Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 8: KAU DAPAT MAINAN BARU?
Li Dezai bersusah payah mengejar Liu Yan yang sudah lebih dulu berjalan melewati lorong-lorong istana. Kakinya lebih pendek dari sang majikan sehingga langkahnya lebih lambat. Dia tidak mengeluh, terus berusaha setelah berlari demi bisa mengejar tuan agungnya.
Liu Yan terus melangkah hingga kakinya membawanya ke depan Istana Fengyi. Namun sebelum dia masuk, dia berhenti sebentar.
Dia meniupkan sebuah serbuk putih yang langsung tertiup angin dan jatuh di dedaunan. Hanya dalam hitungan detik, puluhan anak panah langsung melesat ke arahnya.
Liu Yan menghindar dengan cepat sampai semua anak panah itu habis. Matanya menatap tajam sesosok wanita muda yang berdiri dengan ekspresi penuh kepuasan di koridor istana. Gaun merah kesukaannya berkibar tertiup angin, memperlihatkan keanggunan yang menyembunyikan bahaya.
“Lambat sekali. Kaisar, cepat atau lambat kau akan mati jika gerakanmu masih begini saja,” ucap wanita muda itu.
“Feng Yuzhen, apakah kau sudah cukup puas bermain-main?”
Feng Yuzhen tertawa. Dia menekan memutar sebuah vas bunga di sampingnya.
Suara seperti retakan dari perputaran roda terdengar selama beberapa detik, kemudian berhenti total.
“Sekarang kau bisa masuk.”
Liu Yan melangkahkan kaki lagi memasuki Istana Fengyi. Feng Yuzhen menyambutnya dengan sebuah mekanisme panah otomatis yang langsung tertembak begitu ada orang yang mendekati istana ini.
Tapi, dia tidak marah sama sekali. Selama bertahun-tahun ini, sudah tidak terhitung berapa ratus kali dia menahan serangan dari mekanisme yang dibuat Feng Yuzhen.
‘Selir’-nya ini adalah wanita yang tidak termasuk dalam kategori pajangan dalam haremnya. Identitasnya istimewa dan perannya juga tidak biasa.
Bukan soal melayani antara suami istri atau antara Kaisar dengan selirnya. Ini adalah soal hubungan yang melampaui hidup dan mati.
“Aku sedang tidak ada kerjaan. Jadi, aku mencoba mekanisme baru yang aku rancang. Kelak jika para wanitamu menggangguku, mereka akan terjebak dengan sendirinya. Kaisar, apakah hasil karyaku bagus?”
“Cukup bagus. Karyamu bisa membunuh lebih dari tiga penyusup sekaligus.”
“Tiga mana cukup. Jumlah selirmu ada lebih dari lima. Belum lagi ditambah Su Qian yang setiap hari mencari sensasi. Aku benar-benar tidak bisa hidup tenang jika mereka masih ada.”
“Bukankah itu kegunaanmu di sini?”
Feng Yuzhen terkekeh. Yah, hubungan ini memang aneh, tapi bisa dikatakan tidak aneh juga.
Liu Yan menjadikannya sebagai selir bukan untuk digauli atau dijadikan istri, melainkan sebuah ‘perisai’ hidup untuk menghalau para selir lain di harem. Jika ada yang mendekati Liu Yan atau menggodanya, dia akan memberi mereka pelajaran.
Jika ada yang mendekati istana untuk mengganggunya, maka dia akan membiarkan mereka terjebak dalam mekanisme yang disusun olehnya.
Lambat laun, gelar ‘selir pencemburu’ itu melekat padanya, membuatnya menjadi musuh utama para wanita di dalam harem. Feng Yuzhen menghalangi setiap selir yang ingin naik posisi dengan naik ke ranjang Liu Yan, membuatnya terlihat seperti seorang pencemburu tingkat tinggi.
Meski begitu, dia tidak keberatan sama sekali. Dia senang melakukannya. Berkat dia, tubuh Liu Yan tetap suci sampai sekarang.
Lagi pula para selir itu juga tidak ada gunanya. Mereka hanya orang-orang yang sengaja dimasukkan oleh Ibu Suri untuk menjebak Liu Yan agar mabuk dalam buaian keindahan.
Sekalipun Liu Yan tidak menginginkan mereka, Ibu Suri akan tetap mempertahankannya dengan dalih menjaga kestabilan politik.
“Aku ingin sekali mengusir mereka,” ucap Liu Yan.
“Jangan. Kalau kau mengusir mereka, aku tidak ada teman bermain. Omong-omong, aku dengar kau memindahkan seorang pelayan baru ke istanamu. Yang Mulia, kau mendapat mainan baru?”
“Jangan ikut campur soal itu. Dia bukan termasuk pajangan, bukan mainanmu.”
Feng Yuzhen menyipitkan mata. Ada kesan tidak percaya yang dibungkus dalam ejekan di matanya.
Pelayan biasa tidak mungkin membuat Liu Yan memindahkannya ke istananya, membiarkannya melayaninya secara pribadi. Selama ini selain Bibi Cui dan Li Dezai, kebanyakan pelayan di Istana Zhaoyang tidak lagi muda.
“Benarkah? Kenapa aku justru merasa kau begitu melindunginya?”
“Omong kosong.”
Liu Yan bukan melindunginya. Tapi Mei Zhiyi benar-benar bukan mainan.
Liu Yan tidak bisa menganggapnya sebagai pelayan biasa, bahkan tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa Mei Zhiyi mungkin bukan manusia biasa. Ada misteri di balik sosoknya, yang membuatnya tanpa sadar telah terikat benang tak kasat mata.
“Ah, aku jadi penasaran seperti apa dia. Jika tidak membosankan seperti selirmu yang lain, dia mungkin bisa menjadi temanku.”
“Jangan harap.”
“Lihat, kau melindunginya lagi. Kaisar, kalau kau suka, kau bawa saja dia ke harem.”
“Jangan sembarangan bicara. Hari ini aku datang untuk membicarakan sesuatu denganmu.”
“Ada apa? Apa Ibu Suri memaksamu mengangkat selir lagi?”
“Tidak.”
“Lalu soal apa?”
Liu Yan sempat terdiam. Masalah pembunuhan semalam ditutup rapat dan berhenti sampai di Istana Zhaoyang.
Seharusnya tidak perlu dibahas lagi. Tapi, ada sesuatu yang berkaitan dengan Feng Yuzhen dan dia mau tidak mau harus memberitahunya.
“Di antara puluhan pembunuh yang datang membunuhku hampir di setiap malam, ada satu yang memiliki tato sayap elang.”
Feng Yuzhen menatap Liu Yan dalam diam selama beberapa detik sembari menikmati tehnya, lalu tersenyum. Ada perasaan yang sempat hilang datang lagi. Bukan sebuah kerinduan, tapi lebih terlihat seperti ketidakpuasan yang membayang sepanjang hidup.
“Tampaknya beberapa orang masih tidak rela menerima kekalahan,” ucapnya. “Kaisar, negaramu tidak aman. Banyak sekali mata-mata.”
Liu Yan tak merasa begitu. Negara tanpa mata-mata sama saja dengan kosong. Di Daqi, entah ada berapa banyak mata-mata dari negara lain yang setiap hari mengintai dan mencuri informasi.
Begitupun dengan Daqi. Liu Yan juga menebar mata-matanya di mana-mana.
“Bukan tidak aman. Artinya mereka tidak kompeten,” ejek Liu Yan.
Tato sayap elang adalah simbol Negara Nanyu. Sepuluh tahun lalu, Nanyu kalah perang dari Daqi hanya beberapa bulan setelah Liu Yan naik takhta.
Perbatasan Nanyu jatuh. Kaisar Nanyu, Nanhe Tujian, mengusulkan permohonan damai pada Daqi. Dia mengirim seorang putri untuk dijadikan sandera di Daqi.
“Kaisar, kau harus berhati-hati. Nanhe Tujian tak akan pernah puas dengan hasil yang dia dapatkan.”
Ingatan Feng Yuzhen melayang jauh pada sepuluh tahun lalu. Kala itu, Liu Yan hanyalah anak kecil berusia enam tahun yang bahkan belum bisa mengingat banyak.
Feng Yuzhen melihatnya datang ke Nanyu, kemudian menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang di Istana Nanyu memperlakukan Liu Yan.
Itu bahkan lebih buruk dari binatang. Segala macam hinaan, cacian, dan penindasan menjadi makanan sehari-hari Liu Yan.
Feng Yuzhen tidak punya kuasa, dia hanya seorang anak berusia lima tahun yang tidak dipandang karena tidak punya latar belakang yang bagus.
“Aku ingin sekali melihat ekspresi Nanhe Tujian saat dia tahu bahwa putri yang dia kirim ke negeri lain bukanlah wanita biasa.”
“Tidak usah diperlihatkan. Aku tidak ada lagi hubungannya dengan Nanyu.”
“A Zhen, apakah kau menyesal pernah mengenalku?”
“Tidak pernah. Kita adalah anak yang dibuang. Jadi, kita tidak pernah mengenal apa itu penyesalan atau kerinduan.”
Benar juga. Mereka adalah anak-anak yang dibuang orang tuanya dengan dalih ‘perdamaian’. Mereka adalah anak-anak yang berjuang untuk hidup mereka sendiri.
Darah yang tumpah, tulang yang patah, kulit yang robek, mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang mengerikan.
“Jika mereka tidak mengirimku kemari, aku mungkin masih terjebak di sangkar besi yang menyesakkan itu. Berkatmu, aku mendapat kebebasan.”
Liu Yan menatap pohon akasia yang ditanam di Istana Fengyi. Dia dan Feng Yuzhen sama-sama memiliki nasib yang malang di masa lalu.
Pernah saling bergantung, pernah saling berbagi makanan. Jika dia tidak bertemu Feng Yuzhen, bisa jadi dia sudah mati tanpa ada yang mengetahui.
“Kebebasan? Istana ini mengurungmu. Perkataanku masih sama. Jika kau ingin keluar, aku akan membebaskanmu.”
“Haha… Kau tidak perlu membujukku. Istana ini lumayan bagus, meski agak berisik karena selir-selirmu yang tidak ada kerjaan itu selalu menggangguku. Tapi dibandingkan dengan Nanyu, tempat ini jauh lebih baik.”
“Terserah padamu. Jika suatu saat kau ingin pergi, beri tahu aku.”
“Tentu saja. Aku pasti akan memberi tahumu hari itu tiba.”
Pelayan pribadi Feng Yuzhen datang mengantarkan makan siang. Namun, Liu Yan tidak menyentuhnya sama sekali. Entah kenapa dia tidak berselera.
Dia memainkan panah tangan yang sedang dikembangkan Feng Yuzhen, lalu keluar dari Istana Fengyi setelah Feng Yuzhen selesai makan siang.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei