NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: tamat
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi / Tamat
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhasil Pergi

Entah sudah berapa lama Ainun duduk di sudut kamar itu. Sejak Bi Ani berjanji akan membukakan pintu, ia hanya bisa menunggu dengan kedua lutut terangkat dan dipeluk erat.

Sesekali pandangannya beralih ke pintu yang masih tertutup rapat.

Tubuhnya terasa semakin lemas. Perut kosong dan tenggorokan yang kering membuatnya nyaris tidak memiliki tenaga. Namun, ia tetap bertahan di sana karena hanya Bi Ani yang bisa menjadi harapannya untuk keluar dari kamar itu.

Hingga tiba-tiba...

Brak!

Bahu Ainun terangkat. Kepalanya segera mendongak ke arah pintu yang terbuka lebar.

Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal. Beberapa detik kemudian, Bi Ani dan Liona menyusul masuk.

Ainun segera menopang tubuhnya dengan kedua tangan sebelum berdiri. Kakinya terasa lemas setelah terlalu lama duduk, tetapi ia mengabaikannya.

“Mbak Ainun, ya Allah...” Bi Ani langsung menghampirinya. Tatapannya menyapu tubuh Ainun dengan cemas. “Mbak nggak apa-apa?”

Tatapan Ainun menghangat. Ia menggeleng pelan.

“Nggak apa-apa, Bi.”

“Sekarang cepat pergi,” ujar Liona mendesak.

Ainun mengalihkan pandangan kepadanya. Keningnya sedikit berkerut.

“Tapi... dompet, ponsel, dan uangku semuanya ada di tasku, Mbak.”

“Sayangnya, tas kamu sudah aku kasih ke Mas Sagara.”

Ainun terdiam. “Aku harus bagaimana...”

“Menyusahkan,” sela Liona dengan nada ketus.

Ia membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkannya kepada Ainun.

“Bawa kartu ini. Isinya seratus juta.”

Ainun menatap kartu tersebut beberapa saat. Tidak ada waktu untuk bertanya lebih jauh. Ia segera menerimanya dan menggenggam kartu itu erat.

“Kalau begitu, aku pergi, Mbak,” ucap Ainun pelan.

Sebelum melangkah, ia menoleh kepada Bi Ani.

“Bi, jaga diri Bibi.”

Bi Ani mengangguk. Matanya tampak berkaca-kaca.

“Iya, Mbak Ainun. Hati-hati.”

Ainun membalas anggukan itu.

Kemudian, dengan langkah gontai, ia keluar dari kamar yang selama ini mengurungnya. Pergelangan tangannya masih menyisakan rasa nyeri, tubuhnya lemas, dan kepalanya terasa berat. Namun,  ia dapat menghirup udara tanpa terhalang pintu yang terkunci.

Tangannya meremas kartu pemberian Liona.

‘Sekarang cari telepon umum. Aku akan meminta Laras menjemput ku di halte.’

Ainun mempercepat langkahnya meski kedua kakinya terasa tidak bertenaga.

Ia harus pergi sebelum Sagara kembali.

.

.

Setelah berhasil keluar dari rumah itu, Ainun terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Kakinya masih terasa lemas, tetapi keinginannya untuk segera pergi jauh dari Sagara membuatnya terus memaksa diri melangkah.

Sampai akhirnya, ia tiba di sebuah halte bus.

Ainun berhenti di bawah atap halte. Napasnya masih tersengal. Tangannya merogoh kartu yang diberikan Liona, lalu kembali menggenggamnya erat.

Ia tidak membawa ponsel. Tidak memiliki uang tunai. Bahkan barang-barangnya pun masih berada di rumah Sagara.

Satu-satunya orang yang bisa ia hubungi hanyalah Laras.

Setelah menemukan telepon umum di dekat halte, Ainun segera menghubungi sahabatnya.

Kini ia hanya perlu menunggu.

Beberapa menit berlalu.

Ainun berdiri di tepi halte sambil sesekali melirik jalan raya. Kendaraan terus berlalu-lalang di hadapannya.

“Laras, cepatlah,” gumamnya pelan.

Ia menggenggam ujung bajunya. Kegelisahan kembali merambat perlahan.

Bagaimana jika Sagara menyadari dirinya sudah tidak ada?

Bagaimana jika pria itu mencarinya?

Ainun menggeleng cepat, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut.

‘Enggak. Aku harus pergi sebelum Mas Sagara menemukanku.’

Tiba-tiba...

Tin... tin...!

Suara klakson membuat Ainun mendongak.

Sebuah sepeda motor berhenti tidak jauh dari halte.

Begitu mengenali pengendaranya, mata Ainun seketika berbinar.

“Laras!”

Laras segera menghampirinya.

“Kamu kenapa, Ainun?” tanyanya begitu melihat keadaan sahabatnya.

Ainun menelan ludah. Matanya mulai memanas ketika kembali mengingat apa yang terjadi sejak kemarin.

“A-aku dikurung sama Mas Sagara seharian penuh.”

Suaranya bergetar.

