NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum Menyerah...

Di dalam kafe yang mulai sepi, atmosfer di meja nomor sembilan terasa mencekam. Reno menatap Tamara dengan napas memburu, wajah tampannya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak.

Fakta yang dibeberkan Arga tadi benar-benar menampar egonya. Ia pikir ia adalah pangeran yang menyelamatkan sang ratu, ternyata ia hanyalah ban serep bagi seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.

"Jawab gue jujur, Tam!" tekan Reno, suaranya tertahan namun penuh amarah. "Kemarin kamu pergi dan ninggalin aku pas kita mau tunangan, demi Devan. Sekarang, kamu mau balik ke aku karena kamu udah enggak punya apa-apa? Karena kamu diusir dan miskin? Karena Devan juga udah enggak mau sama kamu?"

Tamara diam seribu bahasa, tangannya bergetar, napasnya tidak teratur.

Reno mencengkeram tepi meja. "Jawab! Jangan diem aja kayak orang bego!"

Tamara menunduk dalam. Otaknya berputar cepat. Ia tahu, jika ia salah bicara sedikit saja, Reno akan pergi, dan ia akan benar-benar tidur di jalanan malam ini. Ia harus memainkan peran terbaiknya, peran sebagai korban yang tersadar

Perlahan, bahu Tamara berguncang. Isak tangis yang terdengar pilu mulai keluar dari bibirnya. Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, wajah cantik yang selalu menjadi kelemahan Reno.

"Ren..." Tamara memberanikan diri meraih tangan Reno di atas meja. Reno hendak menepis, tapi Tamara menggenggamnya erat, seolah hidupnya bergantung pada tangan itu.

"Kamu boleh marah. Kamu boleh maki-maki aku, aku emang bodoh," ucap Tamara dengan suara parau yang dibuat-buat. "Tapi tolong, jangan anggap aku manfaatin kamu."

"Terus apa namanya kalau bukan manfaatin?!" sentak Reno, "kamu dateng pas kamu butuh duit!"

"Bukan karena uang, Reno!" sanggah Tamara, menatap mata Reno lekat-lekat dengan tatapan memuja yang palsu.

"Ren, mungkin saat itu aku masih belum yakin sama hati aku sendiri. Aku bingung, aku rasanya masih cinta sama dia, dan mama tekan aku buat pilih Devan. Tapi..." Tamara memberi jeda dramatis, mengelus punggung tangan Reno dengan lembut. "Setelah melihat semuanya, setelah aku kehilangan harta papa, aku sadar satu hal. Harta itu nggak ada artinya kalau hati aku kosong. Dan aku sadar, kalau cuma kamu yang mau nerima aku apa adanya. Cuma kamu yang tulus ngejar aku, bahkan saat aku jahat sama kamu."

Tamara berdiri, berpindah duduk di kursi samping Reno, lalu memeluk lengan pria itu manja. Ia meletakkan kepalanya di bahu Reno.

"Aku udah move on dari Devan, Ren. Devan itu masa lalu yang menyakitkan. Aku mau memperbaiki hubungan kita, aku mau mulai dari nol sama kamu. Bukan sebagai anak Pradipta, tapi sebagai Tamara milik kamu."

Reno terdiam, tubuhnya yang tadi tegang perlahan rileks. Aroma parfum Tamara yang memabukkan dan sentuhan lembut wanita itu mulai melunturkan amarahnya.

Ego laki-laki Reno tergelitik. Ada kepuasan tersendiri mendengar Tamara, wanita yang dulu mencampakkannya kini bertekuk lutut memohon dan mengaku hanya menginginkannya.

Reno merasa menang dari Devan. Devan mungkin punya harta, tapi Reno mendapatkan wanitanya.

"Kamu serius?" tanya Reno, suaranya mulai melunak, meski masih ada keraguan. "Kamu nggak bakal lari lagi kalau Devan manggil kamu?"

Tamara menggeleng cepat, menatap Reno dengan mata berbinar. "Nggak akan. Devan udah nyakitin aku. Papa udah buang aku, dan sekarang dunia aku cuma kamu, Ren. Tolong... jangan buang aku juga, aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu."

Kalimat "aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu" adalah kunci yang tepat untuk mengunci ego Reno. Itu membuat Reno merasa dibutuhkan, merasa menjadi pahlawan, dan merasa memiliki kuasa penuh atas Tamara.

Reno menghela napas panjang, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Tamara.

"Oke," ucap Reno akhirnya, "aku pegang kata-kata kamu. Tapi inget, Tam. Sekali lagi kamu macem-macem, aku sendiri yang bakal ngehancurin kamu."

Tamara tersenyum manis, lalu mengecup pipi Reno. "Makasih, Sayang. Aku janji bakal jadi yang terbaik buat kamu."

Reno tersenyum puas, merasa telah menaklukkan hati pujaannya. Namun, Reno tidak melihat seringai tipis yang muncul di bibir Tamara saat wajah wanita itu tersembunyi di pelukannya.

"Dasar bodoh!" Tamara tersenyum licik. "Nikmati kemenangan semu-mu, Reno. Asal aku dapet tempat tinggal dan kartu kredit kamu, aku bakal jadi apapun yang kamu mau. Setidaknya sampai aku nemu cara buat bales dendam ke Putri dan Devan."

Ular berbisa itu berhasil melilit mangsanya kembali. Arga benar, Reno memang bodoh karena membiarkan dirinya dipatuk untuk kedua kalinya. Dan kali ini, bisanya akan jauh lebih mematikan.

***

Sementara itu, di dalam mobil Arga yang melaju menjauh dari kafe. Nindi menatap jalanan dengan pandangan kosong, hatinya perih melihat Reno lebih memilih percaya pada kebohongan Tamara daripada ketulusannya. Namun, ada rasa lega yang aneh di dadanya.

"Sakit?" tanya Arga, melirik sekilas.

Nindi menoleh, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Sakit. Tapi... lega. Makasih ya, Ga. Kalau nggak ada lo, mungkin gue masih ngemis-ngemis di sana."

"Sama-sama," jawab Arga, "sekarang lo liat sendiri kan? Mereka berdua itu bom waktu. Lo beruntung bisa kabur sebelum ledakannya kena lo."

"Iya " Nindi mengangguk mantap. "Gue udah selesai sama Reno, biarin dia hancur sama pilihannya."

Arga tersenyum. "Nah, gitu dong. Sekarang, kita cari makan enak. Gue traktir sebagai perayaan 'kemerdekaan' lo dari cowok toxic."

Tanpa mereka sadari, pertemuan ini bukan hanya menyelamatkan Nindi, tapi juga membuka jalan bagi Arga dan Nindi untuk menjadi kunci penting dalam melindungi keluarga Devan dari serangan balik Tamara di masa depan.

Waktu bergulir cepat. Kandungan Putri kini sudah memasuki bulan kelima. Perutnya mulai membuncit, dan itu terlihat lucu, membuat setiap langkahnya menjadi lebih lambat namun penuh kehati-hatian.

Siang itu, jadwal kontrol rutin kandungan harus dilakukan. Sayangnya, Devan sedang terjebak meeting penting dengan investor asing yang tidak bisa ditinggalkan. Meski Devan bersikeras ingin membatalkan, tapi Putri melarangnya.

"Aku nggak sendiri kok, Mas. Ada jagoan kecil yang nemenin," ujar Putri saat itu.

Benar saja, Rian yang kini sudah tinggal resmi bersama Devan dan Putri, ia dengan sigap menggandeng tangan kakaknya menelusuri area parkir rumah sakit. Tangan kecilnya yang satu lagi menenteng tas perlengkapan Putri.

"Kak, jalannya pelan-pelan aja. Nanti dedek bayinya pusing kalau Kakak jalannya cepet-cepet," celoteh Rian polos, membuat Putri terkekeh.

"Iya, Bawel. Kamu persis mas Devan," ledek Putri.

Mereka baru saja hendak menuju lobi utama ketika sebuah suara familiar yang penuh nada ketus menghentikan langkah mereka.

"Wah, wah. Lihat siapa yang datang. Nyonya besar yang lagi hamil anak emas."

Putri dan Rian menoleh. Di dekat pilar parkiran, berdiri Tamara. Penampilannya lebih glamor dari yang dulu, karena berhasil memikat kembali hati Reno. Wajahnya menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan.

Ia baru saja turun dari taksi online, hendak menjenguk Anggun yang dirawat di rumah sakit karena tifus dan stres berat akibat pekerjaannya yang semakin berat dari hari ke hari.

"Kak Tamara?" sapa Putri datar. Ia secara insting memegang perutnya, melindunginya dari Tamara.

Tamara melangkah mendekat, matanya menatap perut buncit Putri dengan tatapan nyalang penuh kedengkian.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!