NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Mafia Kejam

Terpikat Pesona Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.

​Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.

​"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.

​Dante menga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiriman Dari Rumah Sebelah

​Di dalam halaman rumah barunya, Helena berdiri mengawasi dua orang pelayan dan sopirnya yang sibuk menurunkan koper-koper kulit mahal dari bagasi mobil. Gerakannya tampak tenang dan penuh keanggunan, seolah ia hanyalah seorang wanita bangsawan yang baru saja pindah untuk mencari suasana baru.

​Saat sang sopir hendak membawa sebuah koper besar ke dalam foyer, Helena menahan langkahnya seraya menunjuk ke arah kursi belakang mobil.

​"Tolong ambilkan paper bag Oranye dari brand Hermes yang di jok belakang," perintah Helena dengan suara lembut yang halus.

​Sopir itu mengangguk patuh dan menyerahkan kantong kertas bersablon emas mewah tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah tas tangan kulit edisi terbatas berdesain klasik yang bernilai ratusan juta rupiah—sebuah bingkisan yang sengaja Helena siapkan bukan sekadar untuk formalitas, melainkan sebagai umpan pertama dalam permainannya.

​Helena merapikan letak gaun kremnya, memoles kembali senyum manis nan hangat di wajahnya, lalu melangkah perlahan menyusuri jalan setapak kecil yang menghubungkan pekarangan rumahnya dengan rumah Dante dan Aura.

​Sementara itu di halaman sebelah, Aura baru saja hendak mematikan keran air saat mendengar langkah sepatu bertumit tinggi mendekat ke arah pagarnya.

​"Selamat sore," panggil Helena dengan nada bicaranya yang ramah dan penuh tatacara kalangan atas.

​Aura berbalik dan tersenyum tulus. "Selamat sore. Wah, baru pindah hari ini, ya?"

​"Iya, betul," jawab Helena seraya berdiri anggun di balik pagar rendah. Ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan tatapan mata yang tampak begitu ramah dan tak berbahaya. "Namaku Helena. Aku baru saja menyelesaikan transaksi pembelian rumah ini minggu lalu. Maaf kalau kedatangan dan proses pindahanku sedikit mengganggu ketenangan sore kalian."

​"Sama sekali tidak mengganggu, Mbak Helena. Saya Aura, dan ini suami saya, Dante," sahut Aura hangat seraya memperkenalkan Dante yang kini berdiri tenang tepat di sampingnya.

​Dante menatap Helena dengan pandangan datar namun tajam. Sebagai pria yang terbiasa membaca gerak-gerik orang di bursa saham maupun dunia hitam, Dante menilai setiap jengkal gestur wanita di depannya. Tidak ada yang salah dari penampilan Helena; ia tampak sempurna sebagai wanita kaya biasa. Namun, kewaspadaan alami Dante tidak pernah benar-benar mati.

​"Senang berkenalan dengan kalian, Pak Dante, Bu Aura," ujar Helena penuh kesopanan. Ia kemudian mengulurkan paper bag mewah yang dipegangnya melintasi pagar.

​"Ini ada sedikit kenang-kenangan untuk tanda perkenalan tetangga baru," lanjut Helena dengan senyum tulus yang terkontrol sempurna. "Aku kebetulan membawa beberapa koleksi tas dari luar negeri. Semoga Bu Aura menyukainya."

​Aura tertegun sejenak melihat logo brand ternama di kantong kertas tersebut. Ia merasa pemberian itu terlalu mewah untuk sekadar sapaan tetangga baru.

​"Wah, ini terlalu berlebihan, Mbak Helena," tolak Aura halus seraya mengibaskan tangannya pelan. "Kehadiran tetangga baru saja sudah membuat kompleks ini makin ramai, tidak perlu repot-repot memberi hadiah seperti ini."

​"Sama sekali tidak repot, Bu Aura," potong Helena cepat namun lembut, matanya menatap Aura dengan binar hangat yang sangat meyakinkan. "Di kota besar seperti ini, sulit menemukan tetangga yang menyapa dengan senyuman ramah seperti Bu Aura tadi. Anggap saja ini sebagai simbol niat baikku untuk menjalin hubungan tetangga yang dekat."

​Aura melirik ke arah Dante, meminta pertimbangan suaminya. Dante diam sejenak, mengamati tas mewah di dalam kantong tersebut sebelum akhirnya mengangguk pelan.

​"Terima kasih atas kebaikanmu, Helena," kata Dante dingin namun sopan, mewakili istrinya. "Aura akan menerimanya."

​"Terima kasih banyak, Mbak Helena. Ini benar-benar cantik sekali," ucap Aura tulus seraya menerima paper bag tersebut.

​"Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi masuk dulu untuk merapikan barang-barang. Sampai bertemu lagi, Bu Aura, Pak Dante," pamit Helena dengan senyuman anggun sebelum berbalik melangkah kembali ke rumahnya.

​Aura menatap kepergian Helena dengan rasa senang atas keramahan tetangga barunya. Namun di sisinya, Dante menatap punggung wanita itu sampai pintu rumah sebelah tertutup rapat. Topeng kebaikan telah terpasang, dan permainan tak kasat mata di antara mereka resmi dimulai.

1
PengGeng EN SifHa
sandiwara yang membawa keberkahan ❤️
Naila Saputri
kayak y seru cerita y
Nia Nara
Chapter 1, baru mulai baca sudah seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!