Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Bu Nina mengusap punggung putrinya berulang kali. "Ibu ikhlas. Ibu senang melihat kamu bahagia. Tapi tetap...rasanya berat." Tangis keduanya pun pecah. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Bu Nina kalau putri sulungnya akan menikah secepat ini. Ia bahkan sedang berusaha agar Tara bisa lanjut kuliah usai setahun nganggur. Ibunya tahu, Tara juga punya mimpi menjadi seorang guru. Tetapi Tara selalu menyimpannya.
"Maafin ibu ya Nak, nggak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Entah kalau ayahmu masih hidup, kamu pasti bisa kuliah." Bu Nina kembali memeluk putrinya.
Para bibi yang melihat ikut menyeka mata. Nenek Bani juga tampak berkali-kali menghela napas panjang.
Sarif memilih berdiri sedikit menjauh, memberi ruang bagi ibu dan anak itu menikmati momen perpisahan mereka.
Tara semakin erat memeluk ibunya. "Bu... Nanti Ibu jangan capek-capek. Eh tapi, kalaupun ayah masih hidup, kalau Bang Sarif yang ngelamar, aku tetap nikah sama Bang Sarif lho ya Bu. Jangan dihalangi ya."
Bu Nina yang sedang menangis langsung terdiam. "Hah? TARA!" Bu Nina spontan menepuk pelan lengan putrinya. "Dasar kamu."
Tara mengusap air matanya sendiri sambil nyengir. Orang-orang yang sejak tadi ikut terharu langsung tertawa. Akmal sampai memegang perutnya. "Astaga, Kak."
Tara terkekeh. "Ya aku nggak mau dipisahkan dari Bang Sarif. Aku menerima dengan tangan terbuka jadi istrinya."
Bu Nina menggeleng sambil tertawa di sela-sela air matanya. "Sudah jadi istri orang....tetap saja pikirannya ke mana-mana. Sudahlah, nggak perlu lagi ngomong banyak sama kamu. Ibu ngomong sama Sarif saja. Saya titip Tara. Tolong jaga dia."
Sarif mengangguk mantap. "Insyaallah. Saya akan menjaganya sebaik mungkin."
Tara menoleh ke arah suaminya, lalu kembali memeluk ibunya sekali lagi. Beberapa menit kemudian, ia melambaikan tangan dari dalam mobil. Di kaca jendela, senyumnya masih mengembang meski matanya sembap karena menangis. "Bu..."
"Apa lagi?" teriak Bu Nina.
"Kalau kangen...ibu tinggal telepon."
"Iya."
"Tapi jangan pagi-pagi. Soalnya aku mau bermanja-manja dulu sama suami."
"HAHAHAHA!" Suasana yang semula dipenuhi tangis langsung pecah oleh gelak tawa.
Bu Nina sampai menutup wajahnya karena malu, sementara Sarif hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil. Begitulah Tara. Bahkan di momen perpisahan yang paling mengharukan sekalipun, ia selalu berhasil menyelipkan tawa, seolah ingin memastikan bahwa orang-orang yang ia sayangi lebih banyak tersenyum daripada menangis saat melepas kepergiannya menuju kehidupan baru bersama sang suami.
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah besar keluarga Bani. Dari balik kaca belakang, Tara masih melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Bahkan ia sempat menggoda Akmal yang terus mengejar mobil beberapa langkah. "Dadah! Jangan lupa kerjain PR!"
Akmal membalas dengan wajah cemberut yang sengaja dibuat-buat. "Kak Tara nyebelin!"
Tawa kecil memenuhi mobil. Namun, begitu rumah itu mulai menghilang dari pandangan dan jalan di depan semakin lengang, senyum Tara perlahan memudar. Tangannya yang sejak tadi melambai kini jatuh ke pangkuan. Ia menoleh ke arah jendela. Tak lagi berkata-kata.
Keheningan memenuhi kabin mobil. Sarif yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah istrinya. Beberapa menit yang lalu perempuan itu masih menjadi pusat tawa semua orang. Kini... Ia hanya memandang keluar jendela. Perlahan bahunya bergetar. Setitik air mata jatuh tanpa suara. Lalu disusul air mata berikutnya.
Tara buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan, seolah berharap Sarif tidak menyadari. Namun semuanya sudah terlihat jelas.
Sarif tidak langsung bertanya. Ia membiarkan Tara menangis beberapa saat. Setelah suasana sedikit lebih tenang, barulah ia berkata pelan, "Kangen Ibu?"
