Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Alya memaki dirinya sendiri dalam hati karena selalu saja nekat melontarkan pertanyaan seperti itu pada Romeo. Rasanya, jika benar ada pintu ke mana saja, ia ingin segera menghilang entah bersembunyi di baliknya atau menenggelamkan diri dari situasi.
Tak ada jawaban dari Romeo. Suaminya menatap Alya dengan pandangan yang berbeda tajam dan menuntut. Melihat itu, Alya berusaha tetap tenang, menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangannya, takut akan dicemooh atau dimarahi oleh suaminya sendiri.
“Cih, kamu benar-benar percaya diri, ya.” cibir Romeo sambil menatap Alya dengan dingin.
“Bukan soal percaya diri, aku cuma bertanya. Aneh saja, Tuan, melarangku ini dan itu padahal kita sudah membuat perjanjian.” balas Alya.
“Kamu seorang wanita, Alya. Bayangkan jika ada yang melihat seorang istri berjalan berdua dengan pria lain, citramu bisa tercoreng dan orang akan menilai buruk, bahkan menyebutmu jalang.” jelas Romeo tanpa menyadari nada kerasnya.
"Apakah maksud Anda menanyakan apakah saya hanya berdua dengannya di sana? Tidak begitu. Lalu kenapa Anda langsung menganggap kami hanya bertemu berdua?"
Romeo terhenti sejenak, baru menyadari bahwa tadi ia tak menanyakan hal itu.
"Lagipula, apa yang akan dipikirkan orang ketika mereka tahu seorang pria yang baru menikah malah pergi ke klub malam bersama wanita lain? Bukankah itu seharusnya membuatmu berpikir?" balas Alya.
"Hubungan saya dengan Tania sudah benar-benar berakhir." Romeo menegaskan dengan nada dingin.
"Itu bukan urusan saya, dan saya sama sekali tak peduli, Tuan." balas Alya.
"Tapi kamu malah dekat dengan pria lain, sementara aku tidak." gerutu Romeo kesal.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria lain, termasuk denganmu, selain sebagai suami di atas kertas, Tuan Romeo Andreas. Lagipula, apakah ada jaminan bahwa kau sendiri tidak dekat dengan wanita lain, misalnya kolega bisnis?" balas Alya, membuat Romeo tersentak.
Romeo terasa geram luar biasa. Penyesalan karena doanya kemarin agar Alya pulih sempat menyergap, namun kini ia memutuskan, biarlah Alya merasakan Kesakitan sendirian.
"Yang jelas, aku tidak ingin kamu berdua saja dengan pria lain. Habiskan sarapanmu, dokter tak lama lagi akan datang." kata Romeo acuh, sambil melangkah keluar.
"Mau ke mana, Tuan?" tanya Alya dengan suara kecil namun penasaran.
"Itu bukan urusanmu." jawab Romeo dingin, matanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Alya.
"Ta… tapi…" suara Alya tercekat.
Tanpa menoleh, Romeo meninggalkan ruangan, meninggalkan Alya sendiri. Ia menahan napas, berharap petugas rumah sakit tak menagih biaya padanya.
Di kantin rumah sakit, Romeo bertemu Satria, Arjuna, dan Edgar. Mereka menyetujui apapun keputusan Romeo, termasuk jika ia memutuskan bertemu dengan pria Inggris yang bernama Akram.
"Serius, lo beneran mau ketemu sama dia?" Satria menatap Romeo dengan sorot mata tegang.
"Aku nggak mau ketemu di situ. Gimana kalau di Singapura saja? Menurut lo gimana?" menatap Satria serius
"Ya, itu memang lebih aman. Kita harus berada di wilayah sendiri saat menghadapi lawan. Lagipula, untuk saat ini, Anggap saja Akram musuh kita, karena dia berada di pihak Tania." Satria menarik napas panjang.
"Besok pagi, atur jadwal penerbanganku ke Singapura setelah aku kabari dia. Soal tempat bertemu, biar kita yang tentuin sendiri." Romeo menatap Satria dengan serius.
"Aman, Rom. Tapi gimana dengan istri lo? Masih perlu dirawat, kan?" tanya Satria, nada suaranya mengandung sedikit kekhawatiran.
"Dia baru pulang malam nanti, Sat. Gue mau lo siapin bodyguard jarak jauh buat Alya." ucapnya, nada suara tegas tapi tenang.
"Untuk apa? "
"Ya, antisipasi aja." jawabnya singkat, nada suaranya penuh kewaspadaan.
"Lo yakin, ini bukan cuma karena lo takut dia punya cowok?" Satria menatap tajam, suaranya terdengar menekan.
