NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU

Hujan gerimis mulai membasahi pelataran Paviliun Barat sejak petang. Aroma tanah basah dan dinginnya angin musim gugur menyusup menembus celah-celah kosen jendela kayu, membuat nyala lilin-lilin lebah di ruang tengah kediaman Alena bergoyang redup.

​Alena baru saja selesai menyesap teh chamomilenya saat suara langkah kaki teratur bergema dari arah koridor luar. Langkah itu tidak tergesa-gesa, namun memiliki ketukan kaku dan berat yang sangat dikenalnya. Sebelum pelayan sempat mengetuk pintu atau menyuarakan pengumuman, daun pintu kayu mahoni ruangan itu terdorong terbuka.

​Pangeran Adrian Valerian melangkah masuk.

​Pria itu mengenakan jubah beludru tebal berwarna biru gelap dengan bahu bersulamkan benang perak. Tetesan air hujan tampak berkilau di atas jubahnya dan pada helai-helai rambut gelapnya yang sedikit berantakan. Wajahnya yang tegas tampak lelah, namun mata abu-abu pekatnya bersinar dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan.

​"Tinggalkan kami," perintah Adrian pendek kepada dua pelayan yang berjaga di ambang pintu.

​Mira, yang sedang merajut di sudut ruangan, berdiri secara refleks. Matanya menatap Adrian dengan kewaspadaan penuh. Ia melirik Alena, meminta isyarat.

​Alena mengangguk pelan pada sahabatnya. "Mira, tolong periksa Elian di kamar dalam. Pastikan dia tidak terbangun."

​Setelah pintu kayu ditutup rapat dari luar dan menyerahkan ruangan itu pada keheningan yang mencekam, Alena berdiri tegak dari kursinya. Ia merapikan lipatan gaun sederhananya, menyilangkan tangan di depan dada sebagai perisai alami.

​"Ini sudah larut, Yang Mulia," kata Alena, suaranya dipaksa bernada dingin dan tanpa beban emosi. "Kedatangan Putra Mahkota ke paviliun selir pada jam seperti ini akan memicu desas-desus yang tidak perlu. Tolong katakan apa tujuan Anda, lalu silakan pergi."

​Adrian tidak langsung menjawab. Ia melangkah perlahan mendekat, melepas sarung tangan kulit hitamnya dan meletakkannya di atas meja kayu. Tatapannya menyapu sekeliling ruangan—pada buku-buku cerita anak yang tertata di atas rak, pada mainan kayu ukir kecil di sudut meja, dan pada atmosfer kehangatan yang dibawa Alena ke dalam ruang batu yang kaku ini.

​"Aku datang untuk membicarakan Elian," ujar Adrian pelan, matanya kembali terkunci pada wajah Alena.

​Tubuh Alena menegang seketika. Pertahanan dirinya yang baru saja dibangun kembali mendadak runtuh. "Tidak ada yang perlu dibicarakan mengenai Elian, Pangeran Adrian."

​"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan tentang anak itu, Alena!" potong Adrian, suaranya meninggi satu tingkat sebelum ia mengontrolnya kembali agar tidak terdengar sampai ke kamar dalam. Adrian mengambil satu langkah mantap mendekati Alena. "Aku baru saja membaca laporan lengkap mengenai kehidupanmu selama tujuh tahun di Bellmare. Kau membesarkannya sendiri. Tanpa bantuan keluarga, tanpa dukungan finansial, dan tanpa kehadiran seorang suami."

​Alena mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Saya mampu membesarkannya sendiri dengan baik, dan saya tidak membutuhkan pahlawan atau simpati dari istana ini."

​"Aku tidak sedang menawarkan simpati!" bentak Adrian pelan, kemarahan dan frustrasi meluap dari dalam dadanya. "Aku hanya ingin tahu kebenaran! Kemarin di taman, cara anak itu menatapku, cara dia bertanya tentang ayahnya... anak itu merasakan sesuatu, Alena! Dia tahu ada kebohongan dalam cerita yang kau berikan padanya!"

​"Dia hanya seorang anak berusia tujuh tahun yang imajinatif!" balas Alena, melangkah maju untuk menantang tatapan Adrian. Matanya yang berwarna hijau hazel berkilat oleh kemarahan dan rasa takut yang membakar. "Dia bertanya karena dia tidak tahu apa-apa! Dan tugas saya sebagai ibunya adalah memastikannya tetap seperti itu!"

​"Kenapa?" desak Adrian. Pria itu maju lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh sang pangeran. "Kenapa kau begitu takut aku mendekatinya? Jika dia benar-benar anak dari seorang pedagang biasa seperti yang kau klaim... kenapa kau begitu histeris setiap kali aku berada di dekatnya?"

​Pertanyaan itu menghantam Alena seperti hantaman fisik.

​Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi begitu hening. Hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela yang terdengar di antara mereka.

​Alena mematung. Bibirnya terkatup rapat. Suara napasnya yang terengah-engah terdengar jelas di tengah keheningan. Ia ingin melempar kebohongan baru, ingin menyusun kalimat sarkastik yang akan membuat Adrian sakit hati dan pergi, tetapi tatapan mata abu-abu pria di hadapannya begitu menembus—menelanjangi setiap rasa takut dan kebohongan yang coba ia sembunyikan.

​Ia tidak bisa menjawab. Setiap kebohongan yang dirancangnya mendadak terasa begitu rapuh dan murahan di hadapan ketajaman logika Adrian.

​Adrian memperhatikan kebisuan Alena. Keraguan dan ketakutan yang terpancar jelas dari raut wajah wanita itu tidak lagi bisa ditutupi oleh kata-kata keras. Dan bagi seorang taktik perang sekelas Adrian, kebisuan Alena adalah konfirmasi paling nyata yang bisa ia dapatkan.

​"Kau tidak bisa menjawabnya, bukan?" bisik Adrian. Suaranya tidak lagi terdengar marah; melainkan dipenuhi oleh luka yang mendalam dan penyesalan yang membakar. "Karena kau tahu... begitu aku menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, begitu aku menatap matanya lebih lama, tidak ada satu pun kebohonganmu yang bisa bertahan."

​"Adrian, tolong..." Alena akhirnya bersuara, suaranya pecah dan bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menggenang di sudut matanya. "Jangan lakukan ini..."

​"Jangan lakukan apa, Alena? Mencari tahu apakah anak itu adalah darah dagingku sendiri?" tanya Adrian, jemarinya terangkat pelan, hampir menyentuh pipi Alena sebelum ia menghentikannya di udara, menahan nalurinya. "Tujuh tahun lalu kau pergi membawa surat yang memintaku membencimu. Kau membuatku percaya bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu. Dan sekarang kau kembali, membawa seorang anak yang memiliki mataku, lalu memintaku untuk tidak peduli?"

​"Ini demi keselamatannya!" teriak Alena dalam bisikan yang histeris, air matanya akhirnya meluncur bebas melintasi pipinya. "Apakah kau tidak paham, Adrian?! Tempat ini adalah sarang racun! Jika dewan tahu... jika keluarga Ardent tahu bahwa Elian adalah anakmu, anak itu tidak akan pernah selamat! Mereka akan membunuhnya!"

​Kata-kata itu terlepas dari bibir Alena sebelum ia sempat menghentikannya.

​Adrian membeku. Pupil matanya melebar seketika saat mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Alena.

​Jika keluarga Ardent tahu bahwa Elian adalah anakmu...

​Pengakuan tersirat itu mengguncang seluruh kesadaran Adrian. Meskipun Alena tidak mengatakannya secara langsung dalam kalimat deklaratif, kepanikan dan alasan ketakutannya telah membocorkan kebenaran terbesar yang dicari Adrian selama ini.

​Alena menutup mulutnya dengan kedua tangan, membelalak dalam ketakutan yang luar biasa atas kecerobohan lidahnya sendiri. Ia melangkah mundur, menggelengkan kepalanya hebat. "Tidak... tidak, bukan itu maksudku—"

​"Cukup, Alena," sela Adrian, suaranya mendadak berubah menjadi teramat tenang—sebuah ketenangan mematikan dari seorang pangeran yang telah mengambil keputusan bulat. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi."

​Adrian melangkah mundur, meraih sarung tangan kulitnya di atas meja. Pria itu menatap Alena yang sedang menangis diam-diam sembari memegangi dadanya yang sesak.

​"Kau melarikan diri tujuh tahun lalu untuk melindunginya dari istana ini. Aku mengerti," kata Adrian pelan, matanya memancarkan ikrar yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Tetapi kau lupa satu hal, Alena. Aku bukan lagi pangeran muda berusia dua puluh satu tahun yang tidak memiliki kekuatan untuk melindungimu."

​"Adrian, jangan campuri hidup kami!" pangkas Alena, suaranya serak oleh tangis. "Jangan dekati putraku!"

​Adrian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Pria itu membalikkan badan sedikit, menatap Alena dari balik bahunya dengan tatapan mata abu-abu yang pekat dan tak tergoyahkan.

​"Aku tidak perlu mencampuri hidupnya, Alena," kata Adrian tegas. "Karena aku akan menemukan bukti hukum dan darah itu sendiri. Dan ketika hari itu tiba... tidak ada seorang pun di kerajaan ini, termasuk dirimu, yang bisa melarangku untuk berdiri di samping anakku."

​Pintu kayu itu ditutup dengan dentuman kencang saat Adrian melangkah keluar ke dalam gerimis malam, meninggalkan Alena yang merosot jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin.

​Alena menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangis keputusasaannya pecah di dalam ruangan yang sunyi. Ketakutan terbesarnya kini menjadi kenyataan: Adrian telah meyakini kebenaran itu, dan roda takdir Aveloria bersiap untuk berputar menghancurkan kedamaian yang selama ini ia perjuangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!