Tara mengangguk tanpa menoleh. "Iya...Semenjak Ayah meninggal...aku hampir nggak pernah jauh dari Ibu. Sekarang rasanya aneh." Suaranya mulai bergetar.."Biasanya kalau pulang ngajar....Ibu sudah ada di dapur. Kalau malam...kami masih ngobrol sambil bikin kue. Kalau capek...aku akan tidur di peluk Ibu.".Tara tersenyum tipis di sela tangisnya. "Sekarang....aku pulangnya ke rumah lain."
Kalimat itu justru membuat hati Sarif ikut terasa sesak. Ia baru menyadari, di balik tawa yang selalu dibawa Tara, ternyata ada hati yang sangat lembut. Perempuan itu pandai menyembunyikan kesedihannya agar orang lain tidak ikut bersedih.
Sarif mengulurkan tangan kirinya. Tanpa berkata apa-apa. Tara langsung menggenggamnya erat. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Tidak apa-apa."
Air mata Tara kembali mengalir. "Aku takut Ibu kesepian."
Sarif menggeleng pelan. "Kita akan sering mengunjungi beliau. Dan kalau Ibu rindu, kita jemput beliau. Keluargamu tetap keluargaku."
Kalimat itu membuat Tara akhirnya menoleh. Matanya merah. Namun di sana juga ada rasa tenang. "Maaf ya, Bang."
"Kenapa minta maaf?"
"Kirain aku bakal kuat."
Sarif tersenyum hangat. "Kamu memang kuat. Tapi orang yang kuat juga boleh menangis."
Tara mengangguk pelan. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sarif saat mobil berhenti sejenak di lampu merah. Dalam hati, Sarif bersyukur. Hari itu ia melihat sisi lain dari istrinya. Di balik sosok Tara yang ceria, cerewet, dan selalu berhasil membuat orang tertawa, ternyata ada seorang anak perempuan yang sangat mencintai ibunya. Dan saat itulah Sarif berjanji pada dirinya sendiri, selama ia masih diberi umur, ia akan menjaga bukan hanya tawa Tara, tetapi juga air mata yang berusaha disembunyikan istrinya dari dunia.
***
Perjalanan menuju kota tempat Sarif bertugas memakan waktu cukup lama. Sepanjang jalan, Tara mulai kembali seperti biasanya. Sesekali ia tertawa melihat pemandangan baru, sesekali bertanya ini-itu kepada Sarif, membuat suasana mobil kembali hidup. Menjelang sore, mereka akhirnya memasuki kawasan satuan tempat Sarif berdinas.
Sarif tidak langsung membawa Tara ke rumah dinas yang akan mereka tempati sebab masih ada proses pengurusan administrasi yang harus diselesaikan. Bagi Tara itu tidak. masalah, di mana pun tinggal tidak menjadi masalah. Yang penting ia bersama suaminya.
Mobil kemudian berhenti di depan sebuah bangunan mess yang bersih dan rapi. Tidak semewah hotel tempat mereka berbulan madu, tetapi cukup nyaman sebagai tempat tinggal sementara. Sarif menurunkan koper mereka. "Yuk!"
Tara mengikuti dari belakang sambil menoleh ke kanan dan kiri. "Wah, ini pertama kalinya aku tinggal jauh dari kampung."
Sarif tersenyum. "Mulai hari ini, ini rumah kita sementara."
Kalimat itu membuat Tara ikut tersenyum. Rumah. Bukan lagi rumah besar Nenek Bani. Bukan lagi kamar kecil di belakang rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya tumbuh. Kini, rumah adalah tempat di mana ia dan Sarif tinggal bersama.
Setelah koper selesai ditata, Tara berjalan mengelilingi kamar mess yang sederhana. "Bang. Lucu ya. Beberapa hari lalu kita di hotel bintang lima. Sekarang di mess. Tapi rasanya tetap sama."
Sarif menatap istrinya. "Kenapa bisa?"
Tara tersenyum manis. "Soalnya yang nemenin tetap Abang."
Mendengar jawaban itu, Sarif tersenyum hangat. Ia menyadari bahwa istrinya bukan perempuan yang mengejar kemewahan. Tara mampu menikmati hotel berbintang tanpa menjadi tinggi hati, dan mampu tinggal di mess sederhana tanpa mengeluh sedikit pun.