Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Kesetiaan
Aroma lavender dari lilin terapi berpadu dengan wangi masakan yang merebak di dapur bersih berlantai granit. Nabila bergerak lincah di balik meja dapur, menata piring-piring porselen dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Hari ini ia sengaja memasakkan hidangan favorit Arga—daging sapi lada hitam—sebagai bentuk 'pelayanan' ekstra atas gelang permata mahal yang telah melingkar di tangannya.
Arga duduk di meja makan, membaca berkas laporan keuangan di tabletnya. Wajahnya tenang, teratur, tanpa ekspresi berlebihan. Namun di balik keheningan itu, pikirannya sedang membedah setiap gerak-gerik Nabila.
Setiap tawa kecil Nabila, setiap perhatian manisnya ketika menata cangkir kopi, terasa seperti suntikan racun yang dibalut madu. Kesetiaan yang ditampilkan Nabila begitu sempurna di luar, sampai-sampai Arga sadar betapa mengerikannya kepalsuan yang bisa diciptakan oleh seorang manusia.
"Mas, dicoba dulu supnya. Masih hangat," ujar Nabila manis. Ia melangkah mendekati Arga, menyuapkan sendok berisi kuah sup hangat itu langsung ke bibir suaminya.
Arga tidak menghindar. Ia menerima suapan itu, mengunyahnya pelan, lalu menatap mata Nabila yang berbinar penuh harap.
"Bagaimana, Mas? Enak?" tanya Nabila antusias.
"Enak sekali, Nabila. Kamu memang selalu tahu cara memanjakan Mas," jawab Arga halus. Ia menarik tangan Nabila, mengecup pergelangan tangannya—tepat di mana gelang pemberiannya melingkar. "Kesetiaan dan perhatianmu ini... sesuatu yang tak akan pernah bisa dibeli dengan uang."
Nabila tertawa kecil, pipinya merona. Ada rasa bangga yang meluap di dadanya karena merasa telah berhasil menjadi istri sempurna di mata sang pengusaha sukses. "Aku kan istri Mas. Tugas aku ya bikin Mas bahagia."
Saat Nabila berbalik untuk mengambilkan nasi, ponsel yang tergeletak di atas meja dapur bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang menyala.
Arga meliriknya dari meja makan. Hanya sebuah nama singkat yang muncul di layar terkunci: Reza.
Pesan itu berbunyi : ‘Bi, si dingin itu sudah berangkat kerja belum? Aku rindu.’
Mata Arga menyempit sepermili detik. Racun itu meresap makin dalam, membakar sisa-sisa kemanusiaannya. Nabila dengan cepat mengambil ponselnya, mematikan layarnya dengan terburu-buru, lalu menoleh pada Arga dengan senyum yang sedikit kaku.
"Dari siapa?" tanya Arga santai, menopang dagunya sambil menatap Nabila penuh perhatian.
"E-eh... dari grup arisan, Mas. Biasa, ibu-ibu ramai membicarakan acara minggu depan," jawab Nabila lancar, hampir tanpa jeda. Logika kebohongannya terasah sangat tajam karena sudah terbiasa.
Arga mengangguk-angguk paham, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. "Oh, begitu. Kirain dari Reza, mau nanya soal proyek."
"Bukan, Mas..." Nabila mendekat, mengusap bahu Arga lembut. "Mana mungkin Reza kirim pesan jam segini ke aku."
Arga meraih jemari Nabila yang berada di bahunya, meremasnya dengan kehangatan yang manipulatif. "Baguslah. Karena Mas sangat menyukai kesetiaanmu, Nabila. Jangan pernah merusaknya, ya? Karena jika racun masuk ke dalam minuman yang paling manis sekalipun... akibatnya akan sangat mematikan."
Kalimat itu diluncurkan dengan nada puitis dan penuh kelembutan, namun Nabila merasakan sensasi aneh—seolah ada jarum es yang menusuk halus di tengkuknya. Ia tertawa canggung. "Mas Arga suka bercanda yang aneh-aneh ah. Ya sudah, ayo dihabiskan makanannya."
Arga melanjutkan makannya dengan tenang. Di dalam hatinya, ia makin mantap. Kesetiaan yang dijual Nabila padanya hanyalah racun manis. Dan Arga akan memastikan, dialah yang akan meracik balasan atas setiap tetes kebohongan yang telah ia telan bulat-bulat.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt