Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jejak Lily di Tengah Hutan Rongsokan
Nyiitt! Suara derit pintu belakang penginapan The Rusty Fang terdengar seperti jeritan kecil yang tajam di tengah kesunyian tengah malam Oakhaven yang mencekam. Langit di atas kota rongsokan itu tampak seperti kanvas hitam pekat yang tertutup asap industri, tanpa rembulan maupun bintang yang berani menampakkan diri. Seolah-olah kegelapan sengaja turun untuk menyembunyikan sesuatu yang mengerikan. Udara dingin yang menusuk tulang membuat napas Aruna mengepul seperti asap putih setiap kali ia mengembuskannya, di tengah bau dari uap oli, karat, dan bensin yang menguap dari tanah yang becek dan berlumpur.
Aruna bergerak secepat mungkin, jari-jarinya mencengkeram erat jubah peraknya agar kain sutra itu tidak tersangkut pada tumpukan pipa berkarat atau gerigi mesin tua yang menonjol dari dinding bangunan. Di sampingnya, Asher melangkah dengan satu tangan masih menggenggam erat bahu Aruna—sebuah pemandangan yang langka, di mana sang Ksatria Agung yang biasanya menjadi pelindung kini harus berjuang keras mempertahankan kesadarannya dengan bersandar pada gadis yang pernah terabaikan.
Dranco, sang naga merah dengan sifat sombongnya, memimpin di depan dengan kapak raksasa yang tersampir di bahu lebar. Matanya yang berwarna merah naga berkilat tajam menyapu setiap sudut gang gelap yang dipenuhi kerangka mesin raksasa dan tulang-tulang monster yang telah lama memfosil menjadi bagian dari fondasi kota.
"Cepat! Penyihir pelacak itu tidak akan berhenti sampai mereka menemukan sisa mana kita. Jika fajar menyingsing sebelum kita keluar dari zona pemukiman ini, kita hanya akan jadi sasaran empuk di padang terbuka," geram Dranco dengan suara rendah yang menggetarkan dada, membuat suasana semakin terasa mendesak.
Baru saja mereka hendak berbelok ke balik tumpukan tangki air raksasa yang sudah bolong-bolong dimakan usia, dua bayangan melesat jatuh dari atap bangunan kayu hitam di sisi kiri dengan gerakan yang begitu halus dan mematikan.
Srak!
Seorang pria dengan rambut hitam liar dan mata merah yang berkilat mengintimidasi mendarat dengan posisi rendah. Kakinya mencengkeram lantai gang yang berlumpur dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara cipratan air kotor yang menggema. Di belakangnya, seorang gadis berambut pink dengan telinga rubah yang bergerak gelisah mengikuti dengan napas yang terengah engah, ekornya yang lebat tampak bergetar menahan ketakutan sekaligus amarah.
Deg! Deg! Deg!
"Eh? Fenrir? Ellish?" seru Aruna. Suaranya tertahan antara rasa terkejut dan lega yang luar biasa. Jantungnya yang tadi berdegup karena takut kini sedikit melunak melihat wajah-wajah yang dikenalnya.
Fenrir menegakkan tubuhnya perlahan, membiarkan rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin malam yang kencang. Tuit. Tuit. Hidungnya kembang kempis, mengendus udara tengah malam yang dipenuhi bau karat logam dan uap minyak yang menyengat. Tatapannya yang tajam langsung mengunci sosok Aruna yang berdiri di balik bayangan Asher.
"Ketemu," bisik Fenrir dengan suara berat yang serak, seolah jiwanya baru saja kembali ke tubuhnya setelah pencarian panjang. "Bau busuk d4rah si kaku ini hampir saja membuatku tersesat di antara sampah dan limbah kota ini, Auristela. Tapi perpaduan lembut bunga Lily dan manisnya buah peach milikmu... itu satu-satunya hal paling 'bersih' di tengah hutan rongsokan ini. Aku bisa menemukanmu bahkan jika mataku buta dan seluruh dunia ini tertutup kabut abadi sekalipun."
Ellish bersandar pada dinding yang terbuat dari tulang monster raksasa, mencoba mengatur napasnya sambil merapikan jubah pinknya yang sudah ternoda lumpur hitam. "Betul! Aku hampir saja menyerah kalau si Serigala gila ini tidak terus-menerus mengendus udara seperti orang kesurupan di tiap persimpangan. Auristela! Syukurlah kau belum dijadikan hiasan dinding atau dikunyah oleh naga merah sombong ini! Dan kamu... singkirkan tanganmu dari Auristela. Kamu hanya akan membuatnya ikut berbau d4rah yang mengundang predator!"
Asher melirik mereka berdua dengan tatapan dingin yang tidak goyah sedikit pun, meski wajahnya kini sepucat kertas dan napasnya terasa berat. "Kalian terlambat sepuluh menit. Jika kalian memang sehebat itu dalam melacak bau, seharusnya kalian sudah membersihkan jalur di ujung gang itu daripada sibuk mengomentari hal yang tidak perlu."
"K-KAU—!" Fenrir nyaris menarik pedang besarnya dari punggung kalau saja Aruna tidak segera melangkah maju dan merentangkan tangannya di tengah-tengah mereka.
"Cukup! Berhenti bertengkar! Kalian ini mau menyelamatkanku atau mau lomba debat di tengah kepungan pembunuh bayaran?!" potong Aruna tegas.
Dari ujung gang, suara gemerincing rantai logam dan gumaman mantra mulai menggema rendah, menciptakan getaran magis yang membuat bulu kuduk berdiri. Cahaya biru redup dari Blood-Seeker Dust mulai menyapu dinding-dinding gang, bergerak perlahan seperti kabut kematian yang mencari mangsa.
"Mereka sudah mengunci posisi Asher! Kita benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus ego kalian!"
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya pengepungan. Sistem mendeteksi 15 tanda kehidupan musuh dalam radius 50 meter.
Mengaktifkan skill utama Memory Materialization.
Memanggil Item: Industrial Neutralizing Spray & High-Concentration Musk Essence.]
Wush! Dalam sekejap mata, dua botol semprotan logam berukuran besar dengan desain modern muncul secara instan di tangan Aruna. PSSSSHHHHHH! Tanpa ragu, Aruna langsung menyemprotkan cairan penetral kimiawi ke seluruh perban dan pakaian Asher yang ternoda d4rah. Begitu cairan itu menyentuh tubuh Asher, cahaya biru pelacak yang tadinya berpendar di lukanya langsung luntur dan padam seketika, membuat Asher sedikit tersentak karena sensasi dingin yang tiba-tiba.
Lalu, Aruna berbalik ke arah ujung gang tempat cahaya obor musuh mulai terlihat dan menekan katup botol kedua dengan sekuat tenaga.
PSSSSHHHHHH!
Aroma musk yang sangat kuat, berat, dan menyengat meledak di seluruh gang, memenuhi udara tengah malam itu dengan bau yang sangat dominan hingga mengubur aroma Lily-Peach milik Aruna secara total. Bau itu begitu kuat sampai-sampai Dranco pun harus menutup hidungnya dengan punggung tangan yang bersisik.
"B-BAU APA INI— ACHOOO! ACHOOO!" Fenrir langsung bersin hebat dengan suara yang menggelegar hingga terjungkal ke belakang dan menabrak tumpukan drum besi kosong Thoong... Telinga serigalanya langsung layu dan ia menutupi hidungnya dengan kedua tangan, matanya sampai berair karena serangan aroma yang begitu brutal bagi indra penciumannya yang tajam.
"Efektif!" Aruna menyeringai puas melihat pasukan Viper's Fang di ujung gang mendadak berhenti dan terdengar teriakan bingung dari para penyihir pelacak karena kehilangan jejak 'bau' secara total. "Ayo! Mumpung Asher sudah 'bersih' dari debu pelacak dan sihir penciuman mereka sedang lumpuh, kita lari lewat jalur atap sekarang! Fenrir, berhenti bersin dan bergerak sebelum aku menyemprotmu lagi!"
Ellish hanya bisa melongo melihat betapa cepatnya Aruna memutarbalikkan situasi dengan benda-benda aneh yang keluar dari udara kosong itu. "Auristela... kau benar-benar gadis paling berbahaya sekaligus aneh yang pernah kukenal."
Asher menatap punggung Aruna yang sibuk mengomandoi mereka, ada kilat emosi yang sulit dijelaskan di matanya yang biru.
Ding!
[Terdeteksi perubahan emosi pada Asher de Volland. Kedekatan: 57%.
Catatan: Target merasa terkesan dengan ketegasan host dalam memimpin situasi yang kacau, meski ia masih merasa terhina karena dipanggil 'si kaku' oleh serigala liar itu.
Kesan ML: "Dia tidak hanya menyembuhkanku, dia juga memegang kendali atas monster-monster ini seolah itu hal yang biasa. Siapa kau sebenarnya, Auristela? Dan kekuatan apa yang kau sembunyikan?"]
"Asher, berhenti melamun! Ayo naik ke atas!" seru Aruna sambil menunjuk ke arah tangga darurat berkarat di samping mereka.