Kevin Prasetya adalah orang yang sangat setia kepada pasangannya dari sejak kecil, setelah remaja mereka pisah, akan tetapi saat dewasa mereka dipertemukan lagi dan menjadi sepasang kekasih yang romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gilang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19
Mencoba mengambil perhatian
"Arghhh gila tampan benget." Teriak Diana yang membuat semua mata tertuju padanya. Sebelum masalah besar akan terjadi, Vivi langsung menutup mulut Diana dengan telapak tangannya. Diana tampak memberontak, ia ingin mulutnya dilepaskan oleh sekretaris pribadinya. Karena tangannya sudah mulai kecapean, Vivi melepaskan Diana dengan memerintahkan Diana untuk bisa diam.
"Hufttt kenapa sih nih anak, ingat yah aku ini atasan mu bukan bawahan mu!" Bentak Diana yang membuat semua mata terbelalak mendengar bentakan Diana yang terdengar sangat jelas.
Ekhemm... Mulai lagi nih, ingat dunia bukan milik dirimu sendiri.... Ujar Vivi yang merupakan kode keras untuk Diana yang sudah lupa bahwa dunia bukanlah untuk dirinya sendiri. Yah, terkadang wanita ini berfikir bahwa dunia hanya milik dirinya sendiri dan orang lain hanya sekedar mengontrak diatas dunia ini. Mendengar perkataan Vivi membuat Diana merasa malu yang telah dia perbuat.
"Lah dunia ini emang milik aku sendirilah yang lain kan pada ngontrak hehe." Ujar Diana yang mencoba untuk tetap tegar dihadapan semua orang.
"Ck Iya iya, orang seperti mu emang harus di iya in, kalau engga mah malah ngelunjak." Ocehan sang sekretaris pribadinya yang mulai kesal akan tingkah laku Diana.
"Loh jangan gitu dong Vi, kan aku emang selalu benar." Tambah Diana.
"Gini yah, untung aja aku sudah terbiasa akan tingkah mu yang memalukan itu, kamunya yang membuat malu, akunya yang nahan malu, emangnya kamu ga malu apa? Dimana urat malu mu? Stop deh kak Diana aku tuh sekretaris pribadinya kamu, ya kali sekretaris pribadinya lebih kalem dan profesional dari atasannya." Ujar Vivi sambil menatap dari ujung kaki sampai atas kepala Diana.
"Stop Vivi, kamu adalah kamu dan aku tetaplah aku, stop komentarin hidupku, eh lihat tuh tampan banget kan." Gumam Diana yang kagum akan sosok yang sejak tadi ia perhatikan. Ia menarik Mrs Anggi dan Vivi sambil menunjuk ke sebuah arah.
Tampak sosok pria yang sedang duduk dipojok kanan. Pria itu terlihat sangat elegan, tampan dan sangat mapan, siapa saja yang melihatnya juga ikut kagum melihat penampilannya. Diana dan Vivi sangat kagum dan salah tingkah dibuatnya, berbeda dengan Mrs Anggi yang hanya memberikan sedikit senyuman diwajahnya. Dihatinya hanya ada Mr Kevin, ia tak akan pernah berpaling dari sang suami yaitu Mr Kevin.
"Sesudah Mr Kevin baru dia yang buat aku ikut kagum, kira kira udah lama yah aku ga makan satu meja sama cowok." Tambah Diana yang membuat Mrs Anggi terkekeh geli. Mrs Anggi tak pernah menghiraukan perkataan Diana, baginya perkataan sang kerabatnya adalah sebuah lelucon dan tak mungkin wanita ini akan merebut Mr Kevin darinya.
"Uhukkk sepertinya saya dari tadi tidak dianggap, mereka yang ga punya mata atau saya yang bukan kaum Adam." Ujar Dinar yang merupakan sebuah sindiran untuk Diana. Sindiran yang dibuat Dinar membuat Mrs Anggi, Diana dan Vivi tertawa terbahak bahak, bahkan mereka lupa bahwa masih ada pengunjung lain selain mereka.
"Percuma kamu ku anggap sebagai kaum Adam dimeja ini, dompet mu mana sayang? Hahaha lucu kamu Dinar." Ujar Diana yang masih tertawa terbahak bahak.
Terdengar suara tawa Diana dan Vivi yang sudah tak bisa ditahan lagi, suara tawanya semakin keras. Sampai sampai Diana dan Vivi tak bisa menahan tangannya yang sudah tak bisa terdiam. Diana dan Vivi saling dorong dorongan, Mrs Anggi mencoba untuk menahan tubuh Vivi yang hampir jatuh oleh dorongan dari tangan Diana.
Karena Diana mulai mendorong Vivi dengan kuat, Vivi berusaha untuk tetap menahan keseimbangannya dengan kuat. Vivi tak sengaja mendorong Diana sangat kuat, dorongan Vivi membuat tubuh Diana kehilangan keseimbangan tubuhnya. Tubuh Diana terlihat akan jatuh ke atas lantai, lebih parahnya lagi gadis ini kehilangan keseimbangan dalam keadaan yang masih memegang sebuah gelas kaca.
Bugh... Tubuh gadis itu ambruk di atas lantai, pecahan kaca kini berada di telapak tangannya. Perlahan darah segar mulai mengalir pada tangannya. Entah apa yang ada pada otak gadis tersebut, bisa bisanya gadis ini masih bisa tertawa diatas rasa sakit yang ia rasakan. Ia menatap ke depan, terlihat seseorang pria berdiri di hadapannya. Gadis itu mulai melirik dari ujung sepatu sampai mata pria tersebut. Tiba tiba matanya terbelalak melihat sosok pria yang berada dihadapannya. Mrs Anggi, Vivi dan Dinar membantu Diana untuk kembali duduk dan mengobati lukanya.
"Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa bisa bisanya aku masih sempat tertawa dalam keadaan seperti ini? Kenapa aku seperti orang konyol dihadapannya? Aaaa aku seperti orang bodoh dihadapan dirinya! Apa yang harus aku lakukan." Beribu pertanyaan konyol kini berada dibenak gadis itu. Ia kini harus melakukan sesuatu untuk bisa memanfaatkan keadaannya saat ini. Gadis tersebut menghempaskan tangan Dinar yang berusaha menolong dirinya.
Awwww sakit ... pekik Diana yang tiba tiba meringis kesakitan. Pria tersebut langsung menolong Diana, sedangkan Dinar, Vivi dan Mrs Anggi terduduk heran melihat tingkah Diana. Pria tersebut membantu Diana untuk kembali berdiri dengan hati hati. Diana memohon untuk mengantarkan dirinya kesebuah klinik yang tak jauh dari kantin tersebut. Melihat tingkah Diana, Vivi langsung menghempaskan tangan pria tersebut yang merupakan tempat bertahannya tubuh Diana. Karena tangannya Vivi cukup kuat, membuat pria tersebut tak sengaja melepaskan tubuh Diana, gadis tersebut kembali tersungkur di atas lantai. Sakit yang ia rasakan kini berlipat ganda dari sebelumnya.
Mrs Anggi dan Dinar langsung membantu Diana untuk kembali berdiri. Sedangkan Vivi tampak terdiam apa yang baru saja ia perbuat. Pria tersebut menawarkan dirinya untuk membantu mereka membawa Diana menuju klinik yang tak jauh dari sana. Sontak saja membuat Diana tersentuh dan berpura pura tak bisa jalan dihadapan pria tersebut.
"Ehh jangan jangan, tak usah repot repot kak, kami bisa kok bawa kak Diana ke klinik, nah dari sini aja udah kelihatan pintu kliniknya, jadi kakak tak usah repot repot." Gumam Vivi yang berusaha untuk menolak tawaran pria tersebut.
"Ih kenapa sih Vivi, tiap hari jalanku di halang mulu sama dia, lihat aja Vi gaji mu bulan ini bakalan ku potong." Keluh Diana di dalam hatinya.
"Beb lihat nih tangan ku, udah berlumuran darah, nanti aku bisa pendarahan, kaki ku juga ga bisa jalan sakit banget, kak bantuin gendong aku ke klinik bisa ga? Kayaknya asisten saya ga bisa gendong saya, lihatlah badannya kekecilan, apakah kamu yakin tubuh ku bisa ditahan sama dia?" Gumam Diana yang membuat kedua mata mereka terbelalak. Bisa bisanya gadis ini memanfaatkan keadaan dalam kondisi seperti ini. Tampak Mrs Anggi yang mulai keberatan menahan tubuh Diana. Pria tersebut ingin menggantikan posisi Mrs Anggi yang berada disebelah kiri Diana. Dengan cepat Vivi langsung membantu Mrs Anggi dan kembali menolak tawaran pria tersebut.
"Mending kakak melanjutkan perjalanan mu kesebuah tempat, percayalah kami bisa kok menangani kak Diana." Tolak Vivi agar pria tersebut segera pergi dari hadapan mereka.
Wajah Diana tampak kesal dan marah akan tingkah Vivi. Karena Vivi kesempatannya untuk mendekati pria tersebut menjadi gagal. Walaupun ia merasakan sakit yang luar biasa tetapi ia tetap senang diantarkan berobat kesebuah klinik oleh sosok pria yang baru ia temui saat ini. Tapi sekarang rencananya gagal, ia malah mendapatkan rasa sakit yang sangat parah dihatinya. Amarahnya menggebu gebu, perlahan ia menarik rambut Vivi yang merupakan kode keras untuk tidak menghalangi jalannya.
Vivi tak menghiraukan kode keras dari Diana, ia hanya tetap kekeh untuk tetap menghalangi rencana Diana. Ia sudah tau apa yang kini berada di dalam benak Diana, Vivi tetap berusaha untuk menggagalkan rencana yang dilakukan oleh Diana. Ia tak menghiraukan semua mata kini tertuju pada mereka, ia tetap berusaha keras untuk menggagalkan rencana Diana.
"Oke, jadi kapan kalian membawa dia ke klinik? Kasian udah banyak darah yang keluar dari tangannya, kasian loh nanti terjadi pendarahan." Gumam pria tersebut sambil menatap ke arah tangan Diana yang sudah berlumuran darah.
"Jangan sebut aku dengan kata dia, tapi sebutlah namaku dengan sebutan Diana." Ujar Diana yang masih belum saja kapok akan kondisinya.
"Oh ya aku boleh ga minta nomor."
Mendengar perkataan Diana yang mulai ngeyel, langsung saja Dinar, Mrs Anggi dan Vivi menyeret Diana untuk keluar dari kantin tersebut. Tampak Diana yang berusaha untuk menyelesaikan perkataannya. Tetapi harus gimana lagi, ia sudah terburu diseret oleh Mrs Anggi, Dinar dan Vivi untuk keluar dari kantin tersebut.
🤩🤩🤩🤩🤩