Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Pesta
“Siap bang, selamat pagi!” sebaris pesan itu Shaka terima di sore hari. Sepertinya David baru menyalakan ponselnya karena sedari tadi tidak aktif.
“Sore! Gimana kabar kamu Vid?” Shaka segera membalas pesan David.
“Baik bang. Abang gimana kabarnya? Gimana Indonesia?”
“Baik semuanya berjalan baik. Hanya saja aku perlu bantuanmu,” Shaka memang tipe yang tidak suka berbasa-basi terlalu panjang.
“Siap! Apa yang bisa saya bantu, bang?” Juniornya ini cukup sigap. Diantara rekan satu timnya, Shaka paling dekat dengan David. Ia bersyukur saat pengeboman di kediaman mereka, Shaka mengajak David untuk mengecek stok senjata di ruang bawah tanah. Sehingga mereka bisa selamat walau harus tertimbun reruntuhan selama beberapa hari. Hal itulah yang menyelamatkan mereka berdua.
Shaka berpikir sejenak, bagaimana cara ia meminta bantuan David. Ia tahu ini permintaan yang cukup sulit.
“Aku perlu mencari data beberapa orang di sekolahku. Sementara id spy ku di nonaktifkan. Apa aku bisa meminta bantuanmu?” Shaka memberanikan diri untuk bertanya. Kalau tidak mencobanya, mana tahu David mau membantunya atau tidak.
Kali ini David tidak langsung menjawab, sepertinya ia sedang mempertimbangkan hal itu.
“Satuan sekarang bisa melacak history pencarian dari user agentnya bang,” balas David, secara tidak langsung laki-laki itu menolak permintaan Shaka.
“Hem, aku paham.” Hanya itu balasan Shaka, ia sadar benar apa yang ia lakukan kelak bisa membahayakan David. Kalau sampai David menyalahgunakan wewenangnya, bukan tidak mungkin laki-laki itu akan diberhentikan.
“Maaf ya bang. Mungkin abang bisa mendatangi intelligent kita untuk meminta bantuan,” David mencoba memberi saran.
“Iya, aku akan mencobanya.” Shaka akhirnya termenung, menaruh ponselnya lantas menopang kepalanya dengan kedua tangan, lalu mencengkramnya kuat.
Otaknya sedang berputar, mencari cara untuk mendapatkan banyak data. Ia memang bisa mendatangi intelligent nasional, tetapi tidak menjamin kalau ia bisa mendapatkan apa yang ia butuhkan. Terlebih ini untuk alasan pribadi.
“Gimana perkembangan kasusnya bang? Apa sudah ada jalan terang?” tanya David.
Shaka melirik kembali ponselnya dan membaca pesan itu. Ia mengambil benda pipih itu dan membalas pesan David.
“Belum, aku belum mendapatkan petunjuk apa pun selain hal-hal kecil dari tempat kejadian. Semua orang di sekolah itu bungkam. Pihak sekolah bahkan mewajibkan siswanya menonaktifkan semua akun media sosialnya. Tidak ada siswa yang berani berbicara tentang kematian adikku. Sepertinya, pihak sekolah memang ingin mengubur masalah ini.” Shaka membalas dengan cukup panjang.
“Kira-kira apa alasannya bang?” David jadi ikut penasaran.
“Mungkin nama baik sekolah atau sekolah sedang berada di bawah tekanan,” timpal Shaka sambil berpikir. “Tidak, apa mungkin ada hal lain yang mereka coba tutupi selain menjaga nama baik sekolah?” kali ini Shaka bergumam. Tiba-tiba saja pikiran itu muncul di benaknya.
Berbekal pikiran itu, Shaka makin semangat melakukan pencarian di dunia maya tentang sekolah itu. Dari banyak halaman internet yang tampil, hanya ada satu link yang terbuka tentang sekolah itu. Tautan link resmi tentang sekolah itu yang tidak bisa di komentari. Info lain tentang sekolah ini, termasuk link susunan manajemen yayasan sekolah telah di non aktifkan, berikut profil para gurunya. Hanya artikel prestasi sekolah ini saja yang aktif, untuk memancing minat calon siswa yang akan masuk.
Bagi Shaka, hal ini justru sangat aneh. Sebuah sekolah terkenal tanpa ada gossip apa pun setelah terjadinya kasus kematian tidak wajar di sekolah itu, sangatlah janggal. Shaka mulai paham kalau pihak sekolah sepertinya menutupi banyak hal.
Tanpa berpikir panjang, Shaka segera melanjutkan pencariannya. Ia mengambil jaket dan helmnya lalu bergegas keluar rumah. Ia menuju suatu tempat yang mungkin bisa ia datangi. Roda motor Shaka melaju dengan cepat menuju sebuah gedung perkantoran. Ia menemui security di depan dan menunjukkan lencananya.
“Aku ingin bertemu kepala satuan,” pinta Shaka.
“Siap! Silakan tunggu sebentar, kami harus meminta izin terlebih dahulu,” sahut penjaga keamanan tersebut.
Shaka terpaksa menunggu dengan gelisah di sebuah ruang tunggu. Beberapa pasang mata memperhatikannya. Penampilannya memang tidak seperti mereka yang berseragam dan hanya mengenakan jaket kulit lengkap dengan sepatu jenggel. Tetapi dari postur Shaka yang tegap, membuat mereka sangat yakin kalau Shaka adalah bagian dari mereka.
“Silakan sebelah sini,” seorang petugas mempersilakan masuk.
Shaka segera mengikuti langkah laki-laki itu menuju sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu sudah menunggu seorang laki-laki berkulit coklat dengan sorot matanya yang ramah. Pakaiannya rapi dan mengenakan jas.
