NovelToon NovelToon
Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teman lama bertemu kembali / Orang Disabilitas / Romansa pedesaan
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.

"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.

"Baiklah, kalian jaga pintu depan."

Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.

Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.

Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.

Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.

"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."

UPDATE SETIAP HARI!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Agung Masuk Perangkap

Dengan cekatan Agung menandatangani berkas yang dia kira benar surat pengalihan perusahaan untuk dia pimpin.

"Sudah, jadi kapan jabatanku diresmikan?" Tanya Agung dengan binar bahagia.

"Sabar Mas, berkas ini besok baru akan aku serahkan Pengacara. Harus dilegalkan dulu, baru kamu bisa kembali ke Perusahaan sebagai seorang CEO." Ucap Dira meyakinkan.

"Tapi..."

Dira sengaja menjeda kalimatnya. Dia ingin tahu seberapa antusias Agung untuk masuk dalam perangkapnya.

"Tapi apa sih, ayo dong ngomongnya jangan setengah-setengan begitu." Ucap Agung sungguh tidak sabar.

"Tapi, sampai surat itu diresmikan. Kamu harus menuruti semua perintahku. Termasuk tidak dekat-dekat dengan Dara, gimana Mas?" Tanya Dira.

"Kamu cemburu? Sudah aku katakan, dia itu hanya keponakan Ibu. Dan aku tidak punya hubungan dengannya, percaya dong!" Ucap Agung.

"Entahlah... Dan semua terserah kamu. Turuti perintahku atau aku batalkan berkas pengalihan ini." Ucap Dira.

Dalam hati Agung sangat kesal, tapi sebisa mungkin wajahnya tersenyum. Atau semua rencananya akan berantakan.

"Ya... Aku turuti maumu." Ucapnya.

Wajah Agung sudah mirip buntalan kentut, jelek dan sangat memuakkan. Heran Author kenapa Dira bisa bucin sampai 2 tahun lamanya. Harus digetok kepalanya dulu oleh para Pembaca setia, supaya Dira bisa melihat sejelek apa Suaminya.

"Sekarang kita tidur, dan mulai sekarang jangan jauh-jauh denganku."

Mulut boleh berkata seolah posesif. Tapi dalam hati, Dira mengumpat.

"Kalau bukan karena mengulur waktu, supaya gak ngeh dengan rencanaku. Aku udah malas bin jijik ngomong lembut apalagi dekat-dekat dengan ular sawah." Gumam Dira.

Seperti biasa Dira mengunci pintu, dan mengamankan ponsel mereka berdua di laci yang juga dikunci.

Dira benar-benar tidak memberi celah bagi Dara untuk menggatal dengan Agung di malam hari. Bukan karena dia merasa cemburu, tapi karena ingin memberi pelajaran. Angan Dara tak semanis madu. Karena tujuannya menjadi madu yang beracun untuk rumah tangga Dira.

"Kita lihat, apa yang kamu lakukan malam ini tanpa Agung."

Dira tidur membelakangi Agung dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Rasanya tidur seranjang dengan ular sawah seperti uji nyali saja.

"Dira... Kok kamu tidur duluan. Mana madep sana lagi ih..." Kesal Agung, lalu mengambil bantal dan guling dibawa ke sofa.

"Padahal aku lagi pingin banget. Sialan memang Dira." Gerutu Agung.

Malam semakin larut, Dira sudah tidur nyenyak bersama dengan Agung. Tapi tidur di tempat terpisah. Meskipun tidak diberi obat tidur, kali ini Agung tak berani mendekati atau menyentuh tubuh Istrinya. Karena Dira sedang palang merah. Jadilah Agung tidur nyenyak sendirian. Sementara ada lubang lain menunggu untuk dimasuki dengan pikiran gelisah.

"Sudah jam sepuluh, tapi Mas Agung kenapa belum turun juga. Tadi katanya janji mau bercinta." Ucapnya sambil melepas sendiri pakaiannya.

Hasrat Dara sudah di puncak, penyakit lamanya memang telah kambuh. Dan itu sulit untuk disembuhkan, selama Dara tidak punya keinginan untuk sembuh dari kelaian seksualnya. Sedangkan keinginannya adalah terus bercinta, supaya Agung tidak lepas darinya.

Karena Agung tidak datang-datang, Dara ngamuk di dalam kamarnya. Semua barang dia lempar, dan sekarang dia menangis merasa diabaikan. Rasanya sakit ketika hasrat sudah memuncak tapi tidak ada lawan. Dan karena fantasi liarnya, Dara menggunakan benda mati untuk memuaskan dirinya sendiri dengan cara menjijikkan.

Hari telah berganti, pagi ini Dira masih memasak untuk sarapan. Tapi hanya untuk dirinya sendiri.

"Loh kok masak cuma sedikit?" Tanya Arimbi datang ke dapur, karena sesuai kesepakatan dia akan membantu Dira mengambil sertifikat apartemen yang dibeli Agung untuk Dara.

"Kamu mau? Nih cukup untuk makan dengan nasi." Ucap Dira.

"Jangan lupa tugas kamu." Ucap Dira memberi kode pada Arimbi.

"Kalau gitu, aku di rumah saja Mbak." Ucap Arimbi menawar.

"Hmm... Boleh!" Jawab singkat Dira.

Setelah sarapan, Dira langsung berangkat. Tidak peduli dengan Agung yang masih tidur di dalam kamarnya. Karena semua berkas penting, perhiasan dan lainnya sudah Dira amankan.

Brangkas di kamar itu kosong, meskipun begitu Dira masih menguncinya. Membiarkan Agung memiliki niat membobolnya, dan jika itu terjadi maka Dira akan langsung menangkap basah.