"Takut? Ngomong apa lo. Gue cuma nggak mau harga diri gue tercoreng karena dia seenaknya main sama cowok lain, padahal dia masih istri gue." jelasnya dengan tegas.
"Makanya, coba deh lo buka hati buat dia. Salah dia apa sampai lo bisa benci banget sama dia?" Satria menatap Romeo penuh harap.
"Gue bilang, jangan paksa gue." kata Romeo suaranya serak, menahan emosi.
"Gue nggak maksa, cuma nanya. Apa ini gara-gara Tania? Lo kan tahu sendiri bagaimana sifat asli pacar lo." Satria menegakkan badan, matanya menatap tajam sahabatnya.
Romeo terdiam, tak segera menjawab. Dalam hatinya, sebagian kata-kata Satria terasa benar. Dia pun bingung sendiri, kenapa perasaan itu muncul kenapa dia bisa merasa tidak menyukai Alya.
"Dengerin baik-baik, Rom. Istri lo itu cantik, sangat cantik malah. Kurang apa dia? Masih kuliah tapi rela jadi ibu sambung untuk anak-anak lo. Bahkan nggak dicintai sama bapaknya si anak, dan dia setuju nikah cuma karena lo bayar hutangnya. Tapi dia punya perasaan, Rom. Gue nggak kebayang kalau dia misalnya jadi adik gue, terus lo perlakukan seenaknya. Lo habis kalau sampai gitu." jelas Satria serius, tanpa bisa menyembunyikan kemarahannya.
Sejak pertama kali melihat Alya, Satria tak bisa menahan rasa iba yang muncul dalam hatinya terhadap gadis itu.
"Gue takut, Sat takut perasaan gue malah nyakitin dia." bisik Romeo pelan.
"Eh, maksud lo gimana, Rom?" ucapnya, suaranya menahan sedikit kesal.
"Gue takut saat gue mulai mencintainya, gue malah melihat Zalina di dirinya. Sat, selama ini gue bertahan sama Tania karena dia begitu berbeda dengan Zalina. Tapi Alya sikap dan caranya mirip banget sama mendiang istri gue. Gue nggak mau salah dalam mencintai dia." Romeo menarik napas panjang dan menjelaskan dengan suara serak.
Satria terhenti sejenak, sulit rasanya membayangkan seberapa rumit perasaan Romeo saat ini.
"Gue makin nggak kuat, Sat apalagi liat si kembar nyaman banget sama dia, kayak ibu kandungnya sendiri. Rasanya, gue malah lihat Zalina di diri Alya." sambungnya lagi, suaranya serak penuh perasaan.
"Jadi ini yang bikin lo dingin sama dia tapi kemarin waktu dia sakit, lo ketakutan juga, kan? Lo trauma dia bakal sama kayak mendiang istri lo, gitu." Satria menatap tajam, nada suaranya menyelidik.
"Benar, semua itu yang bikin gue begini." katanya, suara serak tapi tegas.
"Gue bener-bener bingung harus gimana lagi. Tapi satu yang harus lo inget, Rom, Alya dan Zalina itu dua orang berbeda. Nama mereka beda, wajah beda, bentuk tubuh mungkin juga beda, dan Alya tetaplah Alya. Sementara Zalina tetap Zalina, mereka nggak sama. Lo belum ikhlas sama kepergian mendiang istri lo, tapi udah nemuin seseorang yang perilakunya mirip Zalina. Itu yang bikin lo salah." ujar Satria lagi, suaranya tegas tapi penuh kekhawatiran.
Satria memang benar, selama ini Romeo keliru menata perasaannya, menyamakan Zalina dan Alya dalam satu ruang yang sama di hatinya.
Kenyataan yang paling berat diterima adalah bahwa sosok yang telah pergi tak akan mudah tergantikan oleh siapa pun.
"Makasih, Sat. Sekarang gue paham harus ngapain." ucap Romeo pelan, tapi tegas.
"Besok, lo bawa Alya." Satria menatap tajam.
"Siapin semuanya, Sat. Mulai sekarang, dia harus selalu ikut gue ke mana pun gue pergi." Romeo menatap Satria dengan tegas.
Satria tersenyum tipis, yakin bahwa kata-katanya tadi sudah dipahami sepenuhnya oleh Romeo.
Usai pertemuannya dengan Satria, Romeo langsung mengirim pesan kepada Akram, mengatur pertemuan di Singapura. Jika Akram menolak, Romeo sudah memutuskan tak ingin lagi berurusan dengan pria Inggris itu.
“Oke, dia setuju bertemu di Singapura.Permainan sudah dimulai, Tania. Sekarang tinggal lihat, siapa yang akan tumbang lo atau gue. " Romeo menatap layar ponselnya sesaat, rahangnya mengeras. Itu pertanda masalah ini bukan lagi main‑main.
