Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Sudah 5 bulan berlalu dan kini Risa sudah mendapat kan pekerjaan kembali di kota Ini, pengalaman kerja nya sebagai sekretaris di perusahaan besar sebelum menikah dulu menjadi nilai plus untuk diri nya.
"Permisi!" Tiba terdengar suara seorang laki - laki di depan pintu.
"Siapa yang nek, pagi - pagi udah bertemu!" Risa sedikit heran pasal nya hari masih begitu pagi.
"Entah lah, kamu terus kan sarapan mu. Biar nenek yang lihat!" Nek Asih pun segera berlalu dan dia pergi ke depan untuk memastikan siap tamu nya yang datang berkunjung.
"Maaf nak, cari siapa ya?" Tanya nek Asih pada seorang laki - laki dengan seragam khusus yang sedang berdiri di depan pintu rumah nya.
"Maaf nek, saya ingin mengantar kan surat pada bu Risa!" Laki - laki itu berkata sambil menyerah kan sesuatu pada nenek Asih.
"Oh ya, berikan pada nenek, biar nanti nenek yang berikan pada Risa!" Nek Asih berkata pada laki - laki itu.
"Baik lah nek, ini surat nya. Saya Permisi!" Laki - laki itu pun pergi dari rumah nenek Asih.
"Siapa nek?" Tanya Risa setelah nek Asih kembali ke dapur.
"Ada surat untuk mu nak, nenek tidak tanya siapa pengirim nya!" Nek Asih menyerah kan surat itu pada Risa.
Risa meraih surat itu dari tangan nenek nya dan dia melihat logo Pengadilan Agama di bagian luar surat itu, Risa tahu dari mana surat itu di kirim.
"Dari siapa nak?" Tanya nek Asih pada Risa.
"Ini dari pengadilan agama nek, surat cerai aku dan mas Arvin. Kami sudah resmi bercerai nek!" Jawab Risa sambil menarik nafas dalam - dalam.
"Yang sabar nduk, lepas kan saja laki - laki seperti itu. Nenek yakin, kau pasti akan mendapat kan laki - laki yang lebih baik dari nya!" Nenek Asih menyemangati sang cucu.
"Amiiinn, terima kasih nek!" Risa berkata sambil tersenyum pada nenek nya.
"Allah tidak tidur nak, semua perbuatan pasti akan ada balasan nya!" Nenek Asih menasihati Risa.
Risa merasakan rasa sakit dan perih di dalam hati nya, dia tidak menyangka nasib rumah tangga nya akan berakhir di meja pengadilan. Hal yang tidak pernah terbayang kan oleh Risa sebelum nya, kini semua nya sudah terjadi dan Risa berusaha menerima semua itu dengan lapang dada.
"Nek, Risa pamit dulu ya. Nenek di rumah saja, jangan pergi ke kebun ketika Risa tidak ada!" Risa pamit pada sang nenek sambil mencium tangan nya.
"Iya cucu nenek sayang!" Jawab Nek Asih sambil mencubit hidung mancung milik sang cucu.
Dengan sebuah sepeda motor matic yang di beli nya 3 bulan yang lalu, Risa pergi ke kantor tempat nya bekerja. Sudah 4 bulan Risa bekerja di kantor ini, Risa tidak ingin berlarut - larut dalam kesedihan terlalu lama. Dia yakin Allah pasti sudah menentukan jalan yang terbaik untuk nya.
Sementara Nenek Asih menghabis kan waktu nya dengan mengurus kebun sayuran yang ada di belakang rumah nya, halaman rumah bagian belakang itu masih sangat luas. Jadi nek Asih memanfaatkan nya dengan bercocok tanam, wanita tua itu tidak betah berlama - lama di rumah tanpa melakukan aktifitas apapun.
"Selamat pagi!" Sapa Risa pada beberapa rekan kantor nya yang baru saja tiba.
"Pagi bu Risa!" Jawab salah satu karyawan itu.
Risa terkenal dengan pribadi yang ramah dan sopan pada semua orang, dia tidak pernah membeda - bedakan seseorang berdasarkan status dan jabatan nya.
Saat ini, Risa menjabat sebagai seorang manajer di salah satu perusahaan properti di kota ini. Perusahaan itu sekarang sedang menangani sebuah pembangunan hotel berbintang yang ada di kota ini.
