Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tak tak tak.
Rio membuka laptopnya dan mulai mengetikkan beberapa baris kode pemrograman dengan sangat cepat.
"Ini pekerjaan mudah Tuan Anton, aplikasi murahan buatan orang desa pasti tidak punya sistem pertahanan api yang kuat," remeh Rio.
"Beri aku waktu lima belas menit dan aku akan membuat server mereka meledak tak tersisa."
Kembali ke Gunung Sumber Abadi, Rizky sedang duduk di ruang kontrol lantai dua mengecek laporan keuangan harian.
Tiba-tiba, suara alarm digital yang sangat melengking berbunyi tepat di dalam pikirannya.
Ngiiing.
Ding!
[Peringatan Kritis Sistem!]
[Sistem mendeteksi adanya serangan siber brutal dari pihak luar yang mencoba menembus pertahanan aplikasi tiket Host.]
[Serangan ini bertujuan untuk meretas data pelanggan dan melumpuhkan operasional server utama.]
Rizky langsung berdiri tegak dari kursinya dengan raut wajah yang seketika berubah menjadi sangat gelap dan tajam.
"Anton benar-benar menggunakan segala cara kotor untuk menjatuhkanku dari kursi bisnis ini," gumam Rizky menahan amarah.
"Sistem, apakah serangan itu berbahaya dan bisa menembus data kita?"
Ding!
[Serangan kelas rendah ini tidak akan pernah bisa menggores sedikit pun Dinding Api Lapis Tujuh milik Sistem Raja Wisata.]
[Sistem telah memblokir semua celah masuk dan berhasil melacak balik alamat IP dari si penyerang.]
[Lokasi penyerang berada tepat di dalam jaringan nirkabel gedung kantor utama Taman Mega Ria.]
"Sesuai dugaanku, anjing pengecut itu memang tidak pernah berani bertarung secara terbuka," ucap Rizky tersenyum sinis.
Rizky mengambil walkie-talkie di atas mejanya dan memanggil manajernya.
"Siska, cepat naik ke ruanganku sekarang juga, ini darurat," panggil Rizky serius.
Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan terbuka dan Siska berlari masuk dengan wajah kebingungan.
"Ada masalah apa Bos, kenapa suaramu terdengar sangat tegang?" tanya Siska mendekati meja kerja bosnya.
"Taman Mega Ria baru saja menyewa peretas untuk merusak aplikasi tiket kita dan menggagalkan festival nanti malam," jelas Rizky singkat.
Mata Siska langsung melotot lebar dan tangannya mengepal keras mendengar kejahatan siber tersebut.
"Apa, beraninya mereka bermain kotor sampai sejauh ini Bos!" teriak Siska marah.
"Bagaimana dengan data lima ribu pembeli kita, apakah aman atau sudah dicuri oleh mereka?"
"Tenang saja, pertahanan serverku jauh lebih canggih dari otak peretas murahan yang mereka sewa," jawab Rizky menenangkan manajernya.
"Keluarkan ponselmu dan rekam layar laptopku sekarang juga Siska."
Siska langsung menuruti perintah itu tanpa banyak bertanya dan menyalakan kamera ponselnya.
"Kita akan memberikan mereka pelajaran pahit yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup," ucap Rizky dengan nada berbahaya.
Rizky berpura-pura mengetik sesuatu di laptopnya dengan cepat padahal dia sedang berinteraksi langsung dengan sistem.
"Sistem, aktifkan serangan balik digital sekarang juga tanpa ampun," perintah Rizky di dalam batinnya.
"Kirimkan Virus Pemakan Data ke server utama Taman Mega Ria melalui jalur IP penyerang tadi."
Ding!
[Perintah eksekusi diterima dengan baik.]
[Menjalankan Protokol Keadilan Digital Level 1.]
[Proses pengiriman virus sedang berlangsung dan akan melumpuhkan sistem operasional Taman Mega Ria dalam hitungan sepuluh detik.]
Sementara itu di kantor Taman Mega Ria, wajah Rio si peretas sombong mendadak berubah menjadi sepucat mayat.
Keringat dingin bercucuran sangat deras dari dahinya hingga membasahi ujung kacamata tebalnya.
"Tuan Anton, ada yang sangat tidak beres dengan server mereka!" lapor Rio dengan suara bergetar panik.
"Ada apa Rio, jangan bilang kau gagal menembus keamanan aplikasi miskin itu," cibir Anton yang sedang menyalakan sebatang cerutu mahal.
"Bukan sekadar gagal menembus Tuan, tapi mereka memantulkan serangan kita ribuan kali lebih kuat kembali ke jaringan kita sendiri!" jerit Rio sangat histeris.
Tak tak tak.
Rio mengetik dengan sangat brutal menekan tombol hapus berkali-kali mencoba memutus akses jaringannya namun semuanya sudah terlambat.
Tit tit tit.
Layar laptop canggih milik Rio seketika berubah menjadi warna merah darah pekat yang berkedip-kedip menyilaukan mata seluruh ruangan.
Sebuah pesan pop-up muncul di tengah layar menutupi semua data dengan tulisan berwarna hitam.
"Jangan pernah bermain api jika kau tidak ingin rumahmu hangus terbakar, salam hangat dari Gunung Sumber Abadi."
Anton yang membaca pesan ejekan itu langsung menjatuhkan cerutunya ke atas karpet lantai karena sangat syok.
"Apa maksud tulisan kurang ajar ini Rio, cepat cabut komputermu sekarang juga!" perintah Anton berteriak kalap.
Brak.
Rio mencabut kabel daya laptopnya dengan paksa namun layar monitor utama di ruang rapat Anton ikut berubah menjadi merah darah.
Suara sirene bahaya berbunyi sangat melengking dari seluruh lorong gedung perkantoran mewah Taman Mega Ria.
Ngiu ngiu ngiu.
Seorang staf teknisi mendobrak pintu ruangan Anton dengan wajah yang dibanjiri air mata ketakutan.
"Tuan Anton, gawat Tuan, seluruh sistem mesin pemindai tiket di gerbang utama taman hiburan kita mati total!" lapor teknisi itu menangis.
"Aplikasi pemesanan daring kita juga dihapus paksa dari sistem awan oleh virus tidak dikenal, kita kehilangan semua data penjualan minggu ini!"
Lutut Anton seketika terasa lemas seperti jeli dan tubuh besarnya jatuh terduduk kembali ke atas kursinya.
Bruk.
"Ini bencana, kita merugi miliaran rupiah hanya dalam hitungan detik," gumam Anton dengan pandangan mata yang benar-benar kosong.
Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pemuda gunung yang terus dia remehkan ternyata memiliki ahli siber dengan kemampuan dewa di belakangnya.
Kembali ke ruang kontrol Gunung Sumber Abadi, Rizky tertawa sangat lepas melihat notifikasi keberhasilan sistemnya.
Hahaha.
"Kerja bagus Siska, simpan rekaman layar itu baik-baik di brankas digital," perintah Rizky sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kita akan menggunakan video pertahanan murni ini sebagai bukti kuat jika mereka berani membawa urusan ini ke pengadilan hukum."
Siska mengangguk dengan sangat antusias sambil memeluk ponselnya erat-erat ke dada.
"Bos Rizky memang pemimpin paling jenius sejagat raya, mereka pasti sedang menangis darah memeluk server mereka yang rusak," puji Siska melompat kegirangan.
"Ini baru hukuman pemanasan untuk mereka Siska," ucap Rizky bersandar nyaman di kursinya.
"Tunggu sampai mereka melihat seberapa besar ledakan pengunjung kita di festival malam nanti, itu akan menjadi pukulan mematikan bagi mental mereka."
Rizky menatap pemandangan luar melalui jendela kacanya dengan perasaan yang sangat lega dan percaya diri.
Dia tahu bahwa kemenangan telak atas kompetitor raksasa yang sombong itu kini hanya tinggal menghitung jam saja.