Tidak lama kemudian Dara keluar dari kamar dengan raut wajah lelah dan rambut acak-acakan. Sama sekali tidak sedap di pandang mata, saking jeleknya wajahnya.

"Astaga... Aku pikir kamu kuntilanak. Mandi dulu biar terlihat lebih enak dilihat." Ucap Arimbi ketus.

"Ini semua karena Mas Agung, aku tidak bisa tidur semalam. Sekarang apa Dira sudah berangkat? Aku mau susul Mas Agung di kamarnya, dia harus memuaskanku." Ucap Dara menggebu-gebu karena rasa belum puas itu menyiksanya.

"Heh... Mbak, aku memang menyetujui Mas Agung berselingkuh denganmu dulu. Tapi kalau mau mengajak bercinta Masku di kamar Istri SAHnya. Kamu harus hadapi aku dulu. Jangan cari masalah di sini. Atau kita semua yang akan ditendang Dira, lalu menjadi gembel. Tidak! Aku masih butuh tempat tinggal nyaman bukan menjadi gelandangan."

"Kamu kok malah bela si tuli, padahal aku yang sedang hamil anak Mas Agung. Keponakanmu. Sudah kamu diam saja, aku tetap akan naik ke atas." Dara tetap nekat, berfikir jika ini adalah kesempatan untuk membuktikan pada Dira jika dirinya berharga di mata Agung dan keluarganya. Sehingga membiarkan mereka saling memuaskan.

"Ada apa ribut-ribut?" Ibu Arumi datang dengan perut lapar.

"Loh kok gak ada makana? Kemana Dira?" Tanya Ibu Arumi.

"Mbak Dira sudah berangkat barusan. Kalau mau makan, Ibu masak. Atau suruh Dara saja masak, daripada pag-pagi kayak kucing minta kawin." Ucap Arimbi sarkas.

"Kasihan Dara." Ucap Ibu Arumi.

"Apanya yang kasihan sih Bu. Dia tuh mau masuk ke kamarnya Dira dan Mas Agung. Aku takutnya di kamar ada CCTV yang akan membongkar semuanya." Ucap Arimbi menatap sengit Dara.

"Tapi, aku memang sedang ingin. Ini bawaan bayi." Ucap Dara.

"Arimbi, panggil Mas kamu saja." Ucap Ibu Arumi membela Dara.

"Tidak bisa! Aku memang bukan perempuan bener, tapi aku tidak pernah menjadi simpanan suami orang..."

"Dara... kamu kenapa Sayang?" Tiba-tiba Agung sudah datang dan melihat Gundiknya dibully adiknya sendiri.

"Mas... Kenapa semalam tidak datang, aku kangen. Anakmu minta dijenguk." Ucap Dara manja sambil bergelayut manja di lengan kekar Agung.

"Ya sudah, ayok kita lakukan. Mas juga rindu dengan tubuhmu." Ucap Agung terpancing rayuan Dara.

Arimbi membiarkan mereka bercinta di kamar tamu, sementara dia mencari sertifikat yang kemungkinan disembunyikan Dara. Tidak ada yang menyadari jika semua sudah dalam pantauan Dira. Tinggal menunggu waktu vonis tiba, bagaikan Author menunggu angka retensi.

1
Ma Em
Dira kamu jgn kalah dari Mirna , bu Ningsih juga juragan karsa , lawan mereka jgn kalah kamu berani Dira .
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
🌈🤣
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aq bantu deh dira nampar sebelahnya lagi😂
Ita rahmawati
jgn mau Dira,,biarin Erlangga ngurus orang² lama dulu baru kamu masuk
Ita rahmawati
gak punya akhlak nih si mirna
Ita rahmawati
selesaikan dulu urusanmu SM keluarga pak karsa dan juga SM Mirna Erlangga
vj'z tri
oiii ngajak tawuran ni makhluk 🤧🤧🤧🤧
Maria Mariati
di mana2 uler Keket ,udah Dira jangan berurusan sama Erlangga lagi,urus dirimu sendiri saja, bahagiain diri sendiri saja ga usah senggol Erlangga
Erchapram: Betul itu Kak 🙏
total 1 replies
Winer Win
kek pelangi donggs...tapi pelangi kan indah..cantik...na ini..bunglon aja kali ya,lebih cocok kayaknya..🤣🤣🤣
Winer Win: tong kosong nyaring bunyinya ...🤣🤣🤣
total 4 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Apa yang dilakukan Mirna tergolong perilaku impulsif...😤😥🥴
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬: sama-sama...🙏
total 6 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
asemmm mirna😡
asih
miRNA minta di zakati dulu otak Dan hatinya biar tak ada penyakit iri, kenal saja tidak loh main serang aja
Arin
Cari masalah aja si Mirna. Belum tau aja siapa Dira.... Ayo Dira lawan..... Jangan sampai kekuranganmu bisa di injak-injak seenak hati orang yang merasa sempurna. Tapi ternyata dia sendiri yang mentalnya cacat
Winer Win: kira2 karma ap y yang pas buat miraaass🤣🤣🤣
total 3 replies
Maria Mariati
haduhhhh Mirna ini dasar katanya sekolah tinggi TPI kampungan giru
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aq setuju 👍
please thor jodohin elang sama dira🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semoga berjodoh elang sama dira ya thor.
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
asemmmm yaAmpun mas Angga, gila sih mirna ini, mentang-mentang kaya sampe sampe harga diri orang di giniin. kl aq jadi angga ogah nikah sama mirna😡
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kembalinya buat beli air minum buk😂
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
hutang budinya apa thor
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
dira jangan tinggal sendiri dunk, panggil si mbak mbak gitu buat tinggal berdua dan bantu bantu di rumah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!