NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:512.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Semurah Itu

...☕🍜Ada banyak cara untuk membuat hati merasa ikhlas. Salah satunya adalah dengan pura-pura lupa. Hingga kepura-puraan itu membuatmu benar-benar lupa bahwa hatimu pernah terluka🍜☕...

Pohon bambu di halaman rumah Abdullah meliuk-liuk diterpa angin. Dedaunan basah oleh air embun. Udara dingin menusuk kulit. Tanpa adanya alat pendingin, desa itu sudah dingin alami murni dari keasriannya. Desa itu masih berselimut kabut, yang perlahan-lahan memudar.

Maira sedang menyeduh ritual paginya, juga untuk laki-laki yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

Anak dan Bapak itu sama-sama menyukai kopi. Kopi memang selalu menjadi hidangan pilihan di pagi hari bagi sebagian orang. Pasalnya, selain aroma yang kata mereka nikmat, katanya juga dapat menambah semangat.

Setelah berpuluh-puluh hari tidak menikmati kopi bersama, pagi ini akhirnya Maira dapat menikmati kembali ritual paginya bersama sang Bapak.

Matahari malu-malu mendongak. Perlahan cahayanya merambat di sela-sela pohon bambu. Sedikit mengurangi hawa dingin pagi ini.

Abdullah menikmati singkong goreng yang tadi dibuat oleh Maira. Di pedesaan, kopi selalu berteman dekat dengan singkong. Jika di perkotaan karena singkong sedikit sulit didapatkan, maka pengganti singkong adalah gorengan. Seperti, tempe mendoan, bakwan, tahu isi, risol, dan macam-macam gorengan lainnya.

"Singkongnya dapat dari mana, Pak?" Maira bertanya, sebab dia tahu Abdullah sudah tak punya lahan sendiri untuk bertanam. Biasanya dapat dari tetangga, saudara, atau dari orang yang memakai tenaga beliau.

"Bibi Fatimah yang antar, tepat sebelum kamu datang," jawabnya sembari mengunyah singkong goreng di mulutnya.

Fatimah adalah anak kedua, adik persis di bawah Abdullah. Dua adik di bawah Fatimah tinggal di beda desa, terpisah berkilo-kilo meter dari desa itu. Sedang adik satu lagi adalah Firman, si biang masalah yang entah di mana.

Bibi adalah sebutan untuk Maira kepada Fatimah. Dia tinggal di desa yang sama dengan Abdullah. Rumahnya berjarak sekitar lima ratus meter dengan rumah Abdullah. Hari ini Maira akan berkunjung ke sana.

***

"Begitulah, Kakang Si Dul, Nduk. Dari dulu mau saja bertanggung jawab atas perbuatan Firman. Akhirnya sampai sekarang dia terus memanfaatkan bapakmu. Benar-benar tak tahu diri!" ujar wanita paruh baya, tangannya sibuk menabur pewarna makanan pada adonan singkong yang sudah dihaluskan.

Wanita itu adalah Fatimah. Sehari-hari ia dan suaminya membuat kerupuk gople, kerupuk khas desa tersebut.

Bahan dasarnya adalah singkong. Singkong yang sudah diparut, lalu diperas dengan alat tertentu guna membuang airnya dan mendapatkan parutan yang kering. Lalu diberi garam dan pewarna makanan. Biasanya pewarna makanan yang digunakan adalah warna merah. Lalu diolah sedemikian rupa menjadi kerupuk.

Kerupuk yang masih mentah itu disetor ke pusat khusus penjualan kerupuk gople, tepatnya di sebuah pasar yang terbilang sebagai pasar induk dari berbagai desa di kecamatan tersebut.

Dari hasil membuat kerupuk gople-lah, Fatimah bersama keluarganya menyambung hidup. Meski Fatimah terbilang sudah tua, tapi tubuhnya masih terlihat sehat dan kuat.

Maira banyak diam mendengar penuturan Bibinya. Sembari mendengarkan, Maira ikutan sibuk membantu Fatimah mencampur parutan singkong dengan pewarna makanan. Maira tak peduli tangan lentiknya yang berwarna merah akibat pewarna makanan.

"Bibimu ini juga tak bisa banyak membantu, Nduk. Cuma bisa bilang kasihan dan turut prihatin. Tak berguna apa-apa …." Fatimah menghela napas panjang.

"Bibi Zainab dan Paman Hasan, mungkin belum mendengar kabar ini … secepatnya mereka harus tahu agar kita bisa berembug menyelesaikan masalah ini."

Pemikiran Fatimah cenderung selalu positif. Dalam situasi seperti ini, dia sama sekali tidak memperpanjang soal siapa biang masalahnya. Dia ingin segera menyelesaikan masalah ini. Baginya, perbuatan Firman bukan saja tanggung jawab Kakang Si Dul—panggilan adik-adiknya pada Abdullah.

"Biar nanti malam aku yang mengunjungi Zainab dan Hasan." Suara rendah itu milik Ali—suami Fatimah.

Maira sesaat tertegun. Haru dengan persaudaraan mereka yang saling bahu membahu. Sesaat kemudian, seulas senyum tampak di bibirnya.

***

Sementara itu, di rumah Abdullah ….

Seorang pria sebaya dengan Abdullah, nyelonong masuk ke rumahnya. Pria itu menyeringai melihat Abdullah sedang duduk termenung.

"Belum sembuh juga sampeyan?" sapa pria itu seraya duduk berseberangan dengan yang disapa.

Abdullah tak menjawab. Hanya menghela napas panjang, melupakan renungannya.

"Masih memikirkan cara bayar utang atau memikirkan adikmu yang tak waras itu?" Intonasi pria bertubuh besar itu sedikit meledek.

Abdullah membuang muka. Pria itu terkekeh.

"Ku dengar anak gadismu pulang, ya?" tanya pria itu lagi seraya menyandarkan punggungnya pada kursi.

Abdullah memutar bola matanya, mulai jengkel. Pria itu menghela napas kecewa melihat reaksi Abdullah.

"Si Dul … Si Dul … sampeyan ini punya anak gadis, kok, masih memikirkan bagaimana caranya bayar utang segitu."

"Aku nggak akan menerima tawaranmu, Mir." Abdullah angkat bicara. Pria itu bernama Mirun—kawan karibnya.

"Aku belum menawarkan apa-apa, lho, Dul." Mirun menyanggah. Tapi wajah culas itu sudah tampak jelas di mata Abdullah.

"Cih! Aku tahu isi otakmu!"

Mirun terbahak. Dia sama sekali tidak kesal atas ucapan sahabatnya. Justru dia merasa tersanjung karena sahabatnya paham sekali dengan isi pikirannya.

"Dul ... meskipun semua orang menganggap putraku kenthir. Tapi, semua orang juga tahu kalau putraku adalah pewaris tunggal dari tanah-tanah yang membentang luas, puluhan ekor sapi, puluhan ekor bebek, dan berbatang-batang emas yang ku miliki …."

Sudah beratus-ratus kali, Mirun membanggakan soal kekayaannya pada Abdullah. Juga pada penduduk desa. Ya! Mirun adalah orang paling kaya di desa itu. Dikenal sebagai juragan ternak bebek, sapi, dan pemilik tanah yang membentang di desanya.

"Sampeyan mboten kesupen, to?" tanya Mirun, memperjelas wajah culasnya.

Abdullah mendengus.

"Wong sugih laknat! Kabeh hartamu ditambah tujuh kali lipat pun nggak cukup untuk ditukar dengan anak gadisku. Camkan itu, Mir!" tegas Abdullah.

Dia hapal betul dengan kawan karibnya. Meski sekilas seolah bergurau, tapi, di balik gurauannya sebenarnya Mirun memang tidak main-main.

Bahkan, jauh sebelum Abdullah ditimpa nasib hutang yang disebabkan oleh adiknya, Mirun sudah sering menawarkan putranya untuk dijodohkan dengan Maira. Tapi, Abdullah selalu menolak. Abdullah bukan tipe orangtua yang suka menjodoh-jodohkan anaknya.

"Dul … Dul … sampeyan lagi melarat wae, kok, sombong!"

Abdullah mengatur ulang napasnya. Ia masih kesal pada Mirun. Kali ini Abdullah merasa jika anak gadisnya dianggap semurah itu bisa ditukar dengan harta.

"Jangan samakan nasibku dengan sinetron yang ada di TV, Mir! Yang rela menggadaikan kebahagiaan anak demi bisa membayar hutang. Aku tak semurah itu! Melarat-melarat gini, harta sama sekali tidak ada nilainya buatku!" Abdullah berkata dengan tegas. Suara beratnya membuat Mirun tersentuh. Terdengar lebih dalam.

Sebenarnya jiwa Abdullah yang demikianlah yang membuat Mirun senang berkawan dengannya. Dulu, ia paham betul jika ada teman yang mendekatinya alasannya bukan lain adalah karena Mirun anak orang kaya.

Jika bukan karena kaya, mana ada yang mau berteman dengan dia yang nilai akademiknya rendah, tukang berak di celana, dan jarang mandi. Mirun menyadari itu. Abdullah berbeda dari teman-temannya yang lain.

Namun, Mirun tak mau mengakui terang-terangan akan kebaikan Abdullah yang sudah membuat dirinya diam-diam terkagum.

"Ah! Sampeyan iki, nek lagi melarat angel dijak guyon! Wis lah, aku bali!" Mirun melenggang pergi.

Abdullah membiarkannya. Berusaha menganggap bahwa tadi tidak terjadi apa-apa. Dia menyeruput teh tubruk yang sudah dingin. Selain kopi, Abdullah juga menyukai teh tubruk yang ia nikmati setiap siang hari.

***

__________________________________

*Kakang adalah sebutan untuk kakak laki-laki di daerah jawa

*Berembug alias rembugan sama artinya dengan berunding untuk mendapatkan solusi dan menyelesaikan masalah bersama

*Sampeyan (Bahasa krama alias bahasa jawa yang lebih halus) berarti kamu—digunakan untuk usia sepantar atau kepada yg lebih muda

*Kenthir (Bahasa Jawa) berarti Gila

*Sampeyan mboten kesupen, to? (Bahasa krama) Kamu tidak lupa, kan?

*Wong sugih (Bahasa Jawa) Orang kaya

*Kabeh (Bahasa Jawa) Semua

*Melarat (Bahasa Jawa dan terdaftar juga dalam KBBI) berarti Miskin

*Sampeyan iki nek lagi melarat angel di jak guyon (Bahasa Jawa) Kamu ini kalau lagi miskin susah diajak becanda

*Wis lah aku bali! (Bahasa Jawa) Sudahlah aku pulang!

1
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
Pocut
Jakaaaaa...😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!