Papa."
Kinan mengangguk, lalu gegas menuju kamarnya. Mengambil pakaian ganti sambil ngomel-ngomel, merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya jatuh cinta pada laki-laki seperti Raka. Tapi sekarang tidak lagi, cinta itu sudah lenyap dan telah berubah menjadi kebencian.
Usai berganti pakaian, ia pun keluar dari kamar. Bersamaan dengan Alesha yang juga keluar dari kamarnya. Wanita yang tengah menikmati masa-masa mengidam itu bosan sendirian di kamar menunggu suaminya yang katanya hanya sebentar tapi lama.
"Kinan, kamu mau kemana?" Tanya Alesha.
"Mau ke bawah, makan brownies sama Mama dan Papa." Jawab Kinan terdengar datar.
"Kok gak ngajakin aku sih?" Alesha mengerucutkan bibirnya.
"Kata Raka kamu lagi tidur,"
"Enggak, kok. Justru aku lagi mau cariin Bang Raka. Katanya tadi cuma sebentar, tapi lama gak balik ke kamar." Ucap Alesha.
Kinan mengerutkan keningnya, kenapa Raka harus berbohong untuk itu. Tapi sudahlah, itu bukan urusannya. Apapun yang berurusan dengan Raka maupun Alesha, ia tidak mau ikut campur.
"Ya udah, bareng yuk ke bawah." Ajak Kinan.
Alesha mengangguk antusias, ia tampak begitu bersemangat menggandeng tangan Kinan. Hal tersebut, mengingatkan Kinan saat masa-masa putih abu-abu dulu, Alesha selalu menggandeng tangannya seperti ini bila ingin pergi ke kantin.
Kedua wanita hamil itu melangkah bersama-sama menuruni anak tangga. Setelah rebahan cukup lama di kamar kini Alesha merasa sedikit lebih baik. Pusingnya masih terasa namun sudah tidak sepusing tadi pagi.
"Al, stop di situ." Raka yang baru saja sehabis dari kamar orangtuanya, langsung berteriak begitu melihat Alesha dan Kinan bersama-sama menuruni tangga. Tatapannya lalu berpindah pada beberapa baris anak tangga dari lantai dasar.
"Bang, ada apa?" Tanya Alesha, ia dan Kinan saling melirik tampak bingung.