NovelToon NovelToon
Ruang Rindu

Ruang Rindu

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Nikahmuda / Pernikahan Kilat / Obsesi / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: ARyanna

Pernikahan yang berawal dari perjodohan juga tanpa diiringi cinta.


"Bukankah kamu pernah bertanya, hal apa yang bisa membuatku bahagia. Jika sekarang aku menjawab apa kamu akan mengabulkannya?" kata Febriana Citrani, yang kerap dipanggil Anna.

Prasetyo mengangguk, "Jika aku bisa, aku akan melakukannya untukmu."

"Aku sangat yakin kamu pasti bisa," ujar Anna sejenak menatap suaminya. "Ceraikan aku, itu kebahagiaanku!"

Tatapan mata Prasetyo menajam.

"Selama ini aku tersiksa," ucapnya dengan nada rendah tapi terdengar menekan tiap kata yang diucapkannya, seraya tangannya menunjuk tepat di dada.

Sudut bibir Anna tertarik menciptakan senyum masam, tak mendapat respon ia pun bangkit memunguti pakaiannya hendak berlalu pergi.

"Baiklah tapi dengan satu syarat, aku ingin kamu memberiku anak lagi, laki-laki. Setelah syarat itu terpenuhi kamu bisa pergi."

Prasetyo pun bangkit berjalan melewati tubuh Anna yang mematung seakan tak mempercayai ucapan suaminya, Prasetyo pun berlalu masuk ke kamar mandi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

"Ini hari ulang tahunku," ucap Kak Adrian lirih saat melewati bangku mejaku, usai berucap ia kini berlalu.

Sedikit aku menoleh kearah belakang, ia kini berjalan melewati bangku mahasiswa lain dan hari ini aku sedang menjalani ujian.

Sedikit bingung, kenapa Kak Adrian mengatakannya diwaktu seperti ini, namun setelahnya aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Kenapa An?" tanya Nisa dengan nada ucapan serendah mungkin.

Aku menggeleng, tak kusangka ada temanku yang memperhatikanku. Aku pun kembali memfokuskan diri meski sempat terdengar Nisa mengataiku dengan sebutan kata 'Aneh,' namun aku tak peduli dan melanjutkan lagi mengerjakan soal-soal yang belum ku selesaikan.

Waktu ujian sudah habis, itu artinya sudah tak ada lagi jam kuliah. Notifikasi pesan diponselku kini mengurungkan niatku saat hendak membuka pintu mobil. Segera kurogoh ponselku yang kutaruh dikantung blazer yang kukenakan.

Dilayar tertera nama Kak Adrian, dari pesannya tertulis,

From : Kak Adrian

Tetap berdiri di posisimu, hingga aku sampai kesitu.

Sontak akupun menoleh ke arah sekitaran, mencari sang pengirim pesan, dan sorot mataku menemui sosoknya yang kini tengah melambai di atas gedung, tepatnya lantai tiga. Tangannya melambai kearahku dan akupun membalasnya dengan senyuman. Tak lama ponselku kini terdengar bunyi notifikasi lagi, setelah kubuka ternyata isinya,

From : Kak Adrian

Tunggu disitu

Saat aku menatap lagi ke gedung lantai tiga sudah tak kudapati lagi dirinya disana, namun selang beberapa waktu dia muncul dengan membawa sebuket bunga. Sedikit terperangah sebab Kak Adrian kini menyodorkannya padaku.

"Harusnya aku yang diberi hadiah, tapi ini pengecualian sebab ini adalah bentuk dari sebagian usaha," ucapnya seraya meraih tanganku untuk menerima bunganya.

"Kak—," ucapku terhenti begitu saja sebab Kak Adrian kini menarik lenganku.

"Kita mau kemana?" tanyaku setelah aku dan Kak Adrian sampai di parkiran motor. Kami berhenti di motor sport berwarna merah. Tak menjawab ia kini justru memakaikan helm dikepalaku tak lupa dia juga mengaitkan tali helm.