“Selamat datang Mayor Shaka!” sambut laki-laki itu seraya memberi hormat. Shaka membalasnya dengan hormat singkat dan jabat tangan.
“Silakan duduk, izin saya Dirga, assistant pimpinan. Mohon maaf pimpinan tidak bisa menemui mayor Shaka, karena sedang ada perjalanan dinas ke luar negeri,” terang laki-laki itu.
“Ya terima kasih.” Sedikit kecewa karena ia tidak bisa bertemu langsung dengan pimpinan di instansi ini.
“Ada yang bisa kami bantu?” laki-laki bernama Dirga itu bersikap dengan ramah.
“Ya, sebenarnya saya memerlukan bantuan sekaligus izin untuk mengumpulkan informasi.” Tanpa ragu Shaka menyampaikan maksudnya.
“Informasi apa yang Mayor Shaka maksudkan?”
“Saya perlu informasi terkait sekolah ini,” Shaka menunjukkan artikel sekolah beserta foto bangunanya.
“Untuk tujuan apa, kalau saya boleh tau?”
“Penyelidikan,” Shaka menjawab dengan mantap.
“Boleh saya melihat surat tugasnya?”
“Tidak ada. Saya menyelidiki ini secara pribadi.” Shaka menjawab dengan jujur.
Laki-laki itu memandangi artikel tentang sekolah yang dimaksud Shaka lantas menghembuskan napasnya dengan kasar. “Mohon maaf, kami tidak bisa membantu.” Laki-laki itu menjawab dengan penuh sesal.
“Apa maksudmu tidak bisa membantu? Sekolah ini sudah menutupi sebuah kejadian penting. Yaitu kematian siswanya!” seru Shaka yang mulai emosi. Ia sampai menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
Laki-laki itu terhenyak, tetapi tidak bergeming. “Mohon maaf, kami tetap tidak bisa membantu. Kejadian itu terjadi di luar sekolah dan pihak berwenang sudah menyampaikan bahwa kejadian itu tidak terhubung dengan pihak sekolah.”
“Kamu tau?” tanya Shaka yang tampak terkejut.
Laki-laki itu terangguk. “Pihak sekolah bahkan meminta perlindungan untuk para siswanya. Ia tidak mau ada siswa lainnya yang menjadi korban dari genk motor. Motif pelaku pun belum di ketahui, mereka hanya meyakini ini pertikaian masalah pribadi siswa tersebut."
Penjelasan laki-laki itu cukup mengagetkan sekaligus mengecewakan. Ingin rasanya ia mengatakan kalau korban kejadian itu adalah sang adik yang sangat ia cintai. Tetapi dengan pengakuan itu, akan semakin mempersempit langkahnya, terlebih sekarang ia bersekolah di sekolah tersebut walau dengan identitas samaran.
"Ada baiknya Mayor Shaka menghubungi pihak kepolisian. Meminta kasus kembali di buka, tentunya dengan seizin atasan satuan." Dirga memberikan saran itu.
Shaka hanya terdiam, tidak mengiyakan atau pun menolak saran pria itu. "Terima kasih," ucapnya sebelum kemudian ia memilih pergi. Lagi, ia pergi dengan tangan kosong dan tidak ada yang bisa membantunya. Pada akhirnya ia harus melakukan penyelidikan seorang diri. Bukan tanpa alasan, hanya saja ia tidak bisa melibatkan satuan kerjanya dalam masalah pribadinya kali ini. Sedikit banyak, hal ini akan membuka identitasnya sebagai agen mata-mata internasional. Hal itu yang Shaka lindungi saat ini.
Sepanjang perjalanan, Shaka memutar otaknya mencari cara untuk mengetahui identitas lengkap teman-temannya. Ia memperhatikan interaksi para siswa yang baru pulang sekolah dan tengah berjalan di trotoar. Mereka saling berbincang dengan ekspresi yang ceria. Sesekali tertawa bersama.
Sesekali ia juga melihat kilatan lampu dari kendaraan lain yang membuatnya memincingkan mata karena silau. Tunggu, tiba-tiba saja ada ide yang melintas di pikirannya. Shaka menambah RPM kuda besinya, menyalip setiap kendaraan yang merintangi jalannya. Perjalanan begitu singkat hingga ia tiba di rumahnya.
Pria berambut lurus itu duduk sebentar di teras rumahnya. Ia mengetik pesan di groupnya seraya menyeringai kecil. Ide sudah tersusun rapi di kepalanya.
"Gue mau ngadain pesta di rumah gue. Yang mau ikutan, isi link berikut. Ingat, orang yang gue undang terbatas, jadi buruan isi link pendaftarannya sebelum gue tutup." Begitu bunyi pesan yang Shaka tulis.
Setelah menulis pesan itu, Shaka menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap langit yang mulai menghibarkan senja di sore hari. Sudut bibirnya melengkungkan senyum. Ia sangat yakin dengan cara ini ia bisa mendapatkan data para siswa.
Tidak berselang lama, ponsel Shaka mengulang notifikasi pesan yang terus menerus masuk.
"Demi apa Shaka mau ngadain pesta? Gue udah isi link ya Shaka. Gue pasti dateng, kita seru-seruan ya boy!!" pesan itu di tulis oleh Indah dan disahuti pengirim pesan lainnya. Shaka tersenyum senang, ia yakin rencananya akan berhasil. Mungkin ia harus sedikit menjebak teman-temannya agar memberinya sedikit bocoran tentang kondisi di sekolah.
****