mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ingat pulang
pukul tiga pagi, Bu Tantri menelpon Dila dan mengajaknya untuk berbelanja untuk kebutuhan pengajian.
sedang para bapak terlihat sibuk menyiapkan tempat untuk pengajian yang juga dihadiri beberapa grup pengajian ibu-ibu di sekitar kost.
Dila jadi ajudan dari Bu Tantri, bahkan wanita itu membeli berbagai jenis kue basah.
tak berhenti di situ, dia juga membeli ayam potong sepuluh kilo dan juga nangka muda tak lupa.
"ibu mau masak apa?" tanya Dila yang sekalian belanja juga.
"mau buat gulai nangka muda, di campur ayam itu enak loh, dan sayur ketela pohon campur daun pepaya," kata Bu Tantri.
"siap Bu," jawab Dila.
mereka memutuskan untuk ke bagian ikan dan daging karena Dila ingin tau dimana langganan Bu Tantri.
setelah tau dia pun bergegas menuju ke bagian sayur, dan saat selesai, Dila terdiam melihat sepeda motornya yang sudah penuh dengan belanjaan.
"ayo pulang, jika tidak nanti kita kesiangan," kata Bu Tantri.
ternyata saat sampai di tempat kost mereka, para ibu-ibu sudah selesai memasak nasi dan sambal.
mereka semua langsung bergotong royong memasak bahan-bahan yang baru di beli.
Dila juga berkenalan dengan beberapa penghuni yang tak pernah dia lihat, terlebih acara kali ini memang sengaja di lakukan untuk mengeratkan persaudaraan.
acara pengajian di adakan pukul sepuluh pagi, bahkan mereka juga sudah selesai pukul sembilan pagi.
"Dila, kamu ganti baju dulu ya, oh ya kami tak melihat Hendra?" tanya pak RT.
"mas Hendra sedang tugas keluar kota bersama temannya secara mendadak semalam," jawab Dila sedikit tersenyum.
"sudah pak, biarkan Dila ganti baju, bapak urus tamu yang datang ya," perintah Bu Tantri pada suaminya itu.
"siap Bu," jawab pak RT.
Dila pun bergegas untuk pulang dan sedikit terisak, bagaimana dia tak tau suaminya dimana.
bahkan pria itu sudah tak pulang, "kamu membuatku malu seperti ini, apa salahku ..." tangis Dila.
dia pun bergegas masuk ke kamar mandi, dan segera mandi dan bersiap.
tak lama saat dia sedang memakai make-up Vivi dan iim datang, "Dila kamu belum siap?" tanya Vivi yang sadar jika ruangan kos ini adalah milik Hendra.
"tunggu sebentar, aku sudah selesai, ayo kita berkumpul dengan yang lain," ajak Dila.
"tunggu Dila, apa kamu istri dari mas Hendra?" tanya Vivi kaget.
"iya, kami menikah sekitar satu bulan lebih, kenapa mbak Vivi?" tanya Dila.
"maafkan aku, aku mengatakan hal tidak-tidak beberapa hati ini," panik Vivi.
"tenang saja mbak, itu hanya masalalu, dan terima kasih aku jadi tau bagaimana suamiku selama ini," kata Dila yang tetap tersenyum.
"sudah, ayo kita kumpul kan sebentar lagi acara di mulai, anak-anak pabrik juga sudah datang," ajak iim keluar rumah.
Vivi tak mengira, Dila yang begitu baik dan sopan, mau dengan Hendra yang begitu liar, "sudah mbak, Dila juga tak marah," kata iim melihat wajah Vivi
"bukan itu, orang tua macam apa yang bisa memberikan putrinya pada pria seperti Hendra, mereka sama saja mendorong putrinya ke jurang," kata Vivi.
"kalau begitu kita harus melindungi Dila mbak, janhan sampai dia di lukai oleh pria macam Hendra," kata iim
pengajian di mulai, ustadz yang di panggil pun sudah datang, dan tema pengajian kaki ini adalah tentang pernikahan.
Dila pun beberapa kali terlihat terharu, bahkan iim sempat melihat Dila yang mengirimkan pesan pada Hendra dan pesan itu begitu banyak tanpa mendapatkan balasan satu pun.
di villa, Hendra baru bangun pukul setengah sepuluh dan merasa tubuhnya begitu lelah, Ridwan sedang melakukan hal gila di dapur.
