Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat cake bersama
...Selamat membaca...
Nara menghela napas panjang begitu kakinya benar-benar keluar dari gerbang mansion yang baginya lebih mirip penjara mewah. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut semata, melainkan karena perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan terseret sejauh ini, apalagi oleh pria yang telah merenggut kesuciannya dengan cara yang begitu kejam.
Namun, Nara memilih untuk tidak memikirkan semuanya terlalu dalam. Jika ia terus mengingat kejadian itu, kepalanya akan semakin penuh dan hatinya semakin rapuh. Ia hanya ingin pulang, kembali ke dunianya yang sederhana meski tak selalu ramah.
Dalam perjalanan pulang, Nara memutuskan untuk mampir ke toko bahan kue. Pesanan dua ratus potong kue masih terngiang di kepalanya. Jumlah itu bukan sedikit, dan ia tidak punya kemewahan waktu untuk bermalas-malasan. Setidaknya, pekerjaan bisa menjadi pelarian terbaik dari luka batin yang terus menganga.
Nara mendorong troli kecil, menyusuri lorong toko dengan wajah fokus. Tepung, mentega, telur, cokelat, gula, susu—semuanya ia masukkan satu per satu dengan teliti. Tangannya bergerak cepat, seolah sudah hafal apa yang harus diambil. Sesekali ia melirik daftar kecil di ponselnya, memastikan tidak ada bahan yang tertinggal.
Setelah semua kebutuhan terpenuhi, Nara segera menuju kasir. Ia melirik jam di dinding toko dan menelan ludah. Hari sudah semakin sore. Ia tidak ingin pulang terlalu malam. Bundanya pasti akan kembali bersikap dingin, atau lebih buruk—marah tanpa kata.
Sesampainya di rumah, Nara langsung berganti pakaian dan melangkah ke dapur. Rumah itu terasa sunyi seperti biasa. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan. Ia sudah terbiasa dengan kesepian semacam ini.
Tanpa menunda waktu, Nara mulai menyiapkan bahan-bahan kue. Ia memecahkan telur satu per satu ke dalam wadah besar. Namun, baru satu telur yang berhasil ia pecahkan, rasa mual tiba-tiba menyeruak dari dalam perutnya. Dadanya terasa bergelombang, tenggorokannya perih.
Nara menutup mulutnya dan berlari kecil menuju wastafel.
“Huwekk…”
Namun, tak ada apa pun yang keluar selain cairan bening. Ia terengah, berpegangan pada pinggiran wastafel, lalu mengusap wajahnya dengan tangan gemetar.
“Sepertinya asam lambungku naik,” gumamnya pelan. “Mungkin karena belum makan.”
Ia menegakkan tubuhnya perlahan, mengambil segelas air putih, lalu meminumnya sedikit demi sedikit hingga rasa mual itu mereda. Wajahnya tampak pucat di pantulan kaca dapur, tetapi Nara memaksakan diri tersenyum kecil.
Ia kembali ke meja dapur dan melanjutkan pekerjaannya. Tangannya bergerak lebih pelan kali ini, tetapi penuh ketekunan. Mengaduk adonan, menimbang bahan, menyiapkan loyang—semua ia lakukan dengan kesabaran ekstra. Bagi Nara, membuat kue bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara bertahan hidup.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Ketika Nara akhirnya berhenti sejenak dan melirik jam, jarum pendek sudah menunjukkan angka sembilan malam. Tubuhnya terasa lelah, pundaknya pegal, dan matanya perih.
“Besok saja dilanjutin,” ucapnya lirih.
Untungnya, jadwal kampusnya kosong keesokan hari. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan semuanya secara bertahap. Nara membersihkan meja dapur, menutup bahan-bahan kue dengan rapi, lalu berjalan menuju kamarnya.
Di balik kelelahan fisik itu, ada satu hal yang tidak ia sadari—malam ini mungkin ia pulang dengan selamat, tetapi bayangan masa lalu dan pria bernama Raviel belum benar-benar pergi dari hidupnya.
Dan Nara sama sekali belum siap menghadapi apa yang akan datang selanjutnya.