“Aku benar-benar dikurung, Ras. Aku nggak diberi makan dan minum.”

Ainun menarik napas panjang, lalu menggenggam lengan Laras.

“Ayo, Ras. Kita pergi dari kota ini.”

Laras menatapnya dengan raut terkejut.

“Mas Sagara sudah gila,” lanjut Ainun. “Aku nggak mau kembali ke rumah itu lagi.”

“Baiklah,” jawab Laras akhirnya.

Ainun segera naik ke jok belakang.

Begitu duduk, kedua tangannya melingkar di pinggang Laras. Motor itu kemudian meninggalkan halte, semakin jauh dari tempat yang selama ini membuatnya merasa terperangkap.

Ainun menoleh sekali ke belakang.

Gedung-gedung kota perlahan menjauh dari pandangannya.

Ia menarik napas panjang.

‘Setelah aku pergi meninggalkan semuanya di sini, kalian hiduplah bahagia tanpa ku’

Tangannya tanpa sadar turun menyentuh perutnya yang masih datar.

Ainun kembali menatap jalan di depan. Kali ini, ia tidak ingin menoleh lagi.

.

Sementara itu, di rumah keluarga Dirgantara, suasana di ruang tamu terasa cukup tenang. Lina baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika ia kembali memikirkan kabar yang sejak tadi ingin disampaikannya kepada sang suami.

Ia duduk di sofa sambil membuka layar ponselnya. Beberapa saat ia menggulir layar sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Senyum kecil terbit di wajahnya.

“Mas, coba lihat,” panggil Lina sambil mengulurkan ponselnya kepada pria yang duduk di sampingnya.

Bastian melirik layar tersebut.

“Kamu mau beli baju hamil?”

Lina mengangguk. Senyumnya semakin lebar.

“Iya, Mas. Kan menantu kita sedang hamil.”

“Hamil?”

Lina terkekeh kecil melihat suaminya yang baru mengetahui kabar tersebut.

“Oh, iya. Aku lupa memberi tahu Mas.” Ia menurunkan ponselnya ke pangkuan. “Ainun sedang hamil hampir tiga bulan.”

Lina mengusap layar ponselnya dengan ibu jari.

“Nggak sabar rasanya menimang cucu.”

Namun, tidak ada jawaban yang menyambut antusiasmenya.

Lina perlahan menoleh.

Bastian hanya duduk dengan wajah datar. Tidak ada senyum ataupun perubahan ekspresi di wajah pria itu.

Senyum Lina perlahan memudar.

“Mas nggak senang?”

“Senang, kok.”

Jawaban itu terdengar begitu singkat.

Lina mengerutkan kening. Ia menatap wajah suaminya beberapa saat.

“Kalau senang, ekspresinya nggak kayak gitu, kan?”

Bastian akhirnya menoleh kepadanya.

“Dilahirkan oleh wanita yang tidak berpendidikan, apa gunanya?”

Lina terdiam.

Bastian melanjutkan ucapannya dengan nada datar.

“Lebih baik Liona. Meskipun berasal dari keluarga sederhana, dia punya pendidikan.”

“Mas...” Lina menatap suaminya tidak percaya.

Pria itu tidak menghiraukan keberatannya.

“Itu sudah menjadi peraturan di keluarga ini sejak dahulu.”

Lina mengatupkan bibir.

“Bagaimana kalau Ainun tidak bisa mendidik penerus keluarga ini?” lanjut Bastian. “Dia saja hanya tamatan SMA.”

Jari Lina yang sejak tadi menggenggam ponsel perlahan mengencang.

“Mas, Ainun itu istrinya Sagara. Dia juga calon ibu dari cucu kita.”

“Tetap saja.”

Lina terdiam.

Ia ingin membantah, tetapi aturan yang selama bertahun-tahun berlaku di keluarga Dirgantara membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

‘Memangnya pendidikan seseorang bisa menentukan seberapa baik dia menjadi seorang ibu?’

Lina menundukkan pandangan ke layar ponselnya. Foto baju hamil yang tadi membuatnya tersenyum kini tidak lagi terasa semenarik sebelumnya.

1
Aisyah Siregar
hi author. thank you for the amazing stories. first time bace novel character seperti krlaurga Dirgantara mmg sakit hati dengan perangai sagara dan terlalu banyak plot twist. teringin nak tau macam mana kakak faizan boleh kenal ainun. semoga sukses selalu ye.
Emily
gak pergi pergi si Ainun
Emily
menye menye perempuan nya
Emily
lha ya hamil lah wong di kawini...masa kaget
merry
emang kluar gila mertua tdr dgn kakak dr mantu ya 🤭🤭🤭 tdr dgn kakk ipar ank y sndrian,, kluarga gila
merry
selain suka nyiksa bini ya ternyta laki bajingann in juga pencuri,, penghianat lgg
falea sezi
g ada boncap kah🤭
falea sezi
😒makanya klo cinta itu setia🤣🤣 jangan lubang semua di masukin😒
falea sezi
urus cerai ainun
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!