Aku sedikit ragu sebab aku jarang sekali menaiki motor, apalagi yang ada dihadapanku motor lelaki, tapi Kak Adrian justru menarik tanganku dan mau tak mau aku mulai mendudukan diri di jok belakang motornya, hingga jarak kami kini begitu dekat.

"Pegangan," perintahnya. Ragu tanganku mulai mengulur, namun dengan cekatan Kak Adrian menarik tanganku dan mengarahkannya untuk melingkar dipinggangnya setelah itu motor kini melaju.

Sungguh, sebenarnya aku tak merasai nyaman dengan posisi dudukku kini. Rasanya aku ingin segera sampai ke tempat tujuan kami. Setelah motor berputar-putar yang tak ku tahu jalan apa, kini barulah kami terhenti disalah satu Cafe yang menurutku asing. Bangunannya klasik dengan ornamen khas, menonjolkan suasana ruang yang tampak begitu berbeda. Interior Cafe menjadi terlihat sangat atraktif dengan suasana yang begitu inviting.

"Cafe ini baru buka satu minggu yang lalu," kata Kak Adrian mulai memecah fokusku sebab dari tadi aku sibuk memandangi tempat ini, tak sadar sampai aku terbuai dengan jalan pikiranku sendiri.

"Apa kamu menyukainya?" tanya Kak Adrian lagi.

"Suka, banget malah," ucapku sambil menyesap ice cappucino.

"Konsep ini sudah sejak lama terpikirkan, mungkin sejak dan saat aku duduk dibangku SMA, dan kini baru bisa terealisasikan," jelas Kak Adrian.

"Really?" tanggapanku spontan dan orang dihadapanku kini menganggukkan kepalanya.

"Aku sedikit tak percaya, diusia yang masih muda seperti ini Kak Adrian sudah bisa membangun usaha dan lagi bisa membuka lapangan pekerjaan tentunya," ucapku sedikit bangga akan usahanya.

"Maka dari itu, aku juga butuh seorang pendamping untuk mau mendorong dan menyemangatiku untuk maju," ucapnya dan terkesan ambigu ditelingaku.

"Apa aku terlalu mendesakmu?" tanyanya sebab kini dia menangkap ekspresiku yang tengah memaksakan senyum.

Aku mendesah, rasanya aku ingin jujur mengatakan kepadanya tentang statusku yang sebenarnya. Ketulusannya, seakan aku tak bisa membiarkan dia kecewa dan terluka atas pengharapannya yang aku pikir tak mungkin untuk membalasnya sebab dalam perutku kini ada janin yang tengah tumbuh dan berkembang.

"Aku akan mengantarmu pulang, sebentar lagi gelap" ucapnya dan aku menutup mulutku yang sedikit terbuka, mengurungkan niatku yang hendak berbicara.

Sesampainya di rumah hari sudah gelap, sekitar pukul tujuh kurang. Tadinya aku memintanya untuk mengantarkan aku saja kembali ke kampus mengambil mobil, tapi Kak Adrian tetap memaksa mengantar aku hingga sampai di depan rumah.

Aku turun dari motornya dan diikuti oleh Kak Adrian yang telah melepas helmnya. "Terimakasih untuk hari ini, tapi maaf bunganya tadi tak sengaja terhimpit saat duduk di jok motor," ucapku sambil menunjukan bunga yang telah rusak.

Kak Adrian tersenyum. "Tak masalah, dan terimakasih karena sudah menemaniku hari ini," ucapnya dengan langkah maju mendekat, menghentikan pergerakan tanganku yang hendak melepas helm miliknya. Dia semakin mendekat dan mendaratkan satu kecupan tepatnya pada helm yang masih aku kenakan.

Aku terkejut, memandangnya tak percaya. Tapi dari arah belakangku kini terdengar langkah kaki yang mendekat, saat aku hendak menoleh seketika aku tersentak kaget sebab Mas Pras kini tiba-tiba datang dan melayangkan pukulan tepat diwajah Kak Adrian.

Bughh

Sontak aku terpekik kaget, darah segar kini keluar dari sudut bibir Kak Adrian. Aku berusaha menghalangi dan menarik lengan Mas Pras, tapi justru lengan Mas Pras kini menyentakku hingga tubuhku terhuyung kebelakang.

Aku sudah tak kuasa melihat wajah Kak Adrian yang sudah babak belur, akupun terpekik seraya menangis meminta agar Mas Pras menghentikan pukulan-pukulannya.

"Mas— kumohon berhenti!" teriakku dengan tangis histeris.

Mas Pras menghentikan pukulannya dan menoleh ke arahku dengan tatapan tajam. "Inikah yang kamu lakukan diluar rumah!" ucapnya membentak disertai amarah yang nampak diwajahnya.

Dan baru ini aku mendengar dia meninggikan suara, urat-urat dilehernya nampak terlihat juga rahangnya sudah sangat mengeras. Disaat ini aku sungguh merasa takut, dengan tubuh sedikit memundurkan langkahku justru Mas Pras kuat mencekal dan mencengkeram tanganku seakan aku tak boleh lari darinya.

"Kamu tahu wanita ini telah bersuami," ucap Mas Pras dingin menunjukkan cincin yang tengah kupakai ke arah Kak Adrian.

Terlihat jelas diwajah Kak Adrian, raut muka yang seakan menolak ucapan Mas Pras.

Tak menunggu waktu lama kini Mas Pras menarik lenganku kasar guna mengikuti langkahnya untuk masuk kedalam rumah.

"Mas lepasin," ucapku berusaha terlepas dari cengkeramannya, tapi yang kudapat justru Mas Pras mencengkeramku kian erat hingga terasa sakit.

Tak mau menjawab ucapanku, Mas Pras kini mempercepat langkahnya hingga tubuhku terseok—terseret mengikuti langkah lebarnya. Sekilas aku menoleh ke arah belakang terlihat raut wajah Kak Adrian yang menatapku penuh kecewa, sebelum tubuhku benar-benar masuk kedalam rumah sempat kulihat Kak Adrian tengah mengelap sudut bibirnya dengan menggunakan punggung tangannya.

To be Continue

Apa yang terjadi dengan Anna, ikuti saja... ngomong-ngomong helmnya Adrian masih nyangkut ya dikepala Anna

1
Felycia Fernandez
bener2 tokcer ini 👍👍👍👍👍💗
Shofiya An Najah
kaaa riyana aku balek lagiii🤭, aku suka bngt novel" kaka aku baca hampir semua novel kaka dari tahun 2019 sampe sekarang masih suka ingat judulnya walaupun apk udh pernah aku hapus jdi setiap instal apk ini lgi, yang dicari pertama kali pasti novel kaka, dan aku ud berulang kali lepas pasang apk ini dn udh brp kali ngulang baca novel kaka, emng sebagus ituuu🥹🥹
Nkf: Sama kak 🤣🤣
total 1 replies
ione
/Good/
Nazril Azka
lanjut audio toon nya kak
Ira Suryadi
Luar Biasa
Glorya Raya
Luar biasa
Eva The-kk
udah berkali2 baca d tahun2 lalu tp masih aja mewekkk. author ni ihhh pinter banget bikin greget
Big Family
Luar biasa
Big Family
Lumayan
Eva The-kk
aku nangis mewek bagusss cerita tp slow
Pasikah CwElosbes
crta nya bagus baru mampir ksni skian lam..crta yg ringan mnglir bgtu saja TPI seru
Aysha Luthvi
baca ke 3 kali ny biasa ny baca novel d longkap ini mah ngga aq suka cerita ny
Dinda
Luar biasa
Aysha Luthvi
suka banget cerita kak
Aysha Luthvi
baca ke dua kali ny
Bunda Aish
keren cerita nya.... ada terjadi di sekitar kita....
Bunda Aish
ngulang baca....
Santi
Ya Allah aku minta pasangan yg seperti mas pran
Lena Sari
Anna pasti akan menyesal ...meninggalkan yg pasti demi yg tidak pasti,akankah Adrian mencintai mu seperti Pras?kasian qila.
Lena Sari
gitu amat Ama suami,,giliran minta duit ja baru manis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!