Hendra memilih mandi dan bersiap pulang sendiri, karena dia sudah terlalu lama untuk tetap tinggal.
"Hendra, kamu mau kemana?" tanya Ridwan yang baru selesai mandi.
"aku ingin pulang, kamu mau pulang bareng aku, atau kamu mau tetap tinggal," tanya Hendra.
"baiklah, biar aku ganti baju sebentar ya, jangan meninggalkan aku, lebih baik kamu memesan kendaraan online dulu,"kata Ridwan.
"baiklah, pergi sana," usir Hendra.
Hendra memesan kendaraan secara online dan beruntung dia mendapatkan dengan mudah.
Tante Wina menghampiri Hendra, dan memberikan sebuah amplop coklat yang berisi uang cukup banyak.
"untuk apa Tante?" tanya Hendra heran.
"untuk mu, itu adalah upah mu hen, dan jangan membenciku karena ini sudah perjanjian kita dari awal," kata Tante Wina menyentuh pipi Hendra.
"tentu Tante, dan terima kasih," kata Hendra yang bersiap pergi dengan Ridwan.
selama perjalanan Hendra menyalakan ponselnya, dan kaget melihat semua pesan yang di kirimkan oleh dila istrinya.
"kau gila Hendra, istrimu begitu banyak mengirimkan pesan, kau bahkan tak membalasnya," ledek Ridwan.
"tutup mulutmu, kamu tau jika aku pasti mematikan ponsel saat melakukan pesta seperti semalam," jawab Hendra memukul bahu Ridwan.
"baiklah, biar ku yang menjelaskan pad istrimu," kata Ridwan.
mereka sampai di Gresik pukul dua belas siang Kren beberapa kali berhenti untuk makan dan juga menyetorkan uang ke bank.
ternyata acara pengajian batu selesai, Vivi menyenggol Dila, Dila pun menoleh dan Vivi menunjuk kearah Hendra dan Ridwan yang baru datang.
Dila bergegas menghampiri kedua pria itu, tapi saat mencium tangan Hendra.
tak sengaja Dila mencium aroma parfum wanita di tubuh hendra, "aku bawa oleh-oleh, dan kami masuk dulu, kamu lanjutkan saja acaranya," kata Hendra yang masuk begitu saja.
Dila hanya diam meneteskan air mata, Bu Tantri langsung menghampiri Dila dan melihat gadis itu langsung menangis.
Bu Tantri langsung memeluk Dila dan membawanya pergi ke tempat sepi, "Bu as, tolong ambilkan dua piring nasi dan kirimkan ke kamar kos Hendra," pesan Bu Tantri.
"iya Bu," jawab Bu as.
saat sudah di rumah Bu Tantri, dua memberikan air minum untuk memenangkan Dila.
"jangan menangis Dila, kamu bisa mengatakan apapun pada ibu," kata Bu Tantri.
Dila hanya terisak tanpa mau bicara, Bu Tantri pun mengirimkan pesan pada Andri.
Andri yang membaca pun marah dan meninju cermin di kamarnya, pakde gun kaget begitupun dengan Bayu.
"ada apa Andri?" kaget bude Susi melihat putranya.
Andri langsung keluar rumah dan menghampiri sang bapak, pakde gun kaget melihat Andri yang marah dan tangannya terluka.
"kamu terluka Andri," kata pakde gun.
"tidak peduli pak, kenapa harus menjodohkan Dila dengan pria menyebalkan seperti itu, kenapa pak, dia bahkan terus membuat Dila menangis, apa pria seperti itu pilihan bapak!" marah Andri di depan pakde gun.
kemudian Andri hanya bisa menangis dan terjatuh berlutut di depan sang bapak.
"kenapa bapak mendorongnya jatuh ke neraka pak, pria itu bahkan pria baik seperti yang bapak pikirkan ...."
"apa maksudmu le, keluarganya taat agama dan keluarganya juga memiliki status tinggi," jawab pak gun.
"apa bapak yakin jika pria itu juga, bahkan apa bapak tau bagaimana dia di kita tempatnya bekerja," jawab abdti yang masih terisak.
Bayu memukul tengkuk andri dan membuat pria itu pingsan, bahkan pakde gun juga nampak syok.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal