Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suasana malam di balkon lantai dua Mansion Hasanuddin terasa begitu dingin. Angin berembus pelan membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya reda. Di balik pilar megah yang megah, dua insan berdiri berhadapan dengan raut wajah yang sama-sama berat oleh beban kehidupan.
Ameer menatap gadis di hadapannya. Manik matanya memperlihatkan kepedihan yang teramat sangat melihat Tania, adik sepupu yang amat disayanginya tampak begitu rapuh dalam balutan piyama panjang kebesaran serta jilbab instan yang membungkus rambut nya.
"Tania..." suara Ameer terdengar sangat dalam dan penuh keseriusan, memecah hening malam.
Tania mendongak pelan. Wajah tirusnya yang pucat tersapu sinar bulan. "Iya, Kak Ameer?"
"Kakak harus kembali ke Amerika sebentar lagi," ucap Ameer pelan. Matanya tak lepas menatap respons Tania. "Ada urusan dan misi penting yang tidak bisa Kakak tinggalkan begitu saja. Tapi Kakak tidak bisa meninggalkanmu di sini dalam keadaan terancam."
Tania menunduk, jemari tangannya yang masih membiru meremas kain piyama nya sendiri. "Tidak apa-apa, Kak. Kak Ameer berangkat saja... Tania bisa jaga diri kok..."
"Tidak, Tania. Kakak tidak akan membiarkan mereka menyiksamu lagi," pangkas Ameer tegas. Ia maju satu langkah, lalu menggenggam kedua bahu Tania dengan lembut namun penuh penekanan. "Dengarkan Kakak baik-baik. Begitu tugas Kakak di Amerika selesai, Kakak akan pulang... dan Kakak akan menikahimu."
DEG!...
Kata-kata itu menghantam dada Tania bagai guncangan hebat. Mata sayunya membelalak lebar. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelipisnya seketika menetes deras membasahi pipinya yang tirus.
"Kak... tidak..." geleng Tania dengan suara gemetar, terisak pelan. "Tania tidak bisa... Tania menyayangi Kak Ameer seperti kakak kandung Tania sendiri sejak kecil... Tania tidak pernah punya perasaan lain pada Kak Ameer..."
"Kakak tahu, Tania! Kakak tahu!" potong Ameer cepat, matanya ikut berkaca-kaca menahan emosi. Jiwanya sendiri teriris mengingat kekasih yang menunggunya Di Amerika..., kekasihnya itu baru saja tiba di Amerika,tapi dirinya malah kembali ke Indonesia. "Kakak pun sama. Bagi Kakak, kamu adalah adik kandung Kakak sampai kapan pun. Tidak akan ada perasaan antara pria dan wanita di antara kita."
Tania menatap Ameer dengan raut bingung bercampur duka di balik derai air matanya. "Lalu... lalu kenapa Kakak mau menikahi Tania...?"
"Status, Tania! Hanya demi status hukum!" tegas Ameer, suaranya bergetar menahan kepedihan. "Hanya dengan ikatan pernikahan, Kakak punya hak mutlak atas dirimu dan seluruh aset almarhum orang tuamu secara hukum. Danin, Chana, maupun Filio tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi! Mereka tidak akan berani menyiksamu jika kamu adalah istri dari pemilik sah Hasanuddin Group!"
Ameer menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jatungnya yang bergemuruh. Ia menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Tania yang polos dan suci.
"Dengarkan janji Kakak, Tania. Pernikahan ini hanya benteng pelindung untukmu. Kita akan hidup sebagai kakak dan adik seperti biasa. Dan nanti... jika saatnya tiba, ketika kamu sudah menemukan laki-laki yang benar-benar kamu cintai dan dia sanggup melindungimu... Kakak sendiri yang akan menceraikanmu dan menyerahkanmu padanya secara terhormat."
Tania menangis sesenggukan di hadapan Ameer. Betapa besar pengorbanan yang hendak dilakukan oleh Ameer demi menyelamatkannya. Sifat dasar Taniza yang penurut, tidak ingin menjadi beban, dan selalu memikirkan kebahagiaan orang lain membuat hatinya teriris membayangkan Ameer harus mengorbankan masa depannya sendiri demi dirinya.
"Tapi Kak Ameer... bagaimana dengan kehidupan Kak Ameer sendiri...?" bisik Tania parau di antara isak tangisnya.
Ameer hanya tersenyum tipis, sebuah senyum penuh kepasrahan seorang pahlawan. Ia merengkuh kepala Tania dan menempelkannya ke dadanya, mengelus kepala Tania dengan penuh kasih sayang seorang kakak.
"Jangan pikirkan Kakak. Yang terpenting adalah keselamatanmu, adikku," bisik Ameer pelan.
*
*
*
Hari-hari berikutnya menjelang keberangkatan Ameer ke Amerika, suasana di Mansion Hasanuddin mengalami perubahan drastis yang sangat tidak alami.
Filio, yang sebelumnya bertindak bak iblis tanpa belas kasihan, mendadak berubah menjadi sosok saudara sepupu yang sangat perhatian. Setiap kali Ameer melintas di ruang tengah atau ruang makan, Filio akan menyapa Tania dengan suara manis dan wajah tersenyum ramah.
"Tania, minum tehnya , ini Aku yang bikin loh? Jangan capek-capek," ucap Filio penuh kelembutan yang dibuat-buat saat mereka berada di meja makan, bahkan berpura-pura mengambilkan buah untuk Tania di depan Ameer dan Kakek Hamzah.
Chana pun tak kalah lihai. Ia bersikap manis, sesekali memuji ketabahan Tania dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya.
"Tania, maafkan Tante ya, Tante selalu menyebut mu pembawa sial, padahal apa yang terjadi pada kakak-kakak iparku itu semuanya adalah takdir" Chana menggenggam tangan Tania.
"Aku juga minta maaf Tania, kita ini kan saudara, mulai sekarang, Aku akan memperlakukan mu dengan baik seperti saudara kandung ku" seru Filio dengan wajah berbinar-binar,namun sangat ketara wajah penuh kelicikan di sana.
Tania, dengan jiwanya yang polos dan selalu berprasangka baik pada semua orang, merasa tersentuh. Ia tersenyum tulus dan menyambut baik perubahan sikap Filio dan Chana, berharap bahwa kedamaian di rumah itu benar-benar telah kembali.
"Iya Filio,Tante Chana, Tania sudah memaafkan jauh-jauh hari, Tania juga minta maaf kalau Tania belum bisa menjadi Tania yang di banggakan keluarga ini" .
Namun, Ameer bukan pria bodoh. Sebagai seorang agen rahasia, ia melihat kilatan kepalsuan dan dendam yang tersimpan rapi di balik tatapan mata Filio setiap kali Tania membelakanginya. Kepura-puraan Filio justru makin meyakinkan Ameer bahwa keputusannya untuk menikahi Tania adalah satu-satunya jalan untuk melindungi adik sepupunya dari bahaya yang jauh lebih besar.
____
Kehidupan di desa kaki gunung kembali tenang seiring berlalunya hari-hari yang sempat mencekam. Bagi Niza, hilangnya rasa sakit misterius yang belakangan ini menyiksanya adalah sebuah kebebasan luar biasa. Dalam pikirannya yang polos dan logis, keyakinannya terbukti, tubuhnya memang hanya kurang olahraga, dan olahraga berat yang ia lakukan beberapa hari terakhir telah membuang semua rasa linu di badannya.
___
Pagi itu, udara dingin pegunungan berembus segar menerpa dedaunan teh yang basah oleh embun. Niza menyapu halaman rumahnya dengan sapu lidi berukuran besar. Gerakannya gesit, napasnya teratur, dan tidak ada lagi rintihan kesakitan yang keluar dari bibirnya. Punggungnya tak lagi terasa terbakar, dan kepalanya terasa begitu ringan.
"Nah, kan! Apa Niza bilang, Bu?" seru Niza riang saat melihat ibu angkatnya, Ibu Sumi, keluar membawa keranjang buah-buahan .
Niza memutar tubuhnya di hadapan ibunya dengan senyum lebar yang memancarkan energi positif. "Alhamdulillah, Niza sehat walafiat! Dokter kemarin benar, tidak ada penyakit apa-apa. Cuma butuh olahraga saja, buktinya sekarang Niza sudah segar bugar lagi!"
Ibu Sumiati menghentikan langkahnya, menatap putri angkatnya dengan helaan napas lega yang sangat dalam. Senyum hangat terukir di wajah sepuhnya. "Alhamdulillah kalau begitu, Nak... Ibu sempat takut sekali melihatmu menjerit-jerit kemarin."
"Niza kan kuat, Bu!" sahut Niza sambil terkekeh bangga, menepuk dada kearah liontin patah NiZa yang tersembunyi di balik kaus sederhananya.
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