★★★
Tasya sudah siap dengan penampilannya pagi itu. Rambutnya tergerai rapi, tas selempang kecil menggantung di bahunya. Sejak subuh ia sudah berniat datang ke rumah Nara. Bukan tanpa alasan—Tasya tahu betul hubungan Nara dan Tante Amara sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu pasti kelelahan, sendirian, dan terlalu keras pada dirinya sendiri. Selain ingin membantu membuat cake, Tasya juga sekadar ingin memastikan sahabatnya baik-baik saja. Dan, tentu saja, ia tak menolak alasan tambahan: cake buatan Nara memang selalu berhasil membuat siapa pun jatuh cinta.
Tok. Tok. Tok.
Beberapa kali Tasya mengetuk pintu rumah sederhana itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Sosok Nara muncul dengan wajah pucat dan mata yang tampak sedikit sembab.
“Nar… muka lo kok pucat gitu? Lo sakit?” tanya Tasya spontan, nadanya penuh khawatir.
Nara tersenyum kecil, berusaha terlihat santai meski tubuhnya terasa lemas. “Ah, enggak kok. Cuma agak capek aja. Mungkin karena kebanyakan bikin cake,” jawabnya ringan, meski sebenarnya kepalanya masih terasa sedikit pening.
Tasya menatap Nara lekat-lekat, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Beneran?”
“Iya. Jangan khawatir,” Nara mengangguk pelan.
“Oh iya, aku kira kamu nggak jadi ke sini,” lanjut Nara sambil membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Tasya masuk.
“Jadi dong. Masa ninggalin sahabat sendiri,” jawab Tasya sambil tersenyum.
Begitu masuk ke dapur, Tasya langsung terdiam. Pandangannya menyapu meja dan rak-rak yang dipenuhi loyang cake dengan berbagai ukuran. Ada yang sudah dihias, ada pula yang masih menunggu giliran untuk dipanggang. Jumlahnya tidak sedikit.
“Buset, Nar… ini banyak banget. Lo bikin cake buat acara apa sih?” tanya Tasya sambil mendekat, matanya berbinar.
Nara menghela napas pelan. “Buat pesanan perusahaan. Aku agak lupa detailnya sih… tapi namanya perusahaan Althaire.”
Kalimat itu membuat Tasya seketika membeku.
“A–Althaire?” ucapnya terbata, menoleh cepat ke arah Nara. “Lo serius?”
“Iya. Kenapa emangnya?” Nara mengernyit heran. “Kamu pikir aku ngarang?”
Tasya menatap Nara tak percaya. “Nar, lo nggak tau ya? Perusahaan Althaire itu nomor dua di negara kita. Gede banget. Dan ceonya katanya ganteng parah,” ucap Tasya dengan nada antusias yang sulit disembunyikan.
Nara mendengus kecil. “Ih, fokus kamu ke situ terus. Kalau udah bahas cowok ganteng, langsung semangat.”
Tasya terkekeh. “Ya ampun, maaf-maaf. Refleks.”
Nara menggeleng sambil tersenyum tipis. “Jadi gimana? Kamu jadi bantuin aku, kan? Nanti hasil cake-nya aku bagi, sama uangnya juga.”
Tasya langsung menggeleng tegas. “Enggak. Gue nggak mau uangnya. Gue cuma mau cakenya aja.”
“Kenapa?” Nara menatapnya bingung.
“Karena gue tau lo lagi butuh uang, Nar,” jawab Tasya jujur. “Dan gue di sini bukan buat cari untung. Gue di sini karena lo sahabat gue.”
Mata Nara langsung berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Sudah lama rasanya tak ada yang benar-benar memikirkan dirinya tanpa pamrih seperti ini.
“Eh, jangan nangis dong,” ucap Tasya panik sambil memeluk Nara. “Lo kan sahabat gue. Kalau lo nangis, nanti wajah Lo jadi jelek.”
Nara tertawa kecil di sela air matanya. “Ih, apaan sih.”
“Udah, udah,” Tasya melepaskan pelukan. “Ayo kita bikin cake-nya sekarang. Daripada kebanyakan mikir.”
“Iya,” jawab Nara pelan, senyum tipis terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Di dapur sederhana itu, dua sahabat mulai bekerja berdampingan. Suara mixer, aroma adonan, dan tawa kecil Tasya perlahan mengisi ruang yang biasanya sunyi. Meski lelah dan luka masih ada.