Romeo kembali ke kamar Alya dengan perasaan sadar . Sudah terlalu lama dia meninggalkan mendiang istrinya. Namun, begitu membuka pintu kamar, hatinya tersentak Alya tak ada di sana.
"Alya… Alya!" teriak Romeo panik, suaranya bergema di kamar kosong.
Romeo menyapu pandangannya ke seluruh sudut kamar VIP itu, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran istrinya. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu ruangan yang belum ia masuki toilet.
"Alya… tolong jawab!" gumam Romeo, tangannya terus menekan pintu toilet, jantungnya berdebar kencang.
"Alya… kamu baik-baik saja kan? Jawab saya! Lo di dalam atau nggak?" teriak Romeo lagi, panik jelas terdengar dalam suaranya.
Meski tak ada jawaban, Romeo yakin Alya berada di dalam. Lampu indikator pada kode pintu menunjukkan bahwa ada seseorang yang menutup pintu dari dalam.
"Alya! Jawab sekarang! Jangan paksa saya hancurin pintu ini!" Dengan tangan mengepal, Romeo berteriak keras.
Dengan penampilan yang sudah berantakan, Romeo bersiap mendobrak pintu itu. Soal ganti rugi tak lagi dipedulikannya yang penting Alya bisa keluar dengan selamat dari sana, pikirnya.
Sementara Romeo panik di luar, Alya pun tak kalah cemas. Bagaimana bisa tenang, pikirnya, ketika rasa malu menguasai? Dia terduduk di atas toilet, menahan diri untuk keluar karena tamu bulanannya datang dan sayangnya, ia tak membawa pembalut sama sekali.
"Gimana nih kalau dia benar-benar masuk paksa? Gue nggak sanggup, malu bange." gumam Alya panik di dalam toilet.
"Alya, dengar gue!Gue hitung tiga kali. Di hitungan terakhir gue dobrak pintunya. Menjauh dari pintu!" teriak Romeo lantang.
“Aduh, habis gue gimana ini?” Alya panik, napasnya memburu.
"Hitungan pertama… satu." katanya sambil mengetuk pintu sedikit, suaranya berat penuh ancaman.
"Ya ampun, gimana nih." Alya mengeluh, keringat mulai menetes di dahinya.
"Dua!" teriaknya singkat, nada suara penuh tekanan saat dia siap menghantam pintu.
"Ti…" suaranya tercekat, menahan ketegangan sebelum hitungan terakhir.
"Stop!" jerit Alya, matanya terpejam kuat, jantungnya berdegup kencang.
Romeo, yang sudah siap mendobrak pintu dengan posisi kuda-kuda, mendadak terhenti, matanya membelalak. Ternyata benar Alya ada di dalam, dan dari situasinya, jelas dia sedang tidak baik-baik saja.
Dengan langkah cepat, Romeo mendekati pintu dan mengetuknya lagi, kali ini lebih pelan, mencoba menenangkan diri sambil menunggu reaksi dari dalam.
"Alya, kamu aman di dalam, kan?" Dengan nada lembut namun tegang, Romeo memanggil.
"Iya… Tuan." bisik Alya, suaranya gemetar ketakutan.
"Maaf saya lama ninggalin kamu. Kok kamu di dalam? Pintu ini rusak, ya, atau gimana?" tanya Romeo, suara campur penasaran dan khawatir.
"Nggak, Tuan." jawab Alya cepat, suara penuh ketakutan.
"Jadi kenapa? Mau saya masuk aja? Buka pintunya, biar saya bantu kamu keluar." ucap Romeo lagi, nada suaranya campur tegas dan khawatir.
"Maaf, Tuan bisa tolong bantu saya?" gumamnya pelan, suaranya gemetar karena cemas.
"Jadi mau saya lakukan apa sekarang? Katakan." ucapnya, menahan napas sambil menatap pintu.
"Tolong beliin saya pembalut tuan." ucap Alya lantang, nada suaranya tegas tapi cemas.
“Eh dia minta gue beli pembalut?” batinnya, suara hati campur antara kaget dan geli.
"Maaf, Tuan. Sayanggak bisa keluar sekarang. Tamu bulanan saya lagi datang." ucap Alya sambil menahan rasa malu.
"Diam di sini, jangan gerak dan jangan buka pintu sampai saya datang. Ngerti?" ucapnya singkat, nada penuh perintah.
"Baik, Tuan." jawabnya pelan, suara masih terdengar gemetar.
Romeo segera bergegas menuju supermarket yang berada di area rumah sakit. Sesampainya di sana, ia kebingungan merek apa yang harus dibeli, ukuran yang tepat bagaimana, karena pilihannya begitu banyak.
