NovelToon NovelToon
The Atmaja'S Daughter

The Atmaja'S Daughter

Status: sedang berlangsung
Genre:Satu wanita banyak pria / Enemy to Lovers / Playboy / Tamat
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pagi yang apes

Suasana makan malam di meja marmer itu terasa sangat kontras. Om Yudho tampak bahagia melihat meja makannya penuh, sementara Andreas seperti biasa menjadi sosok penengah yang hangat.

"Bintang, besok hari pertama ospek, kan? Mau Mas antar sekalian ke rumah sakit? Searah kok sama kampus kamu," tawar Andreas lembut sembari memotong steak-nya.

Bintang baru saja mau menjawab, tapi Gading di sebelahnya menyela, "Sama Gading aja Kak! Eh, tapi Gading kan masuk jam tujuh ya... hehe."

"Nggak usah Mas Andreas, makasih. Bintang besok bareng temen, ketemuan di depan komplek," jawab Bintang sopan. Ia melirik ke depan, di mana Lingga duduk dengan gaya angkuh, tampak sama sekali tidak tertarik dengan percakapan itu.

Melihat Lingga yang diam saja, Om Yudho berdeham. "Lingga, kamu kan juga di kampus yang sama. Kamu senior di sana, jaga Bintang kalau ada apa-apa."

Lingga mendengus pelan, hampir tak terdengar. "Dia punya kaki, Pa. Lagian di kampus gue nggak kenal dia," jawab Lingga ketus tanpa melihat ke arah Bintang.

Bintang yang mendengar itu langsung memasang wajah tengilnya. "Tenang aja Om, Bintang bisa jaga diri kok. Lagian kalau deket-deket sama 'kucing garong' nanti malah ketularan galak," sindir Bintang sambil menyuap nasi dengan santai.

Gading tertawa tertahan, sementara Andreas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya dan Bintang.

Makan malam pun selesai. Satu per satu anggota keluarga mulai membubarkan diri ke kamar masing-masing. Bintang berjalan santai menaiki tangga, namun saat ia sampai di lorong lantai dua, Lingga sudah berdiri di sana, bersandar di tembok tepat di depan pintu kamar mereka yang bersebelahan.

Lingga sengaja menghalangi jalan Bintang. Tubuhnya yang tinggi 175 cm itu membuat Bintang benar-benar harus mendongak.

"Minggir, Kak. Gue mau masuk," ucap Bintang dengan nada malas.

Lingga tidak bergeming. Ia menunduk sedikit, menatap tajam ke dalam mata Bintang dengan sorot yang mengancam namun penuh arti.

"Lo pikir karena ada Papa sama Bang Andreas, lo bisa seenaknya di sini?" bisik Lingga dengan suara berat yang dingin.

Bintang menyilangkan tangan di dada, tidak gentar sedikit pun. "Lo pikir gue takut sama lo?"

Lingga menyeringai tipis, sebuah seringai menyebalkan yang membuat jantung Bintang sedikit berdegup aneh. Lingga kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Bintang, membuat Bintang bisa mencium aroma parfum maskulin cowok itu.

"Nikmatin malam terakhir lo dengan tenang, Bintang," bisik Lingga pelan namun penuh penekanan. "Awas aja besok. Di kampus, lo itu urusan gue. Gue bakal bikin lo nyesel udah masuk ke rumah ini."

Setelah mengatakan itu, Lingga masuk ke kamarnya sendiri dan membanting pintu cukup keras, meninggalkan Bintang yang berdiri terpaku di lorong.

"Dih, apa-apaan sih dia? Penguasa kampus? Liat aja besok, siapa yang bakal nyesel!" gerutu Bintang sambil mengepalkan tangan, meskipun ada sedikit rasa penasaran menyelinap di hatinya, tantangan seperti apa yang akan diberikan seniornya itu saat ospek dimulai.

Sinar matahari pagi menembus celah gorden Mansion Atmaja, menyinari wajah Bintang yang sudah siap tempur. Gadis itu tampil rapi dengan kemeja putih bersih dan rok hitam panjang yang sopan di bawah lutut. Meski tubuhnya hanya 155 cm, pakaian itu membuatnya terlihat sangat manis namun tetap bersahaja.

Bintang menuruni tangga dan mendapati Om Yudho, Andreas, dan Gading sudah berkumpul di meja makan.