Telepon kantor yang ada di ruangan Risa berdering dan Risa segera mengangkat nya.
"Hallo pak Abi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Risa pada seseorang yang menelepon nya di seberang sana.
"Risa, kamu bisa ke ruangan saya sekarang juga. Ada hal penting yang mau saya bahas!" Perintah pak Abi, atasan nya Risa.
"Iya pak, saya kesana sekarang juga!" Risa pun menutup sambungan telepon nya.
Risa melangkah kan kaki nya menuju ke ruangan pak Abi tanpa membuang waktu lagi, Risa sangat profesional dalam bekerja.
Tok, tok, tok.
"Masuk!" Perintah pak Abi dari dalam.
Risa segera masuk setelah ke ruangan pak Abi.
"Silah kan duduk bu Risa!" Pak Abi mempersilahkan Risa untuk duduk.
"Terima kasih pak!" Jawab Risa sopan sambil duduk di kursi yang ada di hadapan pak Abi.
"Begini Risa, saya sengaja memanggil ibu kemari untuk membicarakan hal yang penting pada bu Risa. Besok pak Alvian, pemilik perusahaan ini akan datang ke kota ini, dan dia akan meninjau secara langsung proyek pembangunan hotel Kasturi yang sedang berjalan. Saya meminta pada bu Risa untuk menemani pak Alvian selama proses peninjauan dan agar bi Risa bisa segera menyiapkan kan berkas - berkas penting yang di minta oleh pak Alvian!" Pak Abi menjelaskan maksudnya memanggil Risa ke ruangan nya.
"Baik pak, akan saya siap kan!" Jawab Risa sambil mengangguk kan kepala nya.
"Pak Alvian akan tinggal selama 6 bulan di kota ini hingga proyek pembangunan hotel itu benar - benar selesai 100%, saya harap ibu Risa bisa membantu pak Alvian selama dia berada di sini!" Ujar pak Abi lagi.
"Insya Allah pak, saya siap melakukan tugas saya dengan sebaik mungkin!" Risa pun menyanggupi semua permintaan pak Abi.
"Terima kasih bu Risa, ibu bisa kembali sekarang!" Pak Abi berkata lagi.
Risa menganguk kan kepala nya, dan dia pun pergi meninggal kan ruangan pak Abi untuk kembali ke ruangan nya.
Waktu sudah jak 12 lewat, itu arti nya sudah waktu nya para pekerja beristirahat. Risa sedang sibuk menyiapkan tugas nya untuk esok hari, tiba - tiba ponsel nya berdering dan Risa segera melihat siapa yang sudah menelepon diri nya.
"Hallo Bian!" Sapa Risa ketika dia menjawab panggilan dari sang sahabat.
"Risa, kok kamu gak pernah cerita sama aku kalau kamu udah pindah dari kota ini!" Terdengar suara penuh kemarahan dari sahabat nya di seberang sana.
"Bian, maaf ya aku sengaja tidak kasih tahu kamu, aku tidak mau membuat mu bersedih!" Risa berkata pada sang sahabat.
"Tega banget ya kamu Sa, pergi dari kota ini tanpa pamit sama aku!" Bian masih marah pada Risa.
"Sekali lagi maafin aku Bian, oh ya Bian makasih ya kamu udah kasih tahu aku waktu itu. Coba kalu kamu gak kasih tahu, mungkin sampai saat bini aku tidak tahu bahwa aku sudah di khianati oleh mereka!" Risa berterima kasih pada sang sahabat, karena berkat diri nya akhir nya Risa mengetahui semua perselingkuhan mereka.
"Iya, tapi aku aku sedih banget Sa, kamu tega banget pergi tanpa kasih tahu aku!" Bianka tampak masih merajuk dengan sahabat nya itu.
"Bian, maaf ya sayang. Waktu istirahat ku udah berakhir, aku kerja dulu ya. Nanti malam aja kita sambung lagi obrolan nya, by Bian!" Panggilan telepon pun tertutup.
Risa memang sangat disiplin dalam bekerja, waktu istirahat nya memang sudah berakhir. Risa tidak ingin ngobrol di waktu kerja nya, itu lah sebab nya dia berjanji pada Bianka untuk bicara nanti malam saja.