"Aduh gue lupa nanya, harus beli yang mana." gerutu Romeo, wajahnya terlihat jengkel.
Melihat deretan bungkus yang tersusun rapi di rak, Romeo benar-benar kebingungan. Pilihan mana yang tepat untuk Alya, ia sama sekali tak tahu.
“Ah beli semuanya saja kali ya.” gumam Romeo, setengah tersenyum konyol melihat banyak pilihan.
Tiba-tiba, seorang ibu mendekati Romeo, yang sejak tadi tampak sangat bingung di antara rak-rak supermarket.
"Mas, lagi nyari apa?" tanya ibu itu ramah, menatap Romeo.
"Oh, ini saya cari buat istri." ucap Romeo pelan, wajahnya merah karena malu, sambil menunjuk rak itu.
"Oh, istrinya baru aja melahirkan, ya?" tanya ibu itu, nada suaranya penuh penasaran.
"Ah, enggak, Bu istri saya belum hamil. Ini saya cari karena dia lagi kedatangan tamu bulanan." ucap Romeo, suaranya gemetar malu.
"Oh jadi belum melahirkan ya? Biasanya dia pakai yang ada sayapnya atau enggak?" tanya ibu itu, matanya masih menelusuri rak pembalut.
"Maksud Ibu apa, Bu?" tanya Romeo sambil menggaruk pelipisnya, padahal sama sekali tak gatal.
"Wajar sih, pengantin baru. Jadi belum tahu kebiasaan istrinya. Maksud saya, dia pakai pembalut bersayap atau yang biasa saja, karena jenisnya kan beda-beda." ucap ibu itu sambil tersenyum.
"Benar-benar ada sayapnya, Bu?" tanya Romeo polos, wajahnya masih bingung tapi penasaran.
Kepolosan Romeo membuat si ibu tersenyum geli sendiri.
"Mas, coba merk ini deh. Nyaman banget. Ada yang sayap, ada yang biasa ambil keduanya aja biar aman. Pas istri datang bulan, mood-nya suka naik turun, gampang marah. Jadi harus sabar-sabar, Mas." jelas si ibu sambil tersenyum.
"Begitu ya, Bu kira-kira berapa lama mood-nya jelek pas datang bulan?" gumamnya polos sambil menggaruk kepala.
"Seminggu paling lama, Mas. Biar dia nggak emosian, sediakan banyak cemilan. Dia bisa makan terus, jadi nggak emosian. Nikahnya dijodohin ya, Mas, sampai nggak sadar kalau istri lagi datang bulan." kata ibu itu, nada bicara manja tapi lucu.
"Wah, tau aja, Bu. Terima kasih ya, Bu, udah nolongin saya tadi. Biarlah saya yang bayar belanjaannya, ibu nggak usah mikirin." ucap Romeo tersenyum ramah.
"Enggak usah, Mas. Nggak apa-apa, saya bisa bayar sendiri." ucap ibu itu sambil tersenyum sopan.
"Ah, nggak apa-apa, Bu. Biarlah saya yang bayar sebagai tanda terima kasih. Ambil aja yang ibu mau, saya yang tanggung. Tapi jangan lama-lama ya, istri saya nungguin." ucap Romeo sopan.
"Gak usah ambil banyak-banyak, Mas. Cukup ini aja, Makasih ya, semoga istri Mas cepat sembuh dan dikasih momongan kalau lagi program. Amin." ujar ibu itu dengan senyum hangat.
"Terima kasih, Bu doanya." ucap Romeo pelan, hatinya tersentuh oleh ketulusan ibu itu.
Begitu semua urusan pembayaran selesai, Romeo segera berlari kembali ke kamar Alya.
"Alya kamu masih di dalam, kan?" panggil Romeo setibanya di depan pintu toilet, nada suaranya cemas.
"Iya, Tuan… taruh aja di gagang pintu, nanti saya ambil." jawab Alya pelan.
Apa yang diperintahkan istrinya, Romeo lakukan, sambil menahan diri untuk tidak menolong lebih jauh.
"Astaga, ini banyak sekali, Tuan!"
"Gak masalah, duit saya cukup. Bisa buat stok kamu selama sebulan." jawab Romeo santai tapi tegas.
Alya pun keluar dari toilet, napasnya terasa lega. Namun begitu pintu dibuka, matanya terbelalak melihat Romeo dengan kantung belanjaan yang kini menumpuk di sofa.
"Ini kejutan, stok cemilan lengkap buat kamu selama datang bulan." ujar Romeo sambil menatap Alya penuh perhatian.
"A-apa maksudnya, Tuan?" ucapnya terbata-bata, campur malu dan terkejut.