"Pagi semuanya!" sapa Bintang ceria.

"Pagi Bintang. Ayo sarapan dulu, kamu harus punya tenaga buat ospek hari pertama," ajak Om Yudho hangat. Bintang segera duduk dan mulai menyantap sarapannya.

Di sela makan, Om Yudho menatap Bintang serius. "Jaga diri ya kamu di kampus. Kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu Om atau kakak-kakak kamu."

"Bareng Mas Andre aja, Bintang. Mas sekalian berangkat ke rumah sakit, searah kok," tawar Andreas sembari merapikan jam tangannya.

Bintang menggeleng sopan sambil tersenyum. "Eh, nggak usah Mas, makasih banget. Nanti malah ngerepotin, lagian Bintang udah janji berangkat bareng temen."

Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar menuruni tangga. Lingga muncul dengan gaya angkuh, kunci motor diputar-putar di jarinya.

"Lingga, kamu nggak sarapan dulu?" tanya Om Yudho.

"Nggak, Pa. Mau jemput Dea," jawab Lingga singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bintang.

Bintang yang sedang mengunyah roti langsung terhenti. Oh, jadi si kucing garong ini udah punya cewek? Dea namanya... kasihan banget tuh cewek dapet cowok

modelan begini, batin Bintang.

"Pamit ya, Om. Assalamualaikum!" Bintang segera menyalami Om Yudho dan bergegas keluar.

Di depan komplek, Mery sudah menunggu di atas motornya. "Yok gas, Bin! Berangkat!"

Namun, nasib malang sepertinya sedang hobi menempel pada mereka. Baru setengah perjalanan, motor Mery terasa oleng dan berat.

"Anjir, kempes ban nya, Bin!" teriak Mery panik saat mereka terpaksa berhenti di pinggir jalan.

Bintang melirik jam di ponselnya dengan jantung berdebar. "Sekarang jam 7, Mer! Duh, gimana nih?"

"Ayo kita dorong, Bin! Kita cari bengkel terdekat," ajak Mery. Mereka berdua bersusah payah mendorong motor di bawah terik matahari pagi sampai akhirnya menemukan bengkel. Saat motor mulai diperbaiki, jam sudah menunjukkan pukul 07.30.

"Bang, masih lama ya?" tanya Bintang tidak sabaran. "Bentar neng, dikit lagi," sahut abang bengkelnya santai.

Mery memegang kepalanya frustrasi. "Omaygoat, ini gimana Bin?" "Udah neng, beres," ucap abang bengkel akhirnya. "Dua puluh ribu."

Setelah membayar kilat, mereka langsung tancap gas. Bintang kembali mengecek ponselnya. "Jam berapa, Bin?" tanya Mery sambil mengebut.

"Delapan kurang, Mer! Astaghfirullah haladzim... mampus kita!" teriak Bintang pasrah.

Benar saja, saat mereka sampai di gerbang kampus yang menjulang tinggi, waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 Suasana kampus sudah sangat hening karena semua maba sudah masuk ke lapangan. Gerbang utama pun sudah tertutup rapat dan dijaga oleh beberapa senior dengan almamater yang terlihat sangat berwibawa... dan galak.

Bintang turun dari motor dengan kaki lemas. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri paling depan dengan nametag panitia di dadanya.

Itu Lingga. Dia berdiri di sana dengan aura penguasa, melipat tangan di dada sambil menatap tajam ke arah gerbang. Di sampingnya, berdiri seorang gadis cantik yang Bintang yakini adalah Dea, pacarnya.

Lingga melirik jam tangannya, lalu pandangannya jatuh tepat pada Bintang yang berdiri gemetaran di luar pagar dengan baju yang sedikit kusut karena keringat. Sebuah seringai kemenangan terukir di wajah tampannya.

"Mampus gue, Mer," bisik Bintang lemas. "Kucing garongnya beneran nungguin di depan gerbang."

Lingga berjalan perlahan menuju gerbang besi, menatap Bintang dengan tatapan mengejek. "Ternyata beneran telat. Hebat ya, maba baru udah berani datang jam segini."

Lingga sengaja tidak membukakan pintu, malah mendekatkan wajahnya ke celah pagar. "Awas aja lo hari ini, Bintang. Gue bakal bikin lo inget seumur hidup gimana rasanya telat di hari pertama gue yang jaga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!