NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LINA DAN LATAR BELAKANGNYA

Beberapa bulan yang lalu

Lina berdiri di depan makam orang tuanya di pemakaman kota, membawa bunga mawar putih yang segar.

Udara pagi yang sejuk membuatnya menggigil sedikit meskipun mengenakan jaket tipis.

"Ma, Pa... hari ini saya akan mulai bekerja di perusahaan baru," bisiknya pelan sambil menyentuh batu nisan yang dingin.

"Perusahaan konstruksi besar, seperti yang selalu kalian harapkan. Saya akan bekerja dengan keras untuk membuat kalian bangga."

Dia duduk di atas batu kecil di depan makam, mulai bercerita tentang kehidupannya setelah kematian orang tuanya tiga tahun lalu.

Ayahnya meninggal karena serangan jantung, sedangkan ibunya mengikuti beberapa bulan kemudian karena sakit hati yang terlalu dalam.

Setelah kematian orang tuanya, Lina tinggal sendirian di rumah kontrakan kecil.

Dia bekerja keras untuk menyelesaikan studi dan mendapatkan pekerjaan yang baik – bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mewujudkan impian orang tuanya yang selalu ingin melihatnya sukses di bidang arsitektur.

"Saya merasa sangat sendirian kadang, Ma," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tidak ada orang yang bisa saya andalkan atau yang benar-benar memahami perasaan saya. Tapi saya akan kuat saja, seperti yang kalian ajarkan."

Ketika dia akan pergi dari pemakaman, dia melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan makam orang tuanya beberapa meter jauhnya.

Pria itu mengenakan jas kerja dan wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam.

Dia tahu siapa pria itu – Rizky Pratama, direktur perusahaan yang akan dia mulai kerjakan esok hari.

Tanpa sadar, dia merasa ada ikatan khusus dengan pria itu. Seolah-olah mereka sama-sama merasakan rasa kehilangan dan kesendirian yang dalam.

                    ****

Kembali ke masa kini

Lina sedang mengemas barang-barangnya ke dalam kotak kardus. Dia telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan dan pindah ke kota lain – jauh dari Rizky dan semua masalah yang telah mereka ciptakan bersama.

Suara dering ponsel membuatnya terhenti. Dia melihat nama yang muncul di layar – Rina, kakak Rizky.

"Hello Kak Rina?"

"Hai Lina, saya tahu ini tidak pantas saya menghubungi Anda," suara Rina terdengar dari sisi lain.

"Tapi saya ingin tahu apa yang benar-benar terjadi antara Anda dan Rizky."

Lina merasa hati menjadi berat. Dia tahu bahwa Rina adalah orang yang baik dan selalu memperlakukannya dengan baik sejak dia mulai bekerja di perusahaan.

"Saya sangat menyesal, Kak Rina," ujar Lina dengan suara bergetar.

"Saya tidak pernah bermaksud untuk merusak keluarga Rizky. Saya hanya... saya hanya jatuh cinta padanya tanpa sengaja."

Dia mulai menceritakan semua yang terjadi – bagaimana dia merasa dekat dengan Rizky karena mereka sama-sama merasakan beban dan kesendirian, bagaimana mereka berusaha untuk menjaga jarak tapi akhirnya tidak bisa mengontrol perasaan mereka.

"Saya mengerti perasaan Anda, Lina," ujar Rina dengan nada yang penuh pengertian.

"Tapi Anda harus paham bahwa apa yang Anda lakukan telah menyakiti banyak orang – terutama Arini dan Tara."

"Saya tahu itu, Kak. Itu sebabnya saya akan pergi dari sini. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan dan pindah jauh dari kota ini agar mereka bisa memperbaiki keluarga mereka tanpa ada gangguan dari saya."

Setelah memutuskan panggilan, Lina kembali melanjutkan pekerjaan mengemasnya. Dia melihat foto kecil yang dia simpan di meja – foto dirinya dan Rizky yang diambil secara tidak sengaja saat mereka bekerja di lokasi proyek.

Dia mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam kotak kecil yang akan dia simpan sebagai kenang-kenangan.

"Saya akan selalu mencintaimu, Pak Rizky," bisiknya pelan sambil melihat foto itu.

"Tetapi cinta yang baik adalah cinta yang tahu kapan harus pergi dan memberikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai."

Sore itu, Lina datang ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dia menemukan Rizky sedang duduk di mejanya dengan wajah yang sangat pucat dan lelah.

Ruangan kantornya tampak berantakan dan penuh dengan tanda-tanda bahwa dia telah bekerja tanpa henti.

"Pak Rizky..."

Rizky mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan.

"Saya sudah tahu bahwa kamu akan pergi. Rina memberitahu saya tentang keputusanmu."

"Saya pikir ini adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan, Pak. Sehingga Anda bisa fokus pada keluarga Anda dan memperbaiki semua yang telah rusak." Lina memberikan surat pengunduran dirinya.

"Saya akan pergi besok pagi. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi."

Rizky berdiri dan mendekatnya dengan langkah yang lambat.

"Jangan salahkan dirimu terlalu banyak, Lina. Ini bukan hanya kesalahanmu saja. Saya juga harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi."

Mereka berdiri diam sebentar, saling melihat tanpa berkata apa-apa. Mereka tahu bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka sebagai orang yang saling mencintai.

Lina kemudian mengangkat tangannya dengan hati-hati dan menyeka air mata yang menetes di pipi Rizky.

"Semoga Anda bisa bahagia kembali dengan keluarga Anda, Pak Rizky," ujarnya dengan suara lembut.

"Semoga Bu Arini bisa memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu."

Setelah itu, Lina berbalik dan pergi dari kantor tanpa melihat ke belakang. Rizky hanya bisa berdiri di sana dengan melihatnya pergi menjauh – merasa campur aduk antara rasa lega dan kesedihan yang mendalam.

Di rumah ibunya, Arini sedang membantu Tara yang sedang menggambar di meja makan.

Anak kecil itu sedang menggambar keluarga mereka tiga orang dengan wajah yang ceria dan tangan saling berpegangan.

"Lihat Mama, ini kita bersama Papa ya," ujar Tara dengan senang. "Saya ingin Papa bisa tinggal bersama kita lagi di rumah."

Arini merasa hati menjadi sakit mendengar kata-kata anaknya. Dia masih tidak tahu apa yang harus dilakukan – apakah harus memberi kesempatan pada Rizky atau memutuskan untuk hidup sendiri dengan Tara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!