Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Bab 4: Badai dari Masa Lalu
Hubungan Raina dan Dika semakin erat hari demi hari. Di tengah penolakan keluarga Dika, kehadiran mereka berdua justru menjadi tempat bersandar paling aman satu sama lain. Dika semakin teguh membela Raina di mana pun ia berada, sementara Raina perlahan mulai berani melupakan rasa rendah diri yang selama ini menghantuinya.
Namun takdir seolah belum selesai menguji mereka. Masalah tidak hanya datang dari masa depan, tapi juga dari masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Sore itu, Raina baru saja keluar dari kantor. Ia berjalan menuju parkiran dengan senyum tipis di bibirnya, karena sebentar lagi Dika akan menjemputnya untuk makan malam bersama. Belum sempat ia membuka pintu mobil, sebuah mobil hitam mewah melaju kencang dan berhenti tepat di hadapannya, menghalangi jalan.
Pintu terbuka, dan turunlah seorang pria dengan wajah merah padam menahan amarah. Itu adalah Arga, mantan suaminya.
"Jadi benar semua omongan orang!" seru Arga dengan suara keras yang memecah keheningan sore itu. Ia melangkah lebar mendekati Raina dengan tatapan tajam penuh kebencian. "Kamu sudah berani-beraninya bermain-main dengan anak muda, hah? Baru saja bercerai, sudah cari mangsa baru!"
Raina terkejut setengah mati. Tubuhnya menegang kaku di tempat. Selama ini Arga tidak pernah menemuinya lagi setelah perceraian, bahkan tidak pernah menanyakan kabar sedikit pun. Kini tiba-tiba ia datang dengan amarah yang meluap-luap.
"Arga... apa maksudmu? Pergilah, saya tidak mau berurusan denganmu," ucap Raina mencoba menenangkan diri, sambil berusaha membuka pintu mobilnya dengan tangan gemetar.
"Jangan berlagak suci!" Arga menepis tangan Raina kasar hingga tubuh wanita itu terhuyung mundur. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu memanfaatkan anak muda itu, memerasnya, lalu mempermalukan aku di depan semua orang! Semua orang menertawakan aku karena punya mantan istri tidak tahu diri sepertimu!"
Wajah Raina pucat pasi. Ia tidak menyangka bahwa Arga yang dulu menyakitinya, meninggalkannya demi wanita lain, kini datang menuduhnya seolah dialah yang paling benar.
"Kamu yang pergi dulu, Arga! Kamu yang menyakiti saya! Kenapa sekarang kamu datang mengganggu hidup saya yang sudah mulai tenang?" suara Raina bergetar, bercampur antara marah dan sedih yang mendalam.
Karena keributan itu, beberapa karyawan kantor mulai berhenti dan melihat dari kejauhan. Rasa malu menjalar ke seluruh tubuh Raina. Ia hanya ingin pergi secepat mungkin.
Belum sempat Arga membalas, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di belakang mobil Arga. Pintu terbuka, dan Dika melompat turun dengan langkah cepat.
Melihat sosok muda yang tampan dan tenang itu, Arga tertawa sinis. "Jadi ini dia anak muda yang kamu banggakan? Kamu memang tidak tahu malu, mencari anak kecil untuk membela dirimu!"
Dika tidak mempedulikan ejekan itu. Ia langsung berdiri di depan Raina, melindungi wanita itu dari pandangan tajam mantan suaminya. Matanya menatap Arga dengan tenang namun mengerikan.
"Maaf Pak, tapi ini bukan tempat untuk berteriak-teriak. Dan tolong jaga kata-kata Anda saat berbicara dengan wanita saya," ucap Dika dengan suara rendah namun penuh wibawa yang tak terduga.
Arga tertegun sejenak melihat ketenangan pemuda itu. Ia merasa seolah sedang dihadapi oleh seseorang yang jauh lebih tua dan berkuasa darinya. Namun rasa gengsi membuatnya tidak mau mundur.
"Wanita kamu? Dia itu istri saya dulu! Dia tidak pantas mendapatkan pria baik seperti kamu, Nak! Dia hanya wanita yang tidak bisa menjaga diri!" cemooh Arga berusaha mempengaruhi Dika.
Raina menunduk dalam, air mata mulai menetes di pipinya. Ia takut Dika akan percaya kata-kata mantan suaminya itu.
Namun Dika justru menoleh sejenak ke arah Raina, memberikan senyum meyakinkan, lalu kembali menatap Arga.
"Saya tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu," kata Dika tegas. "Yang saya tahu, Raina adalah wanita paling tulus dan kuat yang pernah saya temui. Dan jika Anda benar-benar tidak menginginkannya lagi, maka tolong jangan datang lagi untuk menyakiti hatinya. Itu tandanya Anda laki-laki."
Kata-kata itu begitu sederhana namun menohok tepat di hati nurani Arga. Wajah pria itu merah padam menahan marah yang tak bisa ia luapkan. Ia sadar, di hadapan pemuda ini, ia terlihat begitu kecil dan rendah.
"Kalian akan menyesal!" geram Arga akhirnya, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobilnya dengan kasar. Mobil itu melaju pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Suasana kembali hening.
Raina masih berdiri kaku, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Rasa takut, malu, dan lega bercampur menjadi satu.
Dika segera berbalik, menatap Raina dengan lembut. Ia tidak langsung memeluknya, hanya menyentuh bahu wanita itu pelan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
Raina mengangguk pelan, lalu tiba-tiba tubuhnya lemas. "Terima kasih, Dika... Maafkan aku... Kamu jadi melihat sisi terburuk dari masa laluku..."
Dika menggeleng kuat, lalu mengusap air mata di pipi Raina dengan lembut.
"Jangan pernah minta maaf karena hal yang bukan salahmu. Mendengar semua itu, justru membuatku semakin yakin," ucap Dika tulus.
"Yakin akan apa?"
"Yakin bahwa aku adalah orang yang tepat untuk menjagamu sekarang," jawab Dika sambil menatap dalam mata Raina. "Masa lalumu sudah selesai. Sekarang ada aku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Mendengar janji itu, pertahanan hati Raina runtuh seketika. Ia langsung memeluk Dika erat, menumpahkan segala rasa takut yang selama ini ia pendam. Dika membalas pelukan itu dengan hangat, membiarkan wanita itu merasa aman di dalam pelukannya.
Malam itu mereka tidak jadi pergi makan malam ke tempat ramai. Dika mengajak Raina ke apartemennya, memasakkan makanan sederhana, dan menemaninya beristirahat.
Namun mereka tahu, kepergian Arga bukan berarti masalah selesai. Pria yang belum ikhlas itu pasti akan mencari cara lain untuk mengganggu. Dan di sisi lain, penolakan keluarga Dika juga semakin menjadi-jadi.
Namun malam itu, di dalam pelukan satu sama lain, mereka belajar satu hal penting: selagi mereka saling menjaga dan percaya, badai sebesar apa pun tidak akan mampu memisahkan mereka.