Kehidupan Naura Anandita ternyata tidak seberuntung anak-anak pada umumnya. Hinaan dan cacian adalah makanan Naura sehari-hari, bahkan penderitaan demi penderitaan tidak pernah absen menghampiri kehidupan Naura. Acara camping sekolah yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru menjadi awal penderitaan yang panjang untuk Naura. Naura diperkosa oleh seseorang pria yang mabuk, kehidupan Naura semakin hancur saat Naura diketahui hamil dan diusir oleh orangtuanya sendiri. Ditengah keputusasaannya, tidak disangka Naura dipertemukan dengan orang yang sudah memperkosanya itu. Siapakah dia? Apakah Naura akan meminta pertanggung jawaban orang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Menikah
Setelah selesai makan, keluarga Chris pun memutuskan untuk membatalkan liburan mereka. Keluarga Chris menginap di sebuah hotel, dan membawa Naura ikut serta.
Andre hanya bisa diam melihat kepergian Naura dengan tatapan bingungnya, dan Naura pun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ikut dengan keluarga Chris.
Selama dalam perjalanan, Naura hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya, sampai-sampai Chris mulai menggenggam tangan Naura dan itu membuat Tristan sedikit kesal.
"Lebay banget sih mereka," batin Tristan.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah hotel dan Papi Andrew langsung memesan beberapa kamar untuk semuanya.
Malam ini Naura tidak bisa tidur, hingga akhirnya Naura memutuskan untuk mencari angin sebentar. Tapi di saat Naura sampai di luar, ternyata Naura melihat Chris sedang duduk sendirian di kursi taman hotel.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Naura.
Chris merasa tersentak, dan kemudian tersenyum.
"Kamu sendiri ngapain ke luar? Angin malam gak baik untuk Ibu hamil."
"Di tanya kok malah balik bertanya sih," keluh Naura.
"Aku lagi diam saja Ra, dan lagi memikirkan apa yang tadi Papi ucapkan."
"Aku gak mau menikah dengan Kakakmu, Kak, aku cukup hidup dengan tenang saja tanpa ada gangguan dari siapa pun, itu sudah cukup," sahut Naura.
"Tidak Ra, kamu tidak bisa hidup seorang diri karena kamu punya anak yang sebentar lagi akan lahir dan anak kamu itu butuh sosok Ayah," seru Chris.
"Maksud Kakak apa?"
Chris menghadap ke arah Naura dan menggenggam tangan Naura.
"Maafkan aku Ra, bukannya aku tidak mau menikahimu, aku sangat mencintaimu Ra, tapi alangkah baiknya jika yang menikahimu adalah Ayah asli dari anak yang kamu kandung. Sebenarnya sulit untukku melepaskanmu, apalagi aku harus merelakan kamu menikah dengan Kakakku sendiri, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku ingin melihatmu bahagia, Ra."
"Tapi Kakakmu tidak menyukaiku Kak, dia sangat membenciku, apa dengan aku menikah bersama orang yang sangat membenciku, apa Kakak pikir itu akan membuatku bahagia?" sahut Naura dengan deraian airmata.
Chris menarik tubuh Naura ke dalam dekapannya, dan tanpa terasa Chris pun meneteskan airmatanya.
"Asalkan kamu tahu, aku pun sangat sulit untuk melepaskanmu karena aku sangat mencintaimu Ra, tapi aku juga ingin Kak Tristan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadapmu."
Chris dan Naura saling berpelukan cukup lama, menyalurkan rasa sedih yang sedang mereka rasakan. Mungkin takdir cinta Chris dan Naura memang harus seperti itu.
Chris melepaskan pelukannya dan menyeka airmata Naura, begitu pun Naura yang ikut menyeka airmata Chris.
"Aku do'akan, semoga kamu selalu bahagia dan jaga keponakanku baik-baik, ya," seru Chris dengan senyuman yang dipaksakan.
"Pasti, Kakak juga aku do'akan semoga mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan denganku."
***
Keesokan harinya....
Kedua orangtua Chris mengajak Naura kembali ke Jakarta, Papi Andrew sudah menyiapkan semuanya dan sesampainya di Jakarta Naura dan Tristan akan melangsungkan akad nikah.
"Pi, pokoknya Tristan gak mau sampai pernikahan ini ada yang tahu," seru Tristan.
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya jangan sampai ada yang tahu, atau Tristan gak mau menikah dengan wanita itu," ancam Tristan.
"Sudahlah Pi, kita ikuti saja apa yang jadi keinginan Tristan, lagipula kan, Tristan menikah hanya sampai anak itu lahir jadi kasihan Tristan kalau sampai menikah hanya 3 bulan sudah jadi duda," sahut Mami Veronika.
"Chris pastikan kalau Kak Tristan gak bakalan jadi duda karena anak itu memang asli anaknya bukan anak orang lain," seru Chris.
"Diam kamu Chris, ini semua gara-gara kamu!" sentak Tristan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya keluarga Chris dan Tristan sampai di Jakarta.
Mereka langsung menuju kediaman keluarga Chris dan di sana sudah ada penghulu yang menunggu. Tristan dan Naura duduk di hadapan penghulu, Naura tampak sedih karena Papanya tidak menjadi walinya bahkan Naura harus memakai wali hakim.
Setelah Tristan mendengar kata-kata penghulu, Tristan pun mulai mengucapkan ijab kabul dan siapa disangka kalau Tristan dengan lancarnya bisa mengucapkan ijab kabul.
Chris kembali meneteskan airmatanya tapi dia dengan cepat menghapusnya, dadanya begitu sesak, bahkan hatinya terasa sangat sakit. Begitu pun dengan Naura yang saat ini sudah meneteskan airmatanya, karena saat ini dia sudah menjadi seorang istri.
"Maafkan aku Naura, bukannya aku tidak mencintaimu tapi kalau kamu menikah dengan calon dari Ayah anak kamu yang sesungguhnya itu akan lebih baik," batin Chris.
"Pa, Naura sudah menikah Pa, Naura sudah menjadi seorang istri, maafkan Naura," batin Naura.
Naura menoleh ke arah Chris, dan Chris berusaha tersenyum kepada Naura walaupun hatinya begitu sakit dan tidak ikhlas memberikan Naura kepada orang brengsek seperti Kakaknya itu.
Setelah selesai melangsungkan ijab kabul, akhirnya Naura dibawa ke rumah Papi Andrew.
"Naura, mulai sekarang kamu adalah menantu di rumah ini dan selama menunggu kelahiran, kamu harus jaga baik-baik anak kamu karena setelah anak itu lahir, kami akan melakukan tes DNA untuk memastikan kalau anak itu benar-benar darah daging Tristan," seru Papi Andrew.
"Baik Tuan."
"Jangan panggil Tuan, panggil Papi saja seperti Tristan dan Chris."
"Idih, kok gitu sih, Pi? Jangan harap kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Mami, karena yang berhak memanggil Mami hanya Dinda seorang," sinis Mami Veronika.
Mami Veronika pun langsung pergi masuk ke dalam kamarnya dan itu membuat Tristan tersenyum. Tristan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Tristan, kamu mau ke mana?" tanya Papi Andrew.
"Mau ke kamarlah, Pi."
"Ajak istrimu."
"Apa? Pi, di sini kan, banyak kamar kosong suruh saja dia tidur di salah satu kamar kosong itu," tolak Tristan.
"Oke, tapi jangan harap kamu mendapatkan warisan sepeser pun dari Papi."
Tristan tampak membelalakkan matanya, hingga akhirnya dengan terpaksa Tristan harus mengajak Naura.
"Ayo ikut."
Naura dengan ragu-ragu, mengikuti langkah Tristan sedangkan Chris, sudah sejak tadi masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar Tristan, Naura tampak ragu-ragu untuk masuk, sehingga dengan kesalnya Tristan mendorong tubuh Naura untuk masuk.
"Lama banget, kamu mau aku dimarahi lagi sama Papi?" bentak Tristan.
"Maaf Kak."
Tristan berdiri membelakangi Naura. "Kamu jangan senang dulu, aku terpaksa menikahimu karena anak itu. Jadi, pernikahan kita hanya status saja dan kamu tidak boleh ikut campur urusanku. Satu lagi, kamu jangan pernah melarang aku untuk menemui Dinda karena Dinda adalah belahan jiwaku dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan Dinda."
Tristan membalikan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Naura, Tristan kemudian mengambil bed cover dari lemarinya dan langsung melemparnya ke wajah Naura.
"Kamu tidur di sofa saja, jangan berani-berani menyentuh tempat tidurku," ancam Tristan.
Tristan kembali mengambil kunci mobilnya, hari ini dia ingin bertemu dengan Dinda. Tristan meninggalkan Naura, dan Naura hanya bisa menangis tersedu-sedu.
"Ya Allah, kapan aku bisa mendapatkan kebahagiaan," batin Naura.
kenapa Andre nggak dikasih jodoh jg..
tapi nanti jadi panjang episode atau babnya..
terima